
Pesawat yang ditumpangi keluarga Dewa baru saja mendarat sempurna di bandara. Kemudian mereka bersiap untuk segera turun dari pesawat. Dewa Aya berjalan lebih dulu bersama putra-putranya sementara Dewa berada di belakang Aya dan mengawasi agar Aya tidak kabur lagi. Sementara Devan sudah turun lebih dulu untuk mengurus barang-barang mereka.
Faza dan Gaza masih enggan mendekat kepada Dewa, keduanya terus-terus menempel pada Aya selama perjalanan menuju ke depan bandara. Saat mereka sampai didepan, Sudah ada supir menunggu mereka dan tak lama Devan menghampiri mereka dengan membawa koper milik Aya.
Dewa menyuruh Aya masuk kedalam mobil dan Aya tidak memiliki pilihan lain selain menuruti Dewa. Lalu disusul anak-anak masuk setelah itu Dewa. Mobil itu cukup luas menampung semuanya. Lalu sopir menjalankan mobilnya menuju ke rumah Dewa. Sepanjang perjalanan terasa begitu canggung, hanya terdengar bisikan-bisikan Faza dan Gaza yang ntah berbicara apa, sudah suaranya sangat kecil dan tidak lurus membuat Dewa tidak mengerti topik pembicaraan mereka berdua. Sementara Aya hanya mendengarkan kedua putranya, dan Aya sudah paham apa yang di ceritakan kedua putranya itu. Sesekali terlihat Aya tertawa kecil, Dewa melihat senyum itu, namun ketika pandangan mata mereka bertemu, senyum itu langsung sirna dan Aya lebih memilih untuk membuang pandangannya ke luar mobil.
Tak lama kemudian mobil sampai didepan rumah Besar Dewa, lalu penjaga rumah itu membuka kan pintu mobil. Dewa mengajak Aya dan putra - putra mereka untuk masuk kedalam rumah. Mereka masuk bersama saat pelayan akan membawa koper Aya keatas, Aya angkat bicara
"Aku gak mau tinggal disini" ucap Aya tegas
"Apa maksudmu Aya?" ucap Dewa
"Aku ingin bicara sama kamu mas" ucap Aya
"Baiklah, kita ke ruang kerjaku. Devan, tolong Ajak Anak-anak ke kamar untuk istirahat" ucap Dewa
"Baik tuan" jawab Devan
Lalu Devan mengajak sikembar ke kamar tamu sementara Dewa ke ruang kerja bersama Aya. Tidak banyak yang berubah dirumah itu, hanya ada beberapa titik yang sepertinya dirubah Dewa. Lalu Dewa dan Aya duduk bersisian di sofa
"Ada Apa Aya? kenapa kamu gak mau tinggal disini? ini juga rumahmu" tanya Dewa
"Bukan! ini bukan rumahku mas tapi rumahmu" ucap Aya
"Tapi kamu istriku Aya" ucap Dewa
"Mungkin dulu iya mas, sampai aku melahirkan anak-anak dan sudah lepas masa iddah ku. Tapi itu sudah 3 tahun yang lalu, setelah masa itu kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aku akan kembalikan semuanya, dan aku ingin kita bercerai" ucap Aya tegas
"Gak! aku gak mau menceraikanmu!" ucap Dewa
__ADS_1
"Kalau mas gak mau menceraikanku, biar aku yang menggugat mas. Aku gak bisa lagi hidup sama mas Dewa! aku ingin menjalani hidupku bersama anak-anakku!" ucap Aya dengan deraian air matanya
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah mau bercerai denganmu Aya! Aku tau aku pernah salah sama kamu, aku sudah menelantarkan kamu dan anak-anak kita, tapi tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya" ucap Dewa saat memegang tangan Aya
"Aku sudah terlanjur sakit mas! aku gak mau hidup sama kamu lagi!" ucap Aya yang kemudian berdiri dan akan meninggalkan Dewa.
Dewa menarik Aya dan membuat Aya terjatuh dipangkuannya.
"Maaf kan aku aya,,, aku sadari aku salah. Apa belum cukup kamu menghukumku selama 3 tahun ini? Aku sudah seperti orang gila, hidup nganar tanpa arah. Disaat aku sudah menemukan pelita hidupku, tapi kenapa kamu harus pergi lagi dari hidupku Aya? Aku janji akan berubah, aku tidak akan kasar lagi sama kamu" ucap Dewa saat menangkup wajah Aya dan membuat Aya hanya fokus pada Dewa
"Aku sudah terlanjur sakit hati mas....." ucap Aya yang sudah menangis dihadapan dewa
"Iya mas tau,,,, mas ingin memperbaiki semuanya. Kita mulai lagi dari awal Aya,, kita benahi keluarga kita bersama anak-anak kita" ucap Dewa
"Aku...aku belum bisa memaafkan kamu mas" ucap Aya
Dewa menunduk namun sesaat kemudian ia kembali menatap Aya
Aya menyelami mata Hazel dihadapannya, ia mencari titik kejujuran dan ketulusan dari mata itu.
"Kamu mau kan memberi mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya Aya?" tanya Dewa
Sesaat Aya masih diam namun selanjutnya ia mengangguk pelan. Seulas senyum Dewa mengembang ketika melihat anggukan Aya.
"Terima kasih" ucap Dewa sangat bahagia
"Tapi kita tidak tidur 1 kamar! dan mas gak boleh menyentuhku lebih selama aku belum memaafkan mas!" ucap Aya
"Terserah apapun maumu Aya" jawab Dewa
__ADS_1
Dewa masih menatap Aya dengan tatapan penuh kerinduan, benar- benar rindu dan ingin sekali ia luapkan saat itu. Namun Sepertinya saat itu bukanlah waktu wang tepat bagi Dewa. Aya mau tinggal dirumah itu saja Dewa sangat bersyukur, Dewa harus bersabar sedikit untuk membuktikan ucapannya kepada Aya.
Suasana menjadi tegang, Aya pun langsung sadar jika saat ini dirinya berada diatas pangkuan Dewa. Aya dapat merasakan sesuatu dibawah sana seperti mengganjal. Lalu Aya segera turun dari pangkuan Dewa
"Aku mau nemuin anak-anak" ucap Aya mengubah topik pembicaraan.
Lalu Aya keluar lebih dulu sementara Dewa mengumpati dirinya sendiri yang tidak bisa diajak kompromi. "Bisa-bisanya 'dia' gak bisa diajak kompromi sedikitpun, hanya dengan memangku Aya saja sudah membuatnya bangun" ucap Dewa kesal.
Beberapa saat Dewa mengatur nafasnya, setelah merasa lebih baik, Dewa keluar menyusul Aya. Ia mencari Aya di kamar tamu dan benar saja Saat Dewa membuka pintu kamar tamu ia melihat Aya yang tengah berbaring menghadap kedua putra mereka yang sepertinya sudah tidur. Lalu Dewa menutup kembali pintu kamar itu dan menuju kebelakang.
"Diah" ucap Dewa
"Iya tuan?" jawab koki Diah
"Masakan makanan yang enak-anak untuk Nyonya dan tuan muda" ucap Dewa
"Baik Tuan besar" ucap koki Diah
Lalu Dewa ke kamar Atas untuk menyegarkan dirinya saat kepalanya sudah pusing sampai keubun-ubun.
.
.
.
.
Bersambung......
__ADS_1
Tinggalin jejak kalian yah,
Tekan ❤ Biar lanjut ceritanya