
Mereka menoleh berdua dan menatapku dari atas ke bawah. Aku berdiri kaku ketika mereka berdiri dan mendekatiku perlahan.
"Nona Qirrera, sudah dari tadi? silahkan duduk. Kenalkan ini istri saya." Kata Pak Haji tersenyum. Aku kaget, terus Bu Mayang siapa? bathinku.
Aku duduk dengan rapi, di atas meja sudah banyak makanan dan minuman. Ternyata mereka memesan makanan Vegetarian karena ada label di atasnya. Pak Haji tahu aku Vegetarian mungkin dari CV ku.
Tidak mungkin seorang Konglomerat sembarangan menerima tamu, pasti sudah banyak pertimbangan yang sangat menguntungkan. Aku juga melihat sosok bodyguard yang duduk awas di titik tertentu.
Persoalan dia mengaku mengajak istrinya aku abaikan. Aku menepis rasa curigaku terhadap mereka berdua. Tentu aku tidak mau julid dan bersedia menyambut uluran tangan istri Pak Haji.
"Panggil saya Bunda." sahutnya ketika aku berjabat tangan. Aku menggangguk. Tidak tahu harus bicara apa.
"Kapan mau pulang ke Bali?" tanya Pak Haji menatapku.
"Setelah urusan saya selesai, tergantung keputusan Pak Haji."
"Saya dan Bunda sudah mempelajari Curriculum vitaemu dan beberapa lampiran yang menunjang. Saya pribadi sangat bangga terhadapmu. Masih muda sudah sukses. Yang membuat saya salut, kamu tidak fanatik dan menjadi donatur tetap di beberapa Panti asuhan. Tentu ini menjadi pertimbangan saya." kata Pak Haji serius.
Dia menatapku tajam kemudian melanjutkan bicaranya.
"Semoga Pak Haji bersedia menerima saya." sahutku seperti memohon. Aku merasa sikapku berlebihan dan lebay. Tidak biasanya aku begini.
"Saya akan menerimamu menjadi patner kerja dengan saham fifty-fifty di Perusahan Semeru Barito." katanya tersenyum.
Apa aku tidak salah dengar, mataku membulat dan aku memeluk Bu Haji.
"I'm so happy to hear all of this. this is a delightful gift." (Aku sangat gembira mendengar ini semua. ini suatu anugrah menyenangkan). kataku tersendat.
Aku melepaskan diri dari Bu Haji dan menghapus air mata bahagiaku.
"Trimakasih Pak Haji dan Bunda." kataku setelah agak tenang.
"Tapi semua ini ada syaratnya. Selama ini saya berdua merasa kehilangan anak. Dia pergi begitu saja tanpa uang sepersenpun. Dalam hal ini sayalah yang bersalah sebagai Ayahnya. Karena saya menikahi Bu Mayang." Pak Haji menarik nafas, dan mengambil tissue untuk menghapus keringat di wajahnya.
Aku melihat wajahnya muram, disini aku mengerti bahwa dia punya istri dua. Bunda berarti istri pertamanya. Walaupun sudah berumur tapi tetap cantik dan Anggun. Dia memakai pakaian tertutup dari atas sampai bawah. Maksudku memakai krudung.
__ADS_1
"Saya akan menikahkan anak saya denganmu supaya dia mau pulang dan kembali mengurus Perusahannya yang diakui oleh Sandy Perkasa. Saya tidak punya anak selain dia, apabila dia tidak datang mengambil haknya tentu semuanya akan hilang begitu saja. Kita tidak tahu umur, saya takut mati duluan." sambung Pak Haji.
Lenyap sudah kegembiraanku. Ternyata perjodohan ada dimana-mana. Hati kecilku langsung menolak. Bapaknya saja beristri dua, anaknya pasti playboy juga. pikirku.
"Maaf Pak Haji saya menolaknya. Saya lari dari Bali karena mau di jodohkan. Mungkin gadis lain bisa menerima permintaan Pak Haji. Saya tidak mau. Saya tidak sebaik yang Pak Haji lihat. Saya bukan gadis soleha, ini pembantu saya yang sibuk mendandani saya seperti ini. Biasanya saya berpakaian kekinian terbuka dan robek-robek." sahutku dengan nafas memburu.
Aku akan memperlihatkan sisi burukku supaya Pak Haji tidak jadi menjodohkanku. Pak Haji tersenyum tenang. Aku mendadak tidak simpati padanya. Ingin sekali aku lari dari hadapannya.
"Jangan cepat mengambil keputusan, ini cuma pernikahan palsu. Saat menikah yang hadir cuma walimu, kita dan Penghulu." kata Pak Haji Saleh berusaha menenangkanku.
"Ohh..tidak ada yang tahu? berarti aman. Aku kira banyak orang seperti pernikahan pada umumnya." sahutku tidak mengerti. Pak dan Bu Haji tersenyum lebar.
