
Terluka tidak harus melulu karena cinta, terkadang melepaskan apa yang tengah di genggam sekian lama adalah suatu pilihan yang paling baik.
Semeru tidak menanggapi ocehanku yang lagi diserang cemburu buta oleh tingkah Bu Mayang. Dia menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Aku heran kenapa sikapnya berubah.
"Biasanya kamu marah padaku, kenapa sekarang kamu tenang, apa karena mantan pacarmu. Cinta lama bersemi kembali." grutuku.
"Aku sangat bersyukur kepada Allah, bahwa seorang Qirrera akhirnya bisa mencintaiku. Aku pernah merasa minder berada dihadapanmu, kamu begitu cantik, kaya, terkenal dan sukses."
"Jangan lupa aku tidak tersentuh oleh laki-laki lain selain dirimu, tidak seperti mantanmu, murahan."
Ibaratnya motor aku terus main srempet apapun yang dia katakan. Aku mendengar Semeru menarik nafas panjang mungkin dia lelah mendengar ocehanku yang terus menyentil Bu Mayang.
Akhirnya mobil berbelok masuk kerumah Semeru. Suasananya sudah sepi. Aku langsung turun dari mobil tanpa menunggu Semeru membukakan pintu.
"Tunggu yank...aku membawa kopernya." kata Semeru mengambil alih koper di tanganku.
"Gak usah, aku sudah biasa mandiri tidak seperti mantanmu yang lebay....." sahutku menepis tangannya
Aku mempercepat jalanku biarpun aku memakai high heel tidak masalah. Semeru tersenyum melihat tingkahku. Sehabis menaruh barang-barang aku ke kamar mandi mengganti pakaian dan tidur miring menghadap tembok.
Sebenarnya aku ingin terus marah tapi Semeru tidak peduli, dia membersihkan diri, mematikan lampu kamar dan mengganti lampu tidur. Lalu naik ketempat tidur. Aku tunggu dia memelukku karena aku sudah bersiap akan menolak badannya, tapi Semeru tidak melakukan apapun.
Serta merta aku berbalik dan melihat dia tidur miring. Tentu saja aku tambah curiga, biasanya seorang suami akan menggebu-gebu baru bertemu dengan istrinya, tapi mengapa Semeru cuek?
Aku memandangi punggungnya dan perlahan beringsut mendekatinya. Jari kakiku menyentuh kakinya, tidak ada reaksi aku lebih berani dengan menjulurkan tanganku mengentuh punggungnya, dadanya, tidak ada reaksi.
Aku setengah diduk dan menengok wajahnya dan uuppss....
"Dapattt....mau lari kemana...." kata Semeru tertawa. Ternyata dia menjebakku.
Semeru menjepit tubuhku, aku bisa saja menendangnya tapi aku tidak tega. Kasihan juga Semeru, aku juga tidak ingin dikatakan istri durhaka. Maka malam ini aku lewatkan dengan penuh kenikmatan.
*****
Tujuh bulan telah berlalu, kehidupanku dengan Semeru sangat berwarna. Keluarga kecilku menjadi Idola banyak orang, walaupun aku seorang mualaf, tidak ada yang merendahkan dan sengaja mencari keburukanku, malah mereka mengajariku banyak hal yang belum aku mengerti.
__ADS_1
Sebagai seorang istri aku juga belajar bersabar dan menjadi istri yang soleha untuk suami. Sepanjang ini Semeru puas dan sangat menyayangiku, apalagi dia tahu aku sudah mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Sayank, kamu harus lebih banyak istirahat, perutmu sudah semakin besar, aku takut terjadi sesuatu." kata Semeru mengelus perutku.
"Tidak apa-apa aku masih kuat, aku cuma mengintruksikan saja, semua pekerjaan dipegang Divisi masing-masing. Aku malah mengkhawatirkan perusahanmu yang sekarang sahamnya sering menurun."
"Semua ini gara-gara harga kelapa sawit anjlok di pasaran." sahut Semeru.
"Jangan menunggu, kamu harus punya ide lain untuk mendongkrak harga supaya bisa kembali eksis. Misalnya dengan mengeluarkan satu produk yang bahan bakunya dari minyak kelapa sawit. Aku akan membantumu dengan cara endorse."
"Bantulah aku, para buruh terus demo karena gajinya terpaksa di pangkas."
"Itulah kesalahanmu, kita adalah seorang konglomerat, berlimpah uangnya. Sebagai pimpinan kita harus loyal kepada anak buah, kesejahtraan buruh nomor satu. Kesehatannya, upah dan tunjangan itu harus di perhatikan. Naik turun harga kelapa sawit itu sudah biasa, asal upah buruh tetap lancar. Pas turun kamu potong upah buruh, tapi pas naik kamu tidak memberi service."
"Itu bagian accounting yang mengatur semua upah buruh."
"Sayank, Apa boleh aku ikut campur? kalau kamu mengizinkan, aku akan sidak para mandormu dan membuat buku besar yang transparan. Aku banyak melihat manipulasi di perusahanmu."
