
"Masa nifasku habis seminggu lagi, berarti aku sudah boleh keluar bekerja. Aku ingin kamu menulis surat wasiat bahwa semua kekayaanmu diserahkan kepada anak kita, aku juga akan menulis begitu, Bunda juga." kataku lembut.
"Tentang itu beres, tapi rumah yang ditempati Mayang masih menyatu sertifikatnya dengan tanah perusahan, aku mau mengurusnya tapi belum ada waktu." hemm, sekarang dia memanggil ****** itu, Mayang. jelas tidak ada waktu karena kamu bergumul terus. bathinku marah.
"Tidak masalah, nanti aku bikinin ****** rumah mewah seperti istana, siapa tahu dia mau menikah dengan brondong atau suami orang." kataku tenang.
"Kamu baik sekali mau bikinin dia rumah, baguslah. Soalnya rumah disitu tidak terurus karena terlalu luas dan agak kuno, dia ingin yang megah seperti Hotel." kata Semeru tidak tahu malu.
Dalam hatiku aku mengutuk mereka berdua. Segala sumpah serapah ingin aku lontarkan. Tapi aku tahan walaupun dada terasa perih.
"Rupanya perempuan kerak neraka itu punya juga keinginan, suruh jual diri saja supaya bisa punya rumah." sahutku ketus.
"Jaga mulutmu jangan sering menghina orang, kita tidak bisa melihat casingnya saja, kita perlu menyelami jiwanya." sahut Semeru tidak senang gundiknya di hina.
"Hahaha...suamiku sekarang ini sudah menjadi orang yang bijaksana. Suami siaga....."
"Aku banyak belajar dari stafku, dia sering menasehatiku supaya menjagamu, menyayangimu, bersabar bila kamu marah, dia sangat mengayomi. Aku seperti mendapat teman baru yang sangat memperhatikan hidupku."
Aku tersenyum getir, seorang pelakor akan merubah diri seperti dewi khayangan supaya mendapatkan apa yang diingini.
Mayang bagaikan ular python yang mengukur badan Semeru setiap saat, setelah pas dengan perutnya, ular itu akan memangsanya tanpa sisa.
Aku tidak heran Semeru klepek-klepek di ketiak si ******. Perempuan itu sangat ahli di dalam menundukkan lelaki. Bapak dan anak disapu bersih olehnya. Jika Bunda tahu aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Semeru pagi-pagi sudah pamit mau pergi ke perkebunan, durasi bertemu dan berkomunikasi denganku sangat sedikit. Yang membuat aku masih kagum padanya adalah sholatnya. Walaupun dia baru tidur, dia akan terbangun tepat waktu, kemudian tidur lagi.
Aku sering berpikir dan khawatir kalau perselingkuhannya tercium masyarakat, bisa hancur bisnisnya. Sedangkan perusahanku baru memberi bantuan dana segar dua puluh milliar. Aku takut dana itu pindah sedikit demi sedikit ke kantong Mayang.
Sangat sulit menemukan cara jitu untuk keluar dari masalah ini. Semeru semakin hari semakin aneh kelihatan. Ponselnya terkunci sekarang dan tidak pernah lepas dari tangannya. Dia sering melamun dan pergi mendadak.
Otakku buntu, tidak ada jalan lain selain aku mengadukan masalah ini dengan Bunda. Hari ini aku berencana melihat Bunda, aku akan terus terang kepadanya, mungkin Bunda punya jalan keluar yang bagus.
"Vidae, aku mau ke Bunda sekarang, aku titip Sagara ya."
"Ya Nyonya." sahutnya sopan.
Langkahku mantap ke rumah utama, badanku terasa ringan karena semakin kurus, aku tidak enak makan.
__ADS_1
Setelah aku mengucap salam aku langsung masuk ke ruang pribadi Bunda.
"Qi.. kamu kelihatan sangat kurus dan pucat, apa kamu sering begadang?" tanya Bunda kaget melihatku.
"Bunda, aku ingin berbicara serius." kataku tanpa tedeng aling-aling.
"Ada apa sayank?" tanyanya khawatir. Bunda menatapku cemas.
Dengan sopan aku duduk disamping Bunda. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, perlu jiwa besar untuk membeberkan kelakuan Semeru. Ku telan air mataku supaya tidak menangis.
"Bunda, suamiku berselingkuh." kataku datar. Aku menunggu reaksi dari Bunda.
"Tidak mungkin sayank, dia sangat mencintaimu."
