
Aku cepat-cepat menaruh ponsel Semeru dan pura-pura rebahan kembali. Semeru datang setengah berlari langsung membuka pintu.
"Ponselku mana?" tanyanya ngos-ngosan. Matanya celingukkan. dia baru lega ketika melihat ponselnya.
"Aku tidak lihat Mas. Kasihan Mas Semeru berlari, sudah sejauh mana tadi?" sahutku setenang mungkin.
"Sudah sampai garase." jawabnya sambil membuka ponselnya.
"Aku pergi dulu sudah telat."
"Sabar Mas, seperti mau sekolah saja isi telat. Bagaimana kalau Mas tinggal bersamaku sebentar, tidak sampai lima belas menit" kataku seraya duduk di pembaringan.
"Tidak sayank, kamu istirahatlah. Aku sudah ditunggu sama staf." tolaknya.
"Marilah sayank, aku lagi kangen denganmu." kataku setengah memaksa.
"Tidak, aku mau pergi." sahut Semeru tak peduli. Dia keluar dengan cepat, secepat air mataku jatuh dipipi.
Aku terpuruk lagi. Setelah puas menangis aku mengambil iphoneku. Aku pernah hidup di luar Negeri dan bersekolah di Luar Negeri, jadi masalah sadap menyadap ponsel suami adalah hal mudah. Aku bisa lakukan tanpa Scan Bacorde, sangat mudah.
Tapi buat apa mengetahuinya? kalau sudah tahu apakah ada perubahan atau semakin menjadi. Jika seorang suami jatuh cinta ke perempuan lain sangat sulit untuk menyadarkannya. Aku harus bagaimana?.
Aku melangkah perlahan ketika baby sister memapah badanku ke kamar sebelah untuk menyusui bayiku. Sebenarnya aku sudah kuat berjalan, setelah mengetahui perselingkuhan Semeru berdiripun aku nggan.
"Putra Nyonya sangat tampan seperti Papanya." kata suster itu membuat bibirku menyungging senyum iblis.
"Aku lebih memilih kalau dia mirip aku." sahutku dingin.
"Masih kecil belum begitu jelas mirip siapa, nanti bisa berubah."
"Aku mengharap dia berubah dan cepat besar." sahutku tandas.
Pukul 02.00 dini hari Mas Semeru baru pulang dengan wajah kusut. Dia membuka pintu perlahan dan kaget ketika melihat aku masih memegang ponselku.
"Aku kira Mas mau pulang pagi, tanggung pulang jam segini. Pasti kerjaannya menumpuk." kataku tersenyum manis menatap Semeru yang salah tingkah.
"Maaf sayank, aku lembur?" sahutnya kaku.
"Aku tahu Mas..."
__ADS_1
"Ma..maksudmu?" tanyanya gemetar.
"Hahaha...jangan gugup begitu, maksudku aku tahu Mas sangat capek."
"Ohh...aku kira apa. Kamu belum tidur dari tadi sayank.."
"Aku istri setia, selalu menunggu suami, walaupun suami tidak menghargainya. Aku menunggumu dengan sabar." sahutku.
Semeru menatapku sepintas. Aku berusaha tenang, kutelan kesedihan ini dengan sempurna. Aku tidak akan main kasar melabrak Semeru.
"Tidurlah aku sangat capek." katanya merebahkan diri di sampingku tanpa mengganti baju atau membersihkan diri. Terus terang aku jijik dengan manusia disampingku ini. Bau parfum murahan tercium memuakkan.
Tidak menunggu lama Semeru sudah tidur nyenyak. Perlahan aku berdiri mengambil ponselnya di nakas. Aku nge hack ponsel suamiku dengan mudah dan memasukan chip ke ponselnya. Aku mulai meretas isi ponselnya, setelah itu baru aku pergi ke kamar anakku.
Air mataku jatuh melihat bayiku tidur dengan nyenyak. Ada dua baby sisters menunggunya. Mereka berdua bangun ketika aku membuka pintu.
"Aku sekedar melihatnya, tidurlah. Aku berada di ruang kerja, jika kamu perlu, cari aku disana." kataku sedih kepada Vadae baby sisterku.
"Ya Nyonya." sahutnya.
Aku menyeret kakiku ke ruang kerja dan menutup pintu, kapan air mata ini bisa berhenti mengalir. Selalu saja hidupku dilanda kesedihan. Dari kecil aku merasa penderitaanku sangat panjang dan berliku.
Waktu ini aku membeli ponsel baru, rencananya ponsel ini di pakai deary babyku, tapi sekarang aku pakai tempat menampung riwayat percakapan dari suamiku dengan si baju kuning.
