
Wajah ganteng itu merah membara, rahangnya mengeras. Dia duduk terpekur mendengar cerita Maimunah.
"Kata Nona dia sangat lelah, energinya terkuras setelah datang dari Pak Haji. Saya sendiri sangat curiga dengan tindak tanduk Nona akhir-akhir ini." kata Maimunah dengan suara berapi-api.
"Jangan suudzon tidak baik, Ibu merasa Nona tidak seburuk itu, walaupun penampilannya sering berandalan tapi dia tetap santun."
"Santun apanya? sudah jelas prempuan itu murahan, tidak usah membela dia. Aku jadi gusar mendengar cerita ini. Manusia soq suci, mulutnya manis tapi hatinya busuk."
"Uss...tidak boleh bicara begitu nanti Maimunah mengadu." kata Bu Poniyem mengingatkan Semeru.
"Tadi dia pulang dengan siapa? aku sudah bilang padanya supaya menelepon aku dan menungguku." kata Semeru menatap Mai dengan sinar mata tajam.
"Dia naik Taxi Tuan, lagian Nona tidak tahu nomor telepon Tuan." sahut Maimunah.
"Kamu punya nomor teleponku, apa Nonamu tidak pernah memintanya?"
"Nona bukan orang begitu Tuan, mungkin dia merasa nomor telepon Tuan tidak berguna. Apalagi Tuan pernah menamparnya, hatinya pasti sangat sakit."
"Jangan diingatkan kejadian itu. Waktu itu gerakanku replek, aku kaget saat dia menggigitku. Aku sangat menyesal."
"Selama menjadi pembantu di rumah-rumah orang, hanya Nona Qirrera yang tidak pernah merendahkan saya. Dia dermawan dan sangat memahami kekurangan kami. Kalau dia salah, dia tidak sungkan-sungkan minta maaf. Padahal dia seorang majikan." kata Maimunah lagi.
"Dia memang baik, saya nengakuinya. Selama disini tidak pernah tetangga peduli dengan kami. Malah mereka membiarkan saat kami sering mendapat teror. Tuan juga hampir mati waktu di kroyok oleh orang-orang tidak dikenal." kata Bu Poniyem.
Lain dengan Semeru, dia benci kepada perasaannya yang selalu mendidih saat bertemu dengan Qirrera. Ingin sekali dia memberi pelajaran gadis itu.
"Dererrrttt....dererrtt...dererrtt...." suara ponsel Semeru bergetar. Dia cepat masuk ke kamar.
"Ada apa lagi Bunda? aku tidak butuh harta kalian. Hidupku jangan diganggu lagi. Aku sudah punya pacar dan kami akan segera menikah." kata Semeru sebelum Bundanya berkata.
"Bunda mengerti perasaanmu, berapa kali kami harus minta maaf kepadamu. Tolong mengertilah. Bapakmu dari Nol merintis Perusahan ini, sampai menjadi raksasa. Semua ini untukmu. Apa kamu tega jerih payah kami dinikmati orang lain?"
__ADS_1
"Terserah kalian, aku bukan boneka yang harus diatur sesuai keinginan Bapak. Aku terlanjur sakit hati. Selama aku menggelandang baru kali ini Bapak ingat padaku. Katakan aku tidak butuh semua itu, lebih baik melarat tapi hidupku nyaman."
"Anakku.....ini permintaan Bunda yang terakhir, kalau kamu tetap keukeuh dengan pendirianmu biarlah Bunda pergi dari rumah Pak Haji. Lebih baik tinggal di Panti Jompo ada yang merawat Bunda, daripada punya anak tidak menurut."
Semeru terdiam, tidak ada yang lebih dia sayangi selain Bundanya. Seperti buah simalakama. Rugi dia membayar Sisilia untuk berpura-pura jadi pacarnya, ternyata orang tuanya tetap mau menjodohkannya dengan teman bisnis Ayahnya.
Semeru tidak mengerti pikiran Bundanya, ayahnya berumur 50 tahun lebih, berarti teman bisnisnya berumur berapa? apakah dia seorang janda atau perawan tua yang sangat kaya sehingga orang tuanya tega menjerumuskan dirinya.
"Tidak ada yang aku sayangi selain Bunda. Aku akan menuruti permintaan Bunda, asalkan Bunda Tetap di rumah Pak Haji" sahut Semeru lirih.
"Trimakasih atas pengertianmu, Bunda sangat sayang padamu. Kamu adalah tempat Bunda bersandar di hari tua. Semoga kamu selalu dalam lindunganNYA."
