
"Yank kenapa tadi kamu cubit aku?" tanya Dheo menatapku. Tangannya membelai rambutku yang sedikit panjang.
"Karena kamu seperti anak kecil, suka mengadu tentang diriku kepada Mamamu."
"Ohh itu, Mama yang sering bertanya, aku cuma menjawabnya jujur."
"Apa kamu juga mengatakan bahwa kita pernah bersatu?"
"Aku cuma mengatakan akan ada cucu di antara mereka."
"Iss...berarti asumsi mereka sudah negatif, pasti mereka kira kita sering haha hihi...." sahutku manyun.
"Orang bebas berpikir yang penting kita akan segera menikah."
"Ya..." sahutku mau mencubitnya lagi, tapi dia cepat memelukku mesra.
"Kita masih berduka jangan terlalu mesra, nanti kita dibilang tidak punya empaty." kataku menggeser pantatku.
"Kalau gitu aku akan menggigitmu supaya kamu menangis lagi." bisik Dheo.
"Air mataku sudah kering sehingga aku sulit menangis, tapi aku tetap sedih."
"Wajar kamu bersedih, akupun sedih melihat kamu bersedih. Aku adalah bayanganmu."
"Bayangan kelabu bagiku, tapi bagi Anisa kamu adalah harapannya." bisikku.
"Yank..sampai kapan kamu akan membuat Rice boxs?" tanya Dheo mengalihkan pembicaraan. Dia pasti takut berantem denganku setelah menyinggung masa lalunya.
"Sampai besok saja. Aku juga akan pulang besok, pekerjaan disini sudah tuntas." kataku.
Memang dalam kurun waktu seminggu ini, kami juga membuat Rice boxs seribu buah setiap hari untuk disumbangkan ke Panti asuhan dan Panti jompo atas nama Mama. Kami meminta supaya Mama di doakan.
Rasanya pekerjaan kami tidak ada celanya, dan kami bersyukur atas anugrah yag diberikan Tuhan atas kelancaran Prosesi upakara ini. Trimakasih untuk semua orang yang ikut berpatisipasi.
****
"Mama do you remember" lagu ini dari Joe Yamanaka, sudah lama banget, sangat menyentuh hatiku, aku belum lahir lagu ini sudah ada.
Mama that old straw hat was the only one I really loved
But we lost it,no one could bring it back
Like the life you gave me
Like the life you gave me
Mama, topi jerami tua itu adalah satu-satunya yang sangat kucintai
__ADS_1
Tapi kita kehilangannya, tidak ada yang bisa mengembalikannya
Seperti kehidupan yang kau berikan padaku
Seperti kehidupan yang kau berikan padaku.
"Tanpamu aku tidak ada di Dunia ini, Mama kamu adalah malaikatku" bisikku dalam hati.
Hidupku terasa kosong, setengah jiwaku seolah ikut terbang melayang. Where are you now Mama? hiks!!.
Aku menghapus air mataku mencoba membuang sedih. Semua orang akan meninggal, tapi kematian itu membuat aku merasa sangat kehilangan, karena tidak ada bekas atau benda sebagai pengobat rindu ketika aku kangen Mama. Mama benar-benar lenyap.
"Nona, sarapan dulu setelah itu baru berangkat. Ini pesan Tuan Andre lho." suara Bibik Narti membuat aku tersenyum.
"Itu perintahnya sudah kedaluwarsa, sekarang dia sudah punya istri. Bibik setia banget dengan Tuan Andre ya."
"Jangan salah Non, baru tadi pagi dia WA saya dan memerintahkan saya menunggu di pintu gerbang karena menu breakfast untuk Nona sudah diantar." sahut Bibik lalu membuka tudung saji, dan benar saja.
"Ada sandwich dan juss kesukaan Nona, Tuan sangat setia dan menyayangi Nona. Sarapanlah supaya saya tenang. Bila Nona tidak makan saya mendapat marah."
"Yaya aku makan, jangan lupa foto saat aku makan dan kirim ke istrinya, isi caption yang membuat istrinya kalang kabut."
"Bisa perang Dunia, saya bisa dicekik istrinya. Semua orang tahu istrinya galak." kata Bibik, kami tertawa....
Ini hari pertama aku kembali duduk di kursi putar di belakang meja kerjaku. Setelah sekian lama aku menutup diri, kembali berkutat dengan laptop. Tidak ada yang berubah secara signifikan. Aku bangga punya the head dan staff yang loyal. General Managerku memang super hebat.
"Hallo Owner, apa khabarmu hari ini?" tiba-tiba saja Dheo sudah berada di depanku.
"Aku sengaja tidak mengetuk pintumu, supaya kamu merasa surprise." kata Dheo lalu duduk. Aku menatapnya kagum. Dia sangat macho dan coll.
"Apa kamu tidak bekerja, kenapa bisa kelayapan kesini?"
"Mama, Papa akan datang kesini dengan tamunya, sekalian mau bicara denganmu."
