
Pulang dari kerja biasanya aku semangat karena akan bertemu Andre, tapi semenjak aku bentrok dengan dia semangat untuk pulang ke rumah terasa merosot. Begitu hebatnya cinta sampai tidak bisa diterima akal sehat. Nalarku sekarat.
Aku tidak jadi pulang, mobilku mengambil jalan Seminyak menuju Kuta. Macet!! itu yang pertama aku alami. Sepanjang jalan Bule berjalan kaki memenuhi trotoar. Aku iseng memandangi mereka, hampir seluruhnya ganteng dan cantik. Mereka kelihatan sempurna karena postur tubuhnya yang tinggi kekar dan ceweknya tinggi langsing.
Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 21.45 wita, sekarang aku malam-malam pulang dari kerja, karena aku belajar memanage Hotel dari nol. Untungnya Hotel di pantau oleh coporate.
Double Six Bar sudah berada di depan mata, sebuah Bar anak muda yang sangat di gandrungi saat ini. Aku turun dari mobil, aku melihat banyak mobil mewah terpakir, padahal belum begitu malam. Aku masuk dengan pandangan mata buas dari beberapa cowok bertatto. Ada perasaan ngeri juga, apalagi aku melihat lengan mereka besar-besar. Kalau aku dijepit sepuluh orang, matilah awak.
Tapi aku tidak gentar, banyak aku lihat cewek masuk ke Bar ini dengan pakaian minim serta merokok. Baru masuk aku sudah dikenakan cass lima ratus ribu rupiah.
"Prepayment lima ratus ribu rupiah." kata Bartendernya tersenyum ramah.
"Ok. Aku mau gesek." sahutku memperlihatkan ATM unlimitedku.
Transaksi selesai, aku memesan cocktail vodka, seorang Bartender mengedipkan sebelah matanya dan mulai Juģgling. Dia membawakan atraksi itu untukku. Semua yang ada di Bar matanya serentak menatap padaku. Saat ini aku merasa dalam posisi bahaya. Bau minuman keras, rokok dan Vave bercampur aduk. Kalau aku keluar terasa konyol, akhirnya aku duduk di kursi paling depan dekat pintu keluar.
"Hello beautiful, do you need a friend, I'm ready to be your friend." seorang pemuda ganteng mendekatiku. Dia pasti mengira aku seorang Bule.
"No i want to be alone." sahutku pendek. Pemuda itu tidak menyerah, dia duduk di kursi sebelahku. Daripada orang lain yang duduk disini lebih baik aku yang duduk. Mungkin itu pikirannya.
Aku membiarkan dia duduk, karena pemuda lain kelihatan lebih seram.
Walaupun aku pernah ke Bar dengan Crew pemotretan tapi aku tidak pernah minum beralkohol. Di Hotelku juga ada Bar, aku tidak alergi, cuma aku merasa nervous dengan keadaan ini.
"Darimana asalmu?" kata pemuda itu lagi tetap memakai bahasa Inggris.
"Los Angeles, tapi aku bisa bahasa Indonesia." sahutku pendek.
Biasanya ada undang-undang tidak tertulis, penduduk asli selalu menghormati para tamu untuk menghindari image jelek dari pariwisata. Kesadaran itu tumbuh, karena sebagaian besar pekerjaan penduduk dilingkungan pariwisata.
" Owh..kenalkan namaku Rudy." katanya menatapku dalam.
"Namaku Qirrera."
"Kamu sangat cantik seperti artis film. Aku bisa menemanimu melihat Bali dari jarak dekat. Kita bisa one nigt love."
"Sorry, aku bukan gadis yang gampang di jamah. Maaf kalau kamu salah sangka."
Aku melihat sinar mata tidak percaya dari Rudy, dia tersenyum miring. Aku tidak peduli dan tidak mau menanggapi.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak minum Cocktailnya?"
"Aku tidak terbiasa minol." sahutku.
"Tidak apa-apa cuma sedikit begini, kecuali kamu minum tiga gelas baru pusing, tapi bukan mabuk lho. Cuma pusing." kata Rudy mengambil gelas Cocktailku dan menyodorkan kepadaku.
Aku memandang Rudy yang tersenyum dan melihat kedepan, beberapa pasang mata menunggu aku minum. Akhirnya aku mengambil gelas itu dan menyesapnya. Pahit!!. itu kesan pertama.
Aku mau menuntaskan minum ketika tidak sengaja menoleh kesamping. Dadaku bergemuruh. Andre menatapku tajam. Aku menaruh gelasku dan menunduk. Kapan Andre duduk disana, tadi dia tidak ada. Apakah dia sengaja kesini atau dia sering kesini? pertanyaan itu terus menghantuiku.
Aku tidak tahu kenapa aku takut, seperti anak kecil yang tertangkap basah.
"Maaf Rudy aku mau cabut." kataku menatap cowok di sampingku.
"Kenapa? kita melantai kalau begitu." ajaknya kecewa.
"Kapan-kapan aku kesini, ini sudah malam aku harus pulang." kataku.
"Tolong nomer handphonemu." katanya sedikit memaksa. Aku mengeja nomer handphoneku dan melirik Andre. Kulihat Wajahnya masam dan matanya tidak lepas dariku.
