
"Haus.." rintihku dengan mata masih terpejam.
Ada tangan membelai rambutku, kecupan hangat dipipiku membuat mataku terbuka. Wajah Andre berada dekat diwajahku. Aku menggeser kepalaku sedikit.
"Kamu sudah sadar? minumlah." kata Andre sambil membantu aku bangun. Kepalaku sedikit pusing. Andre mengodorkan aku air mineral.
"Dimana ini?" tanyaku heran karena merasa kamar ini asing.
"Di rumah kita." sahut Andre duduk ditepi pembaringan sambil menyangga tubuhku. Aku berusaha mengingat apa yang aku alami.
"Aku ingat ada Natalia yang membuat aku jatuh. Dimana dia?"
"Kamu berarti sudah sembuh dari amnesia Syukurlah kamu ingat segalanya. Tadi kamu pingsan di tempat parkir, gara-gara Natalia menarikmu dari belakang. Aku reflek menarik Natalia dan mendorongnya. Sehingga dia pingsan."
"Terus dimana dia sekarang?"
"Anak buahku mengajaknya ke Rumah Sakit."
"Kenapa bukan kamu yang mengantar dia kesana, dia calon istrimu. Aku sudah punya jodoh, disamping itu aku tidak ingin menjadi pelakor. Predikat itu sangat buruk di dengar."
"Aku masih waras untuk menolak Natalia sebagai istriku. Banyak sifat jeleknya yang membuat aku benci. Yang terpenting aku tidak mencintainya."
"Omongan cowok sulit dipercaya, di depanku kamu mengatakan Natalia tidak pantas denganmu, nanti di depan Natalia kamu malah mengajaknya one night love. Aku sekarang sudah tidak tertarik dengan rayuan gombalmu."
"Menghadapi kamu aku sulit berkata-kata, kamu selalu mematahkan semangatku dan berprasangka buruk terhadapku. Apakah aku terlalu hina dimatamu atau mungkin aku tidak sesuai dengan keinginanmu."
Aku hanya tersenyum, jauh di dalam hatiku nama Andre masih aman terpatri dihatiku, tapi cinta itu harus aku buang demi martabat keluargaku dan demi Natalia yang telah dijodohkan dengannya. Betapapun sakit yang kurasakan, aku harus rela mengubur hasrat hatiku untuk menjadi istrinya.
"Lupakan tentang cinta kita, saat ini aku berada dimana? aku sangat lapar."
Andre tersenyum menatapku mesra. Ingin rasanya memeluknya dan membenamkan kepalaku di dadanya.
"Kamu sekarang berada di rumahku dan aku menyandramu." sahut Andre mengedipkan sebelah matanya.
"Pulangkan aku sebelum kamu berbuat senonoh padaku."
"Hemm..jangan takut, aku tidak seperti Dheo yang asal sruduk. Permainanku slow dan sangat mesra."
"Iss...mulai genit dah." sahutku menolak badannya yang condong kedepan. Aku melorot dari ranjang, Andre cepat menahanku berusaha menyergapku. Aku menggulingkan badanku sambil tertawa. Akhirnya kami pelukan.
"Tok...tok...tok."
Ketukan pintu membuat kami melepaskan pelukan. Wajah Andre terlihat kesal merasa terganggu. Aku cepat turun dari ranjang berdiri di belakangnya. Andre membuka pintu dan....
"Plokk..plokk...."
Tamparan itu datang dari tangan Tante Dilla. Aku sama kagetnya dengan Andre.
__ADS_1
"Kurang ajar!!. dasar manusia terkutuk. Teganya kamu membiarkan Nalali bersama anak buahmu, sedangkan kamu disini bersenang-senang dengan pelakor ini." teriak Tante Dilla dengan nafas memburu.
"Tentu saja saya disini karena anak Tante membuat Qirrera pingsan." sahut Andre ketus sambil memegang pipinya. Walaupun pipi Andre tidak sakit, tapi hatinya sakit diperlakukan semena-mena oleh calon mertuanya.
