
Dengan berat hati aku meninggalkan mama, karena kak Leon menyuruh aku tinggal di rumah besar pembagian warisku. Rumah ini sangat luas dan berbentuk Spanyol modern. Ada kolam renang besar dan luas tanah satu hektare. Semua lengkap disini. Mobil berderet lima buah, itu bagianku.
Semua kemewahan itu membuat Sanjaya lebih songong. Dia tambah menjadi. Teman-temannya hilir mudik di rumahku. Aku semakin dibuat kesal, karena teman-temannya sudah menganggap rumah ini milik Sanjaya. Jadi mereka bertingkah semaunya. Kadang mereka menggelar pesta sampai pagi dengan minum-minum. Yang aku syukuri dia tidak bisa menyentuhku sampai hari ini. Aku merasa aman-aman saja.
Sanjaya hidup seperti OKB, aku terus di peras untuk membiayai hidupnya yang aneh. Kalau aku tidak mau dia mengancam akan memperkosaku dan menggilirku. Aku terus mencari jalan keluar. Kak Leon sudah tidak mau tahu urusanku. Kak Maya tidak sempat lagi mengurus aku, karena kesibukannya. Tiap hari aku memutar otak.
Akhirnya aku mempunyai ide dengan cara menjebaknya. Dalam perjanjian perkawinan kami tidak boleh ada yang menikah lagi, kecuali ada sesuatu hal. Sanksinya keluar dari rumah ini tanpa gono gini. Sanjaya tahu itu, maka dia hati-hati mengajak perempuan ke rumah. Sekarang aku diam-diam memasang CCTV di segala sudut ruangan, berusaha ada bukti.
Dengan alasan supaya ada tukang masak aku menyuruh orang mencari seorang gadis khusus untuk masak, karena pekerjaan yang lain memakai jasa cleaning service. Biasanya aku tidak pernah makan di rumah, suamiku juga. Sekarang dengan alasan pengiritan aku mencari asisten rumah tangga khusus masak.
"Namanya siapa mbak?" tanyaku ketika seorang gadis hitam manis mengajukan lamaran untuk menjadi PRT. Aku memang mencari tukang masak dengan gaji yang menggiurkan. Banyak yang berminat, tapi aku pilih Sri, karena cukup supel dan manis.
"Nama saya Sri." katanya tersenyum.
"Aku jarang di rumah, suamiku juga. Tolong nanti kamu masak hanya untuk suamiku saja. Sekalian kamu jaga rumahnya. Aku minta layani suamiku." pesanku menatapnya.
"Ya Nona, semoga Bapak cocok dengan masakan saya." sahutnya.
"Pasti cocok." kataku sambil menunjuk kamarnya yang bersebelahan dengan kamar suamiku. Sedangkan kamarku ada di atas.
"Semoga mbak betah, Bapak banyak punya teman, hati-hati ya. Kalau ada yang mengganggu minta perlindungan sama Bapak." pesanku lagi.
"Trimakasih Nona."
Setelah aku memberi banyak intruksi, aku tinggalkan Sri yang mulai bekerja di dapur. Aku tidak menyuruhnya masak, tapi aku menyuruh mempersiapkan bahan mentah yang siap masak. Sewaktu-waktu suamiku minta makan supaya Sri langsung bisa masak, jadi tidak mubasir.
Semenjak ada Sri aku lebih tenang bekerja, sebagai bagian marketing di Hotelku acap kali aku keluar Negeri. Terus terang aku sukses dalam pekerjaaanku ini. Aku juga sering menengok mamaku di Los Angeles. Manusia tidak sempurna, begitulah slogannya. Aku sukses dalam karir tapi dalam percintaan aku gagal. Lambat laun aku juga melupakan Adi. Perasaanku jadi membatu, tidak pernah tergerak melihat sosok ganteng atau terbius dengan rayuan. Hatiku beku.
Keberadaan Sri di rumahku hampir aku lupakan, padahal sudah sebulan. Aku memang jarang bertemu karena kesibukanku. Suamiku juga jarang aku lihat bersama teman-temannya. Aku merasa aneh saja.
Hari ini aku baru datang dari Luar Negeri, iseng aku turun ke lantai satu mencari mbak Sri di dapur, tapi kosong. Ini sudah jam sembilan pagi harusnya dia sudah berada di dapur.
"Mbak Sri....mbak......" panggilku berulang kali, sambil mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
Aku kembali naik ke lantai dua menuju balkon. Mungkin dari balkon aku bisa melihat keadaan seluruh rumahku karena saking luasnya. Sepanjang mata memandang tidak ada orang, atau pergerakan apapun. Aku berpikir untuk menyewakan beberapa bilik rumah di belakang. Kalau tidak salah ada lima rumah berbentuk semi Villa. Biasanya disewa Bule, mungkin aku mau pasarin lagi.
Sedang enak-enaknya aku mengkhayal sebuah mobil jazz masuk ke halaman. Aku berusaha menghindar dan mengintip siapa yang datang. Astaga....aku kaget setengah mati, suamiku turun berpelukan dengan Sri. Mungkin dia mengira aku masih di Luar Negeri. Dandanan Sri sungguh aneh kulihat. Rambutnya di cat merah dan pakaiannya seronok.
Inikah hasil dari ideku. Sungguh cepat. Aku pelan-pelan masuk kamar. Apa yang harus aku kerjakan selanjutnya. Untuk membuktikan perselingkuhan aku harus mengumpulkan hasil rekaman CCTV. Dalam rekaman CCTV aku melihat bukan Sri saja lawannya, aku melihat berbagai type cewek diajak bertempur. Aku butuh satu orang yang bisa menundukan suamiku dan orang itu siap menikah.
