
Dihari berikutnya........
Pagi itu Aya dibantu para pembantu dirumah Dewa tengah mempersiapkan sarapan pagi. Meskipun mereka lelah setalah perjalanan dari puncak, namun setidaknya sudah sangat bahagia bisa mengajak anak-anak berlibur. Setelah selesai mempersiapkan sarapan, Aya ke kamar anak-anak dan dilihatnya Sofi dan anak-anak tengah bermain
"Anak-anak,,, Sarapan udah siap,, ayo kita sarapan,,, bunda panggil Ayah dulu ya" ucap Aya
"Baik bunda" jawab si Kembar bersamaan
Aya tersenyum lalu beranjak keatas untuk memanggil Dewa sarapan, sementara Sofi mengajak anak-anak keluar menuju ke meja makan. Aya membuka pintu kamarnya
Ceklekk
Dilihatnya Dewa tengah memakai kemejanya
"Udah selesai mandi mas?" tanya Aya yang kemudian membantu Dewa mengangcingkan kemejanya
"Sudah dong sayang,,,, udah wanngiii nih,, coba cium" ucap Dewa saat merapatkan dirinya kepada Aya lalu memeluk pinggangnya
"Masss,,, hentikan! jangan nakal!" ucap Aya saat merasakan sesuatu dan Dewa malah terkekeh
"Mas,,, pagi ini jadi kan kita jenguk mbak Nadya?" tanya Aya
"Iya jadi, nanti sebelum berangkat kekantor kita mampir dulu ke rumah paman Nadya" ucap Dewa
"Baiklah,,, yuk sarapan dulu, anak-anak sudah menunggu" ucap Aya
" Morning kiss dulu dong sayanggg" ucap Dewa dengan manja
Aya tersenyum setelah itu mengecup pipi Dewa sekilas
"Lagiiii" ucap Dewa yang kemudian menghadap istrinya
"Masss,,,, anak-anak sudah......" belum selesai Aya bicara Dewa sudah membungkamnya dengan sesuatu yang manis pagi itu.
"Terima kasih istriku" ucap Dewa saat melepaskan Aya
Aya hanya bisa tersenyum lalu mengajak Dewa untuk segera turun kebawah sebelum kedua putranya menyusul keatas dan menyeret kedua orang tuanya karena bosan menunggu lama. Sampainya di bawah, Dewa dan Aya sudah melihat si Kembar yang duduk di meja makan dan Dewa menyapa keduanya
"Selamat pagi jagoan Ayah?"
"Pagi juga Ayah,,,,," jawab si kembar bersamaan
Aya begitu bahagia jika melihat suami dan anak-anaknya begitu dekat dan hangat seperti ini, rasanya sudah cukup kebahagiaan bagi Aya. Lalu Aya mengambilkan makanan di piring Dewa setelah itu untuk anak-anak dan kemudian untuk dirinya sendiri, setelah berdoa mereka menikmati sarapan pagi mereka.
Beberapa saat setelah selesai sarapan, Dewa dan Aya bersiap untuk pergi menjenguk Nadya tak lupa Aya membawa buah tangan meski hanya sekedar buah-buahan untuk Nadya. Dewa masuk kedalam mobil bersama istri dana anaknya, lalu Edo menjalankan mobil meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan Anak-anak terus bercerita dengan bundanya, sementara Dewa dan Edo hanya sebagai pendengar setia.
"Begitulah jika nanti kamu sudah menikah memiliki istri dan anak, hidupmu akan lebih berwarna" ucap Dewa kepada Edo
"Hehe iya tuan" jawab Edo
Tak lama kemudian Mobil Dewa memasuki kawasan perumahan elite dan salah satunya rumah besar Wardana yabg berada di paling depan dan paling besar diantara rumah-rumah lainnya. Mobil Dewa melewati rumah papanya menuju ke rumah paman Nadya yang berada tak jauh dari rumah keluarga Dewa.
__ADS_1
Dewa, Aya dan anak-anak turun dari mobil lalu berjalan masuk kedalam rumah paman Nadya
"Assalamualaikum" ucap Dewa saat melihat pintu rumah terbuka
"Wa'alaikumsalam,,, Dewa,,, masuk wa" ucap paman Nadya. Dewa masuk diikuti Aya dan anak-anak
"Nadya ada Om?" tanya Dewa
"Ada di dalam,,, papa dan mamamu juga ada Wa,," ucap paman Nadya mengarahkan keduanya menuju ke kamar Nadya dan disana ternyata sudah ada papa dan mama Dewa yang juga menjenguk Nadya.
