QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
MISI GAGAL


__ADS_3

Akhir-akhir ini aku melihat perubahan besar pada suamiku. Dia begitu getol meminta uang dengan alasan macam-macam. Aku juga yakin mobil jazz yang dia bawa pasti juga hasil mengumpulkan sangu dariku. Sepertinya dia berubah, tidak pernah aku melihat temannya datang lagi, apa dia sudah berubah menjadi baik? pikirku. Dandanannya rapi dengan memelihara rambut, jenggot. Semoga saja dia menjadi waras.


Seminggu sudah Nela di rumahku, pagi ini aku melihat dia sudah bangun. Aku duduk di balkon sambil menikmati air mineral. Aku tidak bisa minum coffe, aku lebih senang minum air putih atau juss. Nela mengambil sapu ketika suamiku memeluknya dari belakang. Nela berontak sebentar kemudian sapunya tergeletak, sedangkan orangnya lenyap dari peredaran mataku. Mungkin mereka sudah masuk kamar. Aku tidak peduli, aku ingin mereka menikah.


Aku bersiap mau bekerja, perlahan aku menuruni tangga. Tidak terlihat kedua batang hidung dari kedua manusia mesum itu. Aku mengeluarkan mobil, sepintas aku melihat Sri naik gojek. Tapi dalam keadaan hamil. Dengan rasa penasaran aku mengejar gojek itu, tapi aku kalah jauh, motor itu menyalip kanan kiri. Aku yakin dengan penglihatanku, bahwa tadi yang aku lihat Sri.


Kenapa Sri di depan rumahku seperti mengintip sesuatu?. Apa dia mau bekerja lagi. pikirku. Aku berpikir berbagai kemungkinan yang timbul gara-gara Sri mengintip kerumahku.


Pikiranku tentang Sri aku tepiskan. Banyak pekerjaan yang menunggu penangananku. Aku sebisa mungkin membuat usaha yang menyerap lapangan pekerjaan, jadi aku tidak memberi mereka umpan, aku memberi kail. Walaupun di dalam pengelolaan bisnis yang aku geluti ada saja anak buah yang tega menipuku. Biasanya semua tidakan ceroboh mereka aku tindak lanjuti ke Polisi supaya yang lain merasa takut.


Begitulah hidupku, didalam umur 19 tahun aku sudah bisa menghasilkan uang banyak dan bisa memperkerjakan banyak orang, sayang sekali di dalam percintaanku aku gagal, malah sekarang aku alergi dengan namanya cinta.


Pagi berubah siang dan lanjut ke malam, begitu terus. Menoton tidak ada jeda waktu yang terlewat. Keberadaan suamiku juga sama, semakin hari semakin lengket dengan mbak Nela. Aku jadi penasaran kenapa mbak Nela tidak muntah-muntah atau tanda-tanda hamil.


Sore ini aku iseng mencari dia di dapur dan menanyakan apa yang dia masak. Karena setiap aku membeli bahan masakan cepat sekali habis.


"Mbak Nela, kenapa setiap aku belanja bahan makanan belum ada seminggu sudah habis. Padahal kalian cuma makan berdua."


"Jelaslah Nona, karena setiap hari suami Nona membawa makanan keluar. Saya tanya untuk siapa? katanya untuk orang tercinta. Mungkin Ibunya Nona." sahut Mbak Nela polos.


Aku mengerjitkan alis, jadi Sanjaya merampok makananku untuk keluarganya?. Tapi tidak apa-apa asal dia terus terang.


"Kenapa dia tidak bilang padaku, aku tidak apa-apa asal benar untuk orang tuanya."


"Mungkin dia malu Nona.'


"Mbak Nela sudah punya pacar?" tanyaku membuat dia tiba-tiba kaget. Dengan bergetar dia menjawab.


"Saya sudah pernah menikah Nona, gara-gara tidak punya anak saya langsung di cerai. Jadi sekarang ini saya cuma menjadi pemuas nafsu laki-laki saja demi uang."


Waduhhh....ternyata dia tidak bisa hamil. Bagaimana ini?. tidak mungkinlah Sanjaya menikahinya kalau begini. pikirku.


"Maaf mbak Nela, aku terpaksa mengeluarkan mbak dari rumahku, karena beberapa kali aku memergoki mbak dengan Suami saya berselingkuh." kataku cepat mengganti topik pembicaraan.


"Tapi Nona....." sahutnya menggantung. Wajahnya pucat.


"Ambil semua barangnya mbak aku akan mengantar sampai terminal." kataku. Aku berharap Sanjaya tidak datang. Supaya tidak ada alasan menahan mbak Nela.

__ADS_1


"Yaya Nona...." sahutnya menangis.


Aku memacu mobilku ke terminal dan mencarikan dia Bis. Setelah itu aku memberi lumayan banyak sangu. Aku wanti-wanti supaya dia tidak datang lagi mencari suamiku.


"Maafkan saya Nona." katanya sedih.


"Tidak apa-apa, semoga kamu mendapat suami yang baik dan menerima kamu apa adanya." kataku tulus.


Aku merasa lega bisa mengeluarkan mbak Nela. Sekarang aku harus mencari orang baru untuk menjebak Sanjaya. Lebih baik aku pulang dulu, daripada mutar-mutar tidak karuan.


"Kenapa kamu keluarin Nela." baru turun dari mobil aku sudah disambut bentakan oleh suamiku.


"Tanyakan kepada dirimu sendiri, ini rumahku bukan tempat mesum yang bisa kamu pakai disetiap sudut." sahutku dengan suara tinggi. Aku sengaja meninggikan suaraku satu oktaf supaya dia jerih.


