
Senyum Chery mengembang ketika melihat korbannya terkulai lemah.
"Kerja yang bagus Alex, tolong bawa perempuan ini jauh dari pandanganku." kata Chery sambil mengeluarkan amplop coklat untuk Alex.
"Aku bayar tunai, lunas!!" kata Chery tertawa cekikikan.
"Garap dia sampai bengkok, jangan lupa Vidio polosnya." kata Chery.
"Siapp...aku akan memberi kamu hasil yang terbaik." sahut Alex mengacungkan jempol.
Alex menggendong tubuh Qirrera lewat jalan belakang. Sebuah mobil Jazz sudah menunggu dengan dua pemuda di dalam mobil. Seorang pemuda turun dari mobil dan membantu Alex.
"Teguh cepat sedikit, takutnya dia tersadar, dia pintar Kungfu." kata Alex.
"Kalau begitu kita ikat tangannya pakai tali sepatu. Tunggu aku membuka tali sepatu."
"Cepatlah......"
Alex buru-buru memasukan Qirrera ke dalam mobil Jazz. Teguh membuka tali sepatunya dan mengikat tangan Qirrera.
"Sudah selesai, kita lanjut." kata Teguh pindah ke jok depan. Mobil itu0 melaju kencang meninggalkan rumah Chery. Malam ini jalanan cukup ramai sehingga macet dimana-mana. Tapi akhirnya mobil Jazz itu kembali melaju dan berbelok ke sebuah rumah.
Mobil berhenti dan mereka turun. Alex keluar dari mobil. Tapi sebuah tendangan sudah mengenai wajahnya.
"Manusia iblis, apa lagi yang kau akan lakukan kepada seorang perempuan." kata Andre yang sudah berada disana dengan Chery.
Andre sebenarnya adalah spionase yang disewa kak Maya selama ini, jadi kemanapun Qirrera pergi dan apa yang Qirrera lakukan semua diketahui Andre. Ketika Qirrera diculik oleh Alex Andre sudah tahu karena Andre berada di parkiran menunggu. Cuma Andre menunggu Alex membawa Qirrera keluar dari rumah Chery.
Andre sengaja mencari Chery, pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Chery kita keluar yuk, ini ultahmu, aku ingin memberi hadiah istimewa padamu." kata Andre mendekati Chery di antara hiruk pikuk suara tawa dari teman-teman Chery.
"Andre...kirain kamu tidak datang, surprise banget. Ternyata kamu ingat ultahku." sahut Chery kaget. Pemuda yang dia idam-idamkan ternyata ada di depan matanya. Tanpa menunggu lama Chery sudah mengikuti Andre ke parkiran. Andre mengeluarkan kunci serep dan membuka mobil Qirrera. Bau parfum Baccarat tercium harum membuat Andre menggertakan giginya.
"Naiklah Chery cepat sedikit." kata Andre. Mobil Mc Larren itu akhirnya keluar dari rumah Chery menuju jalan raya. Andre yang menaruh alat sadap wirelless di tas Qirrera tahu kemana Qirrera diajak pergi.
"Kita kemana sayank?" tanya Chery manja.
"Ada deh." sahut Andre fokus dengan jalan di depan.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu menaruh hati juga padaku, selama ini aku merasa kamu cuek kepadaku." kata Chery mulai menata kata hati. Andre hanya tersenyum menanggapi ocehan Chery, dia hanya peduli dengan mobil Jazz yang berada jauh didepan.
"Saat ini aku lagi jomblo, aku bersyukur kamu datang dan mengisi hatiku. Akan aku serahkan semuanya, apapun yang kamu minta." sambung Chery lagi tidak bisa menahan hasrat yang bergolak di hatinya.
Mobil Jazz berbelok ke sebuah rumah, dan mobil Mc Larren itu juga berhenti di pinggir jalan raya. Andre menarik tangan Chery supaya masuk ke dalam.
"Andre kemana kita?" tanya Chery baru sadar setelah melihat Alex turun dari mobil. Tentu saja Chery kebingungan. Dengan manisnya dia lalu merubah sikap.
"Alex apa yang kamu kerjakan." teriakan Chery berbarengan dengan tendangan kaki Andre ketubuh Alex. Tahulah Chery tujuan Andre hanya ingin menyelamatkan Qirrera. Tapi dia pura-pura membela Qirrera.
"Astaga, kamu mau memperkosa Qirrera?" kata Chery lagi.
__ADS_1
"Teganya kamu mengkhianati kami, dasar perempuan busuk."" kata Teguh teman Alex menendang Chery.
"Aduhhh....awas kamu, teguh." seru Chery nungsep.
"Lepaskan Qirrera, kalau kalian ingin selamat." teriak Andre memukul Yoga teman Alex. Mereka bertiga sengaja menyandra Qirrera di dalam mobil.
"Andre jangan ikut campur, ini masalah kita dengan prempuan ini." sahut Alex.
"Aku adalah pengawalnya, wajar aku melindunginya."
"Kalau begitu lawan kami." kata Alex membalas setiap pukulan Andre. Mereka bertiga mengeroyok Andre.
Chery menangis histris, tapi Andre tidak mau menghiraukan drama dari Chery, dia terus memukul ketiga begundal itu sampai babak belur. Puas memukul mereka Andre lalu menggendong Qirrera dan membawa ke mobilnya.
"Andre jangan tinggalkan aku." kata Chery mengejar Andre.
"Chery, aku peringatkan jangan sekali-kali mengganggu Qirrera lagi."
