
Ku jelajahi rasa dihati, tapi tidak jua ada sebersit rasa yang sanggup mencerna cinta yang terungkap dalam nada.
Pembekuan hati yang sepihak membuat netraku menjalar tak bermakna, setiap cinta datang kuhapus dengan buih ombak.
Aku tidak tahu seberapa asmara bisa masuk ke sanubariku, yang aku tahu secepat dia datang secepat itu aku hempaskan.
Kutanya hatiku, kapan jiwaku akan terguncang bila cinta berhembus datang? Sang hati tidak menjawab karena cinta selalu dibarengi dusta....
Aahhh.....kuhembuskan nafas kasar, ketika kakiku melangkah memasuki kamar Hotel. Rasanya beban hidupku terlalu berat kupikul, sedangkan saudaraku mulai kurasa menjauh. Mereka mempunyai kesibukan sendiri, keluarga sendiri dan bisnis masing-masing. Ingin aku pergi ke Los Angeles hidup damai bersama mama, tapi adat sudah terlanjur mengikatku.
"Drett...drett....." ponselku berbunyi.
"Halo kak ada apa?" tanyaku ketika kak Maya menghubungiku.
"Kamu jangan meninggalkan rumah karena masalah sepele. Hadapi masalahmu sampai tuntas." ucap kak Maya parau. Dia pasti sudah tidur ketika spionasenya mengatakan aku membuang jenuh ke Hotel Six Senses.
"Aku cuma seminggu disini, otakku bebal. Masalah Sanjaya aku akan tuntaskan nanti. Suruh spionase kakak jangan memata-matai aku terus."
"Kakak hanya mengingatkanmu saja. Setelah masalah Sanjaya selesai akan ada pengawal di rumah yang akan menjagamu, jadi kamu tidak perlu was-was."
"Buat apa scurity kak, aku mampu menjaga diriku. Lagi pula ada pengontrak di Villa belakang. Aku sebenarnya tidak takut."
"Justru ada banyak orang kamu semakin waspada, kita tidak tahu karakter orang. Siapa tahu di antara mereka ada yang mengincar kelemahanmu."
"Kakak terlalu banyak nonton film, jadi merasa was-was." sahutku tertawa.
"Ya sudah tidurlah...good night." sahut kakak tertawa. Aku menutup ponselku. Aku tidak membawa baju ganti, karena tidak berpikir akan menginap di Hotel.
****
Pagi ini aku terlambat bangun, sudah pukul 10.30 wita. Aku cepat-cepat mandi dan menuju Restoran. Aku harus breakfast dan minum juss, kalau tidak aku bisa sakit. Di Restoran aku bertemu Chery sepupuku dengan Om-om. Dia pura-pura tidak mengenalku, tapi aku keburu menyapanya.
"Dengan siapa Chery? tante Yeny tidak ikut?" tanyaku datar.
"Kamu sama siapa?" dia balik bertanya.
"Aku sendiri." sahutku.
"Aku tidak percaya." katanya menjebikkan bibirnya. Aku diam tidak peduli. Mau percaya atau tidak terserah, aku tidak perlu mempertaruhkan argument lagi. Aku juga buru-buru takut telat ke Bandara.
"Up to you." sahutku sambil memasukan potongan sandwich ke mulutku. Chery memilih bungkam dan fokus dengan teman kencannya.
Selesai breakfast, aku sudah di jalan yang berkelok-kelok. Aku memacu mobilku dengan kencang, jalanan sepi, jalanan naik turun. Maklumlah kita memutari bukit salah sedikit tergelincir.
__ADS_1
Sampai di jalan raya menuju Bandara aku masuk Boutique dulu. Memborong lima stel pakaian khas Bali. Kini penampilanku sudah berbeda, mirip seperti bule-bule yang memakai pakaian khas Bali. Tapi aku malah merasa lebih santai dan serasi dengan pakaian begini. Warnanya cerah-cerah dan serasa ada di Hawai.
Hari ini aku akan menerima group dari Korea Selatan. Mereka datang sekitar enam puluh orang. Aku memasuki khawasan Bandara Ngurah Rai. Ramai tentunya. Ternyata bis Hotel dan dua orang guide sudah menungguku di parkiran.
"Pesawat sudah Landing, aku akan membawa sepanduk ke dalam." kata Pak Agus menghampiriku.
"Ok. Aku akan berada di bis sekitar 15 menit untuk memperkenalkan Bali." sahutku membagikan tugas.
"Untuk selanjutnya Pak Made akan meneruskan supaya lebih spesifik. Mereka tidak mau langsung ke Hotel, minta langsung ke Kuta. it's okay.
"Tidak masalah, kita akan drop nasi kotak untuk makan siang mereka. Aku akan koordinasi dengan Manager F.B." sahutku.
Begitulah pekerjaanku selalu sibuk dan kadang jarang bisa memikirkan masalah lain. Tapi sore ini aku menyempatkan lewat di depan rumahku. Aku heran karena Sanjaya membawa satu truck funiture dari rumahku.
Aku mundur dan menghentikan mobil di depan rumahku. Serta merta aku masuk kedalam dan menghampiri seorang Bapak yang mengangkut sofaku.
"Maaf Pak, ini siapa yang suruh bawa. Stop dulu semua. Ini rumah saya kalian mau apa." kataku dengan suara tinggi.