"Omong kosong apa lagi yang kamu ciptakan. Natali hampir mati di rumah sakit. Dia sekarang dalam keadaan koma. Tante minta pertanggung jawabanmu."
"Maaf Tante, saya sudah tidak ada hubungan dengan anak Tante lagi. Kami sudah putus pasca dia memfitnah Om Wedakarna."
"Beraninya kamu bilang putus setelah kamu sering tiduri anak Tante." pekik Tante Dilla kesal.
"Astaga, saya belum pernah menyentuh anak Tante. Ibu dan anak ternyata suka memfitnah."
"Silahkan kamu ngeles atau tidak mau bertanggung jawab atas komanya anak saya. Penjara menunggumu!!" teriak Tante Dilla dengan suara tinggi dan berlalu dari hadapan kami.
Dia pergi dengan tergesa-gesa, aku tidak tahu harus bagaimana. Andre lalu keluar dari kamar dan duduk di sofa. Persoalan ini membuat dia nervous.
"Minumlah." kataku menyodorkan air mineral.
Aku ikut duduk disampingnya. Ada perasaan kasihan mengoyak bathinku. Aku merasa sangsi terhadap Andre. Natalia adalah gadis daur ulang, dia bebas tidak terbatas, sepanjang pacaran dengan Andre bisa saja dia mengobral dirinya supaya cepat dinikahin.
"Kamu jangan percaya dengan ucapan Tante Dilla, aku tidak mungkin tidur dengan Natalia. Dia gadis bebas yang sering ke Bar." kata Andre seolah tahu jalan pikiranku tapi aku tidak peduli. Aku lelah lahir bathin.
"Aku tidak peduli dengan kalian, aku akan pergi dari sini. Persetan denganmu!!" tanpa kusadari aku marah. Cemburu menggrogoti perasaanku.
"Jangan tinggalkan aku...." ucapan Andre terpotong karena sosok Om Sugama, Tante Wilda serta Mamanya Natalia sudah berada di depan kami.
"Maaf Tante, Om, saya pamit...." kataku berdiri. Om Sugama memegang tanganku.
"Qi, jangan pergi."
"Maaf Om, saya sudah sadar." sahutku menepiskan tangan Om Sugama. Kulihat wajah Om Sugama sedih.
Aku cepat melangkah pergi, teringat dulu Tante Wilda pernah menyakitiku. Semua terbayang terang. Aku bersyukur sudah sadar dari amnesia, kini hatiku sedih, marah bercampur jadi satu.
"Yank...jangan pergi, kamu harus menjadi saksi tentang kejadian tadi. Kalau aku dituntut kamu juga menuntutnya." kata Andre mengejarku.
"Aku tidak peduli masalahmu, sekarang aku sadar. Jangan menjadi banci, kamu harus bertanggung jawab."
"Yank, seandainya kamu tahu isi hatiku." ucap Andre dengan air mata bergulir dipipinya. Dia bersimpuh di kakiku. Hatiku terenyuh, baru saja tanganku terulur untuk membangunkannya, tanganku ditarik dari belak.ang. Aku menoleh, Dheo sudah berada disampingku.
"Andre belajarlah dewasa, Qirrera adalah jodohku. Seharusnya kamu memulangkan Qirrera, tidak mendekapnya dalam kamarmu." kata Dheo sinis.
"Dheo... tidak seperti yang kamu pikirkan." kataku memandangnya.
"Pulanglah, jangan ikut campur masalah mereka. Masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, apalagi kamu sekarang sudah sembuh." sahut Andre.
Dengan berat hati aku meninggalkan Andre. Dia begitu cengeng.... aku ikut sedih melihat ketidak berdayaannya. Disatu sisi dia masih terikat perjodohan karena Andre tidak mau menyakiti hati Mamanya. Tante Dilla adalah sahabat baik Mamanya, dan disisi lain dia mencintaiku. Ohh...kejamnya Dunia.
