Project Cinta Istri Kedua

Project Cinta Istri Kedua
Memanjakan anak-anak


__ADS_3

Mama dan Aya berjalan masuk kedalam rumah setelah papa pergi meninggalkan rumah Dewa


"Anak-anak dimana Ya?!" tanya mama


"Ada dk kamar Gaza ma, ayo kita kesana ma" jawab Aya


"Baiklah" jawab mama Dewa


Mereka berdua berjalan menuju ke kamar Gaza untuk menemui sikembar


"Faza,, Gaza,,, ada Eyang putri nihhh" ucap Aya


Kemudian Faza dan Gaza berlarian keluar dari kamar Gaza dan menemui Eyangnya yang sudah berada didekat kamar Gaza


"Eyang putliiiiii" ucap Faza dan Gaza bersamaan


Keduanya lalu memeluk eyangnya bersamaan


"Eyang kangen sama kalian,,, kalian lagi apa?" tanya mama Dewa


"Lagi main eyang, cini macuk eyang" ucap Faza dan Gaza bersamaan. Lalu mereka masuk kedalam kamar Gaza dan disana sudah ada 2 pelayan yang membereskan mainan sikembar.


"Ini kamar siapa?!" tanya Eyang


"Ini kamalku eyang, dan di cebelah kamalnya Faca" jawab Gaza dan Faza bersamaan


"Bagus yah kamarnya,,," ucap mama Dewa


"Ini mas Dewa ma yang merenovasinya, jadi kamar mereka dipisah" ucap Aya


Lalu Aya menyuruh pelayan untuk membuatkan mama Dewa minuman.


"Ohhh,,,, jadi tidurnya udah di pisah.... emangnya cucu-cucu eyang sudah berani bobok sendiri??"tanya mama Dewa


"Belani dong Eyangggg" jawab Sikembar


"Awalnya gak berani ma, tapi karena dilatih terus alhamdulillah mereka sudah biasa" jawab Aya


"Hmm kamar mereka sebagus ini, mesti Aya yang meminta Dewa membuatkannya" batin mama Dewa


Setelah cukup lama mereka bermain di kamar Gaza, mama Dewa keluar dari kamar bersama Aya dan anak-anak. Mereka berkumpul di ruang keluarga dan melihat disana sudah ada beberapa mainan Anak-anak.


"Sepertinya Dewa sangat memananjakan putra-putranya" ucap mama Dewa saat melihat sikembar yang tengah bermain mobil-mobilan. Mereka menaikinya dan menjalankan mobil mereka di sekitaran ruang keluarga dan ruang tamu.


"Sepertinya begitu ma, Setiap pulang dari kantor mas Dewa sering membawakan mainan untuk mereka. Kadang Aya melarangnya karena bisa membuat mereka jadi kebiasaan. Sementara mainan mereka masih bagus-bagus dan jarang dimainkan" ucap Aya

__ADS_1


"Kalau sekali-sekali sih gak papa Aya, tapi kalau keseringan yah, bisa habis uang Dewa" ucap mama Dewa


Deg!


Rasanya Aya sedikit kesentil dengan ucapan mama Dewa, namun Aya tidak ingin berfikir apapun.


"Kemana cincin nikahmu sama Dewa?!" tanya mama saat melihat jari Aya tanpa memakai cincin sama sekali


"Oh,,, cincin Aya sudah Aya jual ma, waktu Aya pergi kesurabaya waktu itu dan mas Dewa belum tau soal itu" ucap Aya


"Cincin kawin kamu jual?!" ucap mama Dewa kaget


"Iya ma, karena kan Aya gak punya apa-apa lagi selain cincin itu untuk di jual. Aya gak punya uang sedikitpun saat itu" ucap Aya


"Ya Allah Aya,,, itukan kenang-kenangan dari pernikahan kamu dan Dewa! harusnya kamu jaga bukan malah kamu jual! pasti dibeli orang dengan harga murah!" ucap mama Dewa setengah kesal


"Maaf ma" jawab Aya


Aya hanya bisa menunduk ketika mama Dewa memarahinya. Dia hanya berfikir apa ya salah jika menjual cincin kawinnya, toh itu sudah menjadi miliknya setelah Dewa memberikannya waktu itu. Tapi Aya tidak ingin memperpanjang masalah dan yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah minta maaf.


