
PULANG!! senang banget. Aku membawa banyak oleh-oleh pemberian dari Sandy dan mbak Mayang. Tiga tas besar, oleh-olehnya gratis, tapi berat beban yang membuat aku merogoh kocek untuk membeli kouta bagasi lagi 40kg. Asem!!.
Aku pulang tidak memberitahu Maimunah dan Bibik. Surprise, sebuah kejutan manis. Aku akan membagikan oleh-oleh ini kepada semua tetangga. Rasanya sudah tidak tahan. Isinya pasti camilan enak karena yang memberi orang kaya.
Sampai di depan rumah pintu gerbang tidak di kunci, aku langsung nyelonong masuk, kebetulan Bibik, Maimunah dan Semeru ada di teras depan.
"Nonaa..... kenapa tidak bilang mau pulang, saya bisa jemput." seru Maimunah kegirangan.
"Kenapa pintu gerbang tidak dikunci? bagaimana kalau ada maling masuk."
"Tangkaplah....." suara itu langsung membuat aku mendidih.
"Aku akan tangkap dan kutendang sampai Laut, puas kamu." sahutku melotot kepada Semeru.
Tumben dia diam, dia memandangku sekilas kemudian menunduk.
"Bibik buka saja oleh-olehnya di sini, aku malas membawa ke dalam." kataku menyuruh Bibik dan Maimunah. Aku duduk di Teras bersama mereka. Sebenarnya aku mau bikin iri Semeru.
"Tas pertama dibuka aku ingin tahu isinya." kataku sambil mataku melirik Semeru. Dia duduk tidak jauh dari kami.
"Lah..kenapa Nona tidak tahu isinya?" tanya Bibik sibuk membuka tas barang yang lumayan besar. Mereka tidak sabaran, aku juga kepo ingin tahu isinya.
"Ini semua gratis, aku dikasi oleh seorang pemuda kaya yang sangat ganteng." sahutku seolah sangat senang, padahal kalau ingat Sandy aku ingin muntah permanen.
"Aduh Nona..isinya semua pakaian aneh." kata Maimunah kaget. Aku juga kaget. Brengsek Sandy...tas itu isinya Lingerie, manusia genit. rutukku dalam hati. Aku malu dilihat Semeru.
"Huukkk...huukkk...." Semeru mendadak batuk. Aku tidak berani menolehnya, apa yang ada di otaknya saat ini. Dia pasti akan menghinaku. Kalian tahu Lingeriue bukhan? pakaian tidur yang minim dan sexy.
"Ohh...ini mbaknya yang memberi, sesama wanita terkadang pikiran kita sama. Kalau Bibik dan Maimunah mau silahkan ambil." kataku berkilah. Mulut boleh berkata manis tapi jantungku terasa ambyar.
"Saya tidak mau Nona, pakaiannya sangat seronok. Saya bisa digebukin satu desa pakai pakaian begini. sahut Maimunah kecewa melihat isi tas. Bibik juga bengong.
"Maimunah kalau nginap di Hotel sama cowok perlu memakai itu, ambilah itu semua." sindir Semeru menatapku sinis.
"Hati-hati bicara kalau ingin selamat, aku tidak sehina itu." samberku ketus.
"Bagaimana seorang cowok bisa memberi kamu Lingerie kalau tidak pernah dia melihat kamu memakainya?"
__ADS_1
"Bagaimana aku tahu, pikiranmu negatif melulu." sahutku esmoni.
"Dimanapun bangkai disembunyikan tetap saja bau."
"Apa sih maksudmu? aku benci padamu kerjanya menuduh saja. Aku disana berpakaian tertutup ngerti tidakkkk...." kataku setengah teriak.
"Tenang Nona...sabarr....." ucap Maimunah menyodorkan air mineral padaku.
Melihat mataku sudah berair Semeru diam seribu bahasa. Aku kesel banget sama Sandy... maunya bergaya di depan Semeru malah menjadi bumerang, aku di cemoh. Aku cepat menghapus air mataku dan berusaha tenang.
"Buka tas kedua Bik, jangan hiraukan orang sirik. Orang sirik tanda tak mampu."
"Ya Nona, jangan tawuran melulu...sabarrr."
Tas kedua dibuka, membuat aku kembali terpojok, isinya puluhan pakaian sexy yang mirip aku pakai saat berdansa dengan Sandy. Beckles warna merah dan hitam. Aduhh mati awak!!.
"Bibik itu dikasi sama mbaknya juga, simpan saja Bik." ledek Semeru. Aku cepat bangun dan menyerangnya. Sayang sekali Semeru dengan mudah meringkusku.
"Jangan mengelak dari fakta, jual diri tidak perlu jauh sampai naik pesawat, cukup di sekitar sini pasti laku." bisiknya terus mendorongku.
"Pergi kamu dari rumahku, enyahlah....." teriakku lari masuk ke dalam. Aku menuju kamarku dan meraung sedih. Aku benci sama Semeru dan Sandy. Seumur hidupku aku tidak mau bertemu dengan Semeru lagi. Pokoknya aku benci!!.
"Bik bakar semua pakaian itu, aku yang bertanggung jawab." kata Semeru dengan rahang mengeras.
"Koq dibakar, nona bisa marah besar. Ini pemberian pacarnya Nona."
Seperti minyak disiram bensin, Semeru tambah berkobar. Dia berdiri dan keluar dari rumah itu. Hatinya membara dengan tingkah tetangganya yang soq suci.
Aku yakin dia seorang wanita murahan, bisa saja pelakor atau semacamnya. bathin Semeru.
Zaman sekarang sangat sulit mencari pekerjaan, kalau tiba-tiba menjadi kaya raya dan bisa keliling kota tanpa bekerja, itu sudah jelas artinya.
Semakin dipikir, semakin membuat darah mendidih. Aku bukan cemburu melihat dia dikasih pakaian sexy oleh pacarnya yang dia bilang kaya raya, aku cuma muak melihat orang munafik. gerutu Semeru. Dia terus menggerutu sampai di rumahnya.
"Bu...kenapa bangun, sudah minum obat."
"Sudah Tuan saya sudah merasa sehat." sahut Bu Poniyem tersenyum.
__ADS_1
"Bu kalau tetangga sebelah memberi oleh-oleh jangan mau ya. Najis!!"
"Tapi tidak enak dengan Nona Qirrera dia orang baik. Saya tidak tega Tuan, Nona sudah tahu mana yang halal dan mana yang haram. Maimunah dan Bibik sudah mengajarinya."
"Kalau begitu terima saja nanti aku kasi ayam." kata Semeru kesal.
"Jangan Tuan kalau dilihat oleh mereka Nona bisa ngamuk kesini."
"Dia tidak mungkin kesini, aku tanggung jawab....." belum selesai Semeru bicara Maimunah sudah membawa bingkisan.
"Bibik ini dari Nona Qirrera, ini bermacam kue kering yang sangat enak."
"Nona sudah datang ya." sahut Bu Poniyem senang. Dia membayangkan nikmatnya makan kue bersama teh hangat.
"Sudah Bu, tadinya dia mau kesini sekalian menengok Bu Poniyem, tapi dia urungkan. Katanya dia seumur hidup tidak mau menginjak rumah ini." kata Maimunah melirik Tuan Semeru. Dia juga jadi kesal dengan Tuan Semeru yang membuat Nonanya menangis.
"Aku juga tidak mau nginjak rumahnya, jijik aku sama perempuan munafik. Suruh dia buka topengnya...."
"Elehh... Tuan banyak teori. Saya pulang dulu udah mau magrib." sahut Maimunah ngeloyor pergi.
"Tidak usah dimakan aku mau kasi ayam saja. Nanti aku ganti dengan kue yang lebih enak." kata Semeru merampas bingkisan itu dari tangan Bu Poniyem.
"Tuan jangan memperpanjang masalah, kue ini eman dibuang. Lebih baik kasi anak jalanan seandainya Tuan tidak suka."
"Aku mau kasi ayam supaya dia melihat betapa tidak berharganya dirinya dan kuenya, ...murahan." ucap Semeru mengambil tampah dan menaruh kue itu di atasnya. Bu Poniyem hanya bisa pasrah. Dia berharap supaya tetangganya tidak melihat perbuatan Semeru.
"Tuan mau magrib."
"Aku sholat dulu jangan dipindah kuenya dari tampah, habis Sholat baru aku kasi ayam." sahut Semeru masuk.kedalam.
Terkadang kita dikuasai oleh kesedihan hingga sampai pada tingkatan di mana kita lupa bahwa ada banyak hal dalam hidup yang bisa membuat kita bahagia.
Allah Maha Tahu atas segala perkataan yang tak terucap olehmu, kesedihanmu yang tak seorang pun melihatnya, dan penderitaanmu yang tak seorang pun tahu.
Air mata itu meleleh disaat Semeru merasa sudah berada di titik nadir. Dia kecewa kepada hidupnya, kecewa terhadap angannya.
Ya Allah kuatkan hatiku, jauhkanlah prasangka buruk dari benakku. Kata itu terlontar serak dari mulut Semeru. Dia tidak tahu perasaan apa yang menguasai dirinya. Kemarahan yang sangat membara dan menyoyak jantungnya.
__ADS_1
Kebenciannya kepada Qirrera sudah ada diambang batas, tidak perlu ada perdebatan untuk membuat prempuan itu terluka, cukup dengan perbuatan.
****