
Diamku bukan berarti aku menyetujui saran Bunda, aku sebenarnya mencari solusi yang terbaik. Anakku kini sudah berumur dua bulan, dia semakin menggemaskan dan lucu.
Diam-diam Bunda membuat peraturan, anakku setiap hari harus berada di samping Bunda, yang membuat aku gerah lima pengawal khusus akan mengawasiku kemana aku pergi.
Bunda...Bunda...bukannya membuat aku lega, malah membuat aku semakin sesak. Aku merasa seperti tahanan rumah. Tapi aku membiarkan apapun kemauan Bunda sepanjang membuatnya senang. Dia sangat sayang padaku, aku juga sayang padanya.
"Qi..jangan terlalu ngoyo bekerja nanti kamu sakit. Bagaimana kalau hari minggu kita jalan-jalan bersama Semeru." ajak Bunda suatu hari.
"Maaf Bunda aku belum bisa pergi, kerjaan masih menumpuk." kataku serius. Memang aku sangat sibuk.
Permainan memang harus diakhiri. Sudah dua bulan lebih Semeru menjalin hubungan dengan Mayang, hubungan mereka sudah semakin dalam. Sebenarnya aku salah memberi peluang kepada Semeru dengan membiarkan dia berselingkuh. Harusnya aku melarangnya dan memperbaiki hubungan kami kembali, tapi itu aku tidak lakukan sehingga Semeru merasa aman.
Jangan menyalahkan aku dulu, aku berbuat begitu karena banyak pertimbangan. Aku menyusun rencana Step by step.
Pertama aku menyuruh Semeru membuat surat wasiat tentang harta yang dipegang dan mewariskan kepada anaknya. Dia mau dan tidak peduli. Kalau aku kejam aku bisa mengusirnya dari rumah karena semua hartanya sudah pindah tangan, tapi aku masih punya rasa empaty saat ini. Ntahlah esok...
Aku juga sudah membeli rumah besar untuk kantorku di sekitar perkebunan, aku akan berkantor disitu untuk mengambil alih perkebunan dan mengusir perempuan itu dari sana. Terserah dia mau kemana asal jauh dari kehidupan kami.
Hari ini aku bersiap akan menangkap basah Semeru. Dalam jangka waktu dua bulan ini aku tidak pernah lagi interaksi dengannya, apalagi akhir-akhir ini dia jarang pulang dan aku tidak pernah bertanya apapun dengannya. Kami jarang bertemu, tepatnya aku menghindar bertemu. Mungkin dia merasa aman dan mengira aku tidak tahu apapun atas perbuatannya.
Kedua aku sudah mencari seseorang untuk duduk sebagai CEO di Perusahan Segara Barito, namanya Bapak Jayusman umur baru 33 tahun. Orangnya smart dan bisa di percaya.
"Maaf Pak Jayus aku tekankan disini supaya anda selalu ingat, bahwa anda bekerja di Perusahan besar yang notabene punya orang terkaya nomer 7(tujuh) di Indonesia. Jadi harap bekerja dengan baik dan jaga mulut. Aku tidak ingin ada orang ketiga yang menyusup dan mencari berita murahan di Perusahanku. Apapun yang anda akan lakukan harus sepengetahuanku aku fleksibel dan realistis." kataku mengingatkan.
"Ready boss I work for you my soul I surrender to you. do not worry..
(siap bos saya bekerja untuk anda jiwaku aku serahkan untukmu. jangan khawatir..). jawab Pak Jayus menatapku.
"Satu lagi, jangan ada sekandal..." kataku tegas.
"Hemm...saya akan patuhi." sahutnya tersenyum penuh arti. Aku tidak menanggapi, bagiku lelaki sama saja, semua penipu. Emosiku tiba-tiba naik. Aku gampang meledak ..
__ADS_1
"Jangan membuat masalah denganku atau Perusahan, aku orangnya sadiss..." kataku menatap dingin Pak jayus.
"Saya mengerti, jaga kesehatan Boss..."
"Thank you...." sahutku keluar dari ruangan Pak Jayus. Aku benci dengan lelaki yang shock baik dan perhatian padaku.
Diam-diam Aku keluar dari Kantor menuju garase. Saat ini pengawalku pasti ada di meja makan. Mereka tidak akan tahu aku keluar. Jarak kantor dengan rumah induk cukup jauh, jadi aman kalau aku pergi.
Selama disini aku belum pernah menyetir mobil, jadi mereka tidak tahu kalau aku bisa menyetir mobil. Aku memilih mobil Ferrari kepunyaan Ayah untuk pergi ke perkebunan. Penjaga gardu begitu saja membuka plang, dia pasti mengira Semeru yang berada di belakang stir.
Aku memacu Ferrari itu dengan kencang, jalanan sepi dan panjang. Pikiranku melayang kemana-mana tidak konsen. Kadang aku menyesali nasibku yang terus merana.
