
Malam menjelang,,,,,
Semua keluarga Wardana tengah menyantap makan malam bersama di meja makan. Dimeja makan besar itu sudah berkumpul keluarga Dewa, dan juga keluarga kakaknya Dewi yang baru datang sore tadi menjenguk mama mereka yang sedang sakit. Namun kendati demikian, Mama masih berada di kamarnya nya dan tengah di temani Aya untuk makan malamnya.
Bagai seorang perawat, Aya terus melayani mama Dewa dengan hati dan mengambilkan apapun yang dia inginkan tanpa mengeluh sedikitpun. Aya juga mengantarkan mama Dewa jika ingin ke toilet, memandikannya meski tidak seluruh tubuhnya.
"Kamu belum makan?" tanya mama kepada Aya saat dia sedang memotong buah apel untuk mama Dewa
"Belum ma,,, nanti setelah mama selesai makan, Aya akan makan dibawah" Jawab Aya dengan tersenyum
Aya memberikan piring kecil berisi potongan buah apel kepada mama Dewa dan tak lama Dewi masuk kedalam kamar
"Ya',,, kamu makanlah dibawah sama Dewa, biar mbak yang gantian jagain mama" ucap Dewi yang sudah selesai makan
"Baik mbak,,, Aya turun kebawah dulu" ucap Aya yang kemudian membawa piring kotor bekas mama Dewa makan ke bawah.
"Dia,,, mantu yang baik kan ma?" ucap Dewi menyindir mamanya
Mama Dewa masih diam dan menatap ke arah pintu dimana Aya sudah tidak terlihat lagi
"Harusnya mama bersyukur memiliki mantu seperti Aya ma, Dia itu udah nganggep mama itu kayak ibunya sendiri. Sama sayangnya Dewi ke mama. Coba deh mama bayangin kalau orang lain di posisi Aya sekarang, mungkin dia sudah gak betah punya suami keras seperti Dewa! ditambah punya mertua judes kayak mama" ucap Dewi
"Kamu ngatain mama wi?!" Sarkas mama
"Enggak ngatain ma, cuma mengatakan fakta! buktinya Dewi gak betah tinggal dirumah ini karena selalu mama omeli hahahahaah" ucap Dewi yang kemudian malah tertawa terbahak-bahak.
"Dasar kamu saja yang bandel!" ucap mama
"Sudahlah ma,,, buang rasa ketidaksukaan mama terhadap Aya. Sebelum mama benar-benar menyesal nantinya" ucap Dewi
"Kamu benar, dia wanita yang baik,, mama yang salah menilai dia selama ini" ucap mama Dewa
"Masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya ma,, dan Dewi yakin, Aya pasti mau memaafkan kesalahan mama" ucap Dewi
Sementara itu,,,
Aya sedang berada di meja makan dan tengah menikmati makan malamnya di temani oleh Dewa dan yang lain sudah beralih keruang keluarga.
"Mama gimana sayang?" tanya Dewa saat Aya sudah selesai menghabiskan makanannya
"Keadaan mama sih sudah membaik mas, kalau sikap mama ke Aya yah,,, sedikit ada kemajuan lah hehe... kadar kejutekan mama sudah mulai berkurang" jawab Aya saat mencuci piring
"Berarti project meluluhkan hati mertua sudah ada titik terang yah?" ucap Dewa saat menggoda istrinya
__ADS_1
"Semoga saja begitu mas,,, Mungkin Aya butuh waktu sedikit lagi untuk meluluhkan nya" ucap Aya
"Mas percaya kamu bisa melakukan nya" ucap Dewa yang kemudian menggandeng tangan Aya menuju keruang keluarga. Aya melihat kedua putranya tengah bermain bersama anak-anak mbak Dewi sembari menonton film kesukaan mereka. Tak lama kemudian pintu kamar mama terbuka dan Dewi tengah memapah mama keluar dari kamarnya
"Mama?" ucap Aya yang kemudian beranjak dan menghampiri mereka
"Mama mau kemana?" tanya Aya
"Mama bosan didalam kamar" jawab mama Dewa datar
"Ohh,,, ya sudah mama hati-hati jalannya" ucap Aya yang juga membantu mama Dewa menuju keruang keluarga dan ikut berkumpul bersama yang lainnya. Aya dan Dewi mendudukkan mama di samping papa, setelah itu mereka berdua duduk di samping suami mereka masing-masing.
Mama mengawasi papa, Brama, Dewi, Aya dan Dewa tertawa lepas ketika melihat kelucuan Si kembar yang dihukum karena kalah dalam permainan mereka. Wajah si kembar sudah penuh dengan coretan bedak karena keduanya terus terusan kalah dalam permainan. Mama melihat mereka tertawa tanpa beban sedikitpun, dan tanpa disadari senyum sabit tercetak di bibir mama Dewa.
Rasa bahagia mulai di rasakan mama Dewa ketika melihat anak-anak dan cucu-cucu nya bersama dalam lingkup keluarga bahagia. Tidak ada hal lain yang bisa membuat bahagia dimasa tuanya kecuali kebahagiaan dari orang-orang disekelilingnya.
