
Rombongan Crew berjalan duluan dengan memakai mobil sendiri dan aku dibelakang mengikutinya, aku belum begitu hapal daerah Ubud. Kami mulai melintasi jalan Bypass Ngurah Rai dengan kecepatan sedang. Maklumlah Bali daerah Pariwisata jadi mobil-mobil Bis Pariwisata berseliweran. Aku menikmati beberapa lagu slow dari playlist mobilku, membuat pikiranku melayang kemana-mana.
Perjalanan ini cukup melelahkan, karena medannya agak riskan, masuk ke pelosok dan memakan waktu sekitar dua jam. Aku sudah sampai di sebuah Hotel bintang tiga di Desa Tegal Lalang. Kami disambut oleh sepuluh orang karyawan Hotel termasuk Owner.
"Selamat siang semuanya, kami menunggu kalian dari tadi, silahkan masuk." kata Pak Yoga tersenyum lebar.
"Salam sehat dari kami Pak, kami minta maaf membuat Bapak semua lama menunggu. Maklumlah Pak, pemandangan di sepanjang jalan kesini sangat indah membuat kami memperlambat laju mobil." sahut Mas Bayu menyalami Pak Yoga.
"Ini Qirrera adiknya Maya Wansa ya, sudah gede dan cantik. Dulu waktu baru dipungut oleh Ibu Capela semua badannya di kerubuti semut." sahut Istri Pak Yoga menatapku seolah mengejek. Aku mulai tidak enak hati dan merasa tidak nyaman.
Ibu Dilla, begitu dia memperkenalkan dirinya. Aku menganggapnya manusia sombong atau Orang Kaya Baru. Aku rasa uangku sendiri cukup membeli tiga Hotel yang lebih bagus dari ini.
"Bagaimana hubunganmu dengan kakak-kakakmu?" tanyanya lagi.
"Kakak semua baik, dia tidak pernah mempermasalahkan aku siapa dan dari mana asalku. Pikiran mereka luas, aku sangat bertrimakasih kepada keluargaku yang sangat menyayangiku." jawabku menyindirnya.
"Tante dengar kamu sudah menjanda sekarang. Makanya mencari jodoh jangan yang berandalan, pilih yang berkwalitas. Kalau anak Tante pintar memilih jodoh, orangnya baik dan sempurna."
"Semoga anak Tante berbahagia." jawabku merasa muak dengan perbincangan ini. Kami di suruh menunggu di Lobby Hotel dengan jamuan air kemasan dan kue kering. Aku mau tertawa dalam hati, omongan Ownernya tidak sesuai dengan suguhannya.
"Silahkan minum, saya lagi sibuk, ternyata banyak sekali yang melamar pekerjaan." kata Pak Yoga datang dan duduk disampingku.
"Kapan grand opening Hotelnya Om." tanyaku kepada Pak Yoga.
"Masih lama, banyak yang perlu dipersiapkan. Saya juga mau mengajak teman yang lain misalnya Maya Wansa untuk membeli saham Hotel ini. Kalau sendiri saya belum ada kemampuan." kata Pak Yoga mulai berkeluh kesah. Rupanya ada udang dibalik batu, dia sengaja memakai aku supaya kak Maya mau membeli sahamnya.
"Hati-hati Paa...Qirrera janda kembang, nanti Papa bisa ke gaet." tiba-tiba Bu Dilla nyelonong langsung menegur suaminya didepan kita semua. Hatiku seketika panas. Crew yang aku ajak semua melotot, mungkin mereka kesel juga aku terus diejek oleh Bu Dilla.
"Jangan khawatir Tante, janda yang di depan mata biasanya tidak berbahaya tapi janda yang berkeliaran diluar yang lebih berbahaya. Bukan begitu Om?" sahutku menoleh Pak Yoga yang tersenyum miring.
"Janda semua sama...gatel!!" sahut Bu Dilla sinis. Ingin sekali aku nabok mulutnya yang monyong.
"Syukurlah Tante berpikiran begitu, jadi Tante harus waspada, bila perlu jangan dikasi Omnya keluar dengan bebas." sahutku tertawa mengejek.
Pembicaraan kami terhenti ketika sebuah Mc Larren merah masuk dan berhenti di samping mobilku. Seorang gadis mungil turun dari mobil, siapa lagi kalau bukan Natalia.
"Mami...maaf aku telat datang." katanya manja memeluk Bu Dilla.
__ADS_1
Aku merasa hawa dingin Ubud mendadak menjadi panas, hatiku langsung meriang. Aku memandang gadis itu sepintas. Tentu saja Andre memilih aku, karena Natalia "Oplas" bibirnya dan hidungnya bikinan Korea. Tapi outffitnya branded. Aku boleh sombong, di bandingkan Natalia aku lebih segalanya.
"Sayank, kenalkan ini anak pungut Tante Capela." kata Bu Dilla kepada anaknya menunjuk diriku.
Natalia menoleh sepintas dengan mata mencemoh, setelah itu dia masuk ke dalam. Begini orang yang mau menjadi istri Andre, tidak punya attitude. pikirku.
"Maaf Pak Yoga, kami akan mulai pemotretan karena waktu kami mepet." kata Mas Bayu berusaha keluar dari situasi yang membuat aku gerah.
"Silahkan, nanti orang marketing yang akan membantu menyeleksi penyesuaian tata letak barang-barang yang akan menjadi bahan pemotretan." kata Pak Yoga ikut berdiri.
"Ya Pak trimakasih kami akan mulai." sahut Mas Bayu.