Mobil akhirnya melintasi perkebunan kelapa sawit. Hanya aku yang berada di jalanan. Kesan pertama adalah sepi, karena buruh bekerja jauh di belakang, sedangkan kantor Semeru berada di depan dan di belakangnya rumah gundiknya. Aku akan datang lewat samping bukan dari depan. Semeru pernah mengatakan stafnya cuma ada satu saja di kantor, yang lain dia pekerjakan di pabrik.
Dengan kata lain ada dua kantor, yang ini khusus dia dengan gundiknya sedangkan kantor di pabrik untuk staf lainnya. Supaya tidak ada yang tahu hubungannya dengan perempuan lain, mungkin begitu. pikirannya.
Aku turun dari mobil langsung ke rumah Mayang, aku yakin Semeru di situ karena ini jam istirahat.
Mataku nanar melihat Pakaian Semeru berjejer di jemuran. Berarti Semeru menaruh sebagaian pakaiannya disini.
Aku ingat dulu pernah kesini bersama Sandy, jadi aku tahu masuk lewat pintu belakang. Pintu utama sengaja mereka kunci. Aku melangkah hati-hati dan pelan. Satu persatu aku lewati kamar di rumah besar itu, langkahku terhenti ketika mendengar suara cekikikan di kamar paling depan.
"Aku ingin anakku laki-laki supaya bisa mewariskan semua kekayaan Semeru." suara perempuan terdengar nyaring, aku tahu itu suara Mayang.
"Makanya cepat hamil, aku akan hadiahkan seluruh hartaku." sahut Semeru di antara tawanya.
Perasaanku bergemuruh, aku sangat sedih dan kecewa. Hatiku seolah mengkristal dan membeku. Dengan mataƬ dipicingkan aku bersandar di tembok kamarnya menunggu dia keluar. Tumben aku sesabar ini. Ragaku seolah sudah membatu.
Tidak begitu lama mereka keluar dan kaget, aku membidikkan camera ponselku ke tubuh yang setengah telanjang itu dan mengambil gambar.
"Qi....." suara Semeru tercekat. Dia mencoba kembali masuk kamar tapi tendanganku sudah melayang ke tubuhnya.
__ADS_1
"Sayank......" teriak gundiknya memeluk suamiku. Satu kali lagi tendanganku melayang untuk perempuan itu.
"Maafkan aku sayank....." Semeru bangun berusaha menghalangi jalanku ketika aku mau keluar dari sana.
"Plok...plokk..." tamparanku tidak begitu keras tapi cukup membuat sudut bibir Semeru berdarah. Dia terus ingin memelukku tapi aku jijik dan menolaknya.
Aku keluar dari rumah maksiat itu dengan sumpah serapah dari si ******. Wajahku beku tanpa ekspresi. Tidak setitikpun air mata keluar. Aku merasa seperti patung hidup.
Ferrari itu melaju kencang menyusuri jalanan yang sepi, sampai di jalan raya baru ada mobil berseliweran. Ntah berapa mobil aku srempet, yang aku inginkan aku bisa cepat sampai di rumah Bunda
Sampai di rumah aku langsung mencari Bunda. Bayiku sedang di gendong Bunda. Aku mengucap salam ....
"Qi... kenapa wajahmu pucat sekali?" kata Bunda menatapku. Bunda lalu menyuruh Yesi, baby sisterku untuk mengambil bayiku. Aku lalu digiring oleh Bunda masuk kamarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Bunda hati-hati. Dengan gemetar aku memperlihatkan foto Semeru dan Mayang yang setengah telanjang.
Bunda terhenyak dan menangis. Aku membagikan foto itu ke ponsel Bunda, berarti ini foto yang paling anyar di galeri Bunda setelah beberapa foto Semeru dan si ****** menghiasi galeri Bunda.
"Aku memukul mereka berdua." kataku lirih seolah kepada diri sendiri.
Tiba-tiba pintu terbuka, Semeru masuk dengan wajah garang.
"Teganya kamu menyakiti Bundaku dengan cara mengadu." katanya emosi.
"Dasar anak keparat tidak tahu bersyukur. Kamu yang tega menyakiti istrimu berbulan-bulan." pekik Bunda emosi.
"Tidak ada yang kulakukan, dia pembohong dan ingin menguasai harta kita." sahut Semeru. Duhh.... hatiku teriris mendengar tuduhan Semeru. Tapi aku tetap diam.
"Semua bukti ada pada Bunda, memang seharusnya kau enyah dari rumah ini. Ayahmu benar memilih menantu dan mewariskan harta padanya, tidak pada kau."
"Bukti apa? aku tidak ada melakukansl apapun." sanggah Semeru sengit.
__ADS_1
****