
Badan boleh gede tapi tidak punya rasa empaty kepada orang tua. Sudah seharusnya Ibunya tidur jam segini, masih saja disuruh mengikat sayur.
"Silahkan duduk Nona." kata Bu Poniyem halus.
Aku mengangguk tapi tidak mau duduk. Bukan karena aku jijik bau kotoran ayam, tapi aku takut kursinya langsung patah. Aku pegang kursi kayunya sudah reot begitu, sedangkan badanku lebih gede dari Ibu itu. Gimana kalau aku ambruk dengan kursinya tidak lucu bukhan?!.
"Disini bau kotoran ayam, silahkan Nona di dalam saja?" kata Mas Semeru memandangku.
Aku jadi tertegun, mereka hanya punya dua kamar bukan rumah lengkap yang ada ruang tamu dan segalanya. Apa dia tidak mikir, beraninya dia menyuruh aku masuk kamar.
Yang lebih aneh diksp Mas Semeru, mataku tajam melihat mata Mas Semeru begitu dingin seolah ingin membunuhku, senyumannya juga sinis. Aku jadi bergidik. Psikopat. bathinku.
"Trimakasih Mas, tidak apa-apa koq saya sekalian membantu Ibu menyortir sayur." sahutku cepat. Aku langsung afirmasi negatif dengan Mas Semeru.
"Tidak usah Ibu dibantu kami sudah biasa kerja keras. Apalagi yang diinginkan sehingga mengirim mata-mata kesini." gerutunya. Wajahnya terlihat kesal.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Mas Semeru, lebih baik aku pulang. Aku jadi ragu, apakah Mas Semeru ini pelantun Tilawah yang indah itu atau ada orang lain yang mungkin ngumpet di kamarnya. Suaranya tidak mirip dengan wajahnya yang judes.
Rasa simpatiku mendadak sirna. Wajahnya memang kelihatan ganteng seperti keturunan Arab, bodynya juga yahud...tapi matanya yang tajam itu menyiratkan kebencian yang mendalam. Jangan-jangan pemuda ini baru keluar dari balik jeruji besi. Ngeri banget.
"Maaf Bu dan Mas Semeru saya mohon pamit, mungkin waktunya kurang tepat saya bertamu kesini." kataku memandang mereka berdua. Bibirku terpaksa tersenyum walau sangat sulit.
"Mbak Qirrera kalau mau bertamu atau jalan-jalan di sekitar sini, tolong berpakaian yang lengkap. Jangan membuat pemerkosa semakin banyak." kata Mas Semeru membuat aku menghentikan langkahku. Degg!! darahku langsung meloncat ke otak.
Baru aku menyadari pakaianku sangat minim. Aku tidak berganti pakaian saat kak Maya menyeret aku ke Bandara. Dengan memakai celana pendek Jean dan tank top warna putih serta cardigan warna hitam aku tampil di hadapan Mas Semeru. Tentu dia risih dan aku sangat malu di tegur. Rasanya aku cewek sepuluh ribu dapat tiga...
"Maaf Bu, Mas aku tidak menyadarinya...." sahutku mau beranjak pergi.
"Sering-seringlah makan ikan HIU supaya anda tidak pelupa." katanya tersenyum miring.
"Trimakasih Mas..aku beruntung punya sekilo ikan Hiu, kalau Mas Semeru butuh aku akan memberi sedikit." sahutku tidak tahan ejekannya. Padahal aku bohong, mana berani aku makan ikan Hiu.
__ADS_1
"Hahaha...ternyata anda punya nyali."
"Empedu juga aku punya dan sangat pahit." sahutku asal dan tidak nyambung.
Aku merasa cepat sekali membara di saat ada orang menyenggolku. Mungkin aku harus terapi ke Psikiater. Menyesal aku kesini, rasanya aku ingin bertarung dengannya mumpung hatiku lagi panas. Mungkin kalau aku menendangnya tubuhnya mental tidak jauh, tapi aku yakin tulang rusuknya patah tiga.
"Maaf Bu aku pamit trimakasih." kataku menyeret kakiku yang memakai sendal jepit merk Havaianas.
"Trimakasih Non, jangan kapok datang kesini." kata Ibunya tersenyum.
Ya Bu, kapan-kapan saya kesini seperti ninja. bisikku dalam hati. Tentu mulutku sementara aku kunci takut Mas Semeru samber omonganku dengan sadis.
Tidak semua cowok tergiur dengan body sexy dan paha mulus, itu kusadari sekarang. Walaupun aku tidak sengaja berpenampilan begitu, aku merasa sangat terhina.
Latar belakang kehidupanku yang tinggal di luar negeri dan sebagai selebgram membuat aku berpakaian modis dan membawa merk tertentu. Ini pengalaman berharga, aku harus berhadaptasi.
Ya sudahlah, dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung.
Pulang dari rumah Semeru aku langsung ke kamar. Aku tidak mau menengok tetangga sebelah, aku kesal. Harusnya dia berkata sopan, mungkin aku lebih menerima.
