QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
AKU WANGINYA KENANGA


__ADS_3

Sudah seminggu aku tidak berjumpa dengan Adi dan aku memutuskan mem blokir wa nya. Peduli setan, capek aku berharap tapi dia tidak peduli. Teman apa itu, ingkar janji. Coba aku ketemu, langsung aku sambit pakai batu, supaya dia tahu rasa.


Pagi ini aku jogging di Niti Mandala Renon, tumben aku kesini, biasanya paling di taman belakang atau berenang. Iseng saja ngilangin jenuh. Sedang asyiknya aku jogging aku dengar suara cewek memanggil di belakang....


"Sayank....Adi...tunggu....."


Tiba-tiba aku lihat pemuda mirip Adi dan aku yakin itu Adi, walaupun penampilannya berbeda dengan sopir grabb. Jauh berbeda lebih macho ini. Dan di belakangnya cewek mungil mengejarnya. Darahku tiba-tiba naik ke otak, seketika aku mengambil kerikil dan pletakkk......


Ku dengar Adi mengaduh dan memegang kepalanya. Aku yakin pasti benjol kepalanya, aku tidak mau bikin bocor kepalanya karena darah yang ada di kepala biasanya banyak. Dia berbalik, tapi ketika matanya melihat aku, mulutnya diam. Cewek mungilnya sibuk bersikap manja memegangnya. Dengan santai aku datangi dirinya tanpa membuka kaca mataku.


"Sakit bang? atau perlu aku tambahin lagi." tanyaku menahan marah.


"He siapa kau, dasar bule gila." semprot cewek itu geram. Kulihat Adi berusaha menenangkan ceweknya yang mulai curiga bahwa aku ada hubungan dengan Adi. Berani dia bergerak aku libas mereka berdua.


"One word for you you sissy" kataku cepat pergi.


Air mataku merembes dari sudut kaca mataku, aku buru-buru membersihkan wajahku dengan tissu sebelum menjadi totonan banyak orang.


Dadaku terasa sesak, tidak tahu kenapa aku merasa terluka dan kecewa akan sikap Adi yang tidak terus terang. Mungkin aku orangnya selalu terus terang, jadi aku marah merasa dikibuli atau di sepelekan. Aku akhirnya memutuskan Adi di black list dari pertemanan.


Sampai di rumah aku langsung naik ke atas, mengunci pintu dan menumpahkan kemarahanku dengan menangis. Puas menangis aku berendam di bathtube sambil relaxasi.


****


Bali lagi menebarkan pesonanya yang cerah, pagi ini walaupun masih jam enam lima belas menit, Matahari sudah bersinar terang. Udara hangat dan cenderung panas. Aku menyelesaikan sembahyangku dengan untaian tasbih yang terdengar merdu. Aku bersyukur atas segala anugrah yang aku terima.


Seminggu telah berlalu, aku mencoba menepis ingatanku kepada Adi dan aku menyibukkan diri dengan tugasku sebagai marketing. Sebagai lulusan Aminef aku lumayan banyak punya teman yang bergerak di Pariwisata dan menduduki jabatan di beberapa Hotel, jadi aku sedikit gampang untuk me lobby dan memasukan group baru ke Hotel.


Aku juga sudah membeli mobil supercar baru Mc. Larren seperti ke inginanku, sahamku aku lempar, aku rela begadang trading beberapa hari. Penampilanku sempurna dan semua orang berdecak kagum kalau melihat lahiriahku. Tapi jauh di lubuk hatiku aku sendiri merasa hampa.


Dengan menyibukan diri aku jadi lupa tentang masalah hidup yang kuhadapi.


"Tok...tok...tok....."


"Masuk...." sahutku pendek.


"Excuse me Nona, manager marketing memanggil Nona." seorang staf tiba-tiba masuk.


"Rupanya ada manager marketing, aku baru tahu. Waktu ini tidak ada, heran aku."


"Jabatnya juga baru, tanpa Ceremonial." sahut staf itu tertawa.


"Ok. aku akan kesana, trimakasih." kataku berdiri. Aku membayangkan manager marketing seorang ibu-ibu STW yang berdandan seperti sosialita. Setidaknya penampilannya begitulah.

__ADS_1


"Tok..tok...tok..."


Aku mengetuk pintu, tapi tidak dijawab. Aku masuk saja dan duduk menunggunya di sofa. mungkin dia di kamar mandi. pikirku. Sambil menunggu aku membuka ponsel pribadiku, mulai berkemunikasi lewat twitter dengan mamaku di Los Angeles. Saking asyiknya, aku sampai tidak menyadari bahwa ada orang berdiri. Aku kaget dan menaruh ponselku.


Belum hilang rasa kagetku badanku sudah direngkuh oleh badan kekar itu dan bibirku habis di acak-acak. Aku cepat menguasai diri dan menendangnya.


"Plokk...plokkk..." aku menampar pipinya.


"Bunuhlah aku, supaya kamu puas." katanya sambil memegang pipinya yang memerah.


"Apa maksudmu dengan semua ini." kataku hampir menangis.


"Aku bukan banci seperti tuduhanmu, aku tidak bisa menemuimu dan mengatakan semuanya karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu Qi." suara Adi bergetar.


Aku bengong, apa yang harus aku perbuat, semua begitu mendadak. Tadi adalah ciuman pertama dalam hidupku. Dan sekarang, Adi adalah orang pertama yang menembak aku. Lidahku tiba-tiba kelu.


Brengsek orang ini, jantungku jadi bergetar hebat dan nafasku sedikit sesak.


"Dengar ya aku sudah black list kamu dari pertemanan kita. Lebih baik kamu cari mangsa yang lain, aku bukan levelmu, aku wanita baik-baik."


