
Dewa baru saja tiba di kantornya, saat ia masuk kedalam ruangannya, Devan masuk dengan membawa berkas laporan.
"Tuan, di pabrik kita yang di Surabaya sedang mengalami masalah . Produksi melambat sedangkan permintaan klien kita semakin tinggi" ucap Devan
"Apa Tim produksi tidak bisa mengatasi masalah ini?!" Sarkas Dewa
"Mereka butuh support dari tuan sebagai pemilik perusahaan" jawab Devan
"Siapkan keberangkatan kita ke surabaya secepatnya!" ucap Dewa
Kemudian Devan pamit untuk menyiapkan semua keperluan penerbangan Dewa. Setelah semuanya siap, Dewa ditemani Devan menuju ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Surabaya. Sebelum keberangkatannya Devan sudah mengabarkan ke pabrik yang ada di Surabaya jika Boss besar akan berkunjung kesana sehingga mereka sudah ada persiapan untuk menyambut kedatangan Dewa.
Pesawat take off meninggalkan bandara, tebang mengangkasa.......
Sepanjang perjalanan, Dewa lebih memilih untuk tidur meski hanya sebentar. Setiap malam Dewa tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya selalu teringat pada Aya, Aya dan Aya. Rasanya dadanya sangat sesak ketika teringat lagi kepada Aya yang sampai hampir 2 bulan belum ketemu juga. Dan tidak satupun diantara anak buahnya yang berhasil mendapatkan informasi tentang Aya.
Tanpa terasa pesawat sudah landing dibandara,, semua penumpang bersiap untuk segera turun. Begitu juga dengan Dewa dan juga Devan. Saat Mereka sudah keluar dari bandara, terlihat supir khusus yang dikirim untuk menjemput Dewa dan juga Devan sudah berdiri dan menunggunya. Kemudian supir itu mengjampiri keduanya
"Permisi tuan,, mari saya antar ke pabrik" ucap nya
Dewa mengangguk tanpa kata, lalu ia mengikuti langkah supir itu menuju ke mobilnya. Setelah sampai di parkiran, Dewa dan yang lainnya masuk kedalam lalu Supir menjalankan mobilnya menuju pabrik. Didalam mobil tidak ada yang bersuara, baik supir maupun devan menutup mulutnya dan tidak ingin memulai percakapan ketika melihat raut wajah dingin dan sangar yang tercipta pada wajah Dewa. Meliriknya saja sudah membuat bergidik, apalagi melihatnya. Mereka lebih memilih pada pekerjaan mereka masing-masing. Hingga tanpa terasa mobil itu sudah tiba di pabrik, Begitu Dewa turun, ia langsung disambut oleh kepala pabrik dan beberapa kepala bidang lainnya, lalu Dewa diajaknya untuk masuk kedalam pabrik.
"Itu ada apa sih rame-rame??" tanya Aya kepada temannya
"Ohh itu katanya Boss besar berkunjung ke pabrik mbak, kan di sistem produksi lagi ada masalah katanya"
"Ohh gitu,,,," ucap Aya
"Eh katanya si Boss besar itu guantengggg banget loh mbak, gagah lagi, katanya setiap wanita mana saja yang menatapnya pasti bakal klepek-klepek mbak"
"Hehe sayang aku gak tertarik deh !!" ucap Aya yang kemudian mengambil sapu dan skop lalu membawanya pergi kebelakang. Sementara temannya tadi ngedumel sendiri karena ditinggal pergi oleh Aya.
Aya hanya melihat dari jauh rombongan Boss besar ketika tiba. Boss besar itu juga tidak terlihat jelas karena kerumunan banyak orang. Aya tidak ingin ikut-ikutan heboh seperti yang lain ketika boss besar berkunjung ke pabrik.
Sementara Dewa saat ini tengah memeriksa sistem produksi kertasnya.
"Kalau memang sudah diperbaiki gak bener-bener lebih baik kita ganti mesik baru!" ucap Dewa
"Benar tuan, kami pun berkesimpulan seperti itu daripada kita terhambar produksi karena kerusakan 2 mesin" kata kepala produksi
"Van, siapkan semua keperluan untuk penggantian mesin produksi kita. Secepatnya kita harus menggantinya dan mesin itu bisa kita jual atau tukar tambah saja" ucap Dewa
__ADS_1
Setelah rapat selesai, Kepala produksi mengajak Dewa untuk berkeliling melihat produksi pabrik mereka secara langsung, Dewa pun mengikuti nya.
Dewa mendengarkan semua penjelasan Kepala produksi mengenai proses tahapan produksi. Semua pegawai yang di lewati Dewa memberikan salam hormat untuknya, Dewa tidak membalas apapun. Dirinya lebih memilih untuk mendengarkan penjelasan kepala produksi. Saat Dewa berjalan menuju ke tempat pengelolaan limbah, Dewa melihat wanita yang sosoknya sangat ia rindukan. Lalu Dewa berlari dan menghampiri wanita itu
"Aya?!" ucap Dewa dan membuat wanita yang di pegang lengannya menoleh kebelakang. Wanita itu tampak bingung lalu membuka maskernya
Dewa begitu kaget ketika melihat wanita itu ternyata bukan Aya
"Maaf tuan, anda salah orang. Nama saya Reni" ucap nya
"Maaf saya salah orang, saya kira kamu istri saya," ucap Dewa
Wanita itu tersenyum lalu memberi hormat kepada Dewa. Setelah kejadian itu Dewa kembali menuju ke tempat pengolahan limbah pabrik.
