QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
HATIKU HANCUR


__ADS_3

Kebaya brokat paris yang sudah dimodif melekat ditubuhku yang ramping. Sekarang Aku sudah pandai berdandan ala artis karena sering pemotretan. Nampak dicermin penampilanku ssngat anggun. Sentuhan terakhir adalah parfum Baccarat yang wanginya melekat.


Pagi ini aku akan ke rumah Tante Wilda sebagai anaknya, tidak sebagai undangan. Aku sangat kangen kepada Tante Wilda yang sudah aku anggap Mama sambung. Kami jarang bertemu atau berkomunikasi lewat ponsel, karena kesibukanku yang padat. Kalau kakak tahu aku mengakui Tante Wilda sebagai Mamaku, aku yakin kakak akan mencak-mencak.


"Mau kemana Non?" tanya Bibik dengan senyum aneh.


"Aku mau kundangan. Tapi sebelumnya aku mau ke Hotel dulu."


"Siapa yang mengundang Nona?" tanya Bik Surti mendekatiku.


Aku tidak menjawab pertanyaan Bibik karena Tante Wilda menyuruhku cepat datang.


"Kamu adalah anak Tante, jadi seharusnya bersamaan ke Balai Agung." suara Tante Wilda terdengar nyaring di seberang sana.


"Kalau begitu aku cansel ke Hotel. Seandainya aku telat, Tante jalan saja dulu. Pagi begini biasanya jalanan macet total."


"Kamu datangkan sayank?!"


"Owalah...jangan ragu Tante, aku akan menjadi pagar ayu disitu." sahutku bercanda. Aku naik ke mobil diiringi tatapan khawatir dari Bibik Surti.


"Kamu adalah putri kesayangan kita, tidak boleh menjadi pagar ayu, nanti sembarang cowok merayu."


"Hahaha....aku berangkat sekarang, semoga tidak macet." kataku memacu mobilku dengan tenang.


Macet!!. Kalau masih pagi jalanan pasti krodit, karena pegawai masuk Kantor dan murid ke Sekolah. Rasanya ingin terbang supaya cepat sampai.


Aku membayangkan akan bertemu warga yang dulu menghinaku dan mengeluarkan aku dari warga, hatiku sedikit galau. Para tetua pasti masih mengenalku, semoga mereka sadar dan tidak asal mengeluarkan warganya.


Mereka akan melihat Tante Wilda dan Om Sugama sekarang menjadi pelindungku. Aku banyak bercerita dengan Tante Wilda dan Om Sugama tentang kronologis perceraianku, dan mereka sangat maklum. Aku yakin mereka melihat sepak terjangku dan menilai sifatku yang pure, tidak aneh-aneh. Tidak mungkin seorang konglomerat seperti Tante Wilda menerimaku tanpa menyelidiki terlebih dahulu, aku yakin itu.


Mobilku masuk ke parkiran Balai Agung, sangat ramai sekali. Rupanya acara sudah mulai. Aku terpaksa masuk lewat belakang gedung. Seorang Ibu-ibu menyambutku dan mengajak aku ketempat Tante Wilda. Aku duduk disamping Tante Wilda dan Om Sugama. Berpasang-pasang mata menatapku. Aku yakin pergunjingan akan mengalir dasyat.


"Sayank..." bisik Tante Wilda menatapku.


"Aku telat Tante...." sahutku manja.


"Kamu duduk ditengah, supaya Om bisa bicara denganmu." kata Tante Wilda senang.


Aku pindah duduk diapit Om Sugama dan Tante Wilda. Kami berbicara saling berbisik karena banyak orang melihatku. Suara gambelan mengalun khas membuat mataku mulai melihat sekeliling.

__ADS_1


"Tante mana putranya?"


"Masih di upacarai diluar, sebentar lagi mereka akan duduk didepan sini." sahut Tante Wilda tersenyum.


