QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
JODOH KEDUA


__ADS_3

Kesuksesan dan kegagalan adalah sama-sama bagian dalam hidup. Keduanya hanya sementara. Aku tidak pernah menyesali apapun yang membuatku terpuruk. Aku menangis bukan karena aku lemah. Tapi, aku menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama.


Aku mencoba menata hidupku kembali dengan nuansa baru. Aku harus bisa. Tidak pernah terpikir olehku cintaku akan jatuh terperosok. Begitu ngilu hatiku. Teganya dia menyakiti perasaanku.


"Non, ada tetua adat datang." kata Bibik mengetuk pintu kamarku.


"Ya Bik, aku akan turun." sahutku merapikan pekerjaanku. Kak Leon pergi ke luar kota, tentu sekarang aku harus menghadapi semua orang yang datang. Mereka pasti memakai bahasa Bali halus, karena aku keturunan ninggrat.


Sampai dibawah aku tersenyum kepada lima belas orang yang datang. Mereka semua memakai pakaian adat Bali. Mereka semua tetua dari margaku.


"Maaf Bapak dan Ibu yang sudah datang kesini, kakakku tidak di rumah. Ada apakah kiranya sehingga Bapak dan Ibu datang kesini." kataku memakai bahasa Indonesia patah-patah. Mereka tersenyum, rupanya mereka tidak mengerti bahasaku karena bahasaku campur-campur.


Akhirnya Bibik menjadi penterjemah dadakan, terkadang aku tertawa karena tujuan biacaraku berbeda dengan penjelasan Bibik, yang penting mengena sedikit tidak apa-apa.


Garis besarnya dari pembicaraan itu, aku sebagai anak bungsu sudah mulai di bebankan sejak bulan ini. bertanggung jawab atas semua upacara dan semua pengeluaran yang ada selama setahun ini. Setelah itu giliran yang lain, sampai giliranku datang kembali. Setiap bulan akan di kenai kewajiban dan semua sudah di catat di buku besar.


Aku cuma mengangguk karena tidak mengerti apapun. Dan untuk permulaan atau uang perdana aku di mintai seiklasnya kata mereka ada yang meninggal dan orangnya tidak mampu. Mereka tidak memaksaku tapi aku menulis diatas cek kosong 50 juta. Aku kira itu kurang banyak, tapi aku tidak berani lebih memberi karena kurang koordinasi dengan Kak Leon.


Setelah selesai mereka berpamitan. Kemudian datang tiga orang laki-laki, minta uang untuk memperbaiki sanyo dan segala macam. Hee...rupanya mama punya ratusan kost-kost-an. Dasar kak Leon, dia tidak bilang-bilang. Jadilah aku mengontrol setiap kost-kost-an sampai senja karena ada di beberapa tempat.


Aku pulang dengan badan sedikit ngilu dan tidak enak. Aku taruh uang kost-kost di laci, ntah harus dimasukan ke kas mama atau ke kak Leon aku tidak tahu. Aku mencoba menanyakan masalah itu kepada kak Maya, jawabannya sungguh mengagetkan.


"Kak tadi aku ke tempat kost, ada di empat tempat dan ada pembayaran. Aku sudah catat semua, uang ini aku harus bawa kemana?"


"Mulai sekarang semua milikmu dan ada satu Villa di ubud juga akan menjadi milikmu. Tolong kamu kelola uang itu dengan baik, semua untuk bersedekah, dan ada tiga panti asuhan menjadi tanggung jawab kita. Kita menjadi donator tetap disitu, setelah itu untuk beryadnya. Semua uang itu untuk membantu orang, kalau ada lebih baru boleh kamu pakai." jelas kak Maya membuat aku mengerti.


Semakin lama di sini, semakin aku mengerti. Sebenarnya pemasukan banyak, tapi pengeluaran banyak. Aku melihat pemasukan yang kecil-kecil kurang di alokasikan. Lebih baik aku ngontrak beberapa tanah dan aku buat pasar tumpah. Jadi aku bisa mengambil tiap bulan khusus untuk biaya-biaya yang dibebankan padaku. Jadi setiap kewajiban aku sudah punya sumber dana yang di pakai, jadi tidak mengganggu Kas utama. Begitulah aku berusaha menyelesaikan kewajibanku dengan caraku.


Tidak terasa umurku sudah menginjak 19 tahun, sayang sekali Diego tidak bisa ikut merayakan hari jadiku. Aku merayakan kecil-kecilan karena hatiku masih luka akibat perselingkuhan Adi. Menurut kak Leon aku akan di pertemukan dengan calon jodohku. Dia adalah seorang arsitek dan sekarang ini bekerja di sebuah proyek ternama.

__ADS_1


"Dia cocok menjadi jodohmu." kata kak Leon memecah keheningan.


"Aku tidak mood untuk berpacaran, apalagi menikah."


"Tidak boleh bicara begitu, pamali. Kamu harus menikah tanggung jawabmu banyak."


"Saat ini aku tidak ingin menikah, pacaran saja malas." jawabku berusaha menolak.


"Lihat dulu orangnya baru koment. Orang ini baik hati, penyayang dan bertanggung jawab. Aku kenal dengan kakaknya." promosi Kak Leon nomer satu. Dengan berat hati aku mengangguk dan dicari kesepakatan untuk bertemu hari sabtu, pas malam minggu.


