
Sesuai janji Dewa saat itu, dia akan mengajak Aya dan juga anak-anak untuk mengunjungi keluarga Wardana. Meski sedikit rasa kekhawatiran menyerang didalam hati Dewa, namun Aya sudah meyakinkan hati Dewa jika tidak akan terjadi apapun nanti dan Mereka harus siap dengan apa yang bisa saja terjadi nanti setelah keluarga besar Dewa melihat Dewa dan keluarga kecilnya berkunjung.
Aya tengah bersiap-siap setelah keriwehan yang dilakukannya untuk membuatkan makanan yang akan dibawa kerumah keluarga wardana. Meski awalnya Dewa melarang Aya namun Aya tetep kekeh ingin membuat sesuatu yang bisa dibawa ke rumah mertuanya. Aya ingin memberi kesan yang manis kepada Keluarga Dewa nanti. Setelah semuanya siap, Mereka masuk kedalam mobil dan berangkat menuju ke rumah besar keluarga Wardana. Ini adalah pertama kalinya bagi Aya dan anak-anak mereka mengunjungi keluarga Dewa, Selama ini yang sering berkunjung kerumah besar itu adalah Megan.
Sepanjang perjalanan Aya merasakan kegugupan namun ia berusaha untuk menahannya. Aya tau ini adalah sesuatu hal yang sangat sulit, tapi jika tidak hari ini kapan lagi? cepat ataupun lambat mereka juga akan bertemu. Sementara Dewa juga merasakan hal yang sama dengan yang Aya rasakan. Apalagi Dewa sempat bertengkar dengan keluarganya terkait keputusannya menceraikan Megan dan malah menikahi adiknya, keluarga sangat syok dan malah menyuruh Dewa untuk rujuk kembali bersama Megan saat mereka mengetahui Aya kabur dari rumah Dewa.
Dewa dan Aya hanya saling diam saat berada didalam mobil dengan pikiran mereka masing-masing.
Tak lama Mobil Dewa sudah memasuki halaman rumah besar keluarga Wardana. Rumah besar itu tampak ramai, karena ada beberapa mobil terparkir didepan halaman rumah.
"Ayah, ini lumah eyang ya?" tanya Faza
"Iya sayang, ayo kita turun" ucap Dewa
Kemudian Anak-anak turun dari mobil, begitu juga Aya dan Dewa juga turun. Lalu Aya membuka jok belakang dan mengambil bingkisan yang sudah Aya siapkan dari rumah. Lalu Dewa menggandeng Aya dan mengajaknya masuk kedalam rumah besar Wardana bersama kedua putra kembarnya. Keduanya nampak gugup dan terlihat beberapa kali membuang nafas kasar mereka. Dewa semakin erat mengenggam tangan Aya saat merasakan tangan Aya dingin dan berkeringat.
"Kamu siap kan bunda?!" ucap Dewa
"Iyah" jawab Aya
Saat Dewa akan masuk kedalam, beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka dan memberi Hormat saat melihat kedatangan Dewa. Pelayan dirumah itu terkaget-kaget saat Dewa datang bukan bersama Megan dan malah menggandeng wanita lain bersama kedua anak kecil.
"Tuan besar ada dimana?" tanya Dewa
"Ada di ruang keluarga tuan bersama keluarga Nyonya Dewi" jawab pelayan
Dewa melanjutkan langkahnya menuju ke ruang tengah dan melihat keluarga kakaknya juga sudah ada disana bersama papa dan mamanya.
"Assalamualaikum" ucap Dewa dan membuat semua orang yang ada disana menoleh kesumber suara
Deg!
__ADS_1
Semua orang terkejut saat melihat kedatangan Dewa bersama Adik Megan dan juga 2 orang anak kecil yang wajahnya sangat mirip Dengan Dewa sewaktu kecil
"Wa'alaikumsalam" ucap mama
Suasana menjadi tegang seketika, padahal sebelum kedatangan mereka, nampak suasanya sangat cair dan terdengar gelegar tawa dari ruangan tengah. Semua orang disana mendadak menjadi patung tanpa ada yang bersuara lagi setelah ucapan dan jawaban salam dari Dewa dan mamanya.
"Dewa" sapa Kakaknya Dewi
"Kak Dew,,,," jawab Dewa dengan kaku
"Kemarilah,,, mau sampai kapan kalian berdiri disitu?? ehhh siapa ini??" sapa kakak Dewa
Dewa dan Aya duduk berdampingan disofa tanpa bicara. Sementara papa dan mama Dewa masih terdiam dan menatap mereka bergantian.