Aku ditarik sama Kiky dan Yupi untuk di rias. Suasana sungguh tidak nyaman. Kemana aku pergi selalu dilihati oleh Bu Dilla, atau Natalia yang sembunyi-sembunyi memandangku. Tanpa sadar aku sudah afirmasi negatif kepada Natalia.
Pemotretan sedikit alot karena Bu Dilla ikut mengatur, aku di dalam pekerjaan memang disiplin dan tegas, setiap dia comment negatif aku luruskan dengan bahasa yang bisa dia mengerti.
"Kenapa tidak Natalia saja yang berenang di kolam renang, Ibu rasa lebih menjual." protes Bu Dilla menyodorkan anaknya.
"Maaf Nyonya, disini kita mempromosikan kolam renangnya dan perlengkapan yang menyertainya. Saya sebagai model akan memperagakan satu persatu perlekapan yang disediakan Hotel." sahutku menyela. Aku melihat wajah Natalia kecewa dan Bu Dilla cembrut. Masa bodo, mereka berdua membuang banyak waktuku.
"Pekerjaan ini harus cepat selesai, tolong kerja samanya semua." kataku serius. Aku berjanji dalam hati akan mentraktir semua Crew di Restorant. Sedih aku melihat wajah kuyu dari mereka.
"Aku tidak menyangka akan begini jadinya Ternyata orang kaya ada juga yang pelit, apalagi untuk bersedekah ke Panti Asuhan, untuk dirinya sendiri saja mungkin pelit." kata Mas Bayu melihat kami semua.
Pukul. 16.15 wita kami baru bisa menyelesaikan semua sesi pemotretan. Kami merasa lega. Suasana sudah gelap dan udaranya dingin menusuk tulang.
"Saya sangat bertrimakasih atas kerja samanya, saya minta maaf belum bisa memberi uang tunai. Ini saya kasi cek mundur untuk satu minggu ke belakang." kata Pak Yoga di dampingi istrinya. Mas Bayu mau protes tapi aku cepat menjawab.
"Tidak apa-apa Pak, saya juga bertrimakasih. Ngomong-ngomong ini cek ada uangnya Pak?!" tanyaku menohok.
"Tentu ada uangnya, kami tidak mau menipu." sahut Bu Dilla tersenyum.
"Ya Pak Yoga kami menerima cek ini, kami pamit. Soalnya kami sudah kelaparan." sahut Yupi menyela.
Akhirnya kami keluar dari Hotel Weston. Udara sangat dingin dan lembab. Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang dan agak hati-hati, karena embun sangat tebal sehingga jarak pandang sangat dekat, aku terpaksa memakai lampu jarak jauh.
Sampai di jalan raya, yang pertama aku cari adalah rumah makan dan itu ada di Monkey Forest. Aku sangat terharu melihat semua Crew berhamburan keluar menyerbu Restorant.
__ADS_1
"Mas Bayu dan teman-teman semua, aku malam ini mentraktir kalian, jauhkan pikiran kita dari pengalaman pahit ini, supaya rejeki datang dari segala arah." kataku menghibur Crew. Mereka tertawa kecut.
"Besok-besok kita harus pilih-pilih customer, jangan yang soq kaya begini."
"Ini namanya pengalaman pahit, silahkan makan sepuasnya." kataku tersenyum. Aku keluar langsung menghubungi kak Maya.
"Hallo Qi, kamu masih di Ubud? tadi Pak Yoga menghubungi kakak ......"
"Hotel Weston masuk black list, aku melarang kakak membeli sahamnya atau berkolaborasi dalam bentuk apapun." potongku cepat.
"Memangnya kenapa Qi, mereka masih semarga dengan kita." kata kak Maya membuat aku kaget. Kalau Pak Yoga semarga berarti Andre juga semarga. pikirku penuh harap.
"Aku tidak peduli mereka semarga atau tidak, aku akan menyaingi kesombongan mereka." sahutku.
"Ada yang menyinggung perasaanmu?" tanya kak Maya hati-hati.
"Tanya besok Mas Bayu. Kak aku tutup telponnya kami mau melanjutkan perjalanan." kataku.
"Ok. hati-hati di jalan." sahut kak Maya. Kini aku lega, aku yakin kak Maya pasti akan mengikuti omonganku, karena selama ini dia sering minta pertimbangan denganku. Walaupun aku lebih kecil tapi aku berpengalaman, backgroundku Hotel. Wawasanku lebih luas karena aku sering perjalanan bisnis ke Luar Negeri.
Kami selalu cocok dalam segala hal, dan kak Maya sangat bijaksana. Lain dengan kak Selvi yang cepat marah. Tapi semua kakakku sayang padaku, apalagi aku royal kepada mereka.
Aku kembali membuka ponsel pribadiku dan menghubungi Bapak Sugama Owner dari Dealer Supercar.
"Hallo Qirre..kenapa malam-malam menghubungi Om, Dealer sudah tutup..hahaha...." aku mendengar suara Om Sugama renyah.
"Maaf aku mengganggu ketenangan Om, aku minta dibawakan Lamborghini Aventador. Besok sudah ada di rumahku."
"Om tidak salah dengar, mobilmu Mc Larren baru itu, ada apa lagi, nanti Maya Wansa marah sama Om, dikira Om yang punya ide menjual mobil padamu."
"Aku bosan Mc Larren, aku mau kasi kak Leon. Aku tidak mau tahu, besok aku sudah melihat Lamborghini Yellow di rumahku." sahutku kencang.
"Yaya sayang...."
"Thank you Om...see you."
****
__ADS_1