
Papa dan mama Dewa masih menatap Aya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Suasana saat itu terlihat begitu sunyi dan hanya samar terdengar gelegar tawa dari anak-anak di halaman belakang. Dewa maupun Aya sudah tidak tahan lagi dengan kesunyian tanpa ada kejelasan saat itu.
Lalu Aya berdiri dan beranjak pergi untuk menjemput kedua putranya, niatnya Aya akan membawa kedua putranya pergi dari keluarga Wardana, Namun langkahnya terhenti saat Aya merasa lengannya di cengkram kuat oleh seseorang. Aya langsung menoleh kebelakang dan melihat Nyonya Anggelista lah yang mencengkram kuat lengannya. Aya menatap mama Dewa dengan tatapan tidak mengerti.
Mama Dewa tanpa bicara langsung memeluk Aya dengan menangis sejadi-jadinya. Semua orang terlihat bingung, apalagi Aya yang saat itu menjadi tumpuhan tangis mama Dewa. Aya diam terpaku tanpa ingin membalas pelukan mama Dewa yang sampai detik itu belum juga bicara dan hanya menangis dibahu Aya. Beberapa saat mama Dewa berhenti menangis dan mendongak menatap Aya dengan tatapan sendu
"Pasti kamu sangat susah, pasti kamu sangat terluka, pasti kamu sangat menderita saat itu. Kamu hidup tanpa suami, kamu membawa perut besarmu kemana-mana dan kamu harus membanting tulang menghidupi cucu-cucuku (Mama Dewa mengusap wajah Aya dan Aya ikut menangis) pasti rasanya sangat sakit melahirkan dua anak tanpa ada keluarga disampingmu" ucap mama Dewa dengan masih menangis pilu. Aya mengangguk pelan dengan semua kebenaran yang dikatakan oleh mama Dewa. Teringat kembali 3 tahun lalu bagaimana perjuangan Aya menghadapi masa ngidamnya sendiri, mengandung selama 9 bulan dengan 2 anak sekaligus dan Aya masih bekerja sampai usia kandungannya 9 bulan. Belum lagi Aya harus berjuang melahirkan kedua putranya dan hanya di temani bidan dan juga ibu desy saat itu. Semuanya benar-benar menguras air mata dan pertaruhan nyawanya.
"Bahkan kami tidak kuat melihat bagaimana besarnya pengorbanan kamu nak, kamu berjuang sendiri selama ini. Kenapa kamu pergi dari Dewa?" tanya mama Dewa
"Aya tau, Aya salah bu,,,Aya pergi dari rumah tanpa tau kebenaran yang sebenarnya" ucap Aya dengan deraian air mata, rasanya sangat sulit untuk berkata saat itu.
"Enggak, kamu gak salah, tapi anak ibu yang salah! dia gak becus mengurus istri dan anak-anak kalian! Bagaimana bisa dia membiarkan kamu menderita sendiri? percuma dia memiliki kekuasaan bahkan anak buah banyak tapi tidak bisa menemukanmu" ucap mama Dewa yang kembali memeluk Aya
Semua orang yang melihat dan mendengarkan ucapan Nyonya Anggelista kini dapat bernafas lega. Tidak seperti yang dibayangkan di awal, ternyata mama Dewa menerima Aya dan juga anak-anaknya dengan tangan terbuka.
"Apa kau takut jika kami tidak mau mengakui cucu-cucu kami?" tanya papa Dewa saat menghampiri Aya dan istrinya.
Aya mengangguk sembari mengusap air matanya
"Bahkan dari wajah mereka, kami sudah bisa melihat jika itu adalah Dewa kecil, sangat mirip papanya. Bagaimana bisa kami mengelak nak? tanpa tes DNA pun kami bisa melihat kebenarannya" ucap papa Dewa saat menyentuh kepala Aya, Aya hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjawab apa-apa lagi. Perasaannya sangat bahagia dan sulit untuk dijelaskan saat itu.
Kemudian Dewa berdiri dan menghampiri kedua orang tua dan juga istrinya.