"Hallo bibik, aku Faca, ini adikku Gaca" ucap Faza dan Gaza bersahutan
"Ahhh lucu sekali kalian,,, nama bibi Dewi, kakaknya papa kalian. Itu Om Brama suami bibik nah yang itu kakak Verrel putra pertama bibik dan si bungsu itu kakak Tisya. Yang itu......." ucap Dewi memperkenalkan satu persatu orang yang di ruangan itu namun terhenti saat mendengar ucapan papa Dewa
Semua orang langsung diam tanpa suara dan suasana kembali tegang dan mencekam saat itu. Sesaat kemudian Dewa angkat bicara
"Papa,, mama,, Dewa kesini bersama istri dan anak- anak Dewa. Dia Cahaya, dan ini Faza dan Gaza adalah putra Dewa" ucap Dewa
"Kemana selama ini kau pergi Cahaya?!" tanya papa Dewa dengan nada tinggi dan sangat menakutkan. Tidak ada bedanya dengan Dewa dulu saat marah.
Dewa sudah menahan marah saat mendengar papanya berkata dengan nada tinggi kepada Aya. Emosinya langsung tersulut seketika. Mengetahui situasi akan berubah panas, Dewi menyuruh Varrel mengajak Tisya dan juga sikembar untuk kebelakang, karena pasti akan terjadi keributan diruang tengah.
Kini diruang tengah itu hanya ada papa, mama, Dewi, Brama, Dewa, dan Aya.
"Ss..saya ke surabaya Pak" jawab Aya dengan wajah pucat dan sangat gugup.
"Jadi kau kabur ke Surabaya saat mengandung anak Dewa?!" ucap papa dengan masih bernada tinggi. Dewa sudah mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih.
__ADS_1
Aya mengangguk pelan dengan masih menatap kearah papa Dewa.
"Kau tinggal bersama ....." belum selesai Papa Dewa Bicara, Dewa sudah memotong ucapan Papanya karena sudah tidak bisa menahan emosinya
"CUKUP PA!" Sarkas Dewa
"DIAM KAU!" Ucap papa Dewa lebih tinggi dari Dewa
Aya memegang tangan Dewa dan menatapnya agar Dewa menahan emosinya saat itu. Dewa menatap Aya dan melihat Aya yang sudah berkaca-kaca, emosi Dewa langsung luntur seketika. Aya meyakinkan Dewa jika dirinya akan menjawab apapun yang akan di tanya kan oleh keluarga Dewa dari sorot matanya.
Lalu Aya kembali menatap kearah papa Dewa yang duduk tak jauh dari mereka.
"Saya pergi dari rumah tanpa mengetahui saya hamil pak, Saya tinggal di kontrakan dan bekerja di pabrik tanpa tau jika itu adalah pabrik mas Dewa." ucap Aya
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu anak Dewa jika kamu tidak tau saat itu hamil?"ucap mama Dewa
"Bu, saya tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun selain mas Dewa, dan saya yakin itu adalah anak mas Dewa" ucap Aya
"Bagaimana kami tau, bisa saja ucapamu itu mengada-ada!" ucap mama Dewa
"Bu, saya sudah menghitung masa subur saya dan selama itu saya hanya berhubungan dengan mas Dewa, tidak ada lelaki lain yang menyentuh saya selain suami saya. Saya bisa menjamin Faza dan Gaza adalah anak kandung mas Dewa. Jika semuanya tidak percaya kita lakukan tes DNA untuk memperjelas semuanya" ucap Aya dengan tegas
"Bahkan jika keluarga ini tidak mengakui, Saya tidak masalah. Saya bisa membawa mereka pergi dari sini dan membesarkan kedua putra saya sendiri. Saya cukup bahagia bisa hidup bersama kedua putra saya. Selama 3 tahun saya bisa menjaga keduanya sebelum bertemu mas Dewa lagi, meski kehidupan itu berat, tapi saya tidak akan menyerah sedikitpun demi anak-anak saya" ucap Aya yang sudah menangis saat itu
Semua orang terdiam ketika mendengar semua ucapan Aya. Tidak ada yang memotong sedikitpun penjelasan nya, Dewa yang sudah merasa emosinya mencapai ubun-ubun sudah hampir meledak saat itu. Dewi mendengarkan ucapan Aya rasanya ingin ikut menangis, dia bisa merasakan bahagimana beratnya hidup tanpa suami dan membesarkan 2 anak sekaligus. Sungguh Aya adalah wanita yang kuat dalam menjalani Kehidupannya yang sangat berat dan mungkin tak banyak wanita yang sanggup menjalaninya. Sementara Papa dan mama Dewa masih menatap Aya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan....
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......