Sementara itu, Aya baru saja keluar dari toilet dan melihat rombongan pria-pria menjauh darinya
"Kamu kenapa Ren??" tanya Aya
"Tau gak mbak sukma, tadi pak boss besar megang lenganku mbak, dikiranya aku itu istrinya. Eh tsunya salah orang hahaha tapi gak papa deh yang penting aku bisa lihat dengan jelas boss besar hihihi" ucap Reni
"Gimana, ganteng gak seperti yang kamu ceritain tadi??" tanya Aya
"Husss!! jangan ngebayangin suami orang! gak baik" sarkas Aya
"Heheeh iya deng ya,,, Astaghfirullah....tapi kalau aku dijadikan istri keduanya aku gak bakal nolak mbak hahaha" ucap Reni dan membuat Aya tertawa. Kemudian mereka pergi menuju keruangan pantry.
Rombongan Dewa menuju ke kawasan pengolahan limbah, disana tempatnya sangat aseri dan sama sekali tidak meninggalkan bau yang tidak sedap karena pihak pabrik sudah mengolah limbah pabrik itu dengan baik. Namun saat Dewa baru sampai di kawasan itu, tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah. Lalu dengan cepat Dewa meninggalkan rombongan lalu mesuk kedalam toilet, Dewa memuntahkan semua dari dalam perutnya. Tak lama Dewa keluar dari toilet dan disana sudah ada Devan
"Tuan gak papa?? atau mabuk udara??" tanya Devan
"It's ok, aku cuma mual aja bau di kawasan itu" ucap Dewa
"Bau?? disana tidak bau apapun tuan, bahkan anginya sangat segar karena banyak pepohonan" ucap Devan
"Bau gitu dibilang enggak! hidung mu bermasalah!. Sudah katakan kepada Mereka, lebih baik kita kembali keruangan!" ucap Dewa
"Baik tuan" jawab Devan
Lalu Devan menemui rombongan kepala Produksi dan memberitahukan untuk kembali keruangan. Mereka pun menurut saja.
Sementara itu di pentry....
__ADS_1
"Mbak Sukma bawa parfume gak?? bajuku tadi pagi gak kering mbak, jadi agak bau. Tadi mau beli parfume toko belum buka" ucap Rini ketika menghampiri Aya
"Ohh bawa kayaknya. Bentar mbak ambil" ucap Aya yang kemudian mengambil botol parfume miliknya lalu memberikannya kepada Rini.
"Makasih ya mbak" ucap Rini
"Iya" aku ke belakang dulu ya,,, mau bersihin taman" ucap Aya
Kemudian Aya pergi ke belakang dengan membawa sapu taman. Tak lama datanglah seorang penjaga pentry tiba disana
"Eh mbak Rini boleh minta tolong bantuin saya bawakan cemilan ke ruang rapat mbak??"
"Bisa pak, mari saya bantu" jawab Rini
Setelah penjaga pentry menyiapkan cemilan, ia membawa cemilan itu bersama Rini keruang rapat. Lalu mereka masuk kedalam dan Rini membantu menurunkan piring berisi cemilan itu. Saat Rini mendekat kearah Dewa, Dewa mencium parfume yang sering di pakai Aya. Matanya langsung terbuka, pikirannya pun langsung tertuju kepada Aya.
Tiba-tiba Dewa mencengkram lengan Rini dengan begitu kuat
"Darimana kau dapatkan parfume ini?!" ucap Dewa dengan tajam dan membuat rini takut bahkan semua orang disana terlihat heran
"S..saya hanya minta dari teman saya tuan, namanya mbak Sukma" ucap Rini
"Sukma?! bukan Cahaya??" tanya Dewa
"Bb...bukan tuan" jawab Rini
Lalu Dewa melepaskan cengkraman tangannya dan mengatur nafasnya.
"Cepat pergi dari sini" sarkas Dewa
Rini yang ketakutan pun langsung keluar dari ruangan itu. Dia begitu takut karena tatapan Dewa yang seakan siap membunuhnya. Sementara yang ada diruangan itu jadi bergidik ketika melihat Dewa marah. Setelah insiden itu, Dewa kembali melanjutkan obrolan mereka dan menganggap hanya angin lalu.
Hampir 2 jam mereka berada di ruang rapat, kemudian Dewa pulang dan akan kembali ke kotanya bersama Asistentnya. Dewa merasa bertambah frustasi ketika sesiang ini seperti dipermainkan takdir. Bahkan sampai pulang, Dewa masing teringat kejadian hari ini di pabrik. Sungguh Dewa begitu merindukan Aya,,,,,,,
.
.
.
Kalau sudahhh tiada, baru terasaaaaaaaa
__ADS_1