Dengan loyo aku naik ke kamarku berharap hari sabtu hujan gledek, kilat atau petir besar, bila perlu pohon semua tumbang depan rumah, supaya cowok itu tidak bisa masuk kesini. Besok hari sabtu, sekarang jumat....apa kak Maya tidak butuh pertolonganku untuk menjaga anaknya atau mertuanya yang renta.


"Good evening kak Maya yang cantik......" aku langsung menelpon kak Maya.


"Woehh...tumben nelpon, kamu kesambet wewe gombel ya. Ada apa ini, kakak jadi curiga."


"Kak aku kangen sama ponakanku, boleh donk aku nginap besok disana, sekalian jaga mertua kakak yang reot itu."


Aku terhenyak, habis kata-kata. Ternyata mereka sudah sekongkol. Nasib...nasib. Tiba-tiba aku ingin mengadu sama Adi tentang nasib sialku, tapi manusia itu sudah aku tendang ke planet pluto. Sedih banget dehh!.


Harapan datangnya angin badai tidak kesampaian, langit cerah, awan berarak indah, kerlap kerlip bintang bertaburan. Alam tidak berpihak padaku, jalan satu-satunya aku berdandan seadanya. Rambut kuncir dua, pakaian kedodoran dan tidak ada parfum menempel di tubuhku. Aku merasa sudah seperti badut.


Malam ini perkenalan perdana, kalau cocok baru kembali membuat perhelatan besar. Aku berdoa semoga tidak cocok. Tiba-tiba aku mengharap suara tokek untuk menghitung nasibku...misalnya tokek..cocok...trus tokek...tidak...tapi tokek tumben tidak nongol. Sampai tokek tidak berpihak padaku. uks..uks mendadak batuk permanen.


Makanan di bawah banyak banget, rasanya semua kue di Hotelku di pajang disini, pemborosan yang betul-betul kentara. Aku rebahan sambil menghitung menit... detik... tingg.... akhirnya aku dipanggil. Semua melihat aku turun dari tangga, mereka pasti mengira aku secantik bidadari sorga, tidak tahunya aku pakai pakaian baby doll yang longgar.


"Sini nak...ini Qirrera ya, sudah besar dan cantik sekali." seorang Ibu setengah tua bangun dan mengajak aku duduk disampingnya. Brengsek!!. mereka semua tersenyum padaku, sok ramah.


"Ini adik bungsu saya pewaris Trah Wansa." kata kak Leon bangga. Benci aku sama Kak Leon, kenapa doyan menjodohlan orang.

__ADS_1


"Kenalkan ini Kak Dwiki anak tante." kata Ibu itu mengarahkan tanganku ke seorang pemuda yang dari tadi memandangku dengan rasa ingin memiliki. Aku mengacungkan tanganku ingin berkenalan, dia menyambut gembira dan kujepit telapak tangannya sampai dia mengaduh. Tahu rasa, berani-beraninya datang. bisiku dalam hati.


"Ada apa sayank....." tanya Ibunya melihat ke anaknya.


"Tidak apa-apa maa." sahutnya kalm.


Kami akhirnya berbincang-bincang, saling bercerita. Kakakku mewakili aku dan aku pura-pura sibuk main handphone padahal kupingku menguping pembicaraan mereka. Aku perlu tahu juga rencana kakak kedepannya.


"Bagaimana Dwiki, apa senang dengan Qirrera?" tanya kakakku berbasa basi.


"Saya merasa cocok kak, dia begitu sederhana dan natural. Tidak banyak berdandan, berpakaian seadanya." kata Dwiki membuat aku muak. Tahu gitu tadi harusnya aku berpakaian sexy dan menor. Betutl-betul salah kostum. Ternyata badai tidak mau berlalu dariku....hiks...hiks...


"Bagaimana Qi, kamu cocok dengan anak tante. Dia itu seorang Insinyur, sudah mapan hidupnya. Sudah punya rumah sendiri.... tapi kalau menikah nanti Dwiki harus tinggal di rumah Qirrera, setujukan?!."


"Maaf tante, rasanya terlalu dini kalau berbicara cocok dan tidaknya, beri saya waktu untuk menyesuaikan diri. karena sebuah perjodohan perlu persiapan matang. Saya tidak mau gegabah juga mencari pendamping hidup." sahutku tegas.


"Tidak usah lama-lama, tante rasa Qirrera sudah semua punya, tinggal menikah saja."


"Mama biarkan dia berpikir dulu, aku akan selalu menemaninya." sahut Dwiki.


"Biarkan mereka saling menjajagi satu sama lain, kita juga akan sabar menunggu." kata Papa Dwiki ikut memberi masukan.


"Terserahlah kalau begitu, padahal hari baik sudah dekat. Semoga saja Qirrera cepat jatuh cinta kepada Dwiki. Tante akan selalu datang untuk membegi support."


"Itulah kemauan kita semua, setelah Qirrera menikah dia akan menempati rumah besar, semua warisannya akan di limpahkan padanya. Dan siapapun yang akan menjadi suaminya harus tunduk kepada aturan yang telah di catat di buku besar." jelas kak Leon.


"Kami sudah mempelajari isi buku besar itu tidak ada yang terlslu memberatkan. Kami pasti mematuhi dan bertanggung jawab atas semua aset yang ada."


"Semoga kedepannya tidak ada halangan dan Dwiki dan Qirrera bisa bersatu." sahut mamanya Dwiki penuh semangat.

__ADS_1


*****


__ADS_2