QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
APAKAH AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Suasana inilah aku paling benci, dimana aku harus menjawab ya atau tidak. Andre Pagi ini "menembak" ku. Di antara deburan birunya ombak laut dan indahnya Matahari yang baru menyembul dari perut Bumi. Dia memandang wajahku yang polos, tanpa polesan apapun.


"Apakah kamu mencintaiku, jawab ya atau tidak. Kalau ya aku sangat bahagia, kalau tidak aku akan cemplungi kamu ke Laut." kata Andre tertawa.


"Aku pilih atau." jawabku asal.


"Aku sudah tahu jawabanmu, aku belum katakan kalau kamu memilih atau berarti kamu harus menjadi istriku....."


"Curang!! aku tidak memilih ketiganya. Aku merdeka....." jawabku tertawa.


"Ok. jangan salahkan aku kalau besok membawa pacar baru kerumah."


"Siapa yang peduli." sahutku menatap dia tajam. Aku jadi kesal padanya.


Andre lain-lain, dia malah berjalan dan main Kano sendiri. Aku jadi serba salah. Jauh dilubuk hatiku aku senang padanya, tapi dia hanya seorang scurity di rumahku. Aku majikannya....apa kata Dunia kalau aku pacaran dengannya. Apalagi mau menikah. Dia tidak ada Trah Wansa juga.


"Andre aku mau pulang....." aku berteriak. Dia menoleh dan merapatkan Kanonya.


Dia mandi air tawar di tempat yang sudah disediakan, aku menunggunya dengan galau. Gimana kalau dia membawa pacar baru? pikirku. Selama ini aku merasa nyaman dengan Andre, dia selalu melindungiku dan banyak menolongku. Perlahan tapi pasti aku juga merasa ada rasa padanya, mungkin Andre tahu aku sering memperhatikannya, makanya dia berani berkata seperti itu. Tapi demi harga diriku aku tidak akan goyah, biarpun dia membawa pacarnya kerumahku.


Hari Sabtu dan Minggu biasanya aku off, kesempatan ini aku pakai nge gym atau berenang dan kadang aku jogging. Tapi hari ini mataku sudah memerah gara-gara aku melihat Andre di pinggir kolam duduk berdua bersama seorang gadis.


Rasa kesalku sudah sampai ubun-ubun, ketika dia membawakan gadis itu minum dan pisang goreng. Aku terus mengintip dari balkon. Baru jam sepuluh pagi sudah pacaran. gerutuku. Ingin sekali aku menguping apa yang mereka bicarakan, tapi sama sekali aku tidak mendengar suara mereka. Rupanya mereka bicara sengaja pelan, lebay gitu dech.


Akhirnya aku turun setelah menenangkan diri, sengaja aku ke kolam nyamperin mereka.


"Pagi-pagi sudah ada tamu, darimana mbak?" tanyaku kepada cewek itu. Dia menoleh dan menatapku gugup.


"Dari jogging sama Andre." sahutnya membuat aku dag dig dug plas.


"Kita tadi jogging di sekitar sini. Enak hawanya sejuk." Andre ikut menimpali.


"Mampir-mampir kesini mbak, daripada Andre kesepian. Dia jarang mau keluar kalau tidak dipaksa." kataku santai dimulut, di hatiku ingin meninju.


"Pasti itu, Nona baik sekali, tidak jogging keluar, biasanya saya lihat Nona suka keliling Taman."


"Saya mau pergi sebentar lagi." sahutku sekenanya. Andre langsung menatapku. Aku pura-pura melihat ikan di kolam.


"Mau kemana Nona."


"Keliling saja, sudah terlanjur janji sama teman." sahutku.

__ADS_1


"Mau hujan sepertinya, dari tadi cuacanya tidak bagus." kata Andre menoleh padaku, aku lain-lain seolah aku tidak mengerti isyaratnya.


"Nanti makan siang disini mbak, temani Andre, saya sudah menyuruh Bik Surti masak lebih." kataku lagi membuat Andre berdiri dari duduknya.


"Trimakasih Nona, kebetulan sekali." sahut cewek itu tanpa malu.


"Ngomong-ngomong namanya siapa, dari tadi saya ngoceh." tanyaku berusaha tersenyum semanis mungkin.


"Tania Nona." jawabnya malu-malu.


"Nama yang manis, secantik orangnya, bukan begitu Andre. Kalau mau pergi berdua boleh koq pinjam mobil saya."


"Itu mobil Nona? saya lihat Andre sering membawa." tanya mbak Tania ragu.


"Aku disini cuma scurity, kalau membawa mobil ke bengkel itu tugasku." sahut Andre kesal menatapku. Aku memang sengaja berkata begitu, supaya cewek itu tahu siapa Andre.


Andre pasti tahu omonganku selanjutnya akan menyentuh statusnya, zaman sekarang cewek tahunya cowok tajir.


"Saya kira Andre kakaknya Nona." sahut Tania dengan wajah masam.


"Maaf mbak saya mau pergi dulu." kataku pergi menuju garasi tanpa mengindahkan perkataan Tania. Andre cepat mendekat menghalangiku.


"Mau kemana Nona, apa saya harus ikut atau saya bersih-bersih rumah." kata Andre sengaja merendahkan dirinya.


