QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KERJA PERDANA


__ADS_3

Aku turun dan pamit ke dokter kepada Kak Leon.


"Dengan siapa kamu ke dokter, atau tunggu dokter kita aja."


"Aku naik grabb, tadi aku sudah telepon dokternya, tapi dia masih sibuk di rumah sakit."


"Ya kalau begitu." sahutnya pendek. Mana peduli kak Leon dengan sekitarnya, dia begitu asyik mantengin laptop. Dia lebih asyik main saham dari pada antar aku ke klinik.


Keluar dari pintu gerbang Adi sudah menungguku, dia cepat memapahku ke mobil. Aku langsung merem karena saking peningnya.


"Kamu harus banyak ishirahat, uang dikejar tidak akan ada habisnya." katanya menasehati.


Aku tidak menjawab tapi kedua kakiku naik ke dashboard mobil. Otomatis mulutnya diam dan aku menurunkan kakiku. Dia harus tahu sifatku yang sedikit dingin dan terus terang.


Sampai di sebuah klinik Swasta, tanpa persetujuanku Adi kembali membuat ulah dengan entengnya dia menggendongku.


"Adi turunkan aku, malu dilihat orang." protesku.


"Ini klinik kenapa harus malu di gendong. Santai sajalah." sahutnya. Dia mulai melangkah masuk ke klinik dan melewati


dua orang suster yang menunggu dengan Stretcher. Adi langsung merebahkan badanku di bed.


"Sopir grabb beraksi sampai tidak melihat kanan kiri. kapan-kapan traktir donk." seorang dokter yang hampir sebaya dengan Adi tersenyum lebar.


"Jangan banyak mulut, periksa pasiennya." kata Adi menepuk bahu dokter itu.


"Wah..wah...pantas bertahan di grabb rupanya ada inceran baru ya."


"Cepat periksa atau aku angkat kembali pasiennya."


"Tenang-tenang." kata dr. Agus mulai memeriksaku.


"Bidadarimu lagi kecapekan, butuh istirahat. Ajak makan dulu gih, tapi punya duit gak sopir grabb nya." ejek dr. Agus membuat aku kasihan melihat Adi.


"Ga papa aku punya duit." jawabku nyeplos saja, membuat mereka berdua terdiam.


"Aku tidak pernah berpikir temanku punya duit atau tidak yang penting aku merasa nyaman." sambungku lagi.


"Sorry aku tadi cuma bercanda." sahut dr. Agus. Mungkin memang dokter Agus bercanda, aku sungguh kasihan melihat Adi.

__ADS_1


Setelah selesai berbasa-basi adi akhirnya mengajak aku pulang, tapi terlebih dahulu dia mengajak aku makan di restoran jepang. Aku tidak protes karena ATM ku


no. limit. Di Restoran ini, perorang dikenai biaya sembilan puluh ribu rupiah satu paket dan bebas makan. Enaknya disini kita masak sendiri apa yang kita sukai dan sudah di siapkan.


"Qi, bagaimana kalau kita menjadi teman baik tanpa mengganggu privasi masing-masing." kata Adi menatapku.


"Aku setuju, kita saling tolong, tapi kamu harus lebih banyak nolong aku." kataku lebay.


"Bereslah, asal jangan minta uang saja."


"Minta yang lain boleh?" tanyaku asal.


"Boleh."


"Mc Larren... hahaha....."


"Aku senang melihat kamu tertawa dan sembuh, minum obatnya donk." kata Adi memberi aku dua butir tablet.


"Apa kamu senang dengan makannya?" tanyaku menatapnya.


"Aku sangat puas, yuk kita pulang. Aku yakin kakakmu sudah ribuan kali menelponmu."


"Biarin saja." sahutku berdiri. Kami kembali ke mobil. Adi sedikit ngebut karena takut aku kena marah.


Di antara teman baruku hanya Adi yang bisa membuatku tertawa. Apalagi akhir-akhir ini aku mulai doyan mengadu tentang perlakuan kak Leon kepadaku. Dia akan selalu membelaku dan menghiburku.


"Halo jodoh orang...sudah bangun belum." baru bangun aku sudah WA Adi, supaya dia tidak telat mengantar aku ke Hotel.


Pagi ini aku akan morning briefing untuk pertama kalinya dengan para Manager dan General Manager. Aku akan berusaha datang tepat waktu. Aku mempersiapkan diri, mandi berihas dan keluar dari rumah. Hatiku dongkol Adi tidak menjawab ponselku, kalau tidak bisa mengantar bilang dari kemarin. Jangan pas hari H mangkir. gerutuku kesal. Sudah tahu aku tidak ada kendaraan dan akupun masih asing dengan jalan di Bali.


Saking kesalnya, aku tidak mau menyapa kak Leon, aku cuma cium pipi mama saja setelah itu pergi. Aku memilih gojek online supaya cepat sampai. Pas dipinggir jalan menunggu abang gojek, dua orang pemuda menyambar tasku mereka naik motor trail.


Aku sekuat tenaga mempertahankan tasku, terjadi tarik menarik. Tasku sulit putus karena Tas Ori C&K. satu sentakan kuat dariku membuat pemuda yang menarik tasku jatuh dari motor. Cepat dia bangun dan kakiku juga cepat melayang ke badannya. Kesel banget aku. Keadaan mendadak ramai, semua mengeroyok pemuda itu. Aku cepat meninggalkan area itu dengan naik gojek. Mana aku memakai rok lagi, untung tidak robek. Pokoknya semua kesialanku hari ini gara-gara Adi.


