QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
MALAM PERTAMA


__ADS_3

Hidupku mulai terasa bewarna karena cintaku tersambung kembali dengan Adi. Dilain pihak Mamanya Dwiki marah-marah karena aku ingkar janji. Sepertinya aku tidak ada berjanji apapun, hanya mereka yang mengharap kekayaan dariku. Rasanya aku ingin menyamar menjadi wanita miskin untuk menjerat jodoh. Orang


Aku jadi afirmasi negatif pada setiap cowok yang mendekati aku. Kadang-kadang Adi aku tuduh mata duitan, sehingga dia tersinggung. Apa aku harus mencari jodoh lewat online saja. pikirku.


"Adi aku mau mencari jodoh lewat online ya, misalnya lewat Instagram." kataku suatu hari.


"Jangan gila dech, apa aku kurang menjadi jodohmu."


"Kamu hanya pacarku, jodohku beda." sahutku sekenanya.


"Coba saja, siapa tahu kamu ketemu pedofil atau jack the river....hiii ngeri."


"Amit-amit. Aku sudah besar tidak ada pedofil....."


"Siapa tahu."


Sebenarnya aku tidak begitu peduli jodohku karena umurku baru 19 tahun. Tapi kak Leon selalu memaksaku mencari jodoh. Aku rasa kakak terlalu berlebihan, atau mungkin dia menunggu kelahiran anakku sebagai Trah Wansa.


Aku mendengar gosip kalau aku tidak bisa melahirkan anak lelaki kak Leon harus menikah lagi dengan yang se marga. Mungkin itu yang menyebabkan kak Leon dan istrinya gencar menyuruh aku menikah.


"Qi, kakak sudah tidak bisa mencarikan kamu jodoh lagi. Semua cowok dimatamu jelek. Ini untuk terakhir kalinya, mau tidak mau kamu harus mau." kata kak Leon serius ketika aku sedang rebahan disamping mama.


Serentak aku bangun dan mengerjapkan mataku. Kak Leon sungguh kehilangan akal sehat.


"Tapi aku tidak mencintai siapapun." sahutku berusaha menolak.


"Aku tidak menyuruh kamu mencintai jodohmu, yang penting kamu harus siap lahir bathin."


"Tapi kak, aku tidak mau."


"Begini balasmu setelah besar, kapan kamu membalas budhi baik mama. Dari kecil kamu di pungut dan dipelihara." sahut kak Leon dengan suara tinggi.


Dari sudut mataku sudah keluar air bening. Kalau kak Leon mengungkit utang budhi aku jadi tidak bisa bicara. Aku seolah menjadi kerdil dan hina.


"Tidak ada lagi jalan untuk kamu tolak, kita warga Wansa sudah sabar menunggu. Karena banyak urutan upakara yang siap menunggu saat pasca nikah. Dari pra nikah sudah akan di adakan upakara yang tertunda. Pokoknya ikuti saja. Aku capek ditanya terus sama tetua marga."


Aku tidak menjawab cuma air mataku menetes sedih membasahi pipiku. Nasibku memang sial. Kalau sampai aku di jodohkan bagaimana nasib Adi?. Aku sangat mencintainya. Apa dia mau mengerti?.

__ADS_1


Hari ini aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi untuk bisa cepat bertemu dengan Adi di sebuah Starbuck. Aku sudah mengatakan masalah ini sangat urgent dan aku tidak bisa menunda lagi. Sampai di Starbuck aku turun dari mobil, langsung masuk ke dalam.


Aku melihat Adi telah menungguku. Dengan tanda tanya dia menatapku.


"Aku mau di jodohin lagi." kataku dengan wajah suram.


"Tolak saja. Hari gene ada perjodohan sudah tidak zaman. Kamu harus berani hidup mandiri. Lepasin semua warisan itu dan hiduplah normal. Kita menikah."


"Bukan masalah warisan, ini masalah utang budhi. Kak Leon sudah menyindir aku tentang hutang budhi. Kata kak Leon aku harus balas budhi dengan cara memberi keturunan kepada Trah Wansa seorang anak lelaki."


Adi diam, aku juga diam. Kalau sudah hutang budhi muncul kepermukaan kata-kata jadi tidak bermakna, semua senyap. Aku cuma pasrah. Hidup memang harus dijalankan dan pelaku lakon saat ini aku dan hanya aku bisa memutuskan semua drama ini. Serba salah, maju kena mundurpun kena.


Jalan pintas ada banyak, tapi aku tidak mau melakukan hal konyol. Bagiku jalani saja, lebih tepatnya pasrah demi Trah Wansa dan demi keluargaku. Mereka telah memeliharaku, wajar aku membalas budhi dengan mengorbankan perasaan, hati, cinta dan hidup.


Semoga kedepannya berjalan baik sesuai keinginan banyak pihak, terutama keinginan kak Leon dan harapanku. Tidak ada jalan lain, sudah di sepakati pernikahan akan dilakukan hari jumat jam 09.30 wita, tanpa perkenenalan lagi. Calon mempelai laki-laki akan tiba sebelumnya.


"Kamu harus siap, baik buruk di dalam rumah tangga tergantung kita yang membawa kemana bahtra perkawinan kita jalankan. Kakak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." hibur kak Maya sambil menghapus air mataku.


"Sabarlah Qi, ini sudah keputusan tetua adat kita. Jangan menyalahkan kak Leon karena dia cuma menjalankan tugas." kak Selvi ikut menghibur aku.