Tanpa terasa tetesan keharuan jatuh di pelupuk mata mama Dewa
"Mama kenapa?" tanya Papa
"Gak papa pa,,, mama cuma merasa bahagia " jawab mama
Papa Dewa tersenyum ketika melihat istrinya mulai terbuka hatinya
"Sudah papa bilang berulang kali ma,,, tidak baik memendam amarah, kita ini sudah tua, bukan saatnya lagi mengatur urusan rumah tangga anak,, coba mama lihat mereka berdua sudah dewasa ma, mereka sudah memiliki anak dan mereka mampu mendidik anak-anak mereka. Kita sebagai orang tua harusnya percaya jika kebahagiaan akan bisa mereka dapatkan dan tentukan sendiri, kita hanya perlu merestui saja" ucap papa Dewa panjang lebar dan malah membuat mama Dewa menangis di pelukan papa Dewa.
"Sudah-sudah jangan menangis,, malu sama cucu ma,,," ucap papa Dewa sembari mengusap bahu mama Dewa
"Yang terpenting sekarang adalah,, mama janji kalau mama tidak akan bersikap seperti kemarin-kemarin dan mama harus meminta maaf kepada Aya" ucap papa
Mama melonggarkan pelukannya lalu menghapus air matanya. Dengan sedikit malu, mama Dewa menggeser duduknya mendekat kepada Aya
"Aya,,,," terlihat bibir mama Dewa bergetar saat akan berbicara, antara ingin bicara dan ingin menangis saat itu
"Mama tidak perlu meminta maaf kepada Aya, Aya tidak mempermasalahkan apapun yang mama ucapkan dulu kepada Aya, Yang terpenting sekarang kita adalah kita sudah berkumpul bersama dan melupakan semua keburukan yang telah lalu" ucap Aya dengan meyakinkan mama Dewa jika dirinya tidak mempermasalahkan perlakuan buruk mama Dewa kepadanya.
Mama Dewa langsung berhambur memeluk Aya dengan sangat erat, tangis mama semakin keras dan membuat Aya juga ikut menangis saat itu.
"Mama,,,, mama ,,,, selama ini mama salah menilai kamu,,,, mama terlalu buta untuk melihat semua kebaikan kamu" ucap mama Dewa
Aya tidak mampu menjawab lagi, dia pun larut dalam tangisannya sendiri. Sementara itu anak-anak terlihat bingung dengan melihat kondisi eyang mereka menangis bersama bundanya si kembar
"Eyang,,, bunda,,,, kenapa menang??" tanya Faza
__ADS_1
Mama Dewa melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, begitu juga Aya
"Gak papa sayang,,, hehe eyang cuma kangen aja sama bunda" jawab Mama Dewa
"Oohhh gicuuuu" jawab Faza yang kemudian kembali bermain
Tembok besar pembatas antara mama Dewa dan Aya sudah roboh, keduanya sudah sepakat untuk membuka lembaran baru, menjalin hubungan baik antara mertua dan menantu. Tidak akan ada lagi mama Anggelista yang akan bersikap jutek, judes dan bicara seenaknya sendiri kepada mantunya. Mama Dewa sudah berjanji akan memperbaiki semuanya dan tidak akan ikut campur lagi kedalam urusan rumah tangga anak-anaknya.
Setelah perkumpulan keluarga cukup lama, satu persatu anggota keluarga berpamitan untuk beristirahat dikamar masing-masing. Dewa mengajak Istri dan Anak-anaknya masuk kedalam kamarnya dan mereka berempat tidur dalam satu tempat tidur. Untung saja tempat tidur Dewa berukuran besar sehingga muat menampung keluarga kecilnya, terutama kedua putra gembul nya yang menghabiskan banyak tempat ketika tidur seperti jarum jam.
Aya dan Dewa mengapit kedua putranya agar tidak jatuh kebawah.
"Terima kasih karena sudah bersabar menghadapi mama" ucap Dewa saat menatap istrinya dari kejauhan
"Semua karena mas mendukungku" ucap Aya membalas tatapan dewa dengan penuh cinta
"Semoga setelah ini tidak ada lagi masalah besar yang kita hadapi" ucap Dewa
"Masalah akan selalu ada mas, tapi balik lagi kepada kita bagaimana menyikapinya" jawab Aya.
"Mas sangat beruntung memiliki istri komplit seperti kamu sayang" ucap Dewa saat mengusap wajah Aya dengan ujung jarinya
"Memangnya Aya roti komplit?!" ucap Aya dengan tersenyum
"Kalau roti komplit, berarti enak di makan dong,,, sini mas makan lagi" ucap Dewa dengan seringai nakalnya
"Dasar nakal!!! udah Ah,, Aya mau tidur,, selamat malam mas" ucap Aya
"Selamat malam istriku,,," ucap Dewa yang kemudian bangkit dari tidurnya.
Dewa menghampiri istrinya dan membuat Aya terkejut
"Masss?!"
"Mas gak bisa tidur kalau belum cium kamu" ucap Dewa yang kemudian mendaratkan semua kecupan dalam kepada istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.........