
Dewa dan Asistennya masuk kedalam lobby kantor dan membuat kaget resepsionis yang sudah mengenal Dewa. Buru-buru Resepsionis itu menghentikan Dewa yang akan menuju ke lift
"Permisi tuan Dewa,,,, ada yang bisa kami bantu?!" tanya resepsionis
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Dardja sekarang!" ucap Dewa
"Ohh,,, bisa kah anda menunggu sebantar tuan? Tuan Dardja sedang ada tamu" ucap Resepsionis itu sedikit gugup
Dewa mengawasi Resepsionis itu lalu dia beralih duduk di sofa yang tersedia di lobby. Setelah itu Resepsionis itu berjalan cepat menuju ke meja nya dan memberitahukan sekertaris boss nya.
"Hallo,,, mbak Kumala, dibawah ada tuan Dewa ingin bertemu dengan tuan besar"
"Apa?! bagaimana bisa dadakan seperti itu?! Didalam masih ada Tuan Tedja dan Tuan Donny ! kau alihkan tuan Dewa, jangan sampai dia menerobos masuk kedalam!"
"Baik mbak"
Asisstent Dewa mengawasi gerak gerik resepsionis itu, dan melaporkan kepada Dewa
"Tuan,, sepertinya ada yang tidak beres dengan resepsionis itu!!"
"Aku tau!, aku akan coba menerobos masuk, kau awasi dia" ucap Dewa
"Baik"
Dewa berdiri dan beranjak ke arah meja resepsionis. Dilihatnya wanita itu jadi tegang ketika Wajah dingin Dewa menatapnya dengan tatapan siap membunuh lawan.
"Aku mau ke toilet, dimana toilet nya?!" tanya Dewa
"A,,,ada di sana tuan" ucap resepsionis itu menunjukkan kebelakang
Dewa berlalu dan berjalan menuju ke arah toilet, Sementara wanita itu terus mengawasi pergerakan Dewa yang kemudian menghilang ke dalam toilet.
Asisstent Dewa beranjak dan berjalan kearah resepsionis. Dia pun tersenyum manis saat melihat wanita itu beralih kearahnya
"Mbak,, saya mau tanya,,, disini kalau mau beli oleh-oleh khas Papua dimana yah?" tanya Asisstent Dewa dengan ramah
"Ada di pasar kota tuan" ucap Resepsionis
"Oh,,, begitu,, saya ingin membelikan oleh-oleh untuk Keluarga"
Saat Asissten Dewa tengah mengajak pegawai resepsionis itu berbicara, Dewa keluar dari toilet lalu dia berjalan cepat masuk kedalam lift umum menuju ke ruangan Presdir.
__ADS_1
Ting!!
Pintu lift terbuka lalu Dewa keluar dari lift lalu berjalan menuju keruangan Dardja dengan langkah tegasnya. Sementara di depan ruangan Presdir, terlihat meja sekertaris nya kosong tanpa ada yang duduk disana. Dewa segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menerobos masuk kedalam ruangan Dardja
Ceklek
Dewa membuka pintu dan membuat semua orang yang berada didalam ruangan itu tercengang
"Tuan Dewa!" ucap Dardja dengan kaget
Dewa melangkah masuk kedalam ruangan itu dan semua orang berdiri.
"Apa aku mengganggu kalian?!" tanya Dewa basa basi padahal sudah jelas dia sangat mengganggu rapat penting mereka
"Anda datang tidak memberi tahu kami dulu tuan,, kami malah tidak sempat menjemput anda" ucap Dardja dengan rasa was-was
"Tidak perlu, aku kemari sebenarnya hanya ingin berkunjung karena sudah lama aku tidak berkunjung ke sini dan saat aku sampai disini ternyata aku mendapat kejutan yang luar biasa. Bagaimana kabar anda tuan Dardja? tuan Tedja? dan Tuan Donny?!" tanya Dewa dengan nada Ramah namun tatapannya dingin, tajam menusuk.
"B..baik"
"Bagus kalau anda dalam keadaan baik, setidaknya anda bisa memutuskan hari ini tuan Dardja"
"Anda pasti sangat tau, jika pengiriman bahan baku ke perusahaan saya ada keterlambatan yang harusnya tanggal 20 sudah ada barang masuk sesuai jadwal namun ini sudah tanggal 26 tidak ada satupun kontainer kayu anda yang sampai di Surabaya. Ternyata mampir ke Makasar tanpa pemberitahuan dari anda" ucap Dewa panjang lebar
"Tuan,,, saya bisa menjelaskan"
"Silahkan jelaskan semua keadaan ini ,,"
"Kami baru menjalankan kerja sama ini, dan kami juga sudah mengirimkan bahan baku ke perusahaan anda namun terjadi keterlambatan karena adanya kesalahan kiriman. Makanya kami alihkan ke Makasar,," ucap Dardja
"Tuan Dardja,, kita sudah lama bekerja sama dan saya tau pasti bagaimana anda bekerja, hal seperti itu bukanlah sebuah alasan tepat dari anda. Cukup anda akui jika anda menjual bahan baku yang harusnya keperusahaan kami tapi anda alihkan pada perusahaan milik Tuan Tedja"
"Tuan Dewa, harusnya anda memberi kebebasan kepada tuan Dardja untuk menjual kayu-kayu nya kepada siapa saja! Anda tidak berhak mencampuri urusan perusahaan ini" ucap Tedja
"Oh begitu! benarkah begitu tuan Dardja?! apa itu bukan menyalahi kontrak yang sudah kita sepakati bersama?! Anda sudah melakukan cacat perjanjian dengan menjual kayu-kayu anda ke tempat lain tanpa sepengetahuan kami! dan anda tau pasti dengan apa sanksi yang akan anda terima!" ucap Dewa dengan tegas
"Tuan,,, kami akan bertanggung jawab atas keterlambatan pengiriman kayu kepada anda,,"
"Dengan apa?! kayu mana yang akan kamu kirim?! bukankah kalian sudah mengirimkan 45 kontainer kayu ke Makassar?! bukan begitu tuan Tedja??" ucap Dewa membuat semua terdiam
Suasana semakin menegang, Dardja tidak mampu berkilah ketika Dewa menjelaskan semua apa yang dia ketahui dan itu adalah kebenaran yang terjadi.
__ADS_1
"Jadi apa mau mu Dewa!" ucap Donny dengan tegas
Dewa tersenyum sinis kearah Donny yang menatapnya dengan tatapan kebencian
"Mau ku?! jika tuan Dardja bertanya apa mau ku, itu cukup mudah,,,, cukup putuskan sekarang, kerjasama ini tetap lanjut atau berhenti sekarang?!" Ucap Dewa dengan tegas
Semua orang menatap kearah Dewa, dan Dardja terlihat sangat bingung. Disisi lain dia sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Dewa dan itu terjadi dari awal dia merintis perusahaannya. Dewa berani memberi kepercayaan kepada Dardja karena kualitas kayu yang di tawarkan sangat bagus kualitasnya saat itu. Sementara kerjasamanya dengan Tedja dan Donny itu karena Tedja adalah saudara Dardja setelah Tedja menikahi keponakan Dardja beberapa waktu lalu secara tertutup. Posisi ini sangat sulit bagi Dardja untuk memutuskan saat itu juga, namun sepertinya Dewa tidak ingin menunggu berlama-lama.
"Bagaimana Tuan Dardja?!" tanya Dewa
"Saya,,, memutuskan untuk menyudahi kerjasama kita tuan Dewa"
"Oke! aku harap kamu tidak menyesal dengan keputusanmu, dan aku akan mengurus semua pemutusan kontrak kerjasama kita!" Ucap Dewa yang kemudian keluar dari ruangan Dardja. Dewa terlihat kesal namun dia tidak ingin menampakkan dihadapan musuhnya
"Tenang saja tuan,, kami akan membantu anda untuk membayar denda keperusahaan Dewa! yang penting anda tetap mau bekerjasama dengan kami,,,,,, dengan begitu, Dewa akan kelimpungan untuk mencari pemasok, dan bisa saja dia tidak akan menemukannya dan perusahaannya akan bangkrut!" ucap Donny merasa senang karena berhasil melihat Dewa jatuh
" Baiklah,, setidaknya kalian mau membantuku membayar pinalty nya" ucap Dardja
Dewa yang masih berada di luar ruangan itu mendengar percakapan mereka.
"Lihat saja,,, akan ada hadiah besar untuk kalian!" ucap Dewa yang kemudian beranjak dan masuk kedalam lift. Dewa memang merasa kecewa tapi dia tidak ingin menyerah dengan orang-orang licik seperti mereka. Hal pertama yang harus Dewa lakukan saat ini adalah mencari pengganti dari perusahaan Dardja, setelah itu baru menjalankan rencananya untuk membawa mereka ke jalur hukum.
Ting!
Pintu lift terbuka lalu Dewa melangkah keluar, Resepsionis itu terkaget-kaget ketika melihat Dewa keluar dari lift yang pastinya Dewa susah menerobos masuk ke ruangan Boss besarnya.
"Ayo kita pulang!"
"Baik tuan"
Kemudian Dewa dan Asistennya keluar dari perusahaan itu dan masuk kedalam mobilnya. Sementara wanita resepsionis itu begitu takut karena pasti dia akan di marahi oleh atasannya.
.
.
.
.
Bersambung,,,,,
__ADS_1