QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
DIRUMAH PAK HAJI


__ADS_3

Semeru membuang nafasnya dengan kasar, dia membiarkan Sisilia keluar begitu saja. Lebih baik dia mencari Bu Poniyem untuk diajak berkemas.


Dia kaget ada Qirrera yang sedang berbincang-bincang dengan Sisilia. Semeru khawatir, masalahnya Sisilia pintar bersilat lidah, jangan sampai dia berbicara yang bukan-bukan dengan Qirrera. Tahu sendiri Qirrera mulutnya setajam silet.


Dengan langkah lebar dia menghampiri kedua prempuan itu. Sayang sekali langkahnya terhenti, kedua prempuan itu setengah berlari ketika tahu Semeru datang. Sial!!.


Semeru berbalik mencari Bu Poniyem, hari ini dia harus bersiap pulang ke Tarakan. Rasa malas dan frustasi menderanya membuat pikirannya kacau.


"Tuan sebaiknya kita pamit ke rumah Non Qirrera, siapa tahu kita tidak bersua kembali." kata Bu Poniyem mendekati Semeru.


"Kita kesana, aku mau minta maaf juga." sahutnya gamang.


Mereka berjalan beriringan menuju rumah Qirrera. Bibik sendiri yang membukakan pintu gerbang.


"Ada apa kalian datang?" kata Bibik ketus, air mata masih membasahi pipinya.


"Ada apa Bik, apa kita salah?" tanya Semeru tidak enak hati.


"Karena Tuan, Nona saya jadinya pergi, katanya dia akan pergi sangat lama." kata Bibik sesenggukan. Semeru kaget, dia merasa jalan darahnya terhenti nendadak. Dengan cepat tangannya menggapai pintu gerbang.


"Apa yang dia katakan Bik, adakah dia menyinggung nama kami?" tanya Semeru penasaran.


"Aku akan pergi sangat lama, katakan kepada tetangga sebelah semoga dia berbahagia dengan Sisilia." begitu katanya Tuan. Saya sangat sedih mendengarnya.


"Kemana dia mau pergi?" tanya Semeru merasa down.


"Dia tidak mengatakan, saya curiga karena dia membawa koper besar, mungkin saja dia mau menikah dengan Pak Haji."


"Astagaa....." seru Semeru. Dengan dada berdebar dia bersandar di pintu, terbayang saat dia menampar Qirrera.


Aku sangat bersalah dengannya, tapi prempuan itu tidak berharga untuk diingat. Dia pasti mengejar mimpi, dan menghina dirinya demi uang. Seorang prempuan murahan yang tidak berhak menghuni hatiku. bisik Semeru dalam hati.


"Aku dan Bu Poniyem juga akan pamit, kami tidak tahu berapa lama pergi, kami bisa pergi untuk selamanya atau bisa balik secepatnya. Kami minta maaf kepada Bibik dan Maimunah atas kesalahan kami selama ini, baik di sengaja maupun tidak di sengaja." kata Semeru pelan.


"Kenapa semua pergi ada apa sebenarnya, terus aku disini untuk siapa, kalian tega sekali meninggalkan kami berdua." kata Maimunah sedih.

__ADS_1


"Aku harus pergi, ini untuk Bibik dan Maimunah, tolong lihatin rumah di sebelah." sahut Semeru menyerahkan amplop putih yang berisi uang dua juta rupiah.


"Trimakasih Tuan, saya berjanji akan merawat rumah Tuan." kata Bibik sendu. Maimunah juga sedih, dia memeluk Bu Poniyem dengan erat.


****


Kebahagiaan adalah ketika apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan selaras. Tidak ada seorang pun yang bisa kembali ke masa lalu dan memulai awal yang baru lagi. Tapi, semua orang bisa memulai hari ini dan membuat akhir yang baru.


Aku turun dari pesawat dengan sukacita, apakah aku bahagia? I don't know. Hidup ini harus kujalani sesuai porsinya. Aku masih meraba kemana arus membawaku.


Dengan langkah lebar aku menggeret koperku. Perjalananku hari ini sungguh berbeda, aku tertantang untuk menerima Mr. guest yang akan menjadi "suami" palsuku. Sungguh fantastis.


Pak Haji menggiringku ke dalam permainannya. Dia terlihat egois dan sedikit misterius. Aku akan melebur kedalam rencananya. One shot One kill. Apakah aku yang terbunuh atau malah dia yang terbunuh. hehe..


Siapakah ada di depanku? Senyumku mengembang ketika Pak Haji sendiri menjemputku. Good Father. Dia kelihatan lebih muda dari umurnya. Stylish clothes.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsallam...."