"Kemana Nona?" tanya tukang gojek.


"Hotel Fullman, tolong agak kencang." sahutku kurang fokus.


Tanpa disuruh dua kali tukang gojeknya naik motor dengan ngebut. Nafasku masih memburu. Ada saja masalah. Syukurlah Tasku bisa di selamati. Aku berusaha menenangkan diri sebelum masuk Hotel. Mungkin aku satu-satunya pegawai yang naik gojek. Dari tadi aku melihat mobil mewah masuk bassement, aku tidak pernah peduli dengan semua itu. Aku lebih kaya dari mereka. pikirku. Sepanjang kakiku melangkah, mata para staf tidak lepas dariku.

__ADS_1


Setelah absen sidik jari aku masuk ke ruanganku, aku merasa lega. Aku membuka laptop yang sudah tersedia di atas meja. Mataku sudah diberi pemandangan Hotel Fullman dan segala sesuatunya. Aku punya waktu tiga menit untuk mengetahui garis besar Hotel ini. Sambil bersandar di bantalan kursi hidrolik aku mencoba mengingat suara yang keluar dari laptop, aku tahu sebentar lagi akan ada pertanyaan di morning briefing dan aku akan menjadi kelinci percobaan.


Tibalah saatnya aku masuk ke ruangan meeting.


"Morning....." sapaku kepada ke sepuluh orang yang terdiri dari Jenderal Manager, Manager dari segala bidang dan Owner.


"Pagi, senang bertemu denganmu." sahut mereka dengan bahasa Inggris.


"Mengapa kamu memilih Hotel ini sebagai pijakan untuk masa depanmu?" suara Eva Gevax seorang wanita bule yang menjabat sebagai Jenderal Manager memberi pertanyaan.


"Di antara sepuluh Hotel bintang 4 yang aku sukai, aku sengaja memilih Hotel ini. Aku merasa disini aku akan mendapat upah sesuai kemampuanku. Tapi apabila upahku dibawah standar aku akan pergi secepat aku datang."


"Manis sekali, berapa umurmu Nak? kamu begitu percaya diri." tanya Ownernya tersenyum padaku.


"Lagi sebulan 19 tahun, tapi aku fasih lima bahasa. Pengalamanku treaning sudah di beberapa Hotel di Luar Negeri, dengan uang saku 20 juta perbulan. Disini aku akan menunjukan kemampuanku bahwa kalian juga bisa memberi aku upah lebih dari itu." kataku tersenyum.


"Kamu ada keluarga punya Hotel atau ada rekomendasi dari pihak lain?" tanya Pak Owner lagi yang rupanya senang berdebat denganku.


"Maaf, aku tidak punya saudara yang Hotel bintang empat, aku cuma mengandalkan skill." sahutku diplomatis. Tentu aku tidak mau mengatakan bahwa keluargaku pemilik Hotel bintang lima.


Selesai morning briefing kami langsung menuju Restoran untuk breakfast. Aku menjadi hot gosip, apa lagi sepuluh Big bos getol menempel dengan aku. Tentu saja risih. Mereka usil menanyakan aku dimana tinggal dan bla..bla..bla... untungnya semuanya identitasku masih tetap Luar Negeri. Agak amanlah.


Inilah hari pertamaku bekerja di Hotel di Bali. Disini aku bisa melihat dan merasakan keramahan para pekerja pariwisata, aku tidak heran kenapa Bali selalu is the best.


Pukul 17.00 wita aku keluar dari Hotel, aku berharap Adi menjemputku, tapi lagi-lagi dia tidak datang. Aku jadi gregetan. coba kalau dia ada di sampingku pasti sudah aku "bejek-bejek" tubuhnya. Aku cepat naik grabb sebelum banyak mulut usil mengajakku naik ke mobilnya.


Rasanya lega banget sudah bekerja, aku tinggal mencari waktu untuk mengambil sertifikatku dan membayar satu miliar kepada Om Brata. Setelah itu aku akan membeli motor atau mobil.


Sampai di rumah aku mendengar suara ribut-ribut, ternyata Kak Maya dan kak Leon bertengkar, gara-gara kakak Leon tidak mau kerja malah trading saham terus.


"Kakak sama Selvy menolongmu, kamu juga harus tahu seluk beluk Hotel kita, nanti kalau ada apa-apa kamu jangan nyalahin kami." teriak kak Maya saking keselnya.


"Aku tidak senang kerja hotel, kalau kakak mau urus, uruslah! jangan banyak bacot. Kalau tidak mau biarin anak pungut mama yang urus."


"Jaga mulutmu Leon, tidak ada anak pungut, semua sama kedudukannya disini. Jangan karena mulut busukmu itu membuat mama tambah sakit." ucap kak Maya mencoba mengejarku naik ke kamar.


"Sayank....kamu jangan masukin ke hati omongan kak Leon, dia lagi stress." kata kak Maya memelukku. Tangisku tumpah setelah kekesalan terjadi dari pagi. Aku merasa lelah lahir bathin. Aku langsung ingat mamaku yang aku tinggali sendiri di Los Angeles.


*****

__ADS_1


A



__ADS_2