
Mobil Dewa sudah sampai didepan rumah, Sofi dan Edo turun lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuk tuannya. Aya keluar dengan menggendong Faza dan disusul Dewa yang menggendong Gaza kedua anak gembul itu sudah tertidur lelap sejak perjalanan pulang kerumah itu. Lalu Aya dan Dewa menidurkan mereka di kamar masing-masing. Setelah Itu Dewa menggandeng Aya menuju kamar mereka.
Ceklekkkk
"Aya ganti baju dulu ya mas" ucap Aya yang kemudian mengambil pakaian tidurnya sementara Dewa akan merebahkan dirinya di tempat tidur
"Jangan lama-lama sayang" ucap Dewa
Aya tersenyum lalu masuk kedalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Beberapa saat kemudian Aya keluar dengan memakai Kimono tidurnya dan menghampiri Dewa yang sudah merebahkan dirinya sambil memainkan ponselnya.
Melihat Aya sudah naik ke atas tempat tidur, Dewa meletakkan ponselnya di meja dan mematikan lampu utama menyisakan lampu tidur. Lalu Dewa membawa Aya semakin merapat kepadanya. Dikecupnya kening Aya dan dieratkan pelukannya
"Mas,,,"
"Ada apa sayang?" tanya Dewa
"Maafkan Aya ya mas" ucap Aya
"Maaf soal apa?" tanya Dewa
"Maaf karena hari ini Aya sudah menghabiskan banyak uang mas Dewa, Jujur Aya takut mas kalau mas marah sama Aya" ucap Aya saat menatap Dewa. Dewa tersenyum lalu mengecup singkat istrinya
"Kamu belikan apa buat mama tadi?" tanya Dewa yang sebenarnya Dewa sudah tau jika Aya hari ini berbelanja banyak. Karena motif transaksi masuk ke email Dewa
"Tadi,, Aya belikan mama Jam tangan mas harganya dua juta lima ratus, udah itu aja" jawab Aya
"Terus belanja apa lagi?" tanya Dewa saat mengusap lembut wajah istrinya
"Keperluan anak-anak dan,,,,,, tadi,,, waktu Aya di butik ketemu kak Megan dan dia lupa bawa kartu kredit, jadi Ay bayarin mas" ucap Aya yang kemudian menggigit bibirnya sendiri setelah mengatakan isi hatinya yang sedari tadi mengganjal
"Hmm jadi kamu membeli keperluan orang lain sementara kamu tidak membeli untuk dirimu sendiri?" tanya Dewa menatap tajam kearah Aya
__ADS_1
"Mas,,, Semua keperluan Aya sudah mas cukupi, apalagi yang kurang? Aya sudah merasa cukup mas,,," ucap Dewa
"Apa kamu takut mas jatuh miskin?" tanya Dewa
"Bukan begitu mas,, sekalipun kita tidak memiliki harta lagi, aku akan tetap ada di samping mas Dewa. Tapi,,, tapi aku ,,,," ucap Aya yang sangat sulit mengucapkan kelanjutannya karena takut menyinggung Dewa
"Apa? kepikiran ucapan mama?!" ucap Dewa
Deg!
Tebakan Dewa sangat jitu, dan tepat sasaran. Aya sudah tidak sanggup lagi menatap Dewa dan memilih untuk menundukkan pandangannya. Ingin sekali Dewa marah karena Aya malah membayari belanjaan Megan, yang Dewa tau pasti jika Megan hanya sengaja melakukan itu. Melihat wajah istrinya mendung membuat Dewa tidak tega.
Diangkatnya dagu Aya dan membuat Aya menghadap Dewa meski Aya tidak berani menatap suaminya.
