QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
HAMPIR SAJA


__ADS_3

Seketika pikiran senonoh Tuan Brata terbang disaat sebuah tendangan maut menghantam tubuhnya. Badannya terjengkang membentur tembok.


"Apa yang mau kau lakukan padaku." bentakku dengan nafas menderu. Aku memperbaiki letak bajuku. Kulihat wajahnya merah membara karena marah.


"Aku akan melaporkan tindakanmu." suara Tuan Brata bergetar hebat.


"Aku yang duluan melaporkanmu karena semua tindakanmu sudah terekam di ponselku." kataku asal bunyi.


"Kamu berencana memperkosaku dengan membubuhkan obat tidur di jus yang aku minum. Sayang sekali waktumu habis, sehingga rencanamu gagal total. Rasa hormatku hilang melihat kelakuan busukmu." sambungku lagi.


Dia berdiri dengan amarah dan malu, aku duduk dengan perasaan terguncang. Air mataku mengalir tanpa bisa ditahan. Untung tadi aku cepat sadar, kalau tidak, bagaimana nasibku. Aku merasa seolah hidup sendiri di Dunia ini, ingin rasanya ada seseorang yang melindungi diriku.


"Aku kesini untuk membayar hutang, tidak untuk berbuat mesum." kataku disela-sela tangisku.


"Bayar utangmu semuanya, terus enyah dari hadapanku."


"Seandainya pembicaraan kita sudah usai dari tadi aku sudah keluar."'


"Kamu transfer uang ke rekeningku nanti ada kwitansi elektronik yang mencatat."


"Tidak segampang itu, aku belum melihat sertifikat Villaku."


"Enyahlah kau...." bentaknya.


"Yaya....," sahutku lalu keluar dengan cepat dari Bar. Tidak mungkin aku mengikuti omongannya, sebelum Sertifikatku kulihat masih ada.


Aku memacu mobilku ke arah pantai Kuta, dan turun dari mobil. Ntah apa yang aku cari disini. Mataku jelalatan melihat pantai ramai sekali. Bule memenuhi pantai, ada yang berjemur atau surfing. Aku tertarik melihat ada dagang Teh Poci di kerubuti pembeli. Pikiranku langsung mau bikin dagangan Teh Poci.


Aku membuka ponsel mamaku dan mengirim kesepuluh orang yang minta pekerjaan kepada mama. Aku menawarkan untuk jualan teh poci. Dan respon mereka positif. Setelah itu aku browsing tentang seluk beluk teh poci.


"Aku mengundang kalian makan di IBC, kita akan bahas disana." kataku memberi pesan. Kemudian aku menutup ponselku. Aku sengaja mencari tempat diluar, karena aku tidak ingin kakak Leon ikut campur semua permasalahanku.


Aku melarikan Mini Cooper itu ke Renon, dalam perjalan kesana, mataku melihat kiri kanan tentang peluang usaha. Aku ingin mencari tanah kosong yang di kontrakan. Membangun usaha kuliner aku tidak bernafsu. Aku lebih memilih mencari lahan kosong untuk dibikin semacam pasar tumpah atau pasar tradisional.


Akhirnya sampai juga aku di IBC, orang-orang yang aku ajak makan tidak ada satupun aku kenal. Langkahku terhenti ketika namaku di panggil.


"Nona Qi, kami menunggu Nona dari tadi." kata seorang Ibu yang memperkenalkan dirinya bernama Ibu Ningsih.


"Maaf, aku baru datang." kataku memakai bahasa Indonesia patah-patah.


Aku juga menyalami yang lain satu persatu. Kemudian aku mengajak mereka masuk ke dalam. Tempat kami sudah di siapkan. Aku memilih ikan bakar, ikan pepes dan sayur daun labu, dan 10 gelas air jeruk hangat. Aku sendiri memilih jus dan roti ikan tuna. Mereka makan dengan lahap.


"Nona trimakasih telah menjamu kami, apakah Nona begitu saja percaya pada kami? bagaimana kalau kami melarikan rombong Nona." seorang pemuda bertanya sambil memandangku. Aku terkesiap atas pertanyaan itu. Satu rombong 7 juta sudah lengkap dengan segalanya. Lumayan kalau dicuri. Tapi aku berusaha berpikir positif.


"Aku sangat percaya sama Karma, aku yakin kalian tidak akan berbuat begitu. Walaupun kalian nekat ada hukum." sahut ku pendek.


"Ya Nona kami tidak mungkin berbuat begitu, lebih baik kami bekerja dengan baik.Selama Nyonya sakit kami kehilangan harapan, kami bersyukur di antara saudara Nona hanya Nona yang mau mendengar keluh kesah kami."

__ADS_1


"Maaf, kakakku bukannya tidak peduli mereka semua panik, mereka bertiga anak-anak manja. Mungkin mereka sulit berpikir."


Mereka mengangguk berbarengan. Kemudian kami membahas tentang gaji, mereka minta bagi hasil, bukan digaji seperti orang, Aku setuju dengan syarat bayar listrik dan bayar kontrak jualan, bayar bersama. Pokoknya kami deal.


Selesai makan aku berdiri dan melangkah ke kasir untuk membayar, hampir aku terpelanting karena ada kaki tiba-tiba ngalangi jalanku. Otomatis aku memaki karena kaget. Aku tambah kaget melihat siapa yang berdiri di hadapanku.


"Aku hampir jatuh tahu..." kataku sewot.


"Mana mungkin, aku sudah memelukmu." sahutnya tersenyum.


"Tapi aku benci padamu, kamu sengaja membuatku jatuh." kataku menuju manyun.


"Sorry...ayuk ke kasir." tangannya memegang tanganku.


Selesai sudah pertemuan hari ini, tinggal realisasinya saja. Rupanya pak sopir mengikutiku, aku baru memperhatikan, bahwa sopir ini ganteng juga. Dari penampilannya dia tidak recehan pakaiannya branded. dan kumisnya tipis diatas bibirnya.


"Mengapa kamu memandangku?" tanyanya ingin tahu.


"Aku berpikir bagaimana caranya menendang kamu dari hadapanku." sahutku ringan.


"Hehehe....kenapa WA ku tidak pernah kamu balas?"


"Kamu ada kirim pesan? banyak yang kirim pesan, aku tidak mood untuk membalas. Tunggu sebulan lagi baru ku balas."


"Ya Tuhan...kamu ini kenapa?" ucapnya bengong.


"Namaku juga kamu tidak ingat? terus yang ada di pikiranmu nama siapa saja?"


"Nama keluargaku, tidak ada yang lain."


"Baca WA ku, namaku Adi Prakoso."


"Ok. kalau aku ingat ya baca, kalau tidak maafkanlah aku."


"Kamu pasti ingat, udah aku jampi-jampi wajahmu." sahutnya tersenyum.


"Aku tidak mempan di jampi-jampi."


"Sampai dirumah kalau kamu membaca wa ku berarti kamu sudah di jampi-jampi." sahutku nya terkekeh.


Aku naik ke mobil meluncur ke jalan By Pass Ngurah Rai. Matahari sudah mulai condong ke barat. Aku merasa lelah lahir bathin, badanku sedikit menciut karena makan tidak teratur.


Akhir-akhir ini aku banyak keluar, mencari kerja. Aku menyebarkan lamaran lewat email ke sepuluh Hotel bintang empat. Setelah seminggu aku baru menerima tawaran test dari tiga Hotel. Disini aku memilih menjadi Supervisor dan menantang gaji delapan juta perbulan, belum servis.


Wajahku yang bule, bahasa Inggris fasih dan tamatan luar negeri membuat aku cepat mendapat pekerjaan. Aku memilih menjadi HRD, tapi ada satu hotel menyuruh aku bagian marketing. Berarti aku bisa sering keluar Negeri. pikirku. Aku ingat sama mamaku yang di Los Angeles, ada rasa kangen yang menyeruak. Dia begitu sayang padaku. kapan aku bisa bertemu.


Sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar mama, aku lihat istrinya kak Leon memandangku curiga. Aku tidak peduli.

__ADS_1


"Qi ...tiap hari mbak lihat kamu pergi, apa urusanmu diluar? jangan sampai kamu membuat ulah, kita harus jaga nama baik keluarga."


"Aku melamar kerja, jangan khawatir mbak aku tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak. Apalagi menjatuhkan nama baik keluarga."


"Melunasi hutang satu miliar bukan perkara mudah, jangan sampai kamu menjual tubuhmu." kata mbak Lastri lagi. Aku menarik nafas, berusaha sabar dan maklum apa yang dia pikirkan. Dengan telaten aku memijit kaki mama.


Kak Leon masuk ke dalam kamar, matanya tajam memandangku.


"Kak Leon aku mau menjual mobil Mini Cooper, uangnya aku pakai nambah bayar hutangnya. supaya cukup untuk membayar hutang. Rencananya aku mau membeli motor saja." kataku ketika kak Leon duduk disamping istrinya.


"Terserah kamu saja, yang penting jangan coba-coba minta uang lagi."


"Aku sudah dapat kerja sebagai Marketing jabatannya supervisor di Hotel bintang empat."


"Kenapa kamu harus cari kerja keluar, di hotel kita bekerja kan kebih afdol."


"Tidak kak, aku memilih pengalaman di hotel bintang empat dulu, kalau sudah faham aku bisa meloncat ke bintang lima."


"Terserah kamulah." sahut kak Leon pendek Akupun permisi naik ke kamarku.


Kak Leon seolah tidak peduli terhadap diriku atau apa yang aku kerjakan. Padahal untuk membayar hutang satu miliar sangat gampang. Mobil dijual satu sudah beres. Aku meraih ponselku ketika berbunyi.


"Kapan bayar hutangnya cantik.....". wajah Tuan Brata terpampang dilayar ponsel.


"Aku bayar setengah dulu, setelah mobilku laku aku lunasi semuanya."


"Cantik, temani aku semalam saja, semua akan lunas. Itu penawaranku, kebetulan sekarang malam minggu kita bisa menyewa Hotel Bintang lima. Bagaimana menurutmu.".


"Maaf Tuan Brata anda salah sasaran, aku minta siapkan waktu Tuan, aku mau membayar utang."


"Kamu membuat aku menggila, apa yang harus aku lakukan supaya kamu menjadi milikku."


"Tidak ada. Janganlah bermimpi." sahutku mengakhiri vidio call tersebut.


Aku melempar ponsel mama ke Kasur. Aku rasa ponsel ini paling sibuk. Tidak berhenti berbunyi. Aku jadi gregetan. Mamaku termasuk betah. dan sabar meladeni mereka. Kapan hari aku mau menghapus beberapa kontak tapi dilarang sama kak Leon.


Rasanya kalau badan nempel di kasur malas sekali diajak mandi, aku merasa tidak enak badan.


Aku buru-buru membuka wa sopir grabb, tadi.


"Maafkan aku, lupa membuka wa mu. Aku merasa meriang tidak enak badan." tulisku.


"Aku akan mengantarmu ke dokter, turunlah, aku tunggu di luar." balasnya.


"Yaya...."


****

__ADS_1


__ADS_2