Mama sedikit kesal dengan Aya, lalu mama memilih untuk menemani cucu-cucunya bermain. Sementara Aya juga ikut mereka bermain. Mama Dewa tidak berbincang lagi bersama Aya dan lebih memilih untuk berbicara kepada Faza dan Gaza, hati mama Dewa masih nyesek karena Aya menjual cincin kawinnya, bagi mama Dewa, Aya tidak menghargai cincin pengikat pernikahan mereka.


Saat akan makan siang, mama Dewa berpamitan pulang dan tidak ingin makan siang dirumah Dewa.


.


"Setelah ini kamu ada agenda apa wa?" tanya papa


"Meninjau proyek bersama paman Nadya" Jawab Dewa


"Oh,,,, kapan proyek itu selesai?!" tanya papa


"Mungkin 1 bulan lagi selesai dan siap beroperasi" jawab Dewa


"Bagus, lebih cepat lebih baik. Jadi kita tidak perlu banyak menghabiskan waktu lagi" ucap papa Dewa


Setelah selesai makan siang bersama, Papa Dewa pamit pulang, sementara Dewa bersiap pergi ke proyek bersama Devan. Sebelum berangkat meninjau proyek, Dewa lebih dulu menjalankan ibadah Zuhur saat sudah mendengar adzan Zuhur berkumandang.


Selesai Sholat, Dewa dan Devan meninggakkan kantor menuju ke proyek baru mereka bersama paman Nadya.


Saat diperjalanan Dewa menghubungi Aya dan menanyakan anak-anak, Aya hanya menceritakan soal anak-anak tanpa ingin membahas soal mama Dewa yang marah kepadanya. Aya masih perlu waktu untuk mengatakan masalah itu kepada Dewa, mungkin nanti setelah Dewa pulang agar pikirannya lebih jernih dan juga dingin.


Beberapa menit kemudian, mobil sudah sampai dilokasi proyek dan Dewa mematikan sambungan telfonnya. Lalu Dewa dan Devan turun dari mobil, Disana sudah ada Nadya dan juga pamannya yang menunggu didepan proyek.


"Selamat siang Tuan Dewa" sapa paman Nadya

__ADS_1


"Siang pak, maaf kami sedikit terlambat, karena jalanan sedikit macet" ucap Dewa


"Oh tidak masalah, kami juga belum lama sampai disini. Oh iya mari kita langsung saja masuk kedalam dan melihat proses finishingnya" ucap paman Nadya


"Mari" ucap Dewa


"Wa,,, pake safety dulu,," ucap Nadya dengan lembit


Dewa mengambil perlengkapan safety lalu memakainya sendiri begitu juga dengan Devan. Setelah itu mereka masuk kedalam dan melihat proses penyelesaian proyek pembuatan pabrik baru milik perusahaan Dewa. Paman Nadya menjelaskan perkembangan pembangunan pabrik itu dengan detailnya, sementara Dewa mendengarkan penjelasannya dan sesekali bertanya jika dirinya tidak paham.


Nadya terlihat memperhatikan Dewa saat itu, dilihat dari sudut manapun Dewa memanglah seorang pria yang sangat diidam-idamkan banyak wanita, semuanya nyaris sempurna.


Setelah puas berkeliling mereka kembali kedepan dan melanjutkan perbincangan disana. Saat tengah berbincang tanpa mereka ketahui, sebuah alat bangunan terjatuh dari lantai 2 dengan cepat


"Dewa Awassssss!" teriak Nadya


Bruuuuukkkkkkkkkkkk


Nadya menabrak tubuh Dewa dan malah kaki Nadya terkena alat bangunan itu


"Aaaahhhh" teriak Nadya ketika merasakan kesakitan pada kakinya


"Nadya!!!" teriak paman dan juga Dewa bersamaan


Paman Nadya dibantu Devan mengangkat Nadya lalu mereka segera membawa Nadya kerumah sakit terdekat


Sepanjang perjalanan Nadya terlihat terus menangis dan kesakitan pada kakinya yang juga berdarah, sementara Devan mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kerumah sakit.....


.


.


.


Bersambung........


Beri dukungan di novel baru uni yukkkk


DARI GUDEG TURUN KEHATI


Dukungan kalian sangat berarti untuk uni, jangan lupa tinggalin jejak kalian yahhhh.


Terima kasih


__ADS_1


__ADS_2