"Tante cantik deh, aku bangga punya Mama secantik ini."


"Kamu juga cantik sayank, hati-hati memilih pasangan. Nanti Tante akan memilihkan jodoh untukmu."


"Kalau sudah ketemu kalian seperti lem, lengket terus. Duduk yang rapi mereka sudah akan masuk." kata Om Sugama membuat aku dan Tante Wilda diam.


Semua mata memandang sepasang muda mudi yang diapit oleh Pak Yoga dan Ibu Dilla. Pasangan itu berjalan menuju tempat duduk yang dipersiapkan di depanku. Seluruh hadirin berdiri. Om Sugama membantu aku berdiri karena badanku hampir oleng.


Mataku nanar melihat sejoli itu yang semakin dekat kearahku. Dadaku seperti dihantam palu godam. Sangat sakit!! Tidak terasa seluruh badanku bergetar. Jiwaku seolah lepas dari raga. Aku berusaha menahan air mataku yang ingin meloncat keluar.


"Kamu kenapa? wajahmu sangat pucat." bisik Tante Wilda menatapku. Aku menggeleng.


Andre menatapku kaget, kehadiranku membuat matanya berair. Tangannya cepat dipegang oleh Bu Dilla dan Natalia. Andre menghempaskan pantatnya di depanku duduk.


Senyum mengejek terlontar dari bibir Natalia dan Ibunya. Aku berdoa dalam hati supaya aku tegar dan bisa melewati perhelatan ini. Untunglah Tante Wilda dan Om Sugama slow respon.


Ternyata Andre bertunangan. Laki-laki yang aku cintai ternyata putra Tante Wilda. Pantas Andre marah aku dekat sama Om Sugama, rupanya dia ayahnya. Kenapa Andre tidak menjelaskan bahwa Om Sugama ayahnya?.


Aku sangat menyayangkan pikiran Andre yang picik. Selama ini dia berbohong padaku, pura-pura miskin. Ingat itu aku ingin menendangnya dari belakang. Dasar buaya. gerutuku tanpa sadar. Mungkin dia mendengar, masa bodolah!!.


Suara genta mengalun teratur diiringi gambelan. Aku duduk termenung di belakang sejoli itu. Pikiranku kosong, aku pasrah..... apapun yang terjadi ini sudah nasibku. Seharusnya aku menampakan wajah acuh supaya aku tidak terlalu terhina.


"Om masih lama?" tanyaku pelan kepada Om Sugama.


"Kenapa sayank, kamu lapar? pasti tadi belum sarapan ya. Wajahmu pucat." sahut Om sugama melingkarkan tangannya di pundakku.


"Sabarlah lagi sedikit, nanti kita pulang bersama. Kamu sama Om, Tante sama Andre." bisik Tante Wilda.


Aku sadar pembicaraanku didengar oleh Andre dan Natalia karena tempat duduk kami sangat dekat. Helaan nafas Andre aku dengar. Ntah apa yang dipikirkannya.


Untuk selanjutnya aku diam menunduk mempermainkan ponselku. Aku tidak ingin melihat punggung Andre yang tepat ada di depanku. Biasanya yang menjawab pesan WA adalah Ratih anak buahku di Hotel, itupun setelah ada intruksi dariku. Sekarang aku yang menjawab Setiap pesan masuk.


"Qi, acara sudah selesai kamu hubungi mereka supaya kue ulang tahunnya di masukan. Kita akan kedepan bersama Om." bisik Tante Wilda dikupingku.


"Om kita kedepan." bisikku berdiri. Kami berjalan kedepan diiringi pandangan para hadirin. Setelah pertunangan biasanya ada pesan-pesan dari kedua orang tua.

__ADS_1


Setelah Om Yoga yang memberi pesan-pesan indah, sekarang giliran Om Sugama. Aku dan Tante Wilda mendampinginya.