"Yang penting ada walimu, kecuali kamu mau bikin resepsi dan menikah beneran, baru kita gelar secara besar-besaran. Ini pernikahan bisnis." kata Pak Haji meyakinkan.
"Aku punya dua asisten, Maimunah dan Bu Zariatun apa boleh menjadi waliku?"
"Tidak boleh, yang boleh kakak lelakimu."
"Oohh..kak Leon? gampang itu. Aku undang dia kesini supaya jadi waliku." sahutku enteng.
"Tapi ini benaran cuma bohongan dan sepi dari berita?" tanyaku memastikan.
Pak Haji cuma mengangguk. Sebenarnya aku merasa curiga, karena mereka berdua saling memberi kode dan berbahasa daerah. Jangan sampai aku terjebak, aku kurang yakin.
Gimana ya, aku tidak mengerti sama sekali masalah menikah. Aku juga tidak mau membocorkan ini kepada Maimunah dan Bibik, mereka emberr...bisa saja mereka mengolokku dan cerita kepada Semeru. Bisa habis aku dihina oleh Semeru.
"Maaf Pak Haji kapan acara menikah palsu ini digelar?, saya ingin ada surat bermeterai yang menjelaskan bahwa ini pernikahan ....."
"Pernikahan Siri." potong Bu Haji.
"Owh..Siri? saya betul-betul tidak mengerti, terserah Pak Haji. Nanti saya akan memanggil kakak supaya datang kesini."
"Saya akan memanggilnya dan membiayai akomodasinya. Yang penting Nona siap. Kita akan adakan tiga hari lagi." kata Pak Haji tegas.
"Tiga hari? koq cepat sekali?"
__ADS_1
"Khan cuma nikah Siri, tidak perlu ada orang. Besok Nona akan di jemput oleh anak buah saya."
"Tidak perlu Pak, saya akan berangkat sendiri dan menginap di Hotel."
"Kalau begitu Nona saya jemput di Bandara. Supaya kita lebih akrab kamu memanggil Saya Bapak dan ini Bundamu. Kita saling memahami dan saling mendukung, katakan di depan apa unek-unek dihatimu. Jangan membiasakan menyimpan masalah."
"Ya Pak, maafkan saya kalau banyak yang saya tidak tahu, ajarin saya kalau salah, karena culture kita berbeda."
"Bundamu akan mengajarimu banyak hal, jangan khawatir, dia ahlinya."
"Trimakasih Pak dan Bunda saya seperti mendapat orang tua baru. I am very happy." kataku jujur.
Waktu dua jam bagiku sangat kurang, kami ngobrol asyik dengan joke-joke yang keluar dari bibir Pak Haji. Ternyata Pak Haji tidak seserius yang aku bayangkan, walaupun di dalam menerapkan bisnis dia terlalu saklek dan sedikit arogan. Aku menangkap emosinya terkadang meledak-ledak jika membicarakan lawan bisnisnya.
Manusia tidak ada yang sempurna, begitupun aku. Terkadang aku juga cepat emosi walaupun aku sering menyesali setelahnya. Banyak yang aku harus pelajari, orang hanya melihat Casingku saja, tidak mendalami sifat asliku.
Pulang dari Resto Kayu Watu aku tidak mau diantar oleh Pak Haji, aku lebih memilih naik Taxi yang bertebaran menunggu penumpang disana. Hatiku sudah lega setelah pembicaraanku deal dengan Pak Haji.
Sepanjang jalan menuju rumah aku banyak mengkhayal, bagaimana ya tampang anak Pak Haji. Kalau mirip Bapaknya pasti ganteng, tapi bisa saja dia mirip Nenek atau Kakeknya. Gimana kalau mirip tetangga? hehe...
"Nonaa.... ternyata sudah datang, apa Nona dijemput oleh Tuan Semeru?"
"Tidak Maimunah. Mana Bibik, aku membawa oleh-oleh yang banyak untuk kalian." kataku menyuruh Maimunah membawa oleh-oleh ke dalam.
"Nona banyak sekali dan sepertinya enak-enak. Saya mau bagi dengan Bu Poniyem sedikit, dia pasti lapar."
"Nanti dikasi ayam lagi, lebih baik tidak usah." sahutku sambil duduk di ruang makan.
"Saya yang membawa kesana, dia tidak mungkin membuangnya." kata Maimunah memilih beberapa menu untuk dibawa ke Ibu Poniyem.
"Terserahlah Bik, aku mau naik ke atas. Hari ini aku betul-betul capek dan ngantuk. Energiku habis. Salam buat Ibu Poniyem." kataku naik ke lantai atas.
Bibik dan Maimunah menatapku curiga, ntah apa yang mereka pikirkan. Padahal pertemuan dengan Pak Haji hanya dua jam. Bagaimana kalau seharian?
****
__ADS_1