Aku duduk di sofa setelah mendapat hasil riwayat percakapan Semeru dengan gundiknya. Apa yang aku dapat, sungguh diluar dugaan.
Chat pertama perempuan ini tidak pernah dibalas oleh Semeru. Sungguh gigih perempuan ini, dia terus menghubungi Semeru sampai berbulan-bulan.
Sampai akhirnya terjadilah demo buruh. Perempuan ini yang tidak lain si ****** Mayang ikut membela perusahan dan menolong mandor yang terluka. Dari situlah mereka sering chattingan.
Semeru merasa berhutang budi kepada Mayang, untuk bertrimakasih Semeru mempekerjakan si ****** sebagai stafnya. Semenjak itu mereka mulai rutin SMS dengan kata-kata mesra.
Dua minggu terakhir ini mereka mulai SMS yang lebih vulgar, aku merasa dia mulai tidur bersama dua minggu ini. Berarti seminggu sebelum aku melahirkan. Aku tidak mengira Semeru secepat ini jatuh ke pelukan orang yang aku benci.
Aku bisa saja menangkap basah perbuatan mereka, tapi Masyarakat akan tahu dan Perusahan terancam. Disamping itu aku malu dengan saudara dan kolegaku di Bali. Masalahnya seluruh jiwa ragaku aku sudah serahkan ke Semeru.
Simpan kesedihan ini Qi, kamu pasti kuat. bisikku dalam hati.
Aku bangun dan menyimpan Ponsel khusus ini di tempat tersembunyi, ini akan menjadi bukti jika suatu hari aku ingin berpisah dengan Semeru. Aku masih bingung tindakan apa yang harus kulakukan, pergi dari sini atau tetap disini dengan penderitaan panjang.
__ADS_1
Aku merebahkan diri di sofa, rasa nyeri di perut karena operasi masih terasa. Hatiku lebih nyeri dari itu. Aku betul-betul hancur. Aku memejamkan mataku dan tertidur.
Mata masih nggan terbuka ketika baby sisterku membangunkanku dan menyodorkan bayiku. Aku memandangi wajah mungil itu dengan kasih. Apakah dia tahu penderitaan Ibunya?
Selesai menyusui bayiku, aku ke kamar guna membangunkan Semeru.
"Mas sudah siang."
"Qi...kamu sudah bangun?" tanya Semeru sambil menggeliat.
"Aku biasa bangun pagi kecuali lembur aku baru bangun siang. Lagian ini sudah jam sebelas siang."
"Ohh...aku kecapekan, sampai tidak sadar sudah siang. Hari ini aku tidak akan ke Kantor, ingin di rumah bersamamu. Malam baru aku kesana meronda."
"Apakah seorang Owner ikut meronda, terus tugas scurity apa? jangan aneh-aneh dech." samberku hampir meledak, darahku mendidih.
"Maksudku sekedar main kesana untuk menengok mandor yang celaka waktu ini." kilahnya.
"Kenapa harus malam, sebentar bisa. Tidak baik seorang Owner pergi malam-malam."
"Lihat nanti saja, masalahnya aku janji malam ini."
"Hemm....." aku mengunci mulutku takut tidak terkontrol.
Lelaki yang selingkuh harus dikasi efek jera. Aku masih memikirkan cara jitu yang menyakitkan supaya dia merasa betapa sakitnya di selingkuhi.
"Mas cepatin mandi, bau badannya seperti bau minyak kenyongnyong. Padahal Mas memakai parfum Bvlgari tapi akhir-akhir ini aku mau muntah mencium bau badan Mas yang aneh, jangan-jangan ada cewek murahan yang ...." aku sengaja menggantung ucapanku. Dia cepat pergi ke kamar mandi tanpa menjawab.
Kalian mau tahu bagaimana perasaanku sahat ini? HANCUR!!. Hatiku remuk. Setiap mengingat dan membaca Chat mesra mereka aku menangis.
Pernah Mas Semeru memergoki aku menangis, waktu itu dia baru pulang dari perkebunan.
"Sayank...kenapa menangis, maaf aku baru pulang." katanya merasa bersalah. Waktu itu jam menunjukan pukul 04.00 dini hari.
"Aku kangen Bali dan Mama yang di Los Angeles." kataku berdalih.
"Owalah...gampang itu. Kapan kamu mau ke Bali atau Luar Negeri? aku siapkan ticket." katanya antusias.
Terasa Bumi bergoyang, aku merasa terhempas jatuh ke jurang. Berarti Semeru ingin aku pergi supaya dia bebas dengan gundiknya. Sungguh terlalu.
__ADS_1
****