Aku menjawab salam Pak Haji dengan tenang. Kini aku lebih percaya diri, guruku Bibik dan Maimunah yang setiap hari mengajariku dengan semangat. Kebetulan aku sangat interest sekali.


Saat ini aku memakai celana Jeans sobek garis-garis dan baju you can see. Tujuanku supaya niat Pak Haji untuk menjadikanku menantu palsu di batalkan, aku ingin kerja sama ini murni tanpa syarat.


"Ibaratnya aku dipaksa masuk ke tempat sakral, aku akan mengikuti tanpa merubah kebiasaanku yang dulu, aku menunggu dia melemparku karena tidak sesuai dengan harapannya." sahutku diplomatis.


"Apakah kamu meragukan niat baikku?"


"Lebih dari itu, aku adalah orang awam dengan keyakinan berbeda. Pak Haji meminangku dengan syarat, lima ratus miliar sangat sedikit untuk mengambil setengah saham Pt Semeru Barito."


"Itu yang membuat kamu curiga pada calon mertuamu. Don't worry baby. Anakku sempurna tidak ada cacat fisik, perusahan juga sehat, aku menginginkan supaya kamu bisa menaklukan dia dan membuat dia kembali mengurus perusahannya, itu saja. Selebihnya terserah kamu."


"Kenapa harus aku, banyak gadis yang seimam dan berkwalitas yang mungkin pernah menawarkan diri."


"Sulit dijelaskan, aku banyak punya kenalan dan banyak yang ingin berbesan, tapi tidak ada yang trick recordnya sepertimu. Aku bangga denganmu, aku yakin kamu bisa menaklukkan dia."

__ADS_1


"Sepertinya seru, aku merasa tertantang. Bagaimana kalau dia tidak mau? apakah aku boleh memaksanya dengan caraku sendiri? misalnya menendangnya sampai roboh."


"Huss..kamu bicara apa, bukan menaklukkan begitu, kamu berusaha membuat dia mengakui aku sebagai Bapaknya dan mau kembali memimpin perusahan."


"Gampang itu." sahutku tertawa, aku mengkhayal dalam hati kalau dia tidak mau aku ikat kaki dan tangannya dan membawanya ke pinggir pantai. Tentu dia ketakutan, belagu sich.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Pak Haji curiga.


"Karena kita cepat akrab, seharusnya aku berkata lebih sopan. Maaf Pak Haji aku tidak mau bersandiwara inilah kebiasaanku supaya Pak Haji tidak kaget."


"Hahaha...aku tidak peduli, waktu akan merubahmu."


"Tidak akan berubah sebelum syarat dicabut."


"Kita sudah deal tidak baik menarik omongan yang sudah terucap." sahut Pak Haji tidak mau kalah.


Mobil masuk melalui jalan khusus. Dua orang Scurity berdiri tegap di pos membuka palang. Aku merasa seperti masuk ke Hotel Ayana di Bali, sangat luas dan jauh ke dalam.


Taman bunga menyambutku di kiri kanan jalan, setelah itu sebuah mession berada di depanku. Sangat mewah, itu kesan pertama setelah aku berada di dalam rumah. Rumah berlantai tiga dan memakai lift.


Aku tidak kaget dengan kemewahan yang ditampilkan oleh Pak Haji dan Bunda, karena aku punya Hotel yang lebih mewah dengan seribu kamar.


"Qi, selesai makan kita akan ke boutique. Tidak ada bantahan, tapi sebelumnya kamu berganti pakaian dulu, sudah Bunda siapkan." kata Bunda menatapku.


"Ya Bunda, tapi aku tidak mau pakaian tertutup, disini gerah." sahutku melirik Pak Haji yang tersenyum melirikku. Mungkin Pak Haji merasa menang. Aku tidak enak hati kalau tidak menurut Bunda.


"Perlahan kamu akan terbiasa. Di rumah tidak apa-apa memakai pakaian biasa, tapi kalau keluar harus memakai yang tertutup. Malu donk kalau sendiri memakai pakaian terbuka sedangkan yang lain tertutup, nanti dikira Bunda yang tidak bisa mengajari menantu."


"Tapi aku cuma menantu palsu." sahutku cepat. Aku harus selalu mengingatkan mereka bahwa semua palsu, jangan sampai mereka pura-pura amnesia.


"Hahaha...Bunda sampai lupa."


"Aku harus sering mengingatkan supaya Bapak dan Bunda tidak menuntut cucu."


"Kamu ada-ada saja."

__ADS_1


Kami tertawa gembira, awal yang bagus untuk saling memahami. Aku harus bisa berhadaptasi jangan sampai kejadian dulu terulang kembali, sahat aku mengenal Papanya Andre. Where are you now Andre? I hope you.


****


__ADS_2