
Setelah perjajian konyol itu aku berusaha menahan diri untuk menyapanya, aku tiba-tiba merasa asing dengannya. Sejujurnya aku katakan, bahwa rasa cinta itu belum sepenuhnya menyentuh raga.
Apa yang menyebabkan aku selalu prontal dengannya. Emosiku tinggi bila bertemu dengannya. Jangan salahkan aku kalau niat orang tuanya untuk bersatu dengannya kandas. Terlaku sakit hatiku dengan penghinaannya.
"Dimana kunci kamarku, aku butuh privasi. Aku tidak senang mendengar kamu mengadukanku dengan Bunda. Kesannya aku sulit diatur. Biarkan aku dengan diriku, jangan terlalu banyak ikut campur." kataku seringaiku. Aku tidak peduli dengan dirinya .
"Aku tahu kamu bahagia dengan perjanjian itu, jangan khawatir aku tidak akan mencampuri urusanmu." kata Semeru sambil melempar kunci kamar.
"Trimakasih." sahutku menangkap kunci itu.
Aku sekarang bisa tidur nyenyak tanpa harus takut kepadanya. Malam semakin larut aku menutup ponselku dan mulai tidur. Aku berharap malam ini bisa aku lewati tanpa mimpi buruk yang kerap mengganggu tidurku.
Akhirnya aku tertidur juga dan aku bermimpi, Seolah-olah Semeru datang dan menyeretku. Aku berteriak....
"Qi kenapa?" semeru mengetuk pintuku. aku terbangun dengan keringat dingin.
"Tidak apa, aku cuma mimpi buruk, tidurlah." sahutku.
"Apa aku boleh masuk?"
"Tidak, aku mau tidur lagi." sahutku membalikkan bantal. Kata Bibik kalau mimpi buruk bantal harus di balik.
Aku meraih ponselku dan membuka salah satu nomor yang aku blokir. Aku ingin malam ini ada yang bisa aku ajak ngobrol untuk meredakan takutku.
"Tess......" tulisku. Sudah pukul 00.35 WIB, pasti orang sudah pada tidur. pikirku.
"Kenapa? kamu buat aku kecewa." tulisnya.
Aku tidak membalasnya, siapa ini? setelah ragu, aku putuskan untuk memakai mode pesawat. Maaf, bukan maksud hati tidak menjawab, tapi aku tidak mau membuat masalah baru. Aku sudah kapok!!. Akhirnya aku putuskan untuk tidur lagi.
Ketukan dipintu membangunkan aku, rupanya sudah subuh.
"Qi bangun sholat."
"Tunggu aku mandi dulu." sahutku lalu turun dari ranjang.
Selesai sholat aku buru-buru masuk ke kamar. Hatiku pedih mendengar suara Semeru yang mengadu kepada Allah, betapa dia merasa hancur saat ini. Aku tidak mengerti maksudnya, harusnya aku yang merintih pedih, kenapa dia yang merana.
Aku mengambil koperku dan mulai memasukkan barang-barang yang penting saja, bagiku tidak perlu membawa banyak pakaian karena bisa di beli di perjalanan. Selamat tinggal kamarku, ntah kapan aku kembali. bisikku dalam hati.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu." suara Semeru mengejutkanku.
"Tidak perlu, aku memakai bisnis class mereka telah menjemputku."
"Batalkan!! kita akan naik private Jet."
"Maaf, aku tidak mau merepotkanmu. Trimakasih atas kebaikanmu selama ini." kataku menahan sedih. Aku tidak boleh kelihatan cengeng.
"Aku merasa kamu tidak akan balik lagi." suaranya terdengar parau. Aku berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Aku pasti akan kembali setelah satu tahun, saat itu aku akan menanda tangani surat perpisahan kita. Aku harapkan semoga kepergianku ini membuat kamu lebih bahagia dan nendapat istri yang soleha." kataku lalu menggeret koperku keluar.
Semeru mengikutiku dari belakang dengan mulut terkunci, ntah apa yang dí pikirkannya. Aku berusaha tegar dan tidak peduli.
Aku melangkah ke rumah induk, Bunda dan Pak Haji telah menungguku. Mereka tanpak sedih terlihat dari raut wajahnya.
"Bunda, Pak Haji, aku pamit, maafkan aku jika banyak salah dan mengecewakan Bunda dan Bapak." kataku sedih. Bagaimanapun juga mereka sangat baik padaku dan menyayangiku.