Semua sudah ready, aku berjalan perlahan dibimbing kak Maya naik ke pelaminan, di sana sudah duduk calon suamiku, seorang laki-yang kuat perkasa, hitam mengkilat seperti "Bima". Hanya satu keinginanku dengannya beradu tinju, supaya dia sadar bahwa dia tidak tahu malu. Apalagi tujuannya kalau bukan ingin menguasai hartaku. Dia menoleh padaku dengan sorot mata kagum, aku memberi pandangan menghujam menusuk jantungnya.


Hawa kebencian sudah tumbuh dari hatiku, ketika Ibunya bermuka manis denganku. Aku tidak melihat Bapaknya, mungkin dia yatim atau bapaknya lagi sakit. Kak Leon memang pintar mencarikan aku sparring partner, manusia di sampingku tinggi kekar, maaf, tatto binatangnya tersembul dari badannya. Aku bukan anti orang ber tatto, tapi kalau bentuk tattonya sembarangan terkesan seperti kebun binatang.


Setelah cukup melelahkan selesai sudah perhelatan yang menghabiskan kocek 200 juta. Itu sudah include prasmanan dan segala macam. Biaya keluar dari kas pribadiku, karena aku menarik lelakinya. Istilahnya begitu. Aku berharap ini perjodohan terakhir.


Suamiku yang memperkenalkan dirinya dengan nama Sanjaya terlihat sangat bangga di antara teman-temannya. Setelah semua tamu pulang, mereka duduk berkumpul sampai malam sambil minum bir. Rupanya kak Leon memilih suami yang extrim kiri. Aku menghitung ada sekitar 30 orang temannya yang sama modelnya. Ber tatto dan suka minum-minum.


Aku membiarkan mereka dan aku naik ke atas, mengunci pintu dan tidur. Besok aku akan bekerja lebih pagi supaya tidak bertemu dengan suamiku.


Baru saja aku merem pintuku sudah di ketuk orang. Dengan kesel aku bangun menyeret kakiku. Kulihat badan kekar itu berdiri di depan pintu.


"Ada apa kamu ketuk pintuku malam-malam, tidak tahu aturan." bentakku duluan sebelum dia ngomong.


"Aku mau tidur, dimana aku tidur." sahutnya heran. Wajah sangarnya ngajakin berantem.


"Ini kamarku, aku tidak tahu mana kamarmu, mungkin kamarmu di rumahmu lupa kamu bawa kesini."

__ADS_1


"Kamu jangan bercanda, aku mau tidur. Kamu sekarang sudah menjadi istriku, dan sudah selayaknya meladeniku."


"Hahaha...aku belum pernah merasa jadi istrimu. Jangan harap aku mau meladenimu. Aku cuma wajib memberi kamu uang...dan uang....itukan yang kamu inginkan?!"


"Jangan menghinaku perempuan bodoh, kamu belum tahu berhadapan dengan siapa."


"Aku sedikitpun tidak takut padamu. Pergi dari depan kamarku." bentakku kesal.


Dia marah dan menubrukku. Aku dari tadi sudah antisipasi, cepat berkelit. Kemudian kakiku melayang menendang tubuhnya. Dia terlempar sedikit. Kembali dia bangun dan mencoba menangkapku. Aku cepat lari ke ruang tamu supaya lebih leluasa. Aku akui tenaganya kuat, tapi dia kurang lincah. Ntah sudah berapakali aku tendang tubuhnya. Tapi tetap saja dia melawan.


"Ada apa ini ribut-ribut....." bentak kak tiba-tiba datang. Kak Leon kelihatan gusar.


"Kak pilihanmu brengsek!!" sahutku.


"Sudah...berhenti. Malu sama tetangga." bubar-bubar.


"Adikmu perlu dihajar, mulutnya pedas tidak tahu aturan. Tidak ada hormatnya sama sekali pada suami. Aku seperti pengemis saja layaknya." gerutunya marah kepada kakakku.


"Karena dia begitu aku sulit mencarikannya jodoh. Aku sudah bilang bahwa adikku begitu abang bilang "gampang". Nah jangan menyalahkan aku." sahut kakakku membela aku. Mungkin dia menyesal juga melihat kelakuan Sanjaya yang minum-minum sampai malam dengan gerombolannya.


"Aku tidak gentar, aku akan membuatmu berlutut menangis darah di kakiku. Kamu telah menghina harga diriku." kata Sanjaya menuding aku.


"Aku tunggu hari istimewa itu. Kamu harus ingat dimana kamu berpijak, jangan semau gue di rumah orang." sahutku menohok.


"Ciihh....aku najis dengan mulut busukmu, mulai sekarang aku tidak bersimpati padamu. Aku akan membuat rumahmu ajang mesum."


"Sanjaya, ini bukan rumah Qirrera, ini rumahku. Jangan berani kamu bikin ulah disini." kata kak leon gusar.


"Aku akan pergi kerumah warisannya, aku berhak berbuat apapun karena aku suaminya."


"Mulai besok kalian pindah kesana." sahut kak Leon marah dan turun ke kamarnya.


Aku langsung masuk ke dalam kamar dan banting pintu, ku kunci pintunya. Tinggal si songong di luar. ntah dia tidur di mana aku tidak peduli. Kak Leon malah menyuruh ke rumah besar, kesel aku. Sanjaya akan sewenang-wenang disana.


*****


q

__ADS_1


__ADS_2