QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KELUAR DARI MARGA


__ADS_3

Pulang dari kebunnya Merry aku disambut oleh kak Maya, ada Bu Dilla, Natalia dan beberapa orang. Aku tidak melihat suaminya Bu Dilla. Andre yang khawatir dengan nasibku ikut mengantarku pulang, dia ikut numpang di mobilku, sedangkan Merry aku tinggal di kampungnya. Untungnya Merry mengerti dan mengalah, sepanjang jalan aku dan Andre membahas masalah yang akan terjadi.


Aku dan Andre turun serta menghampiri kak Maya. Wajah kakak kecut tidak bersahabat. Aku tahu sesuatu telah terjadi akibat ulah Andre tadi. Nasi telah menjadi bubur, kami berdua bertekad menghadapi masalah ini dengan resiko yang telah ku perhitungkan.


"Ada apa ini kak?" tanyaku sedikit tegang karena wajah kak Maya kelihatan marah.


"Masuk ke ruang tamu." perintah kak Maya. Andre mengekor di belakangku.


Semua mata memandang benci padaku, ada dua orang tetua yang ikut hadir. Aku duduk disamping kak Maya dan Andre. Tapi Natalia langsung bangun dan menarik Andre supaya duduk dengan mereka.


Andre terpaksa mau karena semua mulut menyuruh Andre duduk sama jodohnya. Tinggalah aku sendiri seperti pesakitan.


"Maaf nak Maya, kami kesini karena ada pengaduan dari Ibu Dilla masalah perselingkuhan jodoh anaknya. Kebetulan mata kami semua melihat jodoh Natalia ikut datang kesini. Jadi bukti sudah ditangan, tidak perlu repot-repot membantah tuduhan Natalia. Kami dari warga trah Wansa mengeluarkan janda ini dari marga kita." seorang tetua berkata tegas dengan wajah marah.


"Nanti dulu tetua, yang dituduhkan itu tidak seluruhnya benar, karena Andre....."


"Tidak ada bantahan dan kompromi apapun, semua sudah jelas." potong Bu Dilla tersenyum penuh kemenangan. Natalia memandangku dengan mengejek.


"Mana mungkin anak haram masuk ke marga Wansa, selama ini kita kecolongan." lontaran ejekan dengan nada sinis seolah provokasi samar untuk membuat orang-orang yang berada disini berpihak kepada Bu Dilla.


"Bu Dilla, apa anda sudah puas menghina adik saya? silahkan anda keluar pintu sudah terbuka." kata kak maya marah menuding Bu Dilla.


"Nak Maya matamu telah dibutakan oleh anak haram ini, kalian harus menjunjung tinggi trah kita. Kita marga yang paling tinggi dan kuat."


"Keluarga kami bukan dari golongan orang yang antipati terhadap kemalangan orang lain, jadi harap Bu Dilla berkata yang sopan."


"Hahaha....aku baru ingat keluarga Capela beragam, anaknya menganut berbagai keyakinan. Kamu sendiri mualaf bukhan?."


"Apa urusan Bu Dilla dengan kepercayaan kami, selama ini kami fine-fine saja." sahut kak Maya gusar.

__ADS_1


"Stop Bu Dilla, tidak boleh kita membahas keyakinan seseorang, apalagi men judge orang itu. Urusan ini semua sudah selesai, keputusannya adiknya Maya tidak saudara kita lagi, semua warisan bisa diambil oleh anak yang lain."


"Kenapa anak yang lain? mereka semua menikah berbeda agama, jadi warisan nyonya Capela jatuh kepada sepupunya atau bisa dihibahkan ke warga." Kata Pak Dode menyela, dia wakil dari sepupuku.


"Nanti dulu, warisan yang diberikan kepada Qirrera semua hasil jerih payah mama saya , kami tidak ada mengambil warisan leluhur sedikitpun." kata kak Maya berdiri.


Mereka saling toleh dan bisik-bisik. Aku kasihan sama kak Maya. Masalahnya aku belum mengerti tentang warisan atau adat istiadat jadinya aku diam tidak bisa membantu kak Maya bicara. Kurasa asumsi mereka terlalu melambung tinggi, dan berpikiran negatif kepadaku.


"Bagaimana ini ketua marga, kami keluarga terhormat tidak ingin tercemar dengan keberadaan janda ini yang seolah enggan pergi dari lingkungan marga kita." kata Bu Dilla kepada ketua yang duduk di depan sambil memijit keningnya. Aku rasa ketua pusing memikirkan mengeluarkan aku. Mereka berpikir aku seperti yang lain yang mengambil warisan leluhur, apabila diusir akan terlunta-lunta kelaparan.


Keluargaku adalah pembisnis yang kaya dan aku sendiri sudah mulai menumpuk harta dalam berbagai bisnis. Dari 25 stand Teh poci, 2 pasar murah, 5 ruko, 200 tempat kost, 2 Villa dan Hotel bintang 5 luxury. Aku termasuk orang tajir melintir, tidak masalah kalau aku dibuang dari marga. Hidupku tetap akan makmur.


"Bu Dilla sabar dulu, anak ini kita sudah keluarin dari marga, apa lagi yang Bu Dilla tuntut." kata tetua berdiri.


"Saya ingin dia keluar dari rumah warisan ini, serta dari Bali." kata Natalia maju ke depan.