"Warga Yang terhormat, kami dari pihak Andre mengucapkan banyak trimakasih atas kedatangan saudara semua. Dan untuk sejoli yang baru melangsungkan pertunangan, kami dari orang tua tentu mengharapkan yang terbaik untuk kedepannya. Kalian sudah dewasa, sudah tahu baik dan buruk, jadi kami tidak perlu menjabarkan apa yang harus kalian lakukan." kata Om Sugama lantang.


Aku melihat kilatan rasa benci dari Natalia beserta Ibunya. Sedangkan Andre memandangku penuh arti. Aku tidak peduli walaupun hatiku sangat luka. Dengan sekuat tenaga aku menahan perasaan sedih ini. Jangan sampai aku menangis atau pingsan didepan mereka.


Setelah Om Sugama selesai memberi nasehat kepada dua sejoli, sebuah mobil terbuka yang khusus membawa kue ulang tahun masuk dengan diiringi penyanyi lokal yang membawakan lagu ulang tahun.


Semua orang terhipnotis melihat kue yang besar dan tinggi berwarna coklat. Aku memeluk Om Sugama. Tante Wilda juga memeluk suaminya. Air mata Om sugama menetes bahagia ketika dia mengucapkan rasa terimakasihnya kepada hadirin dan kepadaku khususnya.


"Kamu pasti sudah kong kali kong dengan Tantemu. Kalian berdua curang." kata Om Sugama mencium keningku. Banyak ucapan selamat dan doa bahagia untuk dua sejoli dan Om Sugama. Kejutan manis dariku membuat Om Sugama bahagia.


Om Sugama kembali mengambil make dan melingkarkan tangannya dibahuku.


"Selamat siang hadirin sekalian, saya ingin memperkenalkan anak saya Qirrera, yang selama ini sering membuat hidup kami lebih bergairah. Dia adalah anak Nyonya Capela dari Trah Wansa. Dan dia adalah seorang Crazy Rich yang sangat dermawan Kami sangat menyayanginya." kata Om Sugama memelukku.


Semua orang terhenyak termasuk Andre dan keluarga Natalia. Aku beralih dipeluk Tante Wilda. Aku akhirnya tidak bisa menahan air mataku, tangisku membasahi baju kebaya Tante Wilda. Melihat aku menangis Om sugama mengakhiri acara itu dengan memelukku.


"Pak Sugama saya akan menghubungi Bapak nanti." beberapa kolega Om Sugama mendekat dan mengatakan hal itu. Tante Wilda maklum, mereka pasti mengharap ada perjodohan untukku.


Aku diajak Tante Wilda ke dalam ruangan Balai Agung, tempat ini khusus diperuntukkan bagi yang punya acara.


"Istirahat disini, Om sama Tante akan mengambil makanan." kata Om Sugama menyuruh aku duduk di sofa.


"Aku mau pulang Om." sahutku lirih.


"Orang lagi pada makan, sehabis makan baru boleh pulang. Kamu harus sabar."


Aku hanya mengangguk. Tidak lama kemudian dua orang gadis datang membawa nampan berisi makanan dan buah. Tentu aku tidak bisa makan karena aku tidak makan nasi dan daging.


"Nona silahkan makan." kata gadis itu tersenyum.


"Trimakasih." sahutku sambil menghapus sisa-sisa air mataku.


"Perempuan tidak tahu malu, munafik. Kamu pikir setelah datang kesini Andre bisa kamu gaet. Dasar janda." Bu Dilla berkata geram sambil berkacak pinggang.


"Hati-hati bicara Bu Dilla kalau ingin selamat." sahutku.


"Owh...rupanya gede juga nyalimu, ternyata kamu tidak pernah malu dan kapok, semua warga benci dan menghinamu."

__ADS_1


"Aku ingin tahu siapa yang menghinaku, suruh mereka datang kesini." tantangku dengan mata mendelik. Terus terang saat ini emosiku mencapai seribu derajat.


****


__ADS_2