"Selamat jalan anakku, setelah urusannya selesai kita butuh uluran tangan dinginmu. Salam buat saudaramu semuanya, kita juga punya rencana akan silahturahmi ke Bali." kata Bunda menepuk punggungku.
"Aku naik first class, jadi tidak usah mengantarku. Mereka pasti sudah menjemputku di depan."
"Supaya bebas Bunda." celetuk Semeru yang dari tadi diam.
"Maaf, aku tidak mau ngerepotin. Lain kali jika aku pergi bersama Bunda aku akan naik private jet." sahutku memberi senyuman manis kepada mereka.
Empat orang pelayan datang mengambil alih koperku dan tiga bungkusan besar oleh-oleh untuk keluargaku. Bunda memelukku sekali lagi dengan mata berair.
"Aku pamit Mas." kataku menatapnya. Serta merta dia memelukku erat. Aku membiarkan tangan kekar itu membelai rambutku sesat demi menyenangkan hati mertuaku.
"Jaga dirimu sayank....." bisiknya sendu.
"Ya Mas....aku akan selalu merindukan tamparanmu." bisikku di telinganya. Pucat!! itu gambaran di wajah Semeru, aku tersenyum menyeringai.
Setelah berbasa basi didepan mertua. Langkahku mantap menuju mobil Maskapai yang menjemputku. Aku menarik nafas, ada rasa lega diijinkan pulang.
Membawa oleh-oleh sejibun membuat aku seperti orang kampung datang ke kota. Orang kaya seperti Bunda mana pernah berpikir kalau belanja. Pegangannya Black Card, kartu kredit yang sangat eksklusif dan hanya diterbitkan untuk kalangan elit atau kaum tajir. Itupun harus menaruh deposit tiga miliar.
Bandara Ngurah Rai Bali. Kembali menapakan kakiku di tanah Bali, membuat aku kembali energik. Ada perasaan nyaman yang menyelimuti hati. Dua orang porter mengangkat barangku dari Baggage Conveyor membawa keluar.
__ADS_1
Sebelum sampai di parkiran sopir dari Hotel telah menjemputku.
"Selamat pagi Owner silahkan naik ke mobil." sapa Pak Wayan hormat, memakai bahasa Inggris. Perlu di ketahui di Hotelku jarang memakai bahasa Indonesia, karena para the head semuanya Bule.
"Trimakasih Pak Wayan." sahutku pendek.
"Saya mengucapkan selamat berbahagia semoga pernikahan anda langgeng." ucap Pak Wayan ketika aku naik ke Mobil.
"Trimakasih lagi Pak. Bagaimana khabar keluarga Bapak, semoga semuanya sehat, selalu dalam lindunganNYA."
"Berkat Owner anak-anak saya sudah bersekolah lagi. Trimakasih Owner."
Perjalanan ini terasa sangat cepat, kami sudah sampai di depan gardu scurity. Pak Wayan menyuruh aku turun.
"Owner semua staf merayakan kedatangan anda, silahkan anda turun menemui mereka."
Aku melihat dari kaca jendela mobil ratusan staf berjejer membawa buket bunga berbentuk dua hati.
"Wishing you a lifetime of happiness together and a love that grows stronger with each passing day."
Seru mereka membuat aku terharu. Sorotan Camera menghujani wajahku, aku merasa semua ini ulah General Managerku. Aku terpaksa terus berjalan dengan memasang senyum termanis, aku tahu ini live, jadi banyak komentar berdatangan.
"Mana Pangerannya Owner?" rata-rata pertanyaannya begitu.
"Nanti dia menyusul, dia masih sibuk." kataku mencoba tetap tersenyum. Jarak antara jalan utama sampai ke Lobby Hotel sangat jauh, cukup membuat kakiku pegal.
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoirin."
Ucapan selamat ini keluar dari bibir kak Maya, aku sangat kaget dan merasa Surprise. Tanpa ampun lagi aku memeluk Kak Maya.
"Kakak...aku kangen."
Kami larut dalam rindu. Setelah itu aku menguasai diri dan menerima salam dari the head, kemudian para staf.
"Aku ucapkan banyak trimakasih kepada kalian semua. Doa kalian membuat aku lebih bersemangat. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNYA. Dijauhi dari cobaan dan godaan."
Aaminn!!.
*****
__ADS_1