
"Bukankah Tuan sudah tahu sendiri, bahwa pembangunan gedung yang sudah harus selesai bulan ini, tertunda karena kita banyak berhutang kepada pemborong. Dan ada surat ancaman dari pemborong." kata tetua mengeluarkan amplop coklat dan menyerahkan kepada kak Leon.
Kak Leon membaca satu demi satu surat penagihan dari pemborong. Dia lalu menyerahkan padaku. Aku mengerjitkan alis karena penagihan itu tidak sesuai termyn. Aku belum melihat gambar bestek jadi aku meragukan cara kerjanya.
"Qi...nama keluarga ada dipundakmu, kesampingkan afirmasi negatifmu. Kamu boleh menyumbang seikhlasmu atas nama Mama." ucap kak Leon, aku rasa dia sengaja berbicara dengan nada tinggi supaya semua warga mendengar.
"Tunggu tetua, berapa kekurangannya?" kataku kepada tetua setelah dapat sentilan dari kak Leon. Aku merasa kak Leon sengaja berkata begitu supaya dia tidak menyumbang. Dasar kak Leon licik, sebenarnya ini tanggung jawabnya.
Sebelum aku mengambil cek, Om Sugama tiba-tiba menghampiri kami. Kak Leon tersenyum mengangguk. Aku menjadi canggung, terpaksa aku tersenyum ketika Om Sugama tersenyum padaku.
"Qi...nanti mampir ke Show Room, rasanya sudah perlu mobilnya di service."
"Mobilku sudah di service, mobil kak Leon baru belum." sahutku terpaksa.
"Ya Pak...nanti anak buah saya akan membawa kesana." ucap kak Leon ketika aku melempar ucapan. Tentu semua kakakku tidak tahu permasalahanku dengan keluarga Om Sugama.
"Team kami bisa menjemput kendaraan kalian di rumah. Kita juga punya bengkel keliling." kata Om Sugama.
"Pelayanan Supercar tambah bagus saja, nanti saya infokan kapan waktu service. Adik saya akan menghubungi Bapak."
"Ya saya tunggu." sahut Om Sugama memandangku. Aku pura-pura sibuk mengambil cek di tas.
"Tetua berapa hutang warga ke pemborong, aku ingin tahu biaya keseluruhannya, sampai finish."
"Sangat banyak Nona, saya hanya minta biaya untuk membayar pemborong saja." sahut tetua ragu.
"Tetua kenapa harus minta sumbangan ke dia, perempuan ini sudah kita keluarkan dari warga. Kesucian peradaban kita akan tercemar kalau sampai dia kembali menjadi warga. Ingat dia anak haram." suara toxic itu keluar dari mulut Bu Dilla.
Mata Om Sugama berkilat ke sosok Bu Dilla, dia pasti malu mempunyai calon besan yang beracun. Aku tidak peduli, begitupun tetua. Tapi ketiga kakakku langsung menghampiri Bu Dilla.
"Apa kamu bilang? kami adalah kakaknya, ingin mendengar sekali lagi kata-kata beracun dari mulut busukmu." tegur kakak selvy dengan wajah merah.
"Saya mengatakan yang sebenarnya, apa itu salah. Semua warga mengetahuinya dia anak haram, kalau saya menghinanya itu hak saya. Kalau kamu keberatan itu hak kamu."
"Jadi kamu menganggap anak kamu yang bukan anak haram itu suci?. Hahaha..... periksa ke dokter apa dia masih perawan atau tidak, bandingkan dengan adik saya."
__ADS_1
"Beraninya kamu menghina anak saya dan berprasangka buruk. tentu dia masih perawan. Sedangkan adikmu sudah serumah dengan Andre. Seorang janda tentu haus begituan."
Aku harus sabar, mereka tidak bersalah menilai buruk kepadaku. Mereka tidak tahu yang sebenarnya.
"Seharusnya Nyonya Dilla sering-sering datang ke Bar dan Club malam supaya tahu tingkah laku anak Nyonya."
"Ow..jadi kalian selama ini memantau tingkah anak saya, sedangkan adik kalian sendiri kumpul kebo dihadapan kalian. Pantesan ibu kalian lumpuh, bingung melihat tingkah kalian...."
"Berhenti bertengkar, malu dengan pelayat yang lain. Saya mohon Bu Dilla kembali duduk di bangku, begitu juga anda bertiga. Biarkan tetua negosiasi dengan Nona Qirrera." seorang pemuda maju kedepan, badannya yang tinggi tegap berdiri di sampingku.
"Nona Qirrera...maaf atas kericuhan yang terjadi, saya sebagai ketua Taruna/Taruni berharap supaya anda tidak terpengaruh." kata pemuda itu menatapku.
"Trimakasih." sahutku dingin. Hampir tinjuku melayang ke wajah Bu Dilla, gara-gara dia menyentuh martabat Mamaku yang lagi sakit. Ingin aku jarit mulutnya yang monyong itu pakai jarum Vaksin. Lagi sekali dia ngomongin mamaku, jangan harap dia bisa bangun kalau kena tendanganku.
"Kita lanjutkan lagi Nona, silahkan Nona duduk di sana." kata tetua nenunjuk tempat di samping kanan. Aku berjalan mengikuti tetua.