"Pa,,, ma,,, Dewa minta maaf karena,,,,"
"Sudah lah Dewa, mama dan papa yang harusnya meminta maaf. Karena keegoisan kami yang masih menginginkan Megan menjadi istrimu. Tapi kami sadar, jika kamu sudah Dewasa dan kamu bisa menentukan mana yang terbaik untuk kamu" ucap mama
"Ini pilihan Dewa ma, pa" ucap Dewa saat merangkul bahu Aya didepan papa dan mamanya
__ADS_1
"Papa dan mama merestui kalian" ucap mama
"Terima kasih ma" ucap Dewa yang kemudian memeluk Aya dan mengecup keningnya
Dewa dan Aya begitu bahagia karena keluarganya menerima mereka dan merestui hubungan mereka.
"Sudah mesra-mesranya, mama mau melihat cucu-cucu mama" ucap Mama Dewa yang kemudian pergi kebelakang dan memanggil cucu-cucunya.
Dewa dan Aya kembali duduk dan bercerita bersama Dewi dan Brama, sementara papa dan mamanya kebelakang memanggil semua cucunya. Papa dan mama Dewa berjalan ke ruang keluarga dengan menggendong Faza dan Gaza. Nampak kedua bocah itu tidak takut sama sekali dan malah terlihat sudah akrab dengan eyang kakung dan eyang putrinya.
"Kalian menginap disini saja yah sama Eyang?" ucap papa Dewa
"Memangnya boleh yang?" tanya Gaza
"Tentu boleh, ini juga rumah kalian" jawab Papa
"Boleh saja kalau kalian mau" ucap Dewa
"Tapi kak Vellel dan kak ticya juga nginep dicini?" tanya Faza
"Tentu tidak sayang, besok papa Kak Verrel dan kaka Tisya mau ke luar kota jadi bibik pulang dan yang lainnya pulang. Tapi bibik janji, weekend nanti nginep dirumah eyang" ucap Dewi
"Jadi mau tetep mau nginep kan?? kalian berdua kan belum pernah tinggal dirumah ini wa" ucap mama
Dewa menoleh kepada Aya dan Aya hanya membalas tatapan Dewa tanpa bersuara.
"Tapi Kami gak bawa baju ganti ma" ucap Aya kepada mama Dewa
"Ah gampang saja itu, nanti biar Titra ambil pakaian kalian dirumah. " ucap mama Dewa
__ADS_1
Dewa dan Aya tidak bisa menolak lagi ketika papa dan mamanya meminta mereka untuk menginap malam ini. Apalagi sikembar sepertinya sangat senang ketika mereka akan menginap dirumah eyang mereka.
Setelah Perbincangan mereka cukup lama, Mama mengaja semua anak dan juga cucunya untuk makan siang bersama setelah ibadah Zuhur mereka. Faza dan Gaza begitu senang bermain bersama Varrel dan Tisya, terlihat yang biasanya ia tidur siang malah jadi terus bermain dan tidak ingin tidur siang. Sementara yang lainnya berada di ruang keluarga dengan berbagi cerita. Banyak hal yang belum diketahui Aya tentang keluarga suaminya.
Saat waktu sudah menjelang sore, Dewi, Brama dan juga anak-anaknya berpamitan pulang. Papa dan Mama juga yang lain mengantar mereka sampai didepan rumah.
"Hati-hati ya kak" ucap Aya saat memeluk Dewi
"Iya, Kamu yang sabar yah ngadepin suami kamu. Dia memang orangnya keras, dingin, dan ...." ucap Dewi belum selesai
"Kak Dew, jangan racuni pikiran istri Dewa!" ucap Dewa saat merangkul bagu Aya
Dewi terkekeh ketika mendengar ucapan Dewa
"Kakak cuma ngingetin aja sama Aya, Kamu itu kan kumat-kumatan!" ucap Dewi
"Sudah-sudah,, sana pulang! dari pada ngoceh terus" ucap Dewa
Dewi hanya tertawa melihat muka masam adiknya. Meski begitu dewi terlihat bahagia ketika melihat Dewa sudah menemukan cintanya. Menemukan cinta yang sesungguhnya. Kemudian Dewi masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah orang tuanya.
Setelah mengantar kepulangan keluarga Dewi, semua nya masuk kedalam rumah. Dewa mengajak Aya ke kamar atas sementara papa dan mama Dewa mengajak kedua cucunya ke kemar mereka. Karena Papa dan mama Dewa ingin lebih dekat lagi dengan Faza dan Gaza.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1