QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
DILECEHKAN


__ADS_3

Setiap hari aku bertemu dengan Om Sugama dan Tante Wilda. Aku tidak punya rencana sampai kapan tinggal di sini. Sedangkan Om dan Tante Wilda seminggu lagi pulang, mereka sudah hampir sebulan disini. Disamping berlibur mereka perjalanan bisnis.


Aku sendiri disini karena membuang jenuh dan juga perjalanan bisnis. Acapkali aku berpikir untuk menetap disini, tapi aku rindu Mama. Sangat rindu. Aku tidak munafik kalau aku juga rindu sekali dengan Andre, walaupun dia tidak menghubungiku lagi. Aku tidak mau afirmasi negatif terhadap Andre, karena aku tahu dia juga sangat mencintaiku dari caranya dia memperlakukan aku.


Turun dari MRT aku mengayunkan kakiku menuju Clarke Quay. Disini banyak hiburan. Aku ingin duduk bersantai di tepi Sungai, pilihanku jatuh ke sebuah meja bernomer 29. Disini ada kursi cuma dua, aku berharap tidak ada yang duduk semeja denganku.


Matahari sudah condong ke Barat, sebentar lagi akan terlihat pemandangan indah dari sinar lampu yang berada di pinggir Sungai. Udara sedikit moist, aku menaikkan krah mantel dan melilit leherku dengan slayer.


"Apakah anda mau minum yang beralusinasi atau yang sehat. Kami siap melayani anda sesuai keinginan anda." seorang waitres menghampiriku dengan bahasa Inggris fasih.


"Aku pesan Juss, Roti Prata, Popiah dan Kaya Cake serta air mineral satu botol." sahutku.


"Siap Nona, pesanan anda akan segera datang." kata Waitres itu sopan.


Benar saja belum ada beberapa menit pesananku sudah datang. Aku mulai berpesta sendiri. Pertama aku minum juss sampai tuntas. Setelah itu aku mencoba Kaya Cake, rasanya seperti Roti dengan selai Srikaya. Aku langsung tidak mood untuk mencicipi yang lain.


"Hello beautiful you yourself." seorang pemuda Bangle mendekatiku.


"Hey I want to be alone. sorry don't be offended." sahutku cepat. Aku mencium bau alkohol dari mulut pemuda itu. Tapi dia tetap duduk satu meja denganku.


"Aku tidak akan mengganggumu, tenang saja. Aku cuma numpang duduk." katanya pongah dengan bahasa Inggris.


"Tapi sebaiknya kamu mencari tempat duduk lain, aku merasa terganggu kalau kamu disini."


"Jangan jual mahal, cewek dipinggir Sungai sendirian pasti mencari fulus. Aku sangat mengerti itu."


"Kamu salah sangka aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku seorang turis yang ingin menikmati suasana Clarke Quay."


"Kebetulan sekali, aku ingin mengajak kamu menikmati Singapore. Kamu akan ketagihan bersamaku, kita making love." katanya menatapku dengan sorot mata ngeplay. Aku merasa akan ada bahaya kalau semeja dengan orang begini.


Aku rasa wajahku sudah memerah saking gusarnya. Manusia ini makin menjadi. Aku masih menahan diri untuk meluncurkan bogem mentah, ini Negara orang. Takutnya dia mafia dan punya komunitas. Tapi kalau dibiarkan makin menjadi.


"Bagaimana cantik, kamu setuju kalau malam ini kita bergumul di bawah selimut." katanya mulai membuka kancing kemejanya.


"Sorry aku bukan orang yang kau cari." sahutku berdiri. Aku melangkah mau pergi, tapi dia memelukku dari belakang.


"You crazy!!" bentakku melepaskan diri dari pelukannya. Dia marah, mengejarku dan kembali memelukku. Pengunjung lain melihat sesat dan tidak peduli. Mereka mungkin mengira aku pacar pemuda itu yang sedang berantem.

__ADS_1


"My darling love you." teriak pemuda itu mengejar aku.


"Pergi kamu .... pergi." teriakku kencang.


Dia terus mengejarku, aku terus berlari mataku seketika menangkap gerombolan pemuda sejenis diujung sana. Pikiranku cepat bekerja. Pemuda ini seolah menggiring aku ketempat temannya yang sengaja menunggu ditempat sepi.


"Darling...miss you." teriaknya lagi.


Otakku cepat bekerja. Aku berhenti dan menunggu kedatangannya. Setelah dia dekat aku melejit ke atas dan menendang tubuhnya. Dia terguling tidak.menyangka. Lagi sekali kaki kiriku menendangnya. Kemudian aku berbalik dan berlari kencang.


Saking kencangnya aku lari sampai aku tidak sadar menabrak orang.


"Sorry...." kataku terengah-engah.


"Qirre..ada apa?" kata Om Sugama kaget. Ternyata aku menabrak Om Sugama.


"Tante, aku mau di lecehkan oleh orang-orang di belakang sana." kataku memeluk Tante Wilda.


"Ayuk kita cepat pergi." sahut Om Sugama langsung memesan Taxi.


"Om orang-orang ini temannya." bisikku ketika ujung mataku melihat pemuda serupa pura-pura mencari sesuatu. Ada juga yang sekedar meminjam korek api.