"Tapi jangan tinggalkan aku."
"Chery pergi dari hadapanku, kalau tidak aku akan melaporkan kamu ke Polisi. Ini semua ulahmu dan ketiga temanmu." ancam Andre.
"Aku tidak ada ikut campur."
"Aku tahu semuanya, jangan sampai Ibumu juga aku seret ke Polisi."
"Manusia tidak punya hati, dasar licik kamu Andre." kata Chery sambil menangis.
Qirrera masih belum sadarkan diri ketika Andre memacu mobilnya dengan kencang menuju rumah. Gadis itu tertidur pulas. Andre sangat geram atas tingkah Chery dan teman-temannya. Seandainya dia terlambat pastilah Mbak Maya akan memarahinya.
Sampai di rumah Andre menggendong tubuh semampai itu sampai kekamarnya. Andre mengambil tissue basah dan membersihkan wajah Qirrera dan membuka sepatunya.
"Gadis bandel, kapan kamu tahu bahwa dunia ini sangat kejam." desis Andre menatap Qirrera yang mulai batuk-batuk.
"Kamu sudah sadar?"
"Dimana aku, kenapa bisa di rumah." ucap Qirrera bangun dari tidurnya. Andre tidak menyahut, dia membiarkan ingatan Qirrera kembali. Andre keluar dari kamar. Dia turun membuat susu hangat untuk Qirrera.
****
Seminggu telah berlalu, aku sangat bertrimakasih atas pertolongan Andre, kalau tidak ada Andre aku pasti sudah... tidak bisa kubayangkan jahatnya Chery. Pikiranku mulai terbuka, dan belajar hati-hati. Istilahnya aku mulai mendengarkan omongan Andre yang lebih dewasa.
Keadaan mulai normal kembali dan aku mengadu kepada kak Maya tentang kelakuan Chery. Tentu kak Maya sangat marah dan langsung menelpon Tante Yani. Tapi seperti biasanya Tante Yani selalu membela Chery dan mengatakan dirikulah yang bersalah.
Aku berusaha melupakan semua kejadian yang menimpa diriku dan bekerja dengan baik. Andre juga tidak lagi memojokkan aku. Dia memaklumi dan mengerti.
"Semua ini rekayasa Chery, dia menjebakku. Aku tidak mengenal teman-temannya." kilahku.
"Makanya kamu jangan bandel, kalau disuruh jangan pergi, turuti. Karena aku tahu mana orang jahat dan tidak."
"Yaya...mulai sekarang aku menuruti kamu." sahutku mengalah.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang perlu di perdebatkan, kecuali naik ke kamarku dan tidur.
Hari ini aku bangun kepagian, seperti biasa aku melakukan rutinitas setiap hari. Aku turun mengambil air mineral di kulkas. Ku dengar bibik sudah di dapur.
"Bik aku mau sarapan sekarang, aku mau pergi." kataku mencari Bibik di dapur.
"Pergi kemana?" tanya Bibik was-was, tentu dia dimarah waktu ini oleh Andre.
"Aku cuma mutar-mutar, hari ini aku libur, jadi aku ingin ke Pantai Pandawa melihat Matahari terbit."
"Non tidak usah jauh-jauh pergi, naik ke balkon, Nona akan melihat Matahari."
"Bibik, sekarang hari raya...banyak orang di Laut, aku ingin tahu keramaian itu."
"Itu..ramai sekali Non. Jangankan mau parkir mobil, jalan saja ngantre. Sangat ramai, laut dipenuhi lautan manusia. Bibik sudah pernah beberapa kali kesitu."
"Tapi aku ingin tahu, belum pernah aku melihat keramaian itu."
"Kalau begitu Nona harus bersama Tuan Andre, tidak boleh sendiri, berbahaya."
"Kenapa memanggil Tuan kepada Andre?"
"Owalah...itu sudah biasa, setiap anak muda bibik latah memanggilnya Tuan." sahut Bibik cepat.
"Bibik tahu Andre itu siapa?"
"Dia scurity disini Non, semua juga tahu." Aku tertawa. Benar juga, kenapa aku bertanya begitu. Memang terkadang aku ingin mencari tahu siapa Andre itu, masalahnya dia penuh mistri bagiku.
"Bik katakan aku pergi ke Laut." kataku berdiri.
"Jangan pergi Non, Bibik bisa dimarah Tuan Andre. Celaka Nona....."
"Ada apa ribut-ribut...." terdengar suara berat kepunyaan Andre di belakangku.
"Andre aku mau ke Laut. Boleh, gak boleh, pokoknya aku ke Laut." kataku berdiri.
"Ya aku anterin." sahut Andre pendek.
"Tapi aku ingin sendiri."
"Owh..mau tebar pesona, kalau gitu naik ke atas tidur."
"Ya dah, anterin....aku bukan bocil di anterin sana sini, aku sudah gede." sahutku kenceng.
"Tapi tingkahmu seperti anak kecil cepat ngambek."
"Aku begitu karena kamu jahat." sahutku dengan mulut mengerucut.
"Ayuk kita pergi." ajak Andre melangkah ke garasi.
Andre sengaja membuka atap mobil, hawa dingin merasuk tubuhku. Angin tidak begitu kencang. Lama kelamaan hawa menjadi sejuk dan lembut. Andre memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memilih Pantai Pendawa untuk bersantai. Aku sangat menikmati pemandangan Bali selatan. Begitu indah...sulit untuk berkata-kata.
__ADS_1
*****