"Aku mau pulang." kataku berdiri. Rudy juga berdiri dan mengantar aku keluar. Dia kaget ketika aku menuju mobilku.
Lamborghini itu melaju dengan kecepatan sedang. Aku tidak berani melirik Andre yang sedang menyetir. Ingin sekali aku mengadu tentang semua hal yang aku alami selama ini, tapi aku gengsi memulai. Sepanjang jalan kami diam, musik juga tidak ada, yang keras terdengar adalah detak jantungku dan suara nafas Andre.
Akhirnya sampai juga di rumah, Bibik pasti sudah tidur, sepi. Aku turun dari mobil dan menoleh kepadanya, dia juga turun. Aku langsung ke meja makan dan membuka tudung saji. Kosong!!. Sudah sebulan kosong, karena aku tidak mau Bibik membuat makanan untukku. Akhirnya aku naik ke atas diikuti Andre.
Langkahku terhenti ketika dia menarik tubuhku dan menciumku dengan mesra. Aku menangis karena rindu. Aku sangat mencintainya.
"Miss you....." suaraku lirih sambil menangis. Aku merasa Andre juga menitikan air mata. Kami larut dalam kesedihan.
"Aku sangat mencintaimu, jangan kamu berbuat aneh-aneh. Kamu belum mengerti dunia malam. Tidak boleh ke Bar sendiri, kecuali aku mengajakmu baru boleh."
Aku cuma mengangguk. Andre menarik tanganku dan mengajak duduk di sofa.
"Sebulan ini kamu tidak pernah sarapan?" tanya Andre menatapku. Maunya aku berbohong, tapi tidak bisa. Aku cuma mengangguk.
"Aku akan mengajari Bibik, kamu harus sarapan, di Hotel juga kamu jarang breackfast. Badanmu kurus."
"Tidak usah Bibik di ajari, aku bisa minum juss di Hotel dan memesan makanan. Aku juga sering makan roti." sahutku.
__ADS_1
Hatiku ngilu mendengar perkataannya. Seolah dia sudah milik Natalia dan tidak mungkin datang kesini, apalagi tinggal disini seperti dulu. Aku mengerti posisiku menjadi orang kedua.
Aku beringsut menjauh, air mataku kembali jatuh. Aku sangat sedih.
"Kenapa yank, jangan menangis, aku tidak tega melihatmu begini. Aku mencintai....." kata Andre menggantung.
"Ketahuilah aku sangat mencintaimu, apabila pertemuan ini membuat hatimu bimbang untuk mengambil keputusan, lupakanlah aku. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Cuma satu yang aku minta jangan sekali-kali menyebut nama prempuan itu di depanku, aku sengat membencinya. Mungkin aku jahat, begitulah sifat jelekku." sahutku sambil sesenggukan.
"Bagaimana kalau kita lari dari Bali, hidup sederhana di luar sana."
"Aku tidak mau meninggalkan mama yang sedang sakit, mereka semua baik padaku aku tidak tega. Disamping itu semua bisnisku berada di sini."
"Kamu bisa lewat online mengelola bisnismu, aku akan membantumu."
Aku menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Hidup ini sangat berat. Andre menghapus air mataku dan kembali memelukku. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Sesuatu yang membuat aku begitu nyaman.
Ketika Andre kembali mau menciumku aku ngeles. Pikiranku kembali normal, aku merasa hina. Aku gadis sempurna yang kaya raya, tidak seharusnya merendahkan diri di hadapan Andre yang jelas-jelas telah menyakitiku.
"Pulanglah, kembali kepada duniamu, biar aku sendiri menata hatiku."
"Kenapa kamu berkata begitu? seolah kamu menyerah, semua ini berat tapi kita harus berjuang."
"Berpikirlah secara realistis, tegakah kamu menyakiti perasaan orang tuamu, keluarga cewekmu dan tetua yang akan menyetujui perjodohan itu?"
"Aku bukan boneka, jadi jangan sangsi kepada diriku. Pilihanku adalah kamu, sekarang aku minta tanggapanmu untuk lari bersamaku."
"Andre, aku hampir mengerti sifatmu. Kamu ingin mendua sebenarnya, omonganmu bulsit. Seandainya kamu serius memilih aku, tolong tunjukan sekarang kepada semua pihak. Buktinya waktu aku datang ke bengkel, kamu cuma memandangku dan asyik dengan perempuan itu, malah kamu membiarkan bibir monyongnya mengecup pipimu."
"Terus maumu bagaimana?" sahutnya berdiri.
"Enyahlah dari hadapanku, aku tidak ingin menjadi mainanmu. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bodohin. Ingat, jangan memperlihatkan diri di depanku."
"Ok. kalau itu maumu, aku cuma berpesan jaga dirimu. Jangan ....."
"Itu urusanku, mau ke Bar, ke Club, jangan ikut campur. Aku tidak takut dengan bajingan. Hidup cuma sekali, aku sudah bosan hidup...pergilah!!" potongku.
Andre pergi dengan ragu. Aku menatap punggung laki-laki itu dengan air mata membanjir. Nafasku sesak. Seolah jiwaku ikut melayang. Aku masuk ke kamar dan menumpahkan air mataku.
*****
__ADS_1