Aku merasa suamiku mempermainkan cewek-cewek ini tanpa mau serius. Dia licik, dia cuma memuaskan dirinya saja dan aku tetap sebagai istrinya.
Tapi sepandai-pandai tupai melompat akan jatuh juga. Aku merasa keberuntungan berpihak padaku, pagi ini kudengar Sri muntah-muntah. Aku berpikir dia pasti hamil. Setelah dua bulan aku akan mendapat bukti.
"Mbak Sri...mbak sakit?, koq muntah-muntah?" tanyaku berusaha tenang. Ntah mengapa aku menjadi nervous.
"Saya...sa...."
"Dia dari kemarin muntah-muntah, masuk angin kali. Nanti aku antar ke puskesmas. Cepat ganti baju Sri, ini sudah siang." potong suamiku tiba-tiba nongol. Dengan santainya dia menutup mulut Sri dengan mulut manisnya. Sri cepat-cepat mengganti baju, mungkin ada ancaman sebelumnya.
Aku tidak melanjutkan pembicaraanku lagi, tujuanku tadi supaya Sri mengaku suamiku yang membuat dia hamil. Aku harus bertindak sempurna, kalau suamiku berselingkuh wajar, karena aku sebagai istrinya tidak mau melayaninya. Jadi aku ingin supaya Sri bisa menikah dengan suamiku, baru aku bisa cerai. Kalau cuma main-main, tetap tetua adat akan menyalahiku.
Untuk membuat suamiku mengawini Sri sepertinya mustahil. Mana mungkin dia berani melepas kemewahan di rumahku. Hari ini aku sengaja datang cepat berharap bertemu Sri.
"Mbak Sri....lagi apa?" tanyaku tanpa mau ke dapur, karena aku mendengar suara cekikikan di dapur. Siapa lagi pelakunya, pasti Sanjaya sama Sri.
"He Nona, sudah dari tadi?" tanya Sri dengan wajah memerah. Aku melihat lehernya banyak bekas kiss mark. Itu jelas buatan suamiku.
"Mbak Sri masih sakit?, ini aku beliin Vitamin untuk kesehatan." kataku menaruh Vitamin. Aku sengaja membeli Vitamin supaya kandungannya subur.
"Sri mungkin mau berhenti dari sini." tiba-tiba suamiku ikut berdiri disamping Sri. Hatiku langsung bergemuruh.
"Kenapa berhenti Sri, siapa yang masak di rumah ini nanti?" tanyaku cepat.
"Dia mau menikah dengan bang Safri, tukang kebun tetangga." sahut Suamiku membuat nafasku sesak. Bagaimana ini. Dasar licik pikirku.
"Oh . selamat ya Sri, aku tidak menyangka. Kapan menikah?, aku akan datang dan sedikit membantumu." kataku dengan hati bergolak.
__ADS_1
"Tidak usah datang Nona, rumah saya jauh. Disamping itu cuma perkawinan siri saja. Dibawah tangan Nona."
"Kenapa mau kawin siri, jangan mau dibodohin. Minta nikah yang benar, hargai diri sendiri Sri."
"Dia sudah punya istri Nona, sedangkan saya sudah mengandung."
"Tidak usah dibahas, biarkan dia pulang besok, aku akan mengantar." kata suamiku.
"Selamat ya Sri, untung tadi ada yang menawarkan gadis cantik untuk jadi tukang masak. Baru aku ingat." kataku membuat Sri melotot ke suamiku. Aku sengaja berkata begitu supaya Sri cenburu. Aku juga tidak tahu apa kataku berfaedah atau tidak.
Dengan berat hati aku naik ke kamarku dan mengunci pintu. Misiku gagal total. Rasa hampa menyergapku dan membuat aku merindu pada sosok mama. Kedua mamaku jauh dari jangkauan. Yang satu di Los Angeles dan yang ini sakit, tidak bisa diajak komunikasi.
Satu-satunya yang bisa menghiburku adalah lagu dan main trading di saham. Di rumah segede dan seluas ini aku berada dititik jenuh. Mungkin gadis lain akan pergi ke Bar atau Beach Club untuk menghibur diri. Aku tidak ada keinginan membuang jenuh dengan cara itu. Terkadang aku memang senang sendiri, menikmati kesendirianku dengan beryoga dan meditasi.
Rencanaku pertama memang gagal, aku segera mencari pengganti baru. Sekarang gadis yang aku cari sedikit berani, dalam artian agak genit dan seronok. Pakaiannya tidak lebih dari 2 jengkal. Kesehariannya dirumah memakai celana pendek yang supermini dan ketat. Bajunya juga mengumbar hawa negatif. Sangat seronok.
"Namanya siapa mbak?" tanyaku ketika dia duduk dimeja makan denganku.
"Nela Nona." sahutnya sopan.
"Namanya bagus, mbak bisa masak apa?"
"Semua masakan saya bisa Nona. Saya biasa ikut berjualan makanan dengan majikan saya dulu."
"Majikan dulu punya Restoran?"
"Ya Nona, tapi capek banget."
"Disini saya masak untuk berapa orang Nona?"
"Untuk suami saya saja, itupun tidak rutin. Dia sering makan di luar. Saya akan serahkan kepada mbak Nela untuk mengurus suami saya. Apapun keperluannya, tolong dibantu."
"Nona sayang sekali kepada suami ya. Sangat beruntung suami Nona."
__ADS_1
"Semua kekayaan ini punya suami saya, siapa yang tidak senang kaya." kataku membuat matanya berbinar. Aku berdoa supaya misi keduaku mengena.
*****