
"Apa kamu mau turun atau langsung pulang ke rumahmu?" tanyaku basa-basi.
Dheo tidak menyahut, dia membuka pintu mobil dan turun. Aku juga ikut turun menuju ruang makan.
"Duduk dulu, kita minum." kataku menatap Dheo.
"Nona...kata Tuan Andre Nona sudah sembuh. Bibi bersyukur sekali, semoga Tuhan selalu melindungi Nona." kata Bik Narti menyambut kedatanganku.
"Aku sudah sembuh, tolong buatkan dua jus mix sekalian makan siang, aku lapar sekali."
"Tuan Andre sudah mengirim makan siang untuk Nona, Dia sangat perhatian dan sedih ketika Nona pergi dari rumahnya."
"Apa dia menelpon Bibik?" tanyaku heran.
"Aku mau istirahat." sela Dheo dengan wajah kecut. Aku rasa dia tidak senang mendengar pembicaraanku dengan Bibik.
"Makanlah dulu, setelah itu baru istirahat. Bibik akan membersihkan kamarmu." kataku menahan Dheo.
"Kamarnya sudah saya bersihkan." sahut Bibik melirik Dheo. Aku tahu Bibik lebih suka dengan Andre, karena Andre dulu Bosnya.
"Aku mendadak kenyang mendengar nama Andre familiar disini."
"Andre dulu tinggal disini sebagai scurity dan....."
"Jangan lagi dibahas, seolah kamu tidak bisa lupa dengan Andre."
"Dia pacarku, aku mencintainya." sahutku enteng. Wajah Dheo memerah. Rahangnya mengeras. Aku sengaja membuat dia tidak berarti di mataku.
"Terus kamu menganggap aku apa?"
"Makan dulu, habis makan aku akan cerita panjang lebar." kataku menirukan Andre yang setiap makan selalu membohongi aku tentang cerita palsunya.
Sebagai tuan rumah aku menyiapkan makan siang buat Dheo. Dia begitu lahap makan, aku rasa dia memang lapar. Diam-diam aku menatapnya. Tidak dipungkiri lagi ternyata Dheo sangat rupawan, begitu sempurna.
"Aku akan tinggal disini." celetuknya sehabis makan.
"Tidak boleh, apa tanggapan warga nanti? mereka akan menuduh kita semen leven." protesku cepat.
"Kenapa Andre boleh, apakah karena Andre pacarmu?"
"Andre dulu scurityku, aku tidak tahu dia gadungan. Jadi sudah terlanjur dia berada disini."
"Bukankah kamu seorang janda?"
__ADS_1
"Apa maksudmu bertanya begitu, aku memang janda......" sahutku mendadak tersinggung.
Aku tidak tahu apa ada dipikiran Dheo, apa dia berpikir aku melakukan hubungan suami istri dengan suamiku atau dengan Andre. Pantas dia main sruduk kalau aku sedang sendiri.
"Aku tidak mempermasalahkan dirimu siapa, cuma kamu harus sadar bahwa dirimu janda. Pernah satu rumah dengan Andre, wajarlah aku minta porsi yang sama seperti Andre."
"Aku akan naik ke atas. kamarmu nomer tiga dari kamarku. Atau kamu pilih yang kamu suka."
"Aku mau seperti Andre, tidur sekamar denganmu. Jangan mengelak atau sok suci, kartu AS mu sudah aku pegang."
"Baguslah, ternyata sifat aslimu sudah muncul, jadi aku cepat bisa menendangmu keluar. Kamu tidak ubahnya sampah masyarakat yang harus dilenyapkan." kataku emosi lalu naik ke tangga.
Nafasku memburu menahan marah. Ingin aku robek mulut Dheo yang kotor itu. Lagi sekali dia berucap aku patahkan tulang rusuknya. Manusia setan! gerutuku esmoni.
Aku tidak menyangka dibalik wajah gantengnya tersimpan hati yang busuk. Dia pasti dapat hasutan dari Natalia, siapa lagi manusia yang bermuka serigala selain dia.
Dheo tersenyum miring melihat Qirrera marah. Kemarahannya membuat Dheo senang, baginya Qirrera tidak seperti wanita lain yang membela diri supaya dipercaya, atau merajuk manja mencari simpati.
Perlahan dia berdiri dan naik ketangga. Bibik Inah dan Bibik Surti dari tadi menguping, dia harus melapor sepak terjang Dheo disini kepada Andre. Tadi mereka berdua begitu benci kepada Dheo yang merendahkan Nonanya, tapi setelah Qirrera marah mereka senang. Bagi Bibik hanya Tuan Andre saja yang pantas untuk Nonanya, kalau yang lain LEWAT.
Semua gerak gerik Bibik sudah di mengerti oleh Dheo. Dia tahu kedua Bibik ini adalah pengasuh Andre, dia sendiri kenal dengan kedua Bibik. Tapi Bibik yang biasa ramah mendadak memusuhinya ketika dia menjadi calon jodoh Qirrera.
Sebelum menerima Qirrera sebagai jodohnya, Dheo terlebih dahulu mencari tahu tentang gadis itu. Banyak cerita yang menarik tentang Qirrera. Tadi dia sengaja membuat Qirrera meledak-ledak, wajah gadis itu tambah menggemaskan kalau marah. Apalagi yang harus dikerjakan disini selain mengganggu Qirrera.
