
Perseteruanku dengan Bu Dilla dan Natalia semakin meruncing. Dia tidak segan-segan mengadu domba aku dengan Tante Wilda. Sungguh licik mereka.
Pulang dari Balai Agung aku dan Om Sugama semobil. Sedangkan Tante Wilda bersama Bapak Yoga sekeluarga. Natalia pulang bersama Andre.
Tidak banyak yang aku bicarakan dengan Om Sugama saat berada satu mobil, karena pikiranku galau. Aku sangat sedih.
"Ada apa Qi, kamu kelihatan muram." kata Om Sugama memecahkan keheningan.
"Aku lagi sedih Om...." jawabku mau menceritakan hubunganku dengan Andre, tapi tidak jadi. Tentu aku tidak boleh merusak suasana bahagia Om Andre.
"Sedih karena apa, karena belum sarapan? Om lupa Qirrera tidak bisa makan nasi. Maaf ya....sekarang kita ke Restoran Vege."
"Bukan karena belum sarapan, aku sedih karena hatiku galau." sahutku lirih.
"Ini hari ulang tahunnya Om, kamu harus bahagia tidak boleh sedih."
"Maaf Om..."
Aku berusaha tersenyum. Om Sugama sungguh baik membuat hatiku adem. Sayang sekali Om Sugama Papanya Andre, jika bukan Papanya Andre tentu aku bisa menceritakan kesedihanku.
Om Sugama membeli makanan take away supaya cepat. Aku rencananya makan dirumah Om Sugama dan Tante. Rasanya aku sudah tidak sabar melihat reaksi Andre kalau dugaannya selama ini salah.
"Om, pasti semua sudah sampai dirumah, kita yang paling belakang. Aku berharap mereka tidak curiga kepada kita. Karena kedekatan kita bisa saja membuat orang lain salah mengerti." kataku memandang Om Sugama dari samping.
"Hahaha....siapa yang curiga? Tadi Om sudah mengumumkan di warga, bahwa kamu adalah anak Om yang ketemu gede. Tidak merawat dan membiayai.... mungkin kalau kakakmu tahu Om bisa diceramahi." sahut Om Sugama tertawa.
"Semoga tidak ada mulut nyinyir dan fitnah. Masalahnya aku seringkali kena fitnah orang."
"Kalau sampai kamu difitnah Om yang akan melawan, Om akan melindungimu."
"Aku tidak yakin Om akan membelaku, Om bisa saja termakan mulut nyinyir dan berbalik memusuhiku." sahutku tersenyum tipis.
"Seorang lelaki berpikir rasional, tidak akan terpengaruh dengan gosip murahan." sahut Om Sugama mantap.
"Semoga saja. Waktu ini aku di keluarkan oleh tetua dan beberapa warga karena fitnahan dan mulut nyinyir seseorang. Tetua dan warga yang semua lelaki waktu itu mendepakku tanpa memberi aku waktu untuk membela diri. Aku cuma pasrah, itulah yang membuat aku semakin tegar dan menjaga tingkah lakuku sebaik mungkin supaya tidak ada mulut nyinyir yang bisa menjatuhkan harga diriku."
__ADS_1
"Mungkin karena Om sering keluar negeri membuat Om jarang mendengar kejadian yang menimpa warga."
"Jangan khawatir Om, setelah pertunangan ini gosip akan terus mengalir ke rumah Om. Aku cuma berpesan hati-hati memelihara ular, setiap hari ular akan mengukur tubuh Om dan bepikir kapan bisa menelan tubuh Om."
"Ahh ada-ada saja, jangan soudzon kepada orang lain. Om melihat Ibu Dilla kurang senang kepadamu, tapi jangan khawatir mereka orang-orang baik."
Aku tertawa tanpa makna, perjalanan cintaku seperti gelombang. Kadang datang bergulung tinggi, kadang terhempas menyakitkan.
"Akhirnya sampai juga dirumah. Mereka ternyata sudah duluan datang. Ayuk kita turun, Om sudah lapar." kata Om Sugama.
Kami turun langsung ke ruang makan. Semua mata memandang kami. Ada keluarga Tante Dilla yang terdiri dari Om Yoga, Natalia dan Bu Dilla. Ada Andre dan Tante Wilda. Aku tersenyum kepada Tante Wilda, Tante Wilda membalas senyumku dengan tatapan tajam. Hatiku mulai tidak enak, racun sudah tersebar, aku yakin sebentar lagi "bom" akan meledak.
Wajah Tante Wilda berubah. Dia tidak menyapaku seperti biasanya, aku merasa mulut nyinyir Bu Dilla sudah berhembus dan mempengaruhi Tante Wilda.
"Rupanya kalian sudah duluan datang. Lanjutkan makannya." kata Om Sugama mengajak aku duduk.
"Kami langsung pulang Pak Sug, tidak ada waktu untuk santai. Pekerjaan menumpuk." sindir Bu Dilla.
"Qi duduk di sebelah Om, kamu makan dulu. Setelah itu beristirahat di kamar."
"Maaf Om saya lebih baik pulang saja."
"Natali...omonganmu sangat rendah, tidak sepatutnya kamu bicara begitu." Om Sugama langsung berdiri.