"Kamu siapa, ini sudah kesepakatan. Sanjaya, kompensasi untuk membayar utangnya pada kami."
"Stop tidak!!, ini rumahku bukan rumah sanjaya." pekikku membuat mereka diam.
"Kembalikan ketempat semula atau aku panggil polisi, kalian telah merampok dirumahku." bentakku kesal.
"Kalian berurusan dengan sanjaya, bukan denganku. Turunkan semua furnitureku."
"Telepon Sanjaya." teriak yang lain.
"Kalian panggil Sanjaya, aku akan memanggil polisi. Kalian rentenir, Bank gelap." kataku mengambil ponselku.
"Kita bicarakan baik-baik." katanya mendekatiku. Mungkin orang ini boss nya pikirku. Seorang laki-laki gendut dengan rambut di kuncir.
"Sanjaya berhutang padaku, 25 juta. Itu sudah hampir setahun yang lalu, sampai hari ini dia belum bayar."
"Minta sama dia, jangan merampok rumah saya. Dia baru menjadi suami saya 5 bulan yang lalu. Itu urusan dia."
"Tapi Nona istrinya, kalau dia ingkar saya akan masukin dia ke Penjara." ancamnya.
"Silahkan, saya juga mau memenjarakan dia karena dia menikah lagi tanpa sepengetahuan saya."
"Itu urusan Nona." tungkasnya.
Orang itu terlihat gusar. Mereka lalu menurunkan barang-barang yang sempat dinaikan ke truck. Aku jadi benci banget dengan Sanjaya. Dia terlalu semena-mena.
__ADS_1
Memang seharusnya aku punya scurity. pikirku. Aku menggembok pintu gerbangku dan menempelkan tulisan huruf kapital di sebuah karton "AWASS ANJING GALAK" kurasa kalau sudah berisi tulisan itu orang akan berpikir dua kali kalau mau masuk ke rumahku.
Seminggu telah berlalu, aku kembali ke rumahku. Sepi, itu kesan pertama yang kudapat. Aku berencana mempekerjakan tukang kebun dan PRT untuk sekedar mengurus keperluanku. Setiap minggu aku sudah memakai jasa cleaning service. Aku juga berencana menjual kelima mobilku karena mangkrak jarang di pakai. Lebih baik aku punya dua mobil saja.
Ada saja masalah yang di buat Sanjaya. Baru aku mau menutup pintu gerbang seorang Ibu buru-buru menghampiriku.
"Menantu....menantu....." teriaknya kencang. Aku mengerutkan keningku, berusaha mengingat sosok itu. Owalah...Ibunya Sanjaya.
"Ada apa tumben Bu....." sapaku dan menyuruh dia masuk.
"Sanjaya di tangkap polisi dan istri mudanya sedang melahirkan." katanya membuat aku terperangah.
"Kapan dia ditangkap?"
"Dua hari yang lalu. Yang menjadi pikiran adalah istrinya yang melahirkan, ibu sama sekali tidak mempunyai uang." katanya sedih.
"Sanjaya mempunyai istri lagi?" tanyaku supaya jelas.
"Karena kamu mandul dia menikahi Sri. Itu sudah persetujuan tetua adat. Jadi anak ini bisa menjadi anakmu juga." kata Ibu Sanjaya percaya diri.
"Saya akan membiayai semua persalinannya. Tapi saya juga akan mengajukan.perceraian kepada Sanjaya."
"Kenapa harus cerai, terus anak ini warisannya bagaimana?"
"Saya tidak ada urusan dengan cucu ibu apalagi menyangkut soal warisan. Tolong nanti ibu jelaskan kepada Sri, bahwa anaknya tidak berhak dengan warisan saya biarpun suami saya punya anaknya, karena saya akan menceraikan Sanjaya."
Angan-angan yang ketinggian. Begitulah mereka, dengan berharap mendapat warisan semua memperlakukan anaknya Sri sangat istimewa. Aku sendiri cuma berbaik hati membatu biaya kelahirannya setelah itu kabur.
Aku fokus mengajukan surat cerai kepada suamiku. Walaupun dia menolak tapi ada undang-undang yang memperbolehkan mengajukan cerai apabila suami berada dibalik jeruji besi. Dia minta kompensasi dengan harga 1 miliar. Aku meluluskan asal dia tidak muncul lagi dirumahku.
Akhirnya semua urusanku dengan Sanjaya sudah selesai. Aku bisa bernafas lega. Semua kakakku juga ikut lega, katanya kak Leon sudah pasrah. Aku disuruh sendiri mencari jodohku asal orang se Marga.
"Aku lepas tangan mencarikanmu jodoh, sekarang terserah kamu, cari jodoh sendiri yang sesuai kreteriamu."
"Ya...cari sendiri yang penting se marga, aku juga tidak tahu mana orang baik atau tidak. Kebanyakan mereka melihat harta." kak Selvy ikut nimbrung.
"Aku cari sendiri, aku akan rajin ikut kegiatan keluarga, jadi aku bisa memilih."
"Baguslah, jangan mengejar uang terus, sekali-kali santai atau berkumpul dengan keluarga besar." saran kak Selvy.
Yaya....aku akan lakukan." sahutku ragu. Jauh di dalam hati kecilku aku menolak gagasanku sendiri. Aku lebih senang hidup sendiri. Apa aku sudah kapok dengan sifat laki-laki atau rasa cinta di hatiku sudah mati, ntahlah.
****
__ADS_1