"Kenapa tidak menunggu di rumahku saja, supaya kakakku juga tahu apa yang akan di bicarakan."
"Tadi maunya di rumahmu, tapi sekalian bawa tamu kesini, lagian Teman mama ada sekitar sepuluh orang, baru pertama kali ke Bali."
"Tamunya dari Negara mana?"
"Prancis, mereka minta kamar paling atas, supaya gampang ke rooftop."
"Oke Tuan, kami akan siapkan sesuai permintaan konsumen." sahutku bercanda.
Aku langsung menghubungi Front Office Manager, bagian F&B serta HRD dengan cara virtual. Jadi aku sekalian berbicara dengan mengatifkan desktop untuk Zoom.
"Kamu tahu Yank, aku merindukanmu setiap saat." tiba-tiba Dheo berbicara membuat aku tertawa.
__ADS_1
"Noo...aku lagi zoom, kamu sangat romantis trimakasih say....." sahutku menatapnya sekilas. Dheo mengerjitkan alisnya dan tersipu malu.
"Sorry guys, my boyfriend is very romantic, you guys can understand that." (Maaf teman-teman, pacarku sangat romantis kalian harap memakluminya). kataku melihat karyawanku lewat laptop.
"It's okay we've been through it, hope you're happy." (Tidak apa-apa kami sudah pernah mengalaminya, semoga kalian bahagia). sahut Manager F.O tersenyum.
Mereka semua tersenyum melihat ke arahku. Kemudian aku melanjutkan zoom serta memberi arahan dan aku juga membahas okupansi Hotel saat ini dan berharap bagian Marketing tidak terpengaruh oleh tindakan Linda Sayiko.
Sekitar sepuluh menit pertemuan kami secara virtual, biasanya aku morning briefing bersama para the head, tapi pagi ini aku menolak tatap muka karena aku masih berduka. Sebenarnya aku menghindar ditanya tentang Mama.
"Thank you for your cooperation, good work. (Trimakasih atas kerjasamanya selamat bekerja)." kataku menutup perbincangan kami.
"Aku sudah selesai zoom kita akan pindah duduk di sofa, aku harap kamu tahan diri jangan sradak sruduk karena disini banyak CCTV yang terhubung ke scurity." kataku bohong, karena aku tahu Dheo suka sekali mengambil kesempatan dan membuat aku terbiuss...
"Tidak mungkin ada CCTV di ruangan Owner, kita test dengan cara berpelukan." kata Dheo cepat memelukku. Sayang sekali acara selanjutnya tertunda, pintu diketuk dari luar.
Dheo melangkah membukakan pintu sedangkan aku duduk manis di sofa.
"Silahkan masuk Maa..Paa..." kata Dheo. Aku segera berdiri dan menyongsong Om Wedakarna dan Tante Thesa.
"Pagi menjelang siang Om dan Tante, silahkan duduk." sapaku sopan.
"Morning Owner, kami akan mengganggu pagimu sekitar sepuluh menit." kata Om Wedakarna tersenyum.
"Sejam juga boleh Om, nanti kita sekalian Lunch." sahutku.
"Kita tidak bisa lama, kami akan pamit untuk sehari saja ke Jakarta. Sebelum kami pergi ada beberapa pertanyaan yang akan kami ajukan untuk meyakinkan kami, trutama Dheo." kata Om Wedakarna mulai serius.
Dheo berdiri ketika dua orang Waiter membawa minuman dan pastry.
"Good morning, Owner and everyone here. Congratulations here, we from Chef Gabrel are holding a food pairing and recommending drinks and pastry for a diet." (Selamat pagi Owner dan semua yang ada disini, kami dari Chef Gabrel sedang mengadakan food pairing dan merekomendasikan minuman dan pastry untuk diet).
"Trimakasih Daniel dan Armada, kami akan mencobanya." sahutku berdiri.
"Thank you Owner."
"Silahkan Om dan Tante mencicipi racikan perdana dari Chef Gabrel." kataku.
Kami melanjutkan perbincangan yang lebih serius. Tujuan orang tuanya Dheo datang menemuiku untuk meminangku.
"Saya pribadi menerima pinangan Om dan Tante, tapi saya lebih sreg kalau ada kakak yang mendengar berita ini."
"Kami pasti akan melamarmu dengan resmi dihadapan keluarga besarmu. Semoga niat baik kami diterima dengan senang oleh kakakmu."
"Semoga saja." sahut Dheo dengan senyum sumbringah. Kami semua senang.
Aku merasa bahagia, aku mengharap hatiku bisa berpihak dan tulus menyambut cinta Dheo. Bagaimanapun kelamnya kehidupan Dheo dimasa lalu aku tidak lagi mempermasalahkan.
__ADS_1
Cukup sudah derita yang mengikutiku selama ini. Aku butuh orang sebagai sandaran hidupku, tempat aku mengadu. Semoga harapanku ini terkabul.
****