"Aku sudah mengatakan tempat ini aku pakai tempat mesum, selama kamu tidak mau melayanikup."


"Ciihh...aku bukan istrimu ingat itu. Kau adalah benalu."


"Hahaha..... aku bukan benalu lagi, tapi adalah perampok. Sebentar lagi semua hartamu akan menjadi milikku."


"Jangan mimpi pecundang!!"


"Jangan kau mengkhayal terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit."


"Ini kenyataan yang akan membuat hukum berpihak kepadaku. Sesuatu yang fenomenal, yang belum terpikir okeh akal sehatmu."


"Aku malas meladeni manusia kardus sepertimu, lebih baik aku pergi." kataku kembali masuk mobil dan pergi dari rumah. Aku terus berpikir, atas ancaman Sanjaya. Daripada aku puyeng lebih baik aku konsultasi ke Farid & rekan, seorang lawyer.


Mobil aku belokkan ke sebuah pertokoan Sudirman, sebenarnya sudah sore, sebentar lagi kantor pasti tutup. Aku cepat-cepat turun dari mobil. Kebetulan Mas Farid sendiri yang menyambutku.


"Mimpi apa aku semalam sehingga hari ini aku di jenguk oleh jodoh orang." kata Mas Farid menyambutku gembira.


"Aku tidak lama Mas." sahutku menjabat tangannya. Mas Farid sering menjadi tempat curhat aku di bidang hukum, jadi kami sangat akrab.


Dengan lancar aku mengadu akan ulah siamiku yang mengancam akan mengambil warisanku. Tapi aku tidak mengatakan bahwa aku berusaha menjebak suamiku.


"Aku tidak tahu apa hukum adat bisa memihak seandainya seorang suami sah mempunyai anak dari wanita lain." tanyaku mendetail. Aku bisa menerka bahwa Sanjaya menikahi Sri dan menunggu anak Sri akan mewarisi Trah Wansa.

__ADS_1


"Kalau seorang suami menikah lagi atas persetujuan istri pertama dan istri pertama menyetujui anak yang lahir dari istri kedua menjadi "pangeran" di rumahnya, warisan bisa jatuh ke anak. Atau istri pertama dalam kurun waktu tertentu tidak bisa memberikan keturunan dengan alasan mempunyai kelainan dan yang di ketahui dokter."


"Berarti dia sudah pikirkan dan tidak semena-mena bukan, aku mencurigai suamiku menikahi pembantuku." sahutku lalu bercerita tentang Sri yang hamil.


"Kamu jangan khawatir, semua permainannya masih mentah, tidak segampang itu dia bisa merebut warisanmu. Sekarang selidiki dulu keberadaannya kalau dia terbukti menikah lagi, langsung kamu ajukan gugatan cerai."


"Dia sangat licik, berarti aku harus ikuti kalau dia keluar."


"Suruh orang lain supaya lebih aman." sarannya.


"Ok. aku akan melakukan." sahutku tersenyum mengeluarkan amplop dan menaruh di atas meja. Mas Farid tersenyum lucu.


"Aku tidak terima bayaran hari ini, tapi setelah kamu cerai datanglah padaku. Aku tunggu jandamu."


"Hahaha.....jandaku mahal harganya tidak bisa dibeli dengan uang." jawabku bercanda.


"Aku tidak membeli jandamu tapi aku akan merengkuh cintamu sampai kamu lupa akan Dunia."


"Kamu tertalu banyak baca novel. Nanti aku kemalaman. Trimakasih banyak bantuanmu hari ini dan selanjutnya. Aku selalu mengagumimu." kataku berdiri.


"Aku ingin menahanmu setiap kamu datang, tapi aku tidak berdaya, karena kedatanganmu penuh dengan masalah."


"Hahaha....trimakasih may friend." kataku menutup perbincangan. Aku keluar dengan perasaan sedikit lega.


Malam ini aku malas pulang, aku merasa takut karena ada Sanjaya sendiri di rumah. Aku memacu mobilku ke Ulu Watu, mencari kehindahan Dunia lain. Aku akan menikmati malam indah di puncak bukit di Hotel Six Senses. Hotel ini telah membiusku, dia begitu indah mempesona.


Aku langsung memarkir mobilku di depan Lobby dan menuju Front Office. Ternyata mereka masih ingat denganku. Dulu aku dan Diego pertamakali bertemu disini dan sempat membuat Viral Hotel ini.


"Selamat malam Nona, anda tidak salah memilih Hotel kami untuk beristirahat. Silahkan anda chek in dengan harga mulai 15 juta permalam."


"Aku memilih Presidential suite seminggu kedepan." kataku.


"Aku minta kamar clean." kataku kepada F.O menyerahkan kunci kembali.


"Kami akan bersihkan, silahkan anda beristirahat di Living room atau di Bar. Kami akan menyiapkan free to drink untuk anda."


"Trimakasih." sahutku menuju Bar di lantai tujuh. Ini belum begitu malam tapi Bar nya sudah hampir penuh, maklumlah Bar ada di puncak bukit, seperti di atas awan. Atap Bar terbuka, jadi bintang-bintang terlihat langsung, seperti bisa di gapai.

__ADS_1


Aku mencari tempat yang sedikit tersembunyi. Tujuanku kesini cuma menghindar dari Sanjaya, sekalian melihat kecanggihan Hotel Six Senses, siapa tahu kedepannya aku bisa membuat Hotel secanggih ini.


*****


__ADS_2