
Hari berikutnya,,,,,,,,
"Mbak Diah,,, tolong selesaikan ini yah, aku mau ke atas dulu" ucap Aya melepas celemeknya dan akan berjalan keatas
"Baik Nyonya" jawab mbak Diah
Aya berjalan menuju ke kamar atas, berniat untuk membantu suaminya bersiap ke kantor, sementara anak-anak tengah bermain sepeda didepan bersama Sofi dan Edo.
Ceklek
Aya begitu kaget ketika melihat Dewa masih memejamkan matanya dibalik selimut dan seperti enggan untuk bangun, bangun-bangun hanya karena menjalankan ibadah subuh nya tadi.
"Massss" ucap Aya saat menyentuh lengan suaminya dengan menggoyangkan pelan
"Bangun mas,,, sudah pagi,,, mas gak kekantor?" tanya Aya dengan lembut
Dewa tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya. Aya memeriksa suhu badan Dewa dan terasa menghangat
"Mas sakit??" ucap Aya yang langsung cemas
Aya membaringkan Dewa dengan posisi yang benar, lalu dia segera mengambil termometer dan mengecek suhu badan suaminya
"38°C,,, mas Demam yah,,,, Aya ambilkan obat yah,,, sebentar ya mas,,," ucap Aya yang kemudian berlarian turun kebawah untuk mengambil obat penurun panas.
Sebelum Aya kembali ke kamar Aya mengambil bubur Ayam didapur yang sudah di masaknya tadi dan membawanya ke atas.
"Tuan sakit ya Nyonya?" tanya Diah
"Iya,, dia demam" Jawab Aya yang kemudian berjalan menuju ke kamar atas.
Sampainya di kamar, Aya menurunkan nampan berisi sarapan dan juga obat untuk Dewa.
"Mas,,, sarapan dulu yuk,,, setelah itu mas minum obat biar panasnya turun" ucap Aya
Dewa membuka matanya, kemudian dia bangkit dan duduk menyender. Aya mengambil sendok dan menyuapi suaminya.
"Bismillahirrahmanirrahim,,,,,,," ucap Aya yang kemudian melanjutkan dengan doa makan.
Dewa terlihat tidak nafsu makan, wajahnya pucat dan terlihat sangat kusut
"Pahit" ucap Dewa dengan manjanya
__ADS_1
"Iya gak papa pahit, tapi mas harus tetep makan biar bisa minum obat dan cepet sembuh" ucap Aya
Dewa menuruti perkataan istrinya, suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya dan meski lidahnya terasa pahit, Dewa tetap menelannya. Beberapa saat kemudian Dewa sudah selesai sarapan, lalu Aya memberikan obat penurun panas untuk suaminya.
"Mas istirahat aja yah,,, Aya mau turun kebawah dulu kasih tau Edo kalau mas gak ke kantor hari ini" ucap Aya yang kemudian akan beranjak, namun Dewa menahannya
"Mas pengen di peluk kamu" ucap Dewa manja yang kemudian dia menarik Aya dan memeluknya sangat erat
"Mas,,, gak biasanya deh manja gini" ucap Aya saat mengusap punggung suaminya
"Mas pengen di manjain kamu" ucap Dewa saat mengecup bahu istrinya.
Beberapa saat Aya membiarkan Dewa memeluknya sampai dia benar-benar puas, kemudian Dewa melonggarkan pelukannya dan menatap sayu istrinya
"Aya turun kebawah yah,,, nanti Aya balik lagi ke kamar" ucap Aya saat mengusap wajah Dewa dengan sayang
Dewa mengangguk pelan dengan senyum tipisnya. Sebelum Aya pergi, Aya meninggalkan satu kecupan di pipi kanan Dewa lalu beranjak dan meninggalkannya. Sementara Dewa kembali ambruk di tempat tidurnya setelah kepergian istrinya.
Aya turun kebawah dan menemui Edo yang berada didepan rumah bersama si kembar dan juga Sofi
"Edo,,,,"
"Iya Nyonya" ucap Edo yang langsung berlari menghampiri Aya
"Baik Nyonya" jawab Edo
Kemudian Edo mengambil ponselnya didalam mobil dan menghubungi Asisstent Dewa setelah itu Edo menghubungi dokter keluarga sesuai perintah Nyonya nya. Sementara itu Aya mengajak anak-anaknya ke atas untuk menemani Ayah mereka yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Ayah Cakit yah,,,, bunda?" tanya Si kembar
"Iya sayang,,, Ayah demam,, kalian doain Ayah yah supaya ayah cepat sembuh" ucap Aya
"Cepet cembuh ya Ayah" ucap Si kembar bersaman lalu mencium pipi Dewa yang masih memejamkan matanya
"Sekarang kalian turun kebawah yah,,, main sama mbak Sofi dulu. Ayah biar istirahat dan bunda mau kompresin ayah biar panasnya cepet turun" ucap Aya
"Baik bunda" jawab anak-anak yang kemudian berlarian turun kebawah dan kembali bermain bersama Sofi.
Untungnya kedua putra kembar Aya dan Dewa anak yang baik dan bisa mengerti keadaan, disaat kondisi seperti sekarang mereka tidak ikut merengek kepada bundanya ataupun mengganggu Ayahnya yang sedang sakit.
Kemudian Aya mengambil handuk kecil dan mengompres kening suaminya.
__ADS_1
"Cepet sembuh ya mas" ucap Aya saat mengompres Dewa.
Beberapa menit kemudian, Dokter Gunawan sampai di rumah Dewa, kemudian Edo mengantarkan dokter Gunawan ke kamar Dewa
"Nyonya,,, dokter Gunawan sudah datang"
"Dokter,,, silahkan masuk" ucap Aya yang kemudian berdiri dan dokter mendekat kepada Dewa
" Sejak kapan demamnya Nyonya?" tanya Dokter saat memeriksa keadaan Dewa
" Pagi tadi dok, semalam masih baik-baik saja dan subuh tadi juga begitu" jawab Aya
"Sudah di beri obat penurun panas?" tanya Dokter
"Sudah dok, tadi setelah sarapan saya kasih obat penurun panas" jawab Aya
"Sepertinya tuan terlalu memporsir tenaganya sampai kecapekan seperti ini. Jika Besok panasnya belum juga turun, Dibawa saja ke rumah sakit Nyonya. Disana nanti akan dilakukan pengecekan lebih lanjut" ucap Dokter
"Baik dok,,," jawab Aya
Lalu Dokter menuliskan resep obat dan memberikannya kepada Aya. Setelah itu dokter berpamitan untuk pulang. Saat Aya akan beranjak, Dewa menyebut namanya didalam tidurnya
"Aya,,,"
"Aya,,,"
Aya menoleh dan melihat Dewa yang terus memanggilnya. Kemudian Aya duduk menyamping di tepian tempat tidurnya dan memeluk Dewa dari samping
"Aya disini mas,,, " ucap Aya saat mengecup kening Dewa yang masih terasa hangat
"Jangan pergi,,,,,,," ucap Dewa saat menenggelamkan wajah nya pada dada istrinya, Dewa merapatkan dirinya dan semakin erat memeluk istrinya
"Enggak,,, Aya gak pergi,,, istirahatlah mas" ucap Aya, yang kemudian mengusap kepala Dewa dan dewa semakin mengeratkan pelukan nya. Seperti seorang anak kecil yang sedang sakit, Dewa begitu manja dan Sedetik pun dia tidak ingin lepas dari istri nya. Aya tidak bisa berbuat apa-apa selain menemani Dewa sampai panas nya benar- benar turun.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.........