"Paa...biarin Natali bicara, supaya Papa tahu siapa sebenarnya Qirrera. Jangan terpengaruh sama wajahnya yang cantik. Dia banyak menipu kita. Tanyakan kenapa semua warga membencinya, karena dia merebut Andre dan mereka sudah serumah selama ini." Tante Wilda ikut berdiri serta berkata dengan berapi-api.
"Andre benarkah ini?" Om Sugama lalu menatap Andre.
"Benar Paa....kami saling mencintai...." belum selesai Andre bicara tangan Om Sugama sudah melayang ke pipi Andre.
"Plookkk....." aku tidak menyangka tangan Om Sugama secepat itu melayang.
"Papaa...kenapa memukul Andre, dia yang harus Papa usir dari rumah ini." teriak Tante Wilda menudingku.
"Pergi kamu dari sini." Natali dan Tante Dilla mengusirku.
__ADS_1
"Saya minta maaf kepada Tante Wilda dan Om Sugama, kalian jangan bertengkar karena saya. Seandainya saya tahu Andre adalah anak kalian, saya pasti tidak akan mau kesini. Belajarlah bersikap dewasa dengan mendengarkan kedua belah pihak....."
"Jadi kamu mau mangkir? Vidio kamu yang dicium di perkebunan buah oleh Andre sebagai bukti, bahwa kamu pelakor" potong Tante Wilda.
Aku melihat Andre berdiri dan keluar dari ruang makan. Natali mengejarnya. Ntah Andre mau kemana, aku mendengar mereka bertengkar dan suara mobil keluar. Kemudian Natali kembali dengan tangisan yang keras. Aku berpikir Andre telah pergi.
"Andre...ingat kita sudah bertunangan." teriak Natalia di antara suara tangisannya.
"Perempuan hina, gara-gara kamu Andre pergi. dasar murahan tidak tahu diri." maki Natali dengan keras.
Aku tidak menghiraukan makian mereka, dengan langkah tegap aku melangkah keluar dari ruang makan. Hujatan mereka membuat aku sangat terhina. Mereka telah membunuh karakterku dengan tuduhan yang keji.
"Qi..jangan pergi, kamu berhak disini." kata Om Sugama menghalangi kepergianku.
"Maaf Om...saya bukan orang hina yang hidup perlu bantuan kalian. Biarkan saya pergi, suatu hari nanti kalian akan tahu...." sahutku dengan suara serak
"Pergilah jangan banyak mulut." kata tante Dilla sinis. Di antara keributan itu hanya Om Yoga yang diam, aku tidak tahu dia berpihak kepada siapa.
Aku menepis tangan Om Sugama ketika dia memegangku. Wajah tua itu terlihat sedih menatapku, hati ini bergetar kasihan melihatnya. Seandainya dia tahu tuduhan Bu Dilla tidak benar, Om Sugama pasti akan menyesal.
Aku memacu mobilku kencang, hati ini sangat sakit. Air mataku bergulir membuat pandanganku buram. Ya Tuhan tabahkanlah hatiku menerima cobaan ini. Aku memang tidak sepandai perempuan lain berkata atau merayu pasangan, karena aku apa adanya. Terngiang kata-kata Tante Wilda yang menyakitkan.
Sampai di rumah Bik Surti dan Bik Inah telah menungguku dengan khawatir. Mereka saling berbisik.
"Nona minumlah, mari duduk di ruang makan, Bibik mau menceritakan sesuatu." kata Bik Surti mengajak aku ke ruang makan. Aku menghapus air mataku dan berusaha mengatur nafas. Dengan terpaksa aku duduk mengikuti perintah Bibik.
"Minumlah Nona, tadi Bibik memesan jus lewat online. Semua ini Nona harus makan supaya Bibik tidak kecewa." kata Bibik seolah sudah tahu apa yang aku alami.
Mereka sibuk melayaniku. Aku makan sedikit, rasanya lidahku pahit sepahit hidupku. Bibik sangat perhatian, rasanya tidak tega menolak suguhannya. Apalagi dia belanja dengan uang pribadi.
"Makasi Bik aku mau ke kamar." kataku tanpa menunggu komentar Bibik, aku langsung naik ke kamar. Suara ponselku berdering terus, aku tahu dari Om Sugama. Orang tua itu sangat sayang padaku.
Aku membuka ponsel pribadiku melihat pesan yang masuk. Ada beberapa pesan dari Om Sugama dan Andre.
"Qi...tenangkan dirimu, kamu adalah anak yang baik. Bagaimanapun keputusanmu Om akan mendukungmu. Kamu tetap anak yang Om sayangi, semoga hatimu tersentuh membaca tulisan ini. Tidak ada yang perlu disalahkan, situasilah yang salah, sehingga kejadian ini menimpa kita. Saat ini Om juga lagi bersedih, jangan kamu marah kepada kami, anggap Tante lagi khilaf. Maafkan kami." aku membaca salah satu pesan dari Om sugama.
__ADS_1
Aku tidak membuka pesan dari Andre, aku langsung memblokir dan menghapus nomornya dari Whatsapp. Hatiku sudah beku, tidak ada keinginan untuk membalas. Biarlah semua berjalan apa adanya. Aku sudah pasrah.
****