Dheo menghempaskan badannya ke Double Bed King Koill, terasa nyaman. Dia ingin tidur dan beristirahat sebanyak mungkin. Otaknya terasa terkuras ketika menjawab pertanyaan dari penyidik. Ini yang pertama dan terakhir. bathinnya. Dia menyesal mengikuti hasutan Mamanya. Kapok!!.
Qirrera bagaikan sekuntum bunga mawar, mekar dengan pesonanya. Dia cantik pintar dan dingin. Yang membuat orang selalu mencarinya karena dia seorang dermawan sejati. Tapi sayang dia anak haram dan seorang janda, status itu membuat nilai minus di mata warga wansa yang ningrat. Walaupun kenyataannya dia masih Virgin, mata umum menilai Qirrera hina.
Hanya orang-orang tertentu yang mau menerimanya, bagi ningrat lainnya yang masih ortodox mereka membuat jarak dengan Qirrera. Gosip miring akan sering menerpa Qirrera sepanjang dia masih berkutat di lingkungan warga. Apalagi para wanita merasa tersaingi, mereka resah terhadap kehadiran Qirrera yang banyak menyita perhatian para lelaki.
Dheo menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Dalam kelelahannya masih terselip senyuman, bayangan Qirrera tentu sangat menggodanya.
Matahari sudah condong ke Barat, Aku bersiap untuk ke Villa belakang untuk mengontrol. Biasanya Andre yang melakukan itu tapi saat ini Andre sudah berhenti menjadi Scurity, jadi terpaksa aku yang turun tangan.
Naik sepeda adalah hobbyku, jadi tidak masalah kalau aku bolak balik keliling Villa cuma yang membuat hatiku resah adalah penghuni Villa yang nomer enam, Villa paling ujung.
Yang menempati Villa ini adalah Seorang pemuda blasteran. Ntah apa pekerjaannya, sering aku lihat dia berenang atau main guitar sendiri. Lagunya selalu slow rock, aku merasa saat ini dia patah hati atau semacamnya.
Dari jauh aku sudah mendengar suara gitarnya, lirik lagu yang dibawakannya dari Joel Adam, tentu lagu ini sangat aku hafal.
"Hello ....." aku turun dari sepeda dan menyapanya ketika aku melintas. Dia memandangku sepintas, kemudian kembali asyik bermain guitar. Aku jadi penasaran, jangan-jangan dia gagu.
"Sorry to interrupt, do you have any complaints since living in this Villa?"
__ADS_1
(Maaf aku mengganggu, apa kamu punya keluhan semenjak tinggal di Villa ini?).
"Tidak, aku senang disini. Aku butuh ketenangan." jawabnya pelan.
Dia menaruh guitarnya dan memandang lurus ke depan. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia walaupun agak patah-patah.
"Syukurlah, kalau ada keluhan kamu boleh hubungi aku atau anak buahku."
"Sepanjang aku berada disini, semuanya baik-baik saja, pacarmu sangat intens mengurus keluhan penghuni Villa. Sudah seninggu dia tidak datang, biasanya selalu datang dan menyapaku."
Aku diam, tentu yang dia maksud Andre, tidak mungkin aku mengatakan kalau pacarku sekarang sudah berganti menjadi Dheo.
"Sekarang dan seterusnya dia tidak mungkin datang lagi karena dia sudah mau menikah." sahutku pelan. Tampak wajahnya kaget.
"Maaf...aku tidak bermaksud merusak pikiranmu, aku tidak menyangka kalian sudah putus. Tabahkan dirimu, kamu masih muda dan sangat cantik, tentu gampang mencari teman hidup."
"Disini kami menikah melalui perjodohan, tradisi kami sangat kuat."
"Apakah kalian dijodohkan untuk memperkuat bisnis atau cuma tradisi untuk melestarikan marga kalian."
"Lebih condong untuk melestarikan marga kami. Sebenarnya aku sedikit keberatan karena banyak yang telat menikah gara-gara tidak mendapat jodoh semarga. Kalau mencari di luar pastilah kena sanksi."
"Ternyata ribet, aku doakan semoga kamu dapat jodoh baru."
"Trimakasih, namaku Qirrera..." kataku mengulurkan tangan.
"Aku Kevin.." sahutnya menjabat tanganku. Aku kaget dan cepat menarik tanganku. Dheo sudah ada di belakangku.
"Pulang!!" perintahnya menarik tanganku. Dia mengajak aku naik ke mobilnya. Sedangkan sepedaku Pak Komang disuruh membawa ke rumah. Pak Komang adalah tukang kebunku.
"Tidak punya sopan santun, kenapa kamu menarik tanganku disaat aku kenalan."
"Supaya tidak ada korban lagi, cukup Andre yang menjadi korbanmu."
"Kamu selalu ngawur, aku mau naik ke mobil karena menghargaimu di depan orang. Bukan berarti aku suka padamu, jadi jangan sombong. Aku masih ingat perbuatanmu dan penghinaanmu, hati-hati karena aku akan membalasnya."
"Aku sudah hati-hati." sahut Dheo mencoel pipiku.
"Kurang ajar, beraninya kamu berbuat genit." bentakku marah.
"Seandainya kamu tahu waktu kamu di rumahku, ahh...malas jelasin."
"Maksudmu, kamu ada berbuat senonoh denganku? jawabb....."
__ADS_1
Mobil masuk ke garase, Dheo turun dari mobil lalu melenggang masuk rumah. Aku cepat turun dan menghadangnya. Tapi dia menepis tanganku. Dia cepat naik ke tangga, aku berlari mengejarnya. Setelah dia sampai di atas dia masuk ke kamarku.
****