"Yank, katakan kamu juga mencintaiku." katanya mendekat.


"Aku tidak mencintaimu." sahutku. Tapi Adi cepat memelukku dan menciumku. Aku tidak tahu harus bicara apa. Karena pengalaman ini membuat aku tidak tahu mana arah mata angin.


"Adi, bukankah kamu sudah ada pacar, kenapa kamu ini." kulihat wajah Adi merah. Akupun tidak perduli dan mau keluar, sayang tanganku kembali di tarik.


"Maaf aku mau kerja." tepisku. Adi mengajak aku duduk kembali dan mulai bercerita bahwa gadis itu kolega mamanya yang menjodohkan dirinya. Orang kaya!!. Aku sampai trauma setiap orang mau nikah isi embel-embel orang kaya kenapa ya?!!.


"Kamu adalah seorang genius, tolong kasi masukan supaya aku tidak jadi di jodohkan."


"Berhentilah meminta materi dari cewekmu dan tunjukan kamu mampu hidup sendiri." kataku memandangnya. Tanpak dia termenung.


"Apakah kamu sebagai manager marketing?" tanyaku sambil melihat name tag nya. Dia mengangguk.


"Apakah ini Hotel pacarmu?" tanyaku lagi.


"Hotel family." sahutnya tidak bergairah.


"Bekerjalah dengan tekun, kuasai bidang yang kamu kerjakan, setelah itu cari Hotel Chain."


"Kita tidak berpisah bukan?" tanyanya ketika aku bilang mau ke ruanganku.


"Tidak, kita teman sejati." jawabku dengan lirih. Kemudian aku keluar dari kamar Adi. Aku tidak tahu perasaanku, yang jelas ada rasa sakit. Sudah bisa dibayangkan mata staf mulai mengamati diriku. Aku tidak peduli, ketenanganku kembali terusik.

__ADS_1


Aku mengambil kunci mobil dan turun ke bassement. Hari ini tamuku dari Taiwan akan datang. Semua harus sudah ready, aku sendiri yang turun tangan ke Bandara menyambutnya. Sedangkan Bis Hotel di belakangku mengikuti. Tamunya sekitar seratus dua puluh lima orang, lumayanlah.


Aku menyusuri jalan by pass ngurah Rai, lagu you are the reason dari calun scott mengalun melow membuat hatiku gamang.


Sampai di parkiran Bandara aku melihat Adi keluar dari Bis.


"Kenapa kamu ikut kesini, kamu boleh di Hotel diam." kataku menatapnya.


"Boss menyuruh aku banyak belajar darimu, tamu kita hampir 100% sudah mencapai target maksimal." sahut Adi senang


"Aku bekerja memakai skill, bukan sekedar kerja. Kita harus bisa menunjukan bahwa kita mampu dan orang lain kagum akan pencapaian kita."


"Aku akan belajar darimu."


"Boleh saja, tapi mungkin aku tidak lama di Hotel ini." kataku acuh.


"Kenapa begitu, terus kamu mau kerja dimana? di Hotelmu?" tanya Adi bimbang.


"Aku ingin melihat mamaku di Los Angeles, aku sangat kangen." kataku mulai berjalan. Pesawat sudah landing, aku menyuruh seorang crew bis membawa tanda pengenal untuk menyambut group dari Taiwan.


Kami sudah memberi tamu duduk yang nyaman di bis, kemudian aku dan Adi naik mobil berdua mengawasi sampai di Hotel. Begitulah cara kerjaku, tidak duduk saja di balik meja, aku juga turun ke lapangan. Sehingga boss selalu memuji kinerjaku. Aku merasa nyaman bekerja, hingga suatu hari aku lagi asyik-asyiknya membalas email-email para tamu, pacar Adi datang berteriak-teriak.


Aku yang jarang panik memanggil scurity untuk menghalau gadis itu, aku tidak ingin di ganggu. Pekerjaanku membutuhkan konsentrasi, tapi cewek itu malah menunjuk-nunjuk aku dan mengatai aku wanita rendah yang tidak bermoral. Kami menjadi tontonan.


Kesabaranku hilang ketika dia melempari aku sepatu, aku langsung melejit naik, memutar badanku diatas, jungkir balik lalu aku menarik badannya dan melemparkan ke tembok. Tubuh itu jatuh tanpa tenaga.


"Apa maksudmu mengganggu ketenanganku." bentakku kasar.


"Kau merebut Adi dariku." teriaknya.


"Aku dengan Adi teman dari dulu, tidak ada yang merebut dan tidak ada yang mempertahankan. Jangan mencari kambing hitam untuk menutupi kehidakmampuanmu."


"Kamu berani melawanku, kupecat kau supaya kau kelaparan."


"Silahkan!, keluarkan SP dan cari kesalahanku." kataku menantang.


Para staf lain ada yang pro dan ada yang kontra. Dan mereka melerai. Aku banyak dinasehati mereka karena orang tua cewek itu ikut andil punya saham di hotel ini. Aku cuma tersenyum, aku tidak kagum. Bagiku bukan orang-orang begitu bikin kagum, orang yang punya dedikasi tinggi dan wawasan luas itu baru masuk hitungan.


"Aku peringatkan kamu, bahwa Adi calon suamiku." katanya jumawa.


"Aku tidak peduli." sahutku enteng. Banyak omongan yang tidak bermutu di lontarkan oleh cewek itu. Rupanya dia bekerja disini juga. Aku mulai tidak nyaman. Tapi aku harus betah untuk sementara waktu, karena aku tidak mau melanggar kontrak kerja. Semenjak itulah aku sering kena sindir dan mereka menganggap aku kerikil hitam dalam hubungannya dengan Adi. Tapi Adi tetap berjalan denganku.


******

__ADS_1


__ADS_2