Aku merebahkan badanku berharap lekas tidur nyenyak. Sudah jam sepuluh malam belum juga aku mengantuk, semua lagu Slow Rock sudah singgah ke ketelingaku, tapi rasa kantuk tetap menjauh.
Lebih baik tidur di sofa luar sambil melihat bintang. pikirku. Aku kemudian bangun dan menyeret kakiku menuju balkon. Sebelum aku duduk di sofa aku iseng melihat tetangga sebelah, tidak terlihat mereka di luar mungkin sudah tidur. pikirku.
Ketika aku mau beranjak ke sofa, pintu kamar tetangga sebelah kiri terbuka. Rupanya Semeru keluar dari kamarnya. Tangannya membawa camilan yang aku kasi tadi. Dia mengambil tampah dan membuka semua camilan itu. Aku heran apa yang dia akan lakukan.
Dia menaruh tampah itu di tanah di bawah lampu dan satu persatu dia panggil Ayamnya. Busyettt...aku hampir terpekik. Ini penghinaan. gerutuku marah. Biasanya Ayam buta kalau malam hari, tapi kenapa Ayam semeru sangat rakus menyantap oleh-olehku.
Aku cepat mengambil batu kerikil, lampu itu harus mati supaya Ayam tidak bisa makan oleh-olehku. Tidak akan lagi aku mau baik hati dengan tetangga, camilan itu aku beli memakai dollar, itu mahalll. Dasar manusia brengsekk!!.
Mataku sangat awas, disamping itu aku biasa latihan menembak di saat senggang. Jadi aku yakin satu kali lemparan batu kerikil lampu bohlam itu akan pecah. Aku mencari kerikil di pot bunga dan mulai menghitung,
__ADS_1
"Satu..dua...tiga...pyaarrr, lampunya pecah. Suasana gelap. Rasain loe!!. bathinku senang sambil mengintip. Perlahan aku berlari ke kamar dan mengunci pintu. Dadaku bergemuruh, aku takut dia tahu akulah yang menimpuk lampunya.
Aku membayangkan kemarahannya kalau dia tahu aku biang keladinya. Badannya tinggi sedikit jangkung dan tangannya kekar. Kalau itu memukulku pasti aku bonyok, tapi tidak semudah itu, aku punya jurus bela diri.
"Ting tong...ting tong....." aku di kagetkan oleh suara bell rumahku. Aku cepat mematikan lampu kamarku, dadaku dag- dig-dug-plass tidak karuan. Tumben aku begini, biasanya aku sangat prontal dan pemberani. Aku yakin pasti dia memencet bell pintu gerbangku. Berarti dia tahu aku yang berulah.
Setelah bell pintu tidak bersuara lagi aku baru merasa lega. Kasihan juga mereka lampunya pecah, tentu mereka tidak punya uang untuk membeli. Baru aku menyadari kesalahanku yang konyol.
Akhirnya aku bisa tidur setelah pukul 02.00 WIB. Berarti di Bali sudah jam 03.00 WITA.
Telat bangun, itu yang aku alami pagi ini. aku meloncat turun dari ranjang, tapi setelah aku menyadari diriku kini berada di Lampung, aku kembali duduk di pinggir ranjang.
Tidak ada yang harus aku lakukan pagi ini selain termenung. Perasaan malas tiba-tiba menderaku. Biasanya aku melakukan kebiasaan rutin yang monoton setiap pagi. Mandi, sembahyang, sarapan dan kerja.
"Tok...tok...tok...." suara ketukan pintu membuat aku beringsut. Dengan malas aku membukakan pintu. Wajah Maimunah tersenyum kaku di depanku.
"Nona kapan datang, kenapa Nona tidak menghubungi saya?" kata Maimunah merasa bersalah.
"Aku pulang tadi malam, aku yakin kamu akan datang pagi ini. Mana Bibik?"
"Di bawah, ada tamu. Saya akan membuat sarapan untuk Nona, silahkan Nona mandi dulu lalu turun ke bawah." katanya sopan.
"Tadi malam aku tidak bisa tidur, sehingga aku telat bangun. Aku mau mandi dulu, nanti anterin aku ke Mall ya."
"Beres Nona, sudah lama saya tidak menginjak Mall." sahutnya tersenyum.
Kemudian aku mandi dengan air shower dengan pikiran kemana-mana. Tidak semudah itu membuang rasa sedih seperti membalikan telapak tangan. Aku berusaha menelan penderitaan ini walaupun rasa sedih itu sering mengoyak hatiku.
Aku mengelus perutku yang rata berharap aku tidak hamil. Seandainya aku hamil, aku akan lebih jauh bersembunyi karena disini alamatnya sudah di ketahui oleh Dheo.
Mungkin aku akan ke Way Kanan, menetap di sana dan mencari jodoh baru. Siapa tahu jodohku ada disana.
__ADS_1
****