"Kamu lebih tahu dariku, tentu saja aku mau. Aku ingin supaya para buruh tidak demo terus, takut memakan korban."
Aku yakin waktu Sandy menjabat CEO, dia banyak mencuri uang perusahan. Stafnya serta Mandor juga ikut korupsi, buruhlah yang menanggung akibatnya.
"Dreettt...dreettt...dreettt..." ponsel Semeru bergetar. Dia cepat mengambil ponselnya.
"Apa? yaya aku akan datang." sahut Semeru menoleh padaku.
"Yank, aku mau ke perkebunan. Buruh demo lagi, katanya Mandorku di sandra."
"Tunggu jangan grasa grusu. Pertama Video Call anak buahmu suruh lihatin keadaan disana, setelah itu telepon Polisi. Kemudian kamu siap-siap kesana bawa pengawalmu."
"Trimakasih sayank...kamu genius." kata Semeru mengecup bibirku.
Begitulah peranku sebagai istri Semeru, dia sangat tergantung padaku. Kami saling mencintai dan saling cemburu. Aku juga kadang-kadang datang memeriksa pembukuan dan membuat buku besar.
Sampai suatu hari aku berdebat dengan Pak Sobirin yang berkuasa mengatur keuangan dan seorang mandor namanya Solihin. Mereka Bapak anak, banyak sekali penyelewengan aku ketemukan.
__ADS_1
"Maaf Pak Sobirin dan Mas Solihin. Saya adalah pemilik 50% saham PT Semeru Barito, mulai hari ini memecat kalian dengan tidak hormat karena uang perusahan hampir 5 miliar telah kalian selewengkan."
"Itu semua pengeluaran untuk kepentingan Pak Sandy. Dalam masalah ini Nyonya tidak boleh semena-mena bertindak, ada praduga tidak bersalah."
"Bukti sudah ditanganku, kalian bertiga dengan Sandy mencuri dari dua tahun lalu. Pada saat Sandy menjabat. Silahkan kalian membela diri di pengadilan dan bawa pengacara." sahutku menyuruh Polisi membawa kedua manusia itu.
Aku memang tegas, sedikit saja ada penyelewengan aku tahu. Tapi bila ada keuntungan lebih, aku tidak segan-segan membaginya dengan anak buah.
Semeru juga bersemangat mengawali kerjanya, sekarang sudah transparan dan perusahan kembali eksis. Aku terpaksa memberi suntikan dana lumayan besar untuk menata kembali PT Semeru.
Tibalah saatnya aku melahirkan, Dokter menyarankan untuk menjalani operasi caesar, karena leher bayiku terlilit tali pusar. Bunda dan Semeru sangat khawatir tentang keadaanku. Setiap saat Bunda memanjatkan doa untukku.
Alhamdulillah aku melahirkan dengan selamat dan putraku lahir dengan sempurna. Wajahnya ganteng seperti Semeru dan rambutnya sedikit pirang sepertiku. Kami menamakan SAGARA SEMERU.
Kebahagiaan ini aku bagi dengan anak-anak panti asuhan. Aku memerintahkan HRD di Hotelku untuk berbagi.
"Sayank, aku sangat berterimakasih padamu telah memberikan pewaris yang sangat ganteng. Aku juga bertrimakasih kamu telah mengajariku banyak hal. Sekarang perusahanku mulai normal, tapi aku harus bolak balik ke perkebunan. Kamu tidak apa bukan kalau ditinggal terus menerus." kata Semeru setelah aku seminggu berada di rumah.
"Aku mencintaimu Mas, jangankan ilmu, hidupku aku serahkan padamu. Aku tidak keberatan kamu bekerja asal jaga kesehatan. Lebih baik kamu berkantor disini daripada mondar mandir."
"Aku juga sangat mencintaimu. Sekarang ini belum ada rencana untuk membuat kantor disini, mungkin setelah perusahan stabil aku akan pikirkan kembali."
"Dulu kamu setuju berkantor disini, bekerja lewat online."
"Rencana itu pasti terealisasi, cuma belum saatnya. Aku masih senang bertatap muka dengan buruh dan mengatur secara langsung. Wajtu ini aku banyak memecat orang dan mencari staf baru, untunglah semua lancar."
"Semoga semuanya berjalan dengan baik." kataku melepaskan kepergian suamiku.
"Dreettt...dreettt...dreeettt.. " suara ponsel berbunyi. Aku bangun dari tempat tidur. Ternyata ponsel Semeru tertinggal. Aku iseng melihat siapa yang mengirim pesan.
Jantungku seolah berhenti berdetak ketika membaca sepenggal pesan itu lewat WA. Aku klik profilnya, ternyata foto seorang wanita berbaju kuning, semeru sengaja menulis nama Marno untuk mengelabuiku.
Marno.
"Yank ..cepat datang...kangen..
__ADS_1
****