"Natali, kamu pernah sekolah tidak, tahu tidak kamu undang-undang. Ini warisan Qirre dari Mamaku, kalau warga mengeluarin adikku dari trah Wansa silahkan. Tapi adikku warga Indonesia, punya hak azazi. Jangan semena-mena. Kalian menyidangkan adikku tanpa pembelaan, kalian tidak tahu benar salah." kata kak Maya berapi-api.


"Apa buktinya dia pelakor, kamu punya bukti. Andre pacaran sudah dari dulu dengan Qirrera. Jangan-jangan kamu yang pelakor." bentak kak Maya kesal.


Natalia diam dan tangisannya meledak dan memeluk Andre. Aku melihat Andre terperangah dipeluk mendadak, dia menghindar dan mendekati aku.


"Kalau Qirre dikeluarkan dari trah Wansa, aku juga mau keluar. Kami berdua saling mencintai." kata Andre memandang tetua.


Suasana menjadi ribut. Natalia dan Bu Dilla menarik Andre yang memelukku.


"Andre apa kamu sadar apa yang kamu katakan, jangan terbuai oleh rayuan seorang janda." kata Bu Dilla menangis. Tiba-tiba Natalia mengancam akan bunuh diri, ntah darimana dia mendapat pisau dapur.


"Aku akan bunuh diri kalau sampai kamu meninggalkan aku. Kenapa kamu malah memilih janda gatel itu daripada aku."

__ADS_1


"Karena aku lebih berkwalitas darimu." sahutku cepat.


"Natali...jangan berbuat bodoh, sadar kamu nak." Bu Dilla meraung sedih melihat anak gadisnya yang nekad. Ada seorang laki-laki yang merebut pisau yang dibawa Natalia. Andre tidak bergeming, dia tetap berdiri bersamaku dan kak Maya. Natalia menangis sesenggukkan.


"Diam semua!! kalian ini keterlaluan, aku sebagai tetua tidak dihargai sama sekali. Silahkan keluar dari marga kita bagi yang ingin keluar."


"Saya mohon tetua, jangan calon mantu saya dikeluarkan dari marga kita, dia anak yang baik, yang jahat adalah janda ini." kata Bu Dilla bersimpuh sambil menangis.


"Andre jangan membuat cemar nama keluarga, kembalilah kepada Natalia." seorang laki-laki setengah baya datang meredakan situasi yang memanas.


"Om..aku berhak memilih jodohku." sahut Andre kaget melihat adik Papanya datang.


Aku tidak mengenalnya, tapi kutahu Andre akan menurut perkataan Omnya. Perlahan Andre melepasksn tangannya dariku. Matanya menatap sedih kepadaku. Aku mengangguk, hal ini sudah aku prediksi sebelumnya sehingga aku tidak kaget lagi.


Kutahan air mataku supaya tidak jatuh, aku berusaha mengalihkan mataku kelain tempat. Sekilas aku melihat Andre duduk disamping Om nya dengan wajah menunduk.


"Maaf tetua kami yang terhormat, saya wakil dari Papanya Andre mohon maaf sebesar-besarnya atas keributan yang dibuat oleh Andre. Namanya anak muda selalu prontal dengan keinginan orang tua, dia belum tahu baik dan buruk. Untuk itu saya pribadi mohon bimbingan selanjutnya kepada semua warga dan tetua."


"Pak Hendra, semua sekarang sudah selesai, tetua sudah mengeluarkan gadis ini karena keberaniannya merebut jodoh orang. Saya rasa masalah ini sudah selesai saya mohon semua pihak taat akan keputusan ini. Mulai sekarang tidak ada hak dan kewajiban untuk gadis ini." kata Bapak ketua Warga maju kedepan.


"Selama ini gadis ini sebagai donatur tetap apabila ada warga yang mengalami kesulitan dalam melakukan kewajiban. Disamping itu gadis ini juga setiap bulan mengucurkan dana lima puluh juta rupiah untuk keperluan adat. Jadi tolong pikirkan ini, terkadang kita hanya emosi dan mendengarkan dari sepihak tanpa mau peduli resiko yang kita alami kedepan." Bapak Edy adalah bendahara warga, dia sering bertatap muka denganku, sedikit banyak dia tahu sifatku dan apa-apa yang aku sumbang.


"Pak Edy, ucapan dan penghinaan kepada keluarga dan adik saya Qirrera sudah jatuh, ucapan itu seperti pedang, sangat menusuk hati kami. Saya mewakili adik saya Qirrera menyetujui apa yang telah diputuskan. Adik saya akan keluar dari warga." kata kak Maya tegas, matanya tajam menatap tetua. Kak Maya adalah seorang gadis yang lari dengan pacarnya ketika mau dijodohkan.


"Tapi Nak Leopard masih menjadi warga Wansa, kami tidak ada memecatnya." sahut tetua hati-hati.


"Itu urusan adik saya Leon, saya juga ingatkan kepada warga semuanya, Leon dan Qirrera tidak sama sifatnya. Mereka dalam segala bidang berbeda, jadi tolong nanti warga mengerti, jangan sampai warga memaksa adik saya Leon untuk menyumbang dana, karena dia tidak bekerja." kata kak Maya memperingati Pak Edy dan semua Warga Wansa.


Mereka semua diam, ada kebimbangan di hati mereka masing-masing, aku tahu itu. Tapi aku tidak peduli. Hinaan mereka membuat semangat hidupku merosot. Aku seolah tidak ada gunanya. Apalagi Andre sudah lepas dariku.

__ADS_1


*****


__ADS_2