"Silahkan duduk Nona." kata tetua menyuruh aku duduk di belakang meja kayu.
Aku melihat kakakku kembali duduk sambil memandangku. Wajah mereka merah menahan marah. Para pelayat yang lain dan warga wansa saling berbisik mengumbar gosip.
"Tetua...berapa Qirrera harus menyumbang tolong jangan semua dibebankan padanya, banyak warga kita yang kaya, seharusnya kita wajibkan kepada warga untuk membayar hutang pembangunan ini." Om Sugama menahan tanganku, dia tidak setuju ketika aku mau menulis di atas cek.
"Nama saya Ghosan, saya mohon Pak Sugama tidak menyalahkan tetua, sudah puluhan kali saya mengedarkan surat kepada warga supaya mereka sadar membayar kewajiban ini tapi tidak ada hasilnya, ini jalan terakhir bagi tetua." kata pemuda itu menatap Om Sugama. Dia ikut duduk disamping tetua.
"Biarlah Om, aku ingin tahu berapa jumlah yang kurang, seandainya terlalu banyak tentu aku angkat tangan." sahutku tenang.
"Terserah kamu Qi, yang penting jangan memaksakan diri. Om juga akan membantu kita bisa berdua patungan."
"Ya Om, kita lihat dulu rinciannya."
Akhirnya tetua membuka buku besar dan beberapa tagihan dari pemborong. Aku melihat nominal tagihan sudah mencapai empat ratus juta. Include pembayaran sampai finishing hampir satu miliar. Bagiku uang itu tidak begitu besar, aku bisa membayarnya. Aku yakin Om Sugama juga merasa biaya itu sedikit, karena harga satu unit Lamborghini hampir delapan miliar.
"Qi, kita patungan fifty-fifty." kata Om Sugama menatapku.
"The cost is small i can do it myself." sahutku memakai bahasa Inggris supaya tetua dan Goshan tidak mengerti.
__ADS_1
Aku menuliskan nominal satu miliar di atas cek dan menyerahkan kepada tetua. Senyum mengembang terpatri di wajah tetua dan Goshan. Merekapun berdua berdiri.
"Hadirin sekalian, warga wansa yang saya hormati. Selama pembangunan gedung serba guna yang sudah berjalan hampir setengah tahun ini, hanya Nona Qirreralah yang rutin memberi sumbangan. Saya mohon setidaknya warga yang merasa kaya, ikut berpartisipasi." kata tetua membuat suasana menjadi hening.
"Saya pribadi merasa menyesal mengeluarkan Nona Qirrera dari warga. Dulu saya terpengaruh omongan sepihak tanpa diskusi terlebih dahulu." sambungnya lagi.
"Sayank...tidak seharusnya kamu menyumbang begitu banyak, Om jadi kasihan padamu." kata Om Sugama berkata pelan, wajahnya terlihat sudah tua. Dalam hati kecilku aku kasihan dan sayang padanya, tapi kalau ingat dengan pasukannya aku jadi muak.
"Gapapa Om, mumpung ada."
"Kamu sudah lupa sama Om ya, setiap Om kirim pesan cuma dibaca saja tapi tidak mau dibalas. Kamu jangan marah sama Om, bagaimanapun juga kamu adalah anak Om yang terhebat."
Aku hanya tersenyum, seandainya dia bukan ayahnya Andre tentu aku sudah memeluknya, menangis didadanya dan bercerita tentang kesedihanku dalam merajut cinta dengan Andre.
"Maaf Om, sepertinya kita sudah tidak sejalan, aku tidak mau lagi ngumpul dengan kalian. Pikiranku jadi beracun kalau lama-lama dekat sama kelompok ular." sahutku tegas. Aku tidak peduli perasaan Om Sugama, toh aku tidak beruntung dekat dengan mereka.
"Teganya kamu Qi, Om sangat menyayangimu." suara Om Sugama serak.
Aku tahu hatinya pasti luka, karena kebersamaanku dengan Om dan Tante Wilda selama ini terajut indah. Kami sering medios de gira atau touring dengan mobil terbuka, jogging di Minggu pagi sambil menunggu sun rises. Banyak hal yang membuat kami bahagia.
"Maaf Om." ucapku pendek.
Aku menarik nafas panjang membuangnya kasar. Kami lama terdiam, hanya tarikan nafas kami yang terdengar. Aku melirik Andre yang duduk dekat Natalia. Matanya terus memandangku. Peduli setan!!. Terus terang aku cemburu, gemess aku.
"Om, aku mau duduk di dekat kakakku."
"Mari kita kesana, Om mau kenalan lebih dekat dengan saudaramu."
"Tidak bisa Om, kebetulan kursinya sudah pas...kakakku mana mau kenalan sama Om."
"Kursi ini Om pindahin kesana. Kakakmu pasti senang kenalan, Om akan mulai dengan mobil, semua mobilnya dari Show Room Supercar." kilah Om Sugama, dia sudah tahu sifatku.
Selama ini dia tidak pernah marah padaku walaupun aku terkadang sering ngambek. Begitulah Om Sugama selalu sabar menghadapiku. Dia tidak terpengaruh dengan tuduhan atau gosip miring yang ditujukan padaku karena dia yakin aku tidak begitu.
****
__ADS_1