
Kalau aku sebagai Bu Mayang pasti sangat malu menampakkan diri di keluarga Semeru. Disamping berstatus sebagai pelakor, adik Bu Mayang yaitu Mas Sandy adalah pembunuh Pak Haji. Walaupun kini Mas Sandy berada di penjara, tetap saja nama Bu Mayang sudah di black list oleh Masyarakat umum.
Aku menjadi tidak simpaty kepada Bu Mayang, dia tidak tahu malu meminta jatah satu miliar kepada Bunda. Belum rumah yang dulu kepunyaan Semeru. Uuhhh...
"Kamu tidak tahu malu dan sangat meresahkan keluarga kami, enyahlah kamu dari sini." kata Bunda dengan suara tinggi sambil melemparkan Cek satu miliar.
Bu Mayang memungut cek itu dan pergi, Semeru dan aku lalu pamit kembali ke rumah kedua.
"Aku akan lebih sering berada di Perkebunan." kata Semeru setelah kami sampai di rumah. Aku tidak memberi respon, langsung masuk ke ruang kerja.
"Duduklah, Kalau kamu mau kita bisa bekerja dari sini. Sesekali boleh datang kesana untuk mengecek hasilnya secara real. Perlu sidak atau meeting untuk mendengar keluhan buruh dan para konsumen." kataku mengguruinya.
"Aku memikirkan Perusahan Ayah, kenapa dia memberi wasiat 50% ke kamu, tanpa ada protes dari Bunda."
"Waow...tanpaknya kamu tidak setuju dengan isi wasiat ini, tenanglah, aku tidak serakah masalah harta. Aku akan mengelolanya sebaik mungkin setelah stabil aku akan mewariskan kepada anakku." kataku tersenyum.
"Maksudmu apa, apakah kamu akan menghapus perjanjian digital kita dan menjalin hubungan normal sebagai suami istri yang sebenarnya?"
"Tergantung!. Kalau suamiku tidak aneh-aneh aku setuju, tapi kalau suamiku mencoba mengelabuiku, aku mewariskan ke anakku dari peria lain."
"Beraninya kamu bicara begitu, apa tidak takut dengan jejak drakula yang aku ciptakan di sekujur tubuhmu?." kata Semeru mendekatiku.
"Semeru ....please dech..aku mau melihat Saham dulu."
"Kapan kamu memanggil aku Mas Semeru?"
"Sorry...sebenarnya aku tidak bisa memanggil, Mas, abang atau yang lain. Dirumah aku memanggil saudaraku namanya saja."
"Alasan saja, kenapa Sandy bisa kamu panggil Mas?"
"Karena namanya Masandy hahaha..." sahutku tertawa.
Merasa dibodohi Semeru langsung bangun dan memelukku. Aku berusaha menghindar tapi Semeru dengan cepat menangkapku.
"Mau lari kemana sayank.... Sudah tidak ada ruang untuk istri durhaka."
__ADS_1
"Lari kepelukanmu Mas." sahutku manis.
Semeru adalah suamiku, tidak pantas aku terus menolak. Walaupun telat, ada rasa cinta menyentuh dada. Aku biarkan asmara ini mengoyak ragaku ketika Semeru tanpa sungkan menjelajahi setiap jengkal tubuhku.
Aku tidak bisa membedakan warna langit saat ini, perasaanku melayang tanpa batas mengukir hasratku yang tertunda. Yang ku ingat adalah jeritan kecil dari bibirku....
Kemenangan sekarang berpihak kepada Semeru, senyumannya mengembang di antara peluh yang membasahi badan.
"Trimakasih sayank, setelah sekian lama aku meragukan idealismemu, ternyata kamu benar. Jangan melihat orang dari casingnya, saja. Aku tidak menyangka kamu masih Virgin dan aku sangat surprise."
"Aku hanya minta satu padamu, sayangilah aku dan jangan menduakanku. Apapun aku sudah punya, harta tidak masalah bagiku, aku butuh tempat sharing dikala aku lelah menghadapi hidup ini."
"Aku menyiapkan bahuku untuk kamu sandarkan, tidak mungkin aku berpaling, kamu adalah segalanya dalam hidupku." ucap Semeru dengan suara bergetar.
"Sayank....aku tidaklah seperti gadis lain yang lemah lembut dan manis. Aku tidak bisa merayumu disaat kamu ngambek. Aku akan menendangmu saat kamu bersama wanita lain. Aku dingin dan sedikit sadis."