__ADS_1
Dheo menggandeng tanganku, wajahnya terlihat kecut, dia pasti mengira aku dan Andre sempat bermesraan.
"Dimana mobilku, aku membawa mobil waktu ke bengkel." kataku sebelum naik ke mobil Dheo.
"Mobilmu sudah dikirim ke rumahmu oleh Andre." sahut Dheo acuh.
"Aku tidak mau naik mobilmu sebelum tahu tujuanmu."
"Please..aku lagi lelah, jangan bikin susah." sahut Dheo membuka pintu mobil. Pintu supercar itu terangkat, aku sebenarnya sangat kagum melihat mobilnya. Tapi aku pura-pura cuek. Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Telesto, limited edition.
Aku menghempaskan badanku ke jok mobil dengan mulut mengerucut. Akupun diam!!.
"Kamu masih mencintai Andre?" tanyanya tiba-tiba setelah kami berada di jalan raya.
"Masih! apa pedulimu."
"Hemm....."
Dia tidak berkata lagi. Tiba-tiba mobil berbelok dan mengambil jalan Toll. Mobil larinya seperti terbang. Aku tetap diam, tidak peduli dengan aksinya. Akhirnya mobil berhenti di sebuah pantai. Aku tidak tahu pantai apa ini.
"Cihh...kamu celdis, apa maksudmu ngebut dijalanan? merasa hebat." semprotku lalu turun dari mobil.
Dheo anak seorang konglomerat, seorang CEO, anak semata wayang dari orang tua ningrat. Tentu orang tuanya sangat memanjakannya. Orangnya ganteng dan coll, pasti segudang cewek ngantre untuk mendekatinya. Aku bukan rendah diri tapi aku lebih memilih pemuda yang satu wanita. Masalahnya aku cemburuan.
Aku sudah terlanjur berjanji menjadi jodohnya, aku belum faham akan sifatnya. Masih trauma dengan tingkahnya yang hampir membunuhku. Kemungkinan besar dia stres karena terpaksa harus berjodoh denganku. Biasanya pemuda seperti dia lebih senang nongki-nongki di Bar atau Beach Club. Ntahlah...
"Qirrera..bisa tidak kamu berhenti berjalan, aku lelah dari Polisi!!"
Suara Dheo menggema, untung tidak ada orang. Aku berhenti dan menoleh ke belakang.
"Kalau lelah pulanglah ke rumahmu. Kamu tidak usah menyambangiku, kita cuma teman biasa. Tidak ada kewajiban untuk datang padaku. Dulu aku amnesia, sekarang aku sadar dan sangat faham sifat laki-laki kaya sepertimu. Aku tidak silau akan hartamu." sahutku dengan sinis.
Dia datang mendekatiku, sinar matanya menghujam seolah ingin merobek jantungku.
"Apa maumu?" tanyanya geram.
"Aku tidak ingin apapun darimu, aku telah membebaskanmu, jangan khawatir." sahutku dingin.
"Pulang, jangan cerewet!!" katanya menyeret tanganku.
"Dheo, lepaskan. Aku bisa menendangmu." ancamku.
"Sekalian bunuh aku." sahutnya menatapku. Aku tercekat melihat mata elangnya berair. Apakah dia secengeng itu? bathinku.
Dengan perasaan bercampur aku naik ke mobil. Dheo memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Aku tidak mau meliriknya apalagi menatapnya. Mungkin dia memang lelah, aku yang tidak mengerti situasi.
Sepanjang jalan kami diam. Aku pasrah kemana dia bawa diriku. Ternyata mobil menuju rumahku. Ingatanku melayang ke rumah Andre, rumahnya mirip denganku. Berarti selama menjadi scurity gadungan, dia membangun rumah dengan mengambil konsep rumahku. Funiturenya juga kembar. Aku tahu dia sangat mencintaiku, kadang cinta tidak perlu diucapkan tapi tindakan yang menandakan seseorang mencintaimu.
__ADS_1
****