Semeru menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Tidak ada yang perlu di perdebatkan lagi, dia seperti seorang pecundang.
"Aku akan pulang besok." kata Semeru menutup teleponnya.
Dia merasa hidup tidak berarti lagi. Nasibnya telah diukir oleh orang tuanya menuju Neraka. Mulai sekarang senyumnya akan hilang dan hidupnya tidak bermakna.
****
"Rencana itu adalah upaya untuk menggagalkan pernikahanku dengan pilihan orang tuaku. Itupun rencana palsu. Aku harapkan kamu memaklumi dan tidak memasukkan ke hati." kata Semeru kaget ketika Sisilia mendakwanya sebagai laki-laki penipu.
"Tapi aku mencintaimu, aku tidak menginginkan uangmu. Aku ingin kamu ada untukku." sahut Sisilia di antara sedu sedannya.
"Maafkan aku tidak bisa memenuhi keinginanmu, semenjak kita bertemu aku juga merasa senang dan merasa cocok, tapi aku tidak bisa menerima cintamu. Hatiku sudah hancur, apapun yang aku lakukan sekarang hanya sebuah wujud baktiku kepada orang tuaku semata. Carilah lelaki lain yang bisa memuliakan dirimu dan menikahimu dengan sempurna."
"Kamu laki-laki cemen yang tidak tegas, kamu celdis, hidupmu tergantung titah Ibumu. Aku tidak akan menikah selain denganmu. Kamu pikir cinta bisa berbelok seperti jalannya mobil. Cintaku murni dan hanya untukmu."
"Aku terlambat mengetahui kamu mencintaiku, seandainya ada dua Semeru tentu aku akan menikahimu. Kamu masih muda, cantik dan sukses carilah pemuda lain yang selevel denganmu, aku orang papa yang hidup apa adanya. Hidupku sederhana dan jauh dari kesan mewah."
"Aku tidak butuh wejanganmu, aku mencintaimu apa adanya. Aku bekerja dan sudah mempertimbangkan baik buruk kalau kita menikah. Uang memang nomor satu, bila kita saling mencintai uang bisa menjadi urutan kedua. Walaupun saat ini kamu belum merasa mencintaiku tapi kalau kita terus bersama cinta akan tumbuh dengan sendirinya. witing tresno jalaran soko kulino." kata Sisilia terus memojokan Semeru.
__ADS_1
Semeru mengutuk dirinya tumbuh menjadi lelaki, tingkah wanita di sekitarnya membuatnya puyeng. Bundanya yang memaksakan kehendak, Qirrera yang membuat dia selalu naik darah, Sisilia yang lebay....
"Sisilia aku tegaskan sekali lagi, aku tidak mencintaimu. Apapun tuduhanmu aku terima. Mulai saat ini kita hanya berteman biasa. Trimakasih." kata Semeru berusaha mengakhiri drama ini. Dia bosan mendengar ocehan Sisilia yang panjang.
"Tidak segampang itu aku akan terus mencintaimu dan menunggumu."
"Apa kamu tidak mengerti selama ini aku ISENG....iseng...." bentak Semeru kesal.
"Ohhh....." Sisilia tertunduk.
Dia menghapus sisa air matanya. Perlahan dia bangun dan keluar dari kamar Semeru. Lamat-lamat dia mendengar alunan suara merdu, dengan lirik yang menyentuh, ntah ini lagu siapa....
"Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan"
Lagu itu cocok sekali dengan kondisi Sisilia saat ini. Jalannya gontai, sesekali dia menoleh ke kebelakang berharap Semeru mengejarnya dan meminta maaf.
Sampai dia tidak menyadari aku berdiri mematung memandangnya.
"Sisilia kamu dari mana?" tanyaku merasa konyol. Sudah tahu dari kamar Semeru.
"Ohh Nona Qirrera, tentu saya ketemu pacar, biasalah kita saling merindu....." waow bohongnya bisa membelah Dunia.
"Tentu sangat mengasyikkan, semoga cinta kalian tidak bohongan." sahutku usil.
"Laki-laki suka membalikan fakta di depan cewek lain supaya diakui. Aku tidak marah kalau Semeru berkata kalau dia iseng denganku, hanya kami berdua tahu cinta kami tidak bisa diukur, sejauh mana dalamnya."
"Benar sekali Sisilia, makanya hati-hati dengan cowok daur ulang, semua palsu. Carilah laki-laki sejati jangan yang abal-abal."
"Saya sudah menemukan yaitu Semeru." sahut Sisilia nantap.
"Semoga kalian bahagia." sahutku.
__ADS_1
*****