"No Problem....aku senang wanita yang mandiri dan bisa menjaga diri. Kita sama-sama sibuk, jangan karena komunikasi kita bubar."
"Its Ok. My love is only for you." sahutku menutup perbincangan manis yang membuat hatiku berbunga.
Sore menjelang malam, Semeru mengambil ponselnya membuat Vidio mini tentang tetesan darah yang ada di seprai.
"Untuk apa sayank?" tanyaku tidak mengerti.
"Untuk bukti kalau fansmu ada yang bertingkah seperti Dheo. Akulah laki-laki pertama untukmu yang lain hanya bisa mimpi."
Aku tersenyum, dunia ini seperti milikku berdua. Kami mengikat janji dengan kata-kata absurd yang membuat kami tertawa.
*****
Ketika dirimu menemui seseorang yang mampu menghapus kesedihan dan air matamu, maka teruslah untuk tetap bersamanya.
Senyuman tersungging diwajahku ketika kakiku menapak di tanah Pulau Dewata. Aku mengawali dengan silahturahmi ke rumah kak Leon, kemudian aku bertemu kak Maya dan kak Selvy di Hotel keluarga, setelah itu aku ke Hotelku. Semua kegiatanku harus aku Videoin secara live. Itu suruhan suamiku yang overprotektif, ribet bangetkhan?!.
"Welcome Owner I'm waiting for you. (Selamat datang Owner aku menunggumu)
__ADS_1
Mr. Giovano menyambutku di Lobby Hotel, kami langsung berpelukan, kebiasaan kami adalah berpelukan kalau bertemu. Semua Managerku Bule dan kebetulan laki-laki semua, jadi aku begitulah.... malas aku jelasin disini, Semeru sudah teriak di ponselku, memakiku. hiks..
Pakaianku juga berubah saat ke Kantor, aku memakai pakaian kerja dengan rambut tanpa penutup. Tidak ada maksud apapun karena itu uniform kami di Hotel.
"Dasar murahan, jaga sikapmu. Saat ini kamu sudah bersuami, aku tidak tahu kenapa kamu tidak punya harkat. Tutup kepalamu dan rokmu jangan diatas lutut. Aku tidak menyangka semua Managermu memelukmu." begitulah bentakan dari suamiku yang tercinta.
"Baiklah sayank, aku minta maaf.... ." kataku menuju private room yang berada disamping bathroom.
Aku mengganti rok dengan celana panjang, biasanya celana panjang di pakai hari jumat, sudah ada aturannya dari senin sampai jumat. Demi suami aku menabrak aturan. Aku terpaksa memakai slayerku untuk krudung. Aku rasa sudah rapi.
"Aku tidak mengira ada kamar bercinta di ruangan kerjamu, siapa saja pernah masuk kesana." kata Semeru lagi penuh curiga.
"Sayank..apa kamu tidak kerja, tidak capek melototi aku terus." kataku mulai gerah dengan omelannya.
"Jawab pertanyaanku tadi." bentaknya dengan seringainya.
"Tidak ada sayank...hanya cleaning service yang bisa masuk." sahutku berusaha sabar.
"Aku tidak percaya!!" sahutnya ketus.
"Sayank...aku akan matiin Video Call ini karena aku mau kerja. Aku perlu bicara ke Luar Negeri dan ke setiap the head."
"Tidak, itu alasanmu saja."
"Okay sayank...kamu boleh melihatku terus asal diam." kataku lalu membuka ketiga laptopku. Aku mulai menjawab via email satu persatu agen travel yang ingin menanyakan tingkatan hunian Hotel atau perbandingan antara banyaknya malam kamar yang terpakai dengan banyaknya malam kamar yang tersedia.
Seminggu berada di Bali dengan kerjaan yang sangat padat dan melelahkan. Kini aku bisa meringkuk dibalik selimut di Business Class berusaha merajut mimpi. Tanda Do Not Disturb aku gantung asal. Tidak akan ada Pramugari yang berani membangunkanku.
"Miss the plane will land in 10 minutes, please use the bathroom to clean up and change clothes." (Nona pesawat akan mendarat 10 menit lagi, silahkan Anda menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian." kata Pramugari memperingatiku.
"Okay..thank you." jawabku ke kamar mandi pesawat.
Aku butuh 3 jam 30 menit sampai di pelukan suamiku. Rasa rindu telah memenjarakanku.
*****
__ADS_1