"Papa,, mama?" ucap Dewa
"Kalian baru datang,,, masuklah,, bergantian dengan kami" ucap papa yang kemudian berdiri . Aya dan Dewa masuk kedalam kamar
"Gimana kakimu Nad?" tanya Dewa
"Sudah mendingan Wa,, tinggal di terapi nanti juga sembuh" ucap Nadya
"Alhamdulillah kalau begitu" jawab Dewa
"Mbak,,, ini Aku bawakan buah" ucap Aya, lalu Aya meletakkan parcel buah di meja Nadya
"Makasih " ucap Nadya
"Sama-sama,,, semoga cepat sembuh ya mbak" ucap Aya
"Aamiin" jawab Nadya
Kemudian paman Nadya, papa Dewa, dan Dewa keluar dari kamar Nadya sementara di kamar ada Nadya, mama Dewa, dan Aya. Anak-anak ada di depan bersama Edo dan bibi Nadya ada didapur sedang membuatkan minuman
"Iya gak papa Ya, aku tau dari Dion kalau kalian lagi dipuncak" ucap Nadya
"Iya mbak,, Mas Dewa ngajakin anak-anak weekendan di puncak dan baru pulang kemarin sampe rumah agak ke sorean" ucap Aya
"Halah, ngomong Dewa yang ngajakin weekend an, padahal dia pasti yang ngerengek sama Dewa minta liburan!" batin mama Dewa
"Harusnya kemarin kalian langsung mampir kesini! kalian kan bisa nginep dirumah mama setelahnya" ucap mama Dewa
"Awalnya Aya juga mikir gitu ma,, tapi kata mas Dewa kasihan anak-anak terlihat capek, jadi kami langsung pulang dan pagi ini baru bisa kesini" ucap Aya
"Banyak alesan!" batin mama
"Kalian mau kesini, aku udah seneng kok" ucap Nadya kepada Aya
"Kenapa Nadya jadi berubah gitu sama Aya?! padahal waktu itu sikapnya kayak gak suka sama Aya?!" batin mama
"Iya mbak,,, jadi kemarin mas Dion yang jemput mbak Nadya ya?" tanya Aya
"Iya sama paman dan bibi juga" jawab Nadya
Lalu bibi Nadya masuk membawakan minuman untuk Aya dan juga mama Dewa
__ADS_1
"Jeng gak usah repot-repot,,," ucap Mama Dewa
"Ini gak repot kok jeng,, cuma teh hangat" ucap bibi Nadya, Kemudian bibi Nadya keluar dan membawa minuman ke depan untuk bapak-bapak
"Nad,, kamu dulu kan deket banget ya sama Dewa,, sampai Tante kira kalau kamu itu pacaran sama Dewa. Awalnya sebelum Dewa ketemu Megan, Tante pengen jodohin kamu sama Dewa" ucap mama Dewa
Deg!
Jantung Aya berdegup cepat saat mendengar ucapan mama Dewa, rasanya hati Aya begitu sakit ketika ibu mertuanya malah membicarakan hal itu. Sementara Nadya tersenyum gak enak ketika melihat Aya. Untuk menutupi rasa sakitnya, Aya berusaha tersenyum meski sangat tipis.
"Nadya dan Dewa kan cuma temenan Tan,, dan sampai kapanpun juga akan tetap jadi teman. Lagian Dewa sudah mencintai Istrinya Cahaya, jadi gak mungkin dia berpaling ke lain hati" ucap Nadya
"Sayang aja mantu Tante bukan kamu, sudah berpendidikan, punya usaha sendiri, dan maju pesat lagi" ucap mama Dewa
Deg!
Rasanya Aya sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan mama mertuanya itu. Seolah dirinya tidak dianggap ada di kehidupan Dewa. Aya ingin pergi tapi hatinya tidak membolehkannya pergi saat itu. Jika dia pergi berarti dia sudah kalah dari amarahnya.
"Ma,, kita tidak bisa memaksakan takdir, dan tidak mengetahui siapa jodoh kita. Baik buruknya juga kita tidak bisa menentukan sendiri, karena Allah sudah menetapkan di lauh Mahfuz. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima siapa jodoh kita dan juga baik buruknya" ucap Aya
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak mama. Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia, setidaknya sebagai seorang istri kamu ikut membantu suamimu bekerja, membangun usaha suamimu. Coba kamu lihat mama, Tante Karina, kami semua masih bekerja diusia seperti kalian meski kami sudah menjadi ibu rumah tangga. Kami tidak berpangku tangan kepada suami" ucap mama Dewa
Aya terdiam saat mendengar semua unek-unek dari hati mama Dewa saat itu. Rasanya malu karena mama Dewa terang- terangan mengatakan itu didepan Nadya.
"Kamu lihat Nadya, Atau kakakmu sendiri, Mereka bekerja dan memiliki pendapatan sendiri, setidaknya untuk membeli make up dan pakaian, mereka tidak perlu merengek kepada suami mereka nanti" ucap mama
"Andai mas Dewa mengizinkan Aya bekerja, tentu Aya dengan senang hati bekerja ma, tapi mama tau sendiri kan, mas Dewa melarang Aya. Sebagai seorang istri tentu Aya akan menuruti perkataan suami" jawab Aya tanpa ingin meluapkan emosinya dan berusaha tetap sabar
Semua terdiam sesaat setelah Aya menjawab
"Sayang,,, ayo kita pulang,, mas harus kekantor pagi ini" ucap Dewa yang sampai didepan kamar Nadya
"Baik mas,,,, mbak Nadya,,, kami pamit dulu ya mbak,,, semoga lekas sembuh" ucap Aya dengan ramah
"Iya,, terima kasih sudah berkunjung ya" ucap Nadya
"Iya mbak,, Assalamualaikum" ucap Aya
"Wa'alaikumsalam" jawab Nadya
"Ma,, kami pergi duluan ya ma,, maaf jika Aya ada salah bicara sama mama" ucap Aya saat menunduk lalu pergi meninggalkan Nadya dan juga mama Dewa di kamar itu. Dewa menggandeng erat tangan Aya seolah memberi kekuatan kepadanya untuk bersabar. Merasakan genggaman tangan Dewa yang begitu erat membuat Aya ingin menangis tapi tetap harus ditahan.
Lalu Aya dan Dewa pamit kepada paman dan bibi Nadya juga Papanya untuk pergi. Dewa mengajak Aya dan anak-anak mereka masuk kedalam mobil kemudian pergi meninggalkan rumah paman Nadya. Saat didalam mobil Aya berusaha ceria demi anak-anak dan suaminya...
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung........