
Aku duduk disofa dengan balutan kain kebaya putih, dandananku tipis minimalis. Sore ini aku sebagai anak haram akan diresmikan menjadi anak angkat yang akan memikul semuat abot(kewajiban) yang telah tertulis di buku besar keluarga Wansa.
Hari ini keadaan sangat ramai sekali dari perangkat desa sanpai ke ketua Rt/Rw. Dari kemarin aku sudah menolak, tapi aturan adat menyuruhku harus menerima untuk melanjutkan Trah Wansa. Mulai sekarang aku akan bertanggung jawab setiap pengeluaran yang tidak sedikit untuk semua ***** bengek yang menyangkut adat.
"Kak Maya apa kamu tidak bisa menolong aku, bebas aku dari masalah ini. Aku tidak butuh warisan. Kenapa bukannya kak Leon yang menjadi penerus Trah?"
"Tenang sayang, semua akan baik-baik saja. Lakukanlah, demi keluarga. Kami tidak mungkin melakukan itu, karena kita sudah menikah dengan orang lain yang bukan dari wangsa kita."
"Aku juga akan menikah dengan bule yang tidak punya wangsa." kataku cepat.
"Tarik ucapanmu jangan sampai itu terjadi, arwah leluhur kita akan menangis semuanya. Hidup kita akan hancur, kasihan Papa dan Mama." sahut kak stevany lebay.
"Bagaimana kalau aku tidak menikah?" tanyaku ingin tahu.
"Sudah ada jodohnya sayank."
Aku jadi lemas, ini tradisi apa yang memasung hak azazi manusia. Mereka sekarang sibuk sekali, memotong beberapa kerbau, membuat sajen tinggi-tinggi. Sudah dari seminggu kakak mengambil uang kas. Aku hitung lebih dari 100juta. Aku benar-benar dibuat senewen dengan acara para tetua ini. Tapi aku diam saja, kulihat nenek-nenek tua setiap saat menengok ketempatku duduk dan menyemburkan mantra. Upss...
Mungkin aku akan enjoy dan sangat menikmati jika bukan aku yang jadi korban. Karena di Luar Negeri tidak ada yang aneh-aneh begini, aku selalu dibikin ketawa oleh tingkah nenek-nenek yang tiba-tiba "trance" menari tidak sadar atau kakek-kakek yang membawa pedang. Aku anggap mereka penghibur diselipan hatiku yang lara. Ntah sudah berapa jam berlalu belum juga ada jeda, pikiranku melanglang buana ke sosok Adi sampai ke mamaku di Los Angeles.
"Qi..bangun, mulai upacara." kata kak Maya menuntun aku kedepan dan duduk di atas tikar yang penuh dengan sajen.
Aku duduk ditonton ratusan mata dengan kagum. Semua berdecak, disamping aku cantik seluruh badanku ditempelin hiasan Emas. Kepalaku sampai berat, kata mereka ini emas leluhur yang harus aku pakai. Aku pasrah saja dan aku berdoa dalam hati semoga acara ini cepat usai.
Mulailah pendeta mengujar mantra dan suara genta mulai terdengar merdu. Suara gambelan menambah suasana tambah semarak. setelah aku banyak diperciki air masuklah jodohku. Seorang pemuda terpilih. Badan standar, kumis tebal, rambut ikal. Mungkin para gadis nge Fans padanya, namanya terus dipanggil oleh cewek-cewek. Aryaloka...aryaloka. Dalam hatiku mungkin dia bekas juara bisbol atau semacamnya sehingga dia terkenal.
"Permisi sayank." katanya pongah sambil melempar senyum padaku.
"Hemmm!!" sahutku dingin beraroma kematian. Berani-beraninya si kumis mau jadi jodohku, apa gak aku lipat-lipat tubuhnya dan melemparnya di kali brantas.
"Hee ayu...cantik..ini kakak Arya yang akan menjadi calon jodohmu." seorang Ibu yang aku rasa Ibunya si kumis pasang badan berbuat ramah di depan orang banyak. Dia bangga menang kompetisi dan kak Leon memilih. Sejatinya kak Leon belum tahu sifatku. Sampai kak Leon tahu sifatku mungkin dia akan terkencing-kencing.
Sifat seseorang berubah karena keadaan atau lingkungan, mungkin begitu juga aku. Sifatku berubah keras dan mandiri karena aku hidup dari asrama satu ke lainnya. Aku harus bisa menjaga diriku yang rentan dimangsa para durjana. Untuk itulah aku membentengi diriku dengan banyak latihan, jangan sampai aku lemah apalagi tertindas hidup di Negara sebesar Amerika. Aku bersyukur dan aku mampu.
"Sekarang acara perkenalan." kata seorang tua sambil membawa sajen. Aku lalu dikasi minum dan lega rasanya dari tadi haus.
"Kak kapan selesai aku sudah bosen." kataku kepada kak Maya.
__ADS_1
"Sabarlah, sebentar lagi. Kalian kenalan dulu. Setelah itu usai." kata kakak membuat aku semangat. Aku langsung mendekati si kumis dan mengacungkan tangan tanda mau kenalan.
"Aku kenalan, namaku Qirrera namamu siapa?" kataku membuat semua tepuk tangan. Ntah apa yang mereka pikirkan. Terjadi standing ovation.
"Ternyata ceweknya sudah naksir Arya." celetuk ibu-ibu silih berganti. Mereka senang atas kejadian itu. Yang membuat aku mual mendadak, malah tingkah si kumis yang sok tampan.
"Namaku Arya." sahutnya selembut sutra.
"Ya trimakasih." kataku meninggalkan acara itu dan naik ke kamarku. Aku dipanggil-panggil sudah tutup kuping. Terpaksa kak Maya menarik tanganku.
"Qi tunggu, belum selesai sudah mau kabur saja. Malu tahu."
"Tadi kakak bilang setelah kenalan berarti sudah selesai. Kepalaku sakit di glandoti emas. Aku mau teriak saja."
"Sabar...sabar...jangan teriak. Kamu itu tidak mengerti, emas itu milikmu nantinya."
"Aku tidak butuh, aku ingin tidur."
"Yaya..begini saja, emasnya di buka setelah itu kamu keluar lagi sekali, selesailah."
"Yalah...jangan bikin acara begini aku bosen." kataku kesel.
Dua orang MUA membuka dandanan yang membuat kepalaku sakit. Emas-emas itu mereka simpan di sebuah peti dan dimasukkan ke brankas. Kata mereka emas itu senilai ratusan juta. Mereka mengira aku terpesona? tidaklah, aku lebih memikirkan tanggung jawab kedepannya.
Selesai upacara aku sudah tepar, tahu-tahu sudah pagi. Kamarku terbuka lebar dan ada jodohku tidur di lantai di luar kamarku. Syukurlah pakaianku masih rapi. Perlahan aku bangun dan mengunci pintu. Ingatanku langsung ke Adi, aku mengambil ponselku dan mendapati ratusan panggilan dari Adi.
"Selamat!!!!!! ternyata cintamu setipis tisssue." aku tersenyum membaca wa dari Adi.
"Apa pacarmu lagi PMS, sehingga kamu marah padaku?" balasku. Aku sebenarnya kesel juga. Dia punya pacar tapi cinta padaku, suruh mutusin yang itu tidak berani. Lebih baik aku berjalan sendiri, kemanapun kakiku melangkah.
Aku bangun terus menuju kamar mandi, sudah siang rupanya. Aku mendapat cuti sehari dari Hotel, rencananya aku akan pergi ke Hotel keluargaku. Aku ingin tahu bagaimana kak Maya mengelola Hotel Chain.
Selesai mandi aku berdandan casual dan tidak terlalu neko-neko. Perlahan aku mengunci pintu, sayang sekali si kumis terbangun.
"Hee..kamu mau kemana, tidak boleh pergi." katanya bangun.
"Aku tidak pergi, mau turun di bawah. Kamu mandi saja." sahutku licik.
__ADS_1
"Kita masih ada upacara, sebagai calon istri kamu harus bisa meladeni aku." mual aku mendengar mulutnya yang ngaco.
Aku tidak menunggu dia selesai bicara, kakiku melompat jauh ke bawah. Rasanya kupingku perlu di pasangi earphone untuk meredam teriakan si kumis.
"Ingat, kamu jangan pergi. Aku belum sarapan dan bla...bla...bla...," katanya mengejar aku ke bawah.
"Tenang, mandi sana." kataku mengusir.
Kenapa kakakku menjerumuskan aku dengan manusia flintstone, manusia ini cerewet banget dan kurang sopan santun. Dengan tatapan curiga dia ke belakang juga mau mandi. Cepat-cepat aku lari ke depan dan menuju mobilku.
Akhirnya aku sudah berada di dalam mobilku. Aku disambut dengan alunan lagu Rain on me yang membuat badanku bergoyang. Aku ingin mengelilingi Denpasar pada pagi hari, setelah aku puas baru aku ke Kuta. Aku akan menikmati cutiku dengan sukacita.
Aku mengambil ponselku yang terus-terusan berdering, rupanya Adi. Aku mengecilkan volume playlist dan menjawab dengan santai beberapa pertanyaan Adi.
"Dimana kamu ini?"
"Di jalan."
"Sudah sarapan belum?"
"Belum!"
"Tunggu aku di bubur Lolita di Sunset Road."
"0k." sambungan terputus, basa basi yang betul-betul garing. Bosen!!.
Aku kembali memacu mobilku menuju Sunset Road. Biasanya ramai dan benar saja, mobil flat S memenuhi parkiran. Aku masuk menunggu yang lain keluar. Penuh. Untuk menghibur hatiku aku membuka ponsel mama. Ratusan telepon, wa di tujukan padaku. Tidak satupun aku buka wa nya, pura-pura lowbat.
Aku yakin pasti si kumis kehilanganku, kak Leon terlalu naif menjodohkan aku dengan si kumis. Apa ke istimewaannya si kumis, mungkin menurut gadis-gadis yang ada kemarin si kumis super macho.
"Yank kangen." sebuah tangan kekar memelukku. Mataku menatap wajah ganteng itu. Tidak bisa di pungkiri aku memang benar jatuh cinta kepada Adi.
"Miss you." kataku ikut memeluknya. Kami saling peluk, kemudian masuk ke dalam dan mencari tempat duduk di pojok.
"Yank..kenapa keluargamu menggelar acara begitu, berarti kita selamanya tidak bisa menikah. Aku benci padamu tiba-tiba mau di jodohin dengan pemuda lain." kata Adi memegang tanganku.
"Santai sajalah, aku tidak mengerti apa-apa, aku tidak peduli dengan itu semua. Aku yakin dengan berjalannya waktu semua aturan aneh yang tidak masuk akal akan lenyap." kataku yakin.
__ADS_1
*****