"Tatap suamimu Aya!" perintah Dewa
Aya memberanikan diri menatap Dewa dengan tangannya yang kuat mencengkram kaos Dewa menahan takut dan rasa gugupnya
"Mas sudah bilang padamu Sayang, pakai saja uang mas untuk membeli keperluan mu, Mas bekerja untuk menyenangkanmu dan anak-anak kita. Uang mas berarti uang kamu juga, tidak ada hubungannya dengan mama. Mama sudah memiliki bagian sendiri, dan mulai sekarang kamu jangan takut untuk menggunakan uang mas sayang,,, terus satu lagi, yang perlu kamu pahami,,, Aku tidak perhitungan dengan Megan ataupun jika kamu mau memberi uang untuk papa dan mama, selama itu jelas digunakan untuk apa, mas tidak ada masalah. Mama benar-benar keterlaluan karena sudah membuatmu jadi ketakutan seperti ini" ucap Dewa yang kemudian memeluk Aya dengan sangat erat.
"Baiklah kalau kamu mau belajar memanage keuangan, nanti mas suruh Bianca untuk mengajarimu. Dia adalah kepala tim keuangan di perusahaan mas" ucap Dewa
"Ibu-ibu?" tanya Aya
"Iyahh, dia sudah ibu-ibu beranak 4,,, kamu cemburuan bangettt sihhh!!!" ucap Dewa yang kemudian menjawil dagu istrinya
"Wajar Aya cemburu! kalau Aya gak cemburu itu yang bahaya! berarti Aya gak cinta sama mas Dewa!" ucap Aya
"Hmm,,, berarti tadi kamu juga cemburu sama Megan yang deket-deket sama Mas?" tanya Dewa semakin menggoda Aya
"Ya!" jawab Aya ketus yang kemudian menggeser dirinya menjauhi Dewa
__ADS_1
"Uluh uluh,,,,, cayangkuuu cemburu yahhh,,,, makin cantik kalau lagi cemberut gitu" ucap Dewa saat menarik Aya kembali mendekat kepadanya
"Mas tidak akan berpaling darimu sayang,, percayalah" ucap Dewa meyakinkan Aya
"Janji?!" tanya Aya
"Iyah janji,,, tapi kamu juga harus janji,,," ucap Dewa
"Janji apa mas?" tanya Aya
"Janji, setiap omongan mama yang sedikit keterlaluan jangan di ambil hati, seperti kata papa. Mama orangnya memang begitu, wataknya memang begitu jadi sedikit susah membenahinya, mas harap kamu tetep bersabar dan tidak berhenti mendapatkan hati mama" ucap Dewa dengan mata berkaca-kaca.
Aya mengangguk lalu mengecup Dewa sekilas.
"Aya akan berusaha mas,,," ucap Aya
"He'em,,, ya sudah kita tidur yuk,,, sudah malam. Apa,,, mau main dulu?" tanya Dewa
"Sepertinya mas harus puasa dulu selama seminggu ke depan, karena Aya kedatangan tamu sore tadi" jawab Aya dengan terkekeh
"Hmmm pantes aja ada yang mengganjal. Ya sudah mau gimana lagi,,, terpaksa deh" ucap Dewa yang kemudian mendaratkan kecupan kepada istrinya. Aya tersenyum saat Dewa kemudian memeluknya. Rasanya beban pikiran dan perasaan sesak di dadanya sudah luntur begitu saja.
Semua hanya pikiran Aya yang menghantuinya jika Dewa akan marah. Setelah mendengar jawaban Dewa, sedikit membuat hati Aya lega. Mungkin benar kata Dewa, Aya harus lebih bersabar dan tidak menyerah untuk meluluhkan hati mama Dewa. Mereka belum lama kenal dan keduanya belum terlalu Dekat sehingga chemistry diantara menantu dan mertuanya belum erat mengingat.
Aya kembali teringat dengan Nadya yang sempat beberapa waktu lalu pernah membencinya, Bahkan karena pertemuan mereka yang kerap beberapa hari lalu, dapat merubah sikap Nadya kepada Aya. Setelah memikirkan itu semua Aya pun tertidur didalam dekapan Dewa yang hangat.....
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung