QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
ANDRE


__ADS_3

Sudah pukul 21.45 wita, aku bersiap pulang. Hari ini pekerjaan padat, aku baru bisa menyelesaikannya. Para staf pasti sudah semua pulang, aku termasuk yang paling belakang.


"Sudah mau pulang?" aku kaget ada yang menegur.


"Kamu bikin kaget saja, kenapa ada disini?" tanyaku melihat Andre.


"Ayuk pulang." ajaknya tanpa mengindahkan pertanyaanku.


"Tapi...tapi....kenapa kamu berada disini." tanyaku penasaran. Dia tidak menjawab.


Aku cuma mengekor saja, tidak tahu harus berkata apa. Berani dia menyuruhku. Dasar brengsek. pikirku.


Sampai di Lobby aku berdiri diam, hujan sangat deras. Dengan sigap dia memayungi aku dan mengajak ke Mobil.


"Jangan ngebut, jalanan licin. Jangan juga lewat toll, lewat jalan biasa saja." katanya menyuruh aku pergi.


"Kamu pulang dengan siapa?" tanyaku tanpa sadar.


"Aku mau beli makan dulu, di rumah tidak ada makan. Sebentar aku menyusul." sahutnya.


Aku tidak menjawab supaya tidak banyak salah bicara, nanti dia kira aku mengharap atau senang dengannya. Amit-amit.


Hujan semakin deras aku memang hati-hati memacu mobilku, angin juga agak kencang dan banyak Baleho yang rebah. Akhirnya aku sampai juga di rumah dan di belakangku mobil Lamborghini mengikutiku. Tentu aku sangat kaget karena Andre naik mobilku. Kapan dia belajar naik mobil supercar? Aku cepat-cepat masuk rumah dan menunggu Andre masuk.


"Kenapa kamu memakai mobilku?" tanyaku marah. Sebenarnya aku merasa marah karena di bodohi. Dia pura-pura tamatan SMP. Tadi kucium bau badannya wangi parfum Bvlgari menyebar. Aku tahu parfum asli atau KW.


"Mobil cuma ada dua, kamu bawa satu terus gimana aku menjemputmu." sahutnya berdalih.


"Kenapa kamu tidak memanggilku Ibuk, kenapa beda."


"Karena aku sudah bosan manggil Ibuk, maunya beda."


"Dasar pembohong, siapa kamu sebenarnya."


"Duduklah di meja makan, kita makan sambil mendengarkan ceritaku." katanya. Dia membuka kotak salad, membuatkan aku susu hangat. Aku tambah curiga, kenapa dia tahu kesukaan makananku.


"Makanlah." katanya. Dia juga makan nasi goreng dan teh hangat.


"Ceritalah, tadi kamu janji cerita." tuntutku.


"Tidak boleh makan sambil bicara, tidak baik." sahutnya. Mulutku langsung manyun.


"Cepat makan, habis makan baru cerita." sambungnya lagi. Aku cepat menghabiskan makan berharap dia bercerita. Selesai makan dia berdiri.


"Sekarang naik, mandi air hangat. Langsung tidur, jangan begadang." katanya membuat aku kesal dan mataku melotot.


"Aku benci padamu....benciiii...." kataku menghentakan kakiku. Ingin aku mencakarnya dan menendangnya, tapi dia sudah menghilang dari hadapanku. Aku gondok banget di bodohin. Aku berharap bisa membalasnya di kemudian hari.


Tumben hatiku kesel begini tanpa bisa membalas, dimana kampret itu tidur, ingin aku isi semut rang-rang ranjangnya supaya dia kesakitan. Aku mengkhayal sambil tertawa di setiap rencana jahatku. Dia telah membuat aku kesel, aku akan bikin dia juga kesel.

__ADS_1


Tadi malam aku tertidur pulas, mungkin karena sangat capek. Hujan sudah reda, Matahari mengintip dari balik daun-daun Bougenvil. Aku turun karena sudah selesai sembahyang. Sekarang aku mau sarapan setelah itu kerja.


"Bibik...kenapa sepi sekali?" tanyaku mencari Bibik Inah di dapur.


"Anu Non...pohon mangga di Villa belakang roboh, Bulenya komplain, jadi Andre yang kesana sama Pak Made." ucapnya khawatir.


"Mereka naik apa kebelakang, jaraknya jauh begitu."


"Naik motornya Pak Made, mana kuat berjalan jauh begitu." jawab Bik Inah.


"Aku akan melihat kesana ya." kataku ingin melihat Andre kerja. Dia bilang bisa bahasa Inggris, aku ingin melihat dia berbicara dengan Bulenya.


"Jangan Nona berbahaya, angin masih kencang."


"Aku naik sepeda." kataku berlari ke garasi mengambil sepeda gunung. Aku menggenjot sepeda dengan kencang, cukup jauh juga. Kenapa Mama membuat Villa jauh begini. pikirku.


Sampai disana aku turun sambil mengatur nafas. Kulihat Andre di atas memotong dahan-dahan pohon, sampai gundul. Rupanya semua pohon dia bersihkan. Aku jadi kasihan, hasrat balas dendamku lenyap sudah. Bulenya duduk jauh, mereka bergerombol. Disini ada lima Villa yang biasa di sewa oleh Bule-bule.


Melihat aku, Andre cepat turun dari pohon dan menghampiriku. Dia memakai celana pendek dan kaos oblong. Badannya terlihat sangat kekar dan sexy. Aku cepat membuang muka, takut ketahuan mengagumi badannya.


"Kenapa kesini berbahaya, banyak semut rang-rang." katanya sibuk menghalau semut rang-rang yang menempel di bajunya.


"Aduhh...banyak banget semutnya." kataku terpekik ketika kakiku juga digigit binatang merah itu. Aku baru sadar ternyata banyak semut rang-rang.


"Makanya jangan kesini, cepat pulang." sahutnya sambil mengambil semut di rambutku. Aku berlari menjauh.


"Sana pulang, nanti terlambat kerja. Aku masih lama pulang, banyak yang harus di kerjakan." katanya membalikkan sepedaku.


Aku bersiap kerja, perasaanku tidak enak meninggalkan Andre kerja tanpa minum. Tidak mungkin Bibik membawa minum sejauh itu, kenapa tadi aku tidak kepikiran membawakannya minum. Bodohnya aku.


"Bibik, aku mau berangkat kerja tolong siapkan sarapan untuk mereka berdua." kataku kepada Bibik Surti yang berada di Dapur.


"Sudah selesai Non,mereka masih mandi. Sudah saya siapkan sarapannya."


"Syukurlah. Aku mau ke Luar Negeri untuk seminggu, titip rumah ya Bik. Ini bawa uangnya, kalau ada keperluan mendadak." kataku memberi bibik uang satu juta.


"Ya Non...hati-hati di jalan."


Kepergianku ke Luar Negeri membuat Andre mulai ber inovasi merubah semua interior ruangan dan membuat taman kecil serta kolam ikan koi yang indah. Tidak lupa Gazebo tempat duduk-duduk santai di samping kolam. Andre sengaja membeli pohon mangga "gedong" yang sudah berbuah di letakan dalam pot antik. Dan beberapa pohon Bonzai. Tidak tahu kenapa dia berbuat itu.


Seminggu sebelum kedatanganku dari Luar Negeri pekerjaan itu sudah selesai, Andre bangga melihat hasil dari kerja keras orang-orang yang dia sewa. Rumah mewah itu tambah anggun dan romantis, permainan lampu membuat rumah itu seperti Hotel bintang lima.


Pulang dari Luar Negeri aku sangat kaget. Suasana rumah sangat berbeda, dan segala sesuatu tertata rapi dan bersih. Aku sangat bangga tentunya, tidak habis-habisnya aku memuji pekerjaan Andre.


"Bukan aku yang mengerjakan, kebetulan ada teman arsitek yang ingin inovasi baru, aku suruh dia menggarap." kata Andre ketika aku bertanya siapa punya ide cemerlang ini. Aku mengangguk pura-pura percaya atas penjelasan Andre.


"Berapa upah mereka semua?"


"Gratis! orang anak buahnya lagi PKL. tapi sekarang sudah selesai PKL." jawabnya mengunci.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu temanmu dan bertrimakasih. Aku ingin memberi dia sekedar hadiah."


"Dia sudah pindah dari Bali, orangnya nomaden." sahutnya sibuk melihat ikan koi yang berlarian.


"Aku merasa beruntung, semoga ada temanmu yang nomaden lagi, yang bisa memberi keberuntungan untukku." sahutku menyindirnya. Dia tersenyum miring, tidak peduli ocehanku yang meragukan omongannya.


"Berapa umurmu Qi." tanyanya tiba-tiba menatapku.


"Hee..koq manggil namaku tidak sopan, panggil Nona gitu....."


"Ya Nona Qi yang cantik." katanya membuat aku tertawa akan ulahnya.


"Aku sudah gede, sekarang umurku 19 tahun sebentar lagi 20 tahun."


"Kamu masih kecil, hati-hati bawa diri dan jaga kesehatan."


"Apa maksudmu berbicara begitu?"


"Maksudku kamu masih bocil."


"Aku sudah besar, sudah besar....." sahutku tidak senang dibilang bocil.


"Kalau sudah besar boleh pacaran berarti, gimana kalau kita pacaran?"


"Andre beraninya kamu berkata begitu padaku. Aku ini bossmu......"


"Banyak boss pacaran sama sopirnya, sama pembantunya."


"Aku pengecualian, aku harus se marga dan aku orang ninggrat, karena aku harus melahirkan Trah Wansa."


"Yaya...siapa tahu kita jodoh."


"Tidaakkkkk......kamu tidak boleh jadi jodohku, aku bisa di gebukin satu desa. Semoga mimpimu tidak menjadi nyata."


Dia cuma tersenyum melihat tingkahku.


"Andre, berapa umurmu?" tanyaku iseng.


"Sebaya kakakmu pertama." sahutnya membuat aku bengong. Aku berpikir kak Maya sudah berumur 30 tahunan. Aku tidak begitu hafal umur kakakku karena jarakku jauh. Maklumlah aku anak pungut.


"Andre kamu tahu kalau aku anak pungut?"


"Tidak!!" sahutnya tersenyum memandangku.


"Aku yakin kamu tahu." kataku merenggut.


"Ku kira satu Desa tahu, apa ada masalah." ucap Andre enteng.


"Tidak ada masalah, cuma aku tidak mau menikah dengan siapapun juga. titik!" kataku melenggang dan masuk ke dalam rumah. Mungkin Andre tidak peduli dengan ocehanku, matanya jauh memandang ke depan. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

__ADS_1


****


__ADS_2