Akhirnya Taxi datang dan kami cepat naik ke mobil. Mereka mengejar Taxi dan mencatat flat mobilnya.


"Kemana tujuan anda?" tanya mereka memakai bahasa singlis (bahasa sehari-hari penduduk Singapore).


"Polisi." sahutku cepat. Kami tidak mengerti bahasanya, dia pasti juga tidak mengerti bahasaku. Tapi kalau menjawab polisi dia pasti mengerti.


Mobil berlari sedikit kencang, aku merasa sopir ini tahu apa yang terjadi. Kami diam seribu bahasa dengan pikiran masing-masing. Sungguh di luar dugaan ketika mobil berada di depan Club Street sebuah motor Trail menghadang Taxi.


Mobil ngerem mendadak, dua orang pemuda gondrong mendekatiku. Sopir Taxi terlihat ketakutan.


"Bagaimana ini paa..." kata Tante Wilda dengan suara bergetar.


"Tenang Tante, aku akan menghajarnya." sahutku.


"Jangan gegabah Qi, Om akan menelpon Polisi."

__ADS_1


Tapi pemuda itu sudah di pintu mobil. Aku membuka pintu mobil dengan keras sehingga mereka terhuyung. Aku langsung keluar dari mobil dan melayangkan tinjuku. Mereka mengeroyokku, Om Sugama juga keluar berjaga-jaga.


Pemuda-pemuda itu memakai bahasa yang aku tidak mengerti, dia mungkin mencaci maki. Aku tidak peduli. Pukulan dan tendanganku tetap melayang ke tubuh mereka. Aku salut mereka sangat kuat. Perlawanannya tidak main-main, dia mengeluarkan pisau belati.


"Om buka sabuk celananya." perintahku cepat. Om Sugama menurutiku dan memberi aku sabuknya.


"Mampuslah kau bajingan." teriakku ketika sabuk itu melesat kepunggung mereka bergantian. Triakan mereka bersahutan. Aku semakin membabi buta melawannya karena aku mengejar waktu. Akhirnya kedua orang itu ambruk.


"Masuk ke mobil Om." seruku cepat.


"Aku yang menyetir." kataku kepada sopir Taxi. Dia pindah duduk ke sebelah.


Mobil Taxi itu berlari kencang, mataku sempat melirik kaca spion. Kulihat Tante dan Om Sugama berpelukan. Tante Wilda menangis. Aku merasa kasihan. Setelah banyak menerobos lampu merah aku sampai di Kantor Polisi.


"Aku minta maaf atas kejadian ini, aku tahu banyak pelanggaran di jalan tadi. Ini sekedar untuk membayar denda." kataku memberi 100 SGD kepada sopir Taxi. Dia tersenyum menerima uangku.


Om Sugama melapor kepada Polisi, aku sendiri sibuk menenangkan Tante Wilda.


"Qi, besok kita pulang. Tante tidak mau meninggalkan kamu disini. Lebih baik kita di Negara sendiri." katanya lirih. Buyar sudah rencanaku menetap di sini.


"Ya Tante, maafkan aku telah menyusahkan Tante dan Om. Aku sayang Tante." sahutku ikut menangis. Kami berpelukan sambil menangis seperti Ibu dan anak.


"Mari kita pulang ke Indonesia, Polisi akan mengantar kita mengambil barang ke Hotel. Setelah itu kita langsung ke Bandara. Masih ada penerbangan terakhir." kata Om Sugama memeluk kami berdua. Aku merasa seperti punya orang tua baru.


"Hapus air mata kalian, kita sudah mendapat perlindungan. Tapi tetap waspada."


"Ya Om, aku minta maaf membuat Om ikut terlibat. Aku jadi tidak enak hati."


"Yaelah..jangan berkata begitu, kamu mulai sekarang adalah anak Om dan Tante. Kita akan selalu sharing dan refreshing bersama. Apapun yang terjadi kamu bercerita sama kami." sambung Om Sugama lagi.


"Ok. Om." jawabku.


Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi atau hari esok, semua impian atau rekayasa yang telah tersusun di otak sirna dalam sekejap. Aku termenung dalam kesunyian malam. Aku memandang semua galaxy di tata Surya. Hatiku ngilu menahan kesedihan. Aku melihat Om Sugama sudah menutup dirinya dengan selimut, begitu juga Tante Wilda.


Saat ini kami berada di Business Class menuju Bali. Penerbangan ini memakan waktu sekitar enam jam. Cukup untuk tidur dan berminpi indah. Tapi aku belum mengantuk, ada perasaan gelisah di benakku. Aku tiba-tiba ingat Mama. Terbayang wajah Mama yang pucat dan kurus. Ya Tuhan..lindungilah Mamaku, doaku dalam hati.


Selesai berdoa aku merubah tempat duduk menjadi tempat tidur. Aku mengambil selimut dan mulai merebahkan diri, berusaha memejamkan mata. Besok pagi aku sudah sampai Bali. Bisakah aku berjalan tegak ketika orang-orang mulai tahu dan mencemohku sebagai janda genit merebut jodoh orang?.

__ADS_1


*****


__ADS_2