"Aku tidak akan berkata sebelum ada bukti, jika Bunda tidak percaya aku akan membuka bukti." sahutku mengeluarkan ponselku dari tas.
"Sebenarnya masalah ini aku mau selesaikan sendiri, tapi pikiranku buntu. Aku perlu kekuatan dari Bunda."
"Sayank, sabarlah. Yang kita lihat belum tentu benar, banyak yang tidak senang pada kita jangan sampai kita diadu domba dengan orang lain."
"Aku mengerti Bunda." kataku hampir menangis.
"Kurang ajar, perempuan laknat. Tidak habis-habisnya dia menyakiti keluarga kita." umpat Bunda marah.
"Apa yang harus kita lakujan supaya masalah ini tidak ada yang tahu, kalau kita labrak dia dan mengambil Semeru perempuan ini pasti skan menyebarkan vidio kedekatan mereka. Perusahan kita hancur Bunda." jelasku sedih.
"Pikiranmu panjang sayank, Bunda bertrimakasih padamu, kamu begitu sabar dan tabah. Tidak salah Ayah memilihmu sebagai pewaris." jata Bunda tersendat. Aku merasa dia sangat terpukul.
"Bunda, tanpa sepengetahuanmu aku memberi dana segar kepada Perusahan Semeru, aku tidak menyangka kalau Semeru akan berbuat begini."
"Kita semua tidak menyangka, hanya Allah yang bisa menolong kita keluar dari kemelut ini."
"Aku ingin meninggalkan ini semua dan pergi keluar Negeri, hidup bersama anakku. Harta tidak nembuat aku bahagia, aku bosan."
"Kamu tega meninggalkan Bunda? Perusahan bisa hancur di tangan Semeru. Jangan pisahkan Bunda dengan Sagara."
Bunda terus menangis, bebanku terasa sangat berat, aku sayang Bunda tapi aku benci hidup bersama dengan Semeru.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Mayang kita lenyapkan dari muka bumi ini?" tanya Bunda seolah menemukan jalan.
"Kita bukan mafia, aku tidak setuju. Mereka berdua yang bersalah, seharusnya beri efek jera untuk mereka. Kalau Mayang saja yang kita hukum, Semeru merasa aman dan dia akan mengulangi kebejatannya di kemudian hari."
"Benar juga, kita kesana berdua dan pastikan tidak ada yang tahu." usul Bunda.
"Mungkin itu jalan yang terbaik, kita akan datang disaat mereka memadu kasih, setelah itu kita usir mereka berdua." kataku.
"Bunda tidak tega mengusir anak, kita akan mengusir perempuan itu saja, biarkan Semeru kembali kesini. Bunda rela semua hartanya kamu ambil, tapi biar dia disini. Maafkanlah dia." kata Bunda membuat aku bungkam.
"Selama ini Bunda juga pernah mengalami masalah begini, tapi Bunda memaafkan Ayah. Akhirnya kita hidup baik-baik saja."
"Maaf Bunda, aku manusia biasa tidak sebijaksana Bunda. Aku tidak bisa menerima Semeru kembali, biarlah aku hidup dengan anakku." katakh tegas.
Bunda memandangku tajam lalu berkata,
"Kamu boleh pergi asal sendiri. Tinggalkan semua apa yang pernah kamu dapat dari ayah."
"Bunda, aku akan mengembalikan semua yang aku terima dari Ayah, tapi aku tidak bisa berpisah dari anakku."
"Kalau begitu tinggalah kamu disini, urus Perusahan dan hidup bersama Bunda."
"Aku tidak ingin melihat Semeru, hatiku hancur. Tidak mungkin aku bisa kembali." sahutku keukeuh.
"Semua harta ini skan menjadi milik Sagara, apa kamu tega membiarkan hancur?"
Aku menunduk, apa yang harus aku lakukan.
"Aku akan berpisah dengan Semeru dan tinggal di perkebunan, sedangkan Semeru mengurus Perusahan disini supaya dia bisa dekat dengan Bunda. Aku mengurus Perusahan di perkebunan. Bunda bisa setiap saat menengokku dan Sagara, tapi aku tidak akan pernah datang kesini."
"Ribet banget, jangan pisahkan Bunda dengan Semeru dan Sagara."
"Bunda Sagara masih bayi masih perlu asi, aku tidak memisahkan...."
"Stop Qi, Bunda tidak ingin mendengar usulmu, kamu harus bersatu kembali." kata Bunda kembali menangis.
Susah kalau begini, lebih baik aku bertindak sendiri yang penting Bunda sudah tahu tingkah anaknya.
__ADS_1
*****