Sepanjang jalan aku cuma mendengarkan musik, pikiranku melayang kemana-mana. Sungguh aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap dengan Andre. Seorang scurity yang aku tidak tahu asal usulnya. Seandainya dia seorang ninggrat dan masih se marga tentu aku yang akan melamarnya. Sayang sekali. desisku sedih.


Pagi ini aku memacu mobilku ke Pantai Sanur, ingin membandingkan keramaiannya dengan Pantai Kuta. Disamping itu aku jarang ke Sanur. Cuaca memang tidak bersahabat. Angin kencang dan dingin.


Aku berjalan sepanjang pantai. Air laut pasang dan gelombangnya sangat besar. Disini juga banyak bule yang main Banana boat atau main Kano. Seru dech. Aku merasa terhibur. Tiba-tiba turun hujan deras. Aku kebingungan karena tidak ada tempat berteduh, aku menyelamatkan ponselku.


Kemudian aku berlari menuju mobil, dingin banget menusuk tulang. Aku basah kuyup. Tidak mungkin aku pulang dengan pakaian begini nanti Andre bisa mentertawakanku. Tanganku gemetar saking dinginnya.


Aku mulai pening dan bersin-bersin, akhirnya aku memacu mobilku pulang. Otakku sudah sulit berpikir jernih, kepalaku sangat sakit. Memang akhir-akhir ini aku sering pulang malam, karena pekerjaan selalu menumpuk.


Sampai di rumah ketika aku turun dari mobil Andre membiarkanku kehujanan dari garasi. Biasanya dia memayungiku, sekarang dia cuma memandangku tidak bergeming. Aku juga tidak menyapanya cuma Bibik Inah yang menghampiriku.


"Aduh Non, basah kuyup begini. Bibik ambil handuk dulu ya." kata Bibik melihatku panik.


"Tidak Bik aku langsung naik." sahutku sudah tidak fokus. Tanpa menghiraukan Andre aku naik ke tangga. Sampai di kamar aku langsung mandi di shower pakai air hangat. Namun rasa pusingku tidak hilang juga, aku terus bersin-bersin.


"Non...makan dulu." suara Bibik terdengar di luar.

__ADS_1


"Tidak Bik aku mau langsung tidur."


"Non wajahnya merah sekali, jangan-jangan Non sakit." kata Bibik memegang tanganku. Terus dia menempelkan telapak tangannya di dahi. Aku rebahan tidak peduli. Badanku terasa dingin sekali.


Kemudian Andre datang bersama Bibik. Aku langsung diberi minum obat dan di kompres. Aku sudah tidak tahu apa lagi.


Sekitar pukul. 12.00 wita aku terbangun, kulihat Andre duduk disisi pembaringan dengan wajah sedih.


"Aku haus." kataku serak.


"Kamu sudah bangun?" dengan sigap Andre mengambil teh hangat dan membantu Aku duduk.


"Makan sedikit ya, supaya tidak sakit. Tadi dokternya mengatakan kamu belum makan." kata Andre membelai rambutku. Aku mengangguk, tentu aku takut sakit. Mengingat pekerjaanku segunung. Aku disuapin roti cane sama kuah kare dan soup jagung.


"Aku kenyang." kataku baru beberapa suap, mulutku terasa pahit. Percuma Andre memaksaku, karena aku berontak tidak mau makan. Andre mengalah. Aku kembali meringkuk, Andrelah yang sibuk, memijit kakiku dan menemani aku sepanjang aku sakit.


Mungkin karena tidak ada dikerjakan, dia mulai mengambil ponsel mamaku yang tidak pernah berhenti berbunyi, dia membalas WA yang masuk, aku tidak urus, malah merasa dibantu karena aku jarang membalas WA orang. Setelah itu aku lagi tertidur.


Andre sangat telaten merawat ketika aku sakit, sifatku mulai berubah atas kelakuannya. Aku menjadi sedikit manja dengannya dan sangat tergantung. Aku tidak memungkiri nama Andre terpatri di hatiku, dan akupun mulai menyayanginya.


"Andre aku senang sama kamu tapi tidak cinta." kataku ketika aku sudah sembuh. Saat ini aku dan Andre duduk di Taman, aku sengaja turun mencarinya. Dia menarik nafas panjang sambil menatapku.


"Aku yang cinta padamu." sahut Andre.


"Boooong."


"Kamu mana pernah percaya padaku. Cinta itu tidak perlu diucapkan, tapi cukup dengan tingkah laku." sahutnya membuat aku tersenyum senang. Aku tidak tahu kenapa aku senang, hatiku berbunga-bunga.


"Tapi kenapa kamu suka jogging dengan mbak Tania."


"Kamu suka mengintip ya, jogging sekali itu saja. Setelah dia tahu bahwa aku cuma pembantu disini dia langsung menjauh." sahut Andre tertawa.


"Cuma aku yang tidak merpermasalahkan kamu itu siapa. Aku senang ya sudah."


"Aku bertrimakasih kalau kamu juga mencintaiku."


"Hee.. aku gak cinta kamu, cuma senang saja." jawabku spontan.


"Boleh test kalau tidak cinta." sahut Andre memegang tanganku.


"Test bagaimana?......." sahutku menggantung.

__ADS_1


Andre merengkuh tubuhku dan bibirnya sudah mampir membuat aku tidak berdaya menolak. Aku merasakan sensasi yang menggoda dan aku membalas pelukan Andre. Inikah namanya cinta?


*****


__ADS_2