
Menata hidup!!, itu tujuanku tinggal jauh dari Bali. Menetap disini belum terpikirkan, aku masih muda, pikiranku bisa berubah sewaktu-waktu menurut mood. Aku sudah biasa nomaden, tinggal di beberapa kota dengan rasa sepi yang membelenggu.
Mungkin itu yang menyebabkan aku agak keras dan terkesan cuek. Aku membekali diriku ilmu dan prisai diri, taat beribadah dan bersedekah. Ini modal dasar aku menjadi kuat.
Pagi ini aku sudah selesai melakukan kebiasaan rutin. Setelah itu aku mengurung diri di ruangan kerjaku. Ruangan ini walaupun tidak begitu luas tapi lengkap dan nyaman.
Pertama yang aku lakukan adalah morning breifing, pengarahan yang harus diberikan setiap saat kepada para the head untuk mensosialisasikan aturan-aturan dan kebijakan-kebijakan yang telah aku terapkan. Aku mulai zoom dengan pegawai Hotelku.
Kedua menghubungi kak Maya tentang kondisi Dheo yang membuat aku khawatir. Aku merasa dia nge drugs karena putus asa. Bagaimanapun kelakuannya kepadaku aku tetap kasihan kalau sampai dia ditangkap Polisi. Kasihan kepada kedua orang tuanya. Aku berharap kak Maya bisa sharing dengan keluarga Dheo atau Anisa.
Laporan yang ketiga aku urungkan, tadinya aku mau mengadu kepada kak Maya tentang kelakuan Semeru tetanggaku. Tapi aku berpikir pengaduanku ini malah akan membuat kak Maya khawatir padaku dan mencarikanku Bodyguard. Repot!!.
Masalahnya saat ini aku masih di pihak yang kalah, belum ada celah untuk menang. Apalagi menjadi Hero...
"Tok..tok...tok...,"
"Masuk..." perintahku.
Maimunah nongol di pintu dengan wajah khawatir.
"Ada apa Mai, kenapa wajahmu mengkerut apa kamu belum sarapan atau lagi PMS?"
"Saya sudah sarapan Nona, tadi saya kepasar depan dan bertemu dengan Tuan Semeru terus dia menitipkan surat untuk Nona."
"Aku heran sama orang itu, zaman sudah canggih masih saja main surat-suratan. Bukannya beli handphone, padahal uang ganti rugi sangat banyak."
"Mungkin uang ganti rugi itu dia pakai bayar hutang." sahut Maimunah. Aku cuma mengangguk.
"Rapi juga tulisannya." kataku membaca tulisannya yang dua baris.
"Hei tetangga aku butuh bantuanmu, datang ya ke rumahku."
"Dasar tidak tahu sopan santun, manusia kurang ajar, seenaknya nyuruh aku datang ke rumahnya. Dia pikir aku wanita apaan." gerutuku.
"Tapi dia butuh bantuan Nona."
"Apa Ibunya sakit?" tanyaku memandang Maimunah.
"Saya tidak tahu Nona, tadi Tuan Semeru sendiri di Pasar membeli bubur. Mungkin bubur itu untuk Ibunya."
"Kesel aku sama Semeru ada saja yang diminta, tetangga apaan itu. Kalau tidak datang aku takut Ibunya sakit. Coba kamu intip dari sini Ibunya ada di luar apa tidak."
"Ya Nona, tunggu." sahut Maimunah ngacir dari hadapanku.
Konsentrasi kerjaku saat ini jadi buyar, pikiranku bercabang ke tetangga.
"Nona....ternyata Tuan Semeru membeli mobil baru..." kata Maimunah. Aku lari ke balkon ikut mengintip.
Semeru membeli mobil Xenia, itu pasti memakai uangku. bathinku.
"Mai, aku mau ke rumah Semeru dulu, kamu diam di rumah." kataku turun dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Nona mau kemana?" Bibik Zariatun menegurku setelah aku sampai di bawah.
"Aku mau berantem...." sahutku cepat.
"Astagfirullah.....jangan membuat masalah Nona. Bibik takut nanti Nona kalah." kata Bibik khawatir.
Aku tidak menghiraukan kata-kata Bibik, langkahku lebar menuju rumah Semeru. Sampai disana aku langsung mencarinya ke dalam ruangan. Aku melihat dia habis sholat.
"Berarti kamu memerasku hanya untuk beli mobil, rumahmu kamu biarkan tetap berantakan. Tahu begitu aku tidak sudi memberikan kamu uang banyak, dasar penipu. Aku diam karena kasihan sama Ibu." kataku sengit.
"Duhh..apa lagi ini, datang marah-marah, pulang sana." sahut Semeru melihatku sepintas.
"Kamu mengusirku, terus apa artinya tulisanmu yang menyuruh aku datang. Apa kamu mendadak amnesia."
"Lengkapi dulu pakaianmu baru kamu datang lagi kesini, kalau kamu terus-terusan berpenampilan begini jangan salahkan aku memperkosamu."
Aku baru menyadari, aku cuma memakai celana pendek dan tank top. Kebiasaanku di rumah.
"Ini kebiasaanku berpakaian ngapain kamu sirik. Jangan mimpi kamu bisa memperkosaku, ngaca dulu. Kamu tidak level denganku, ibaratnya langit dan bumi." sahutku sengaja menghinanya.
Aku ingin balas dendam dengannya dengan menjatuhkannya habis-habisan.
"Aku juga merasa tidak level denganmu, kamu wanita penyimpan brondong, aku cocoknya wanita muslimah yang santun."
"Kamu terpesona dengan casingnya, bukan dengan isinya. Orang penipu sepertimu memang cocok di tipu prempuan lebay yang sama-sama suka gombal. Maaf..maaf saja kwalitasmu di bawah rata-rata." sahutku sinis.
"Kamu hanya pintar bersilat lidah, selebihnya nilaimu di bawah lima. Aku heran, koq ada cowok suka padamu, kalau aku gratispun tidak mau."
Darahku langsung meloncat ke otak, aku membara...panas, tapi aku bertahan, walaupun suaraku bergetar dan mataku sudah panas ingin menangis.
"Pergilah... enyah kamu dari sini, orang bisa menilai kwalitas seorang wanita dari cara berpakaiannya."
"Pergilah kamu ke Bar atau club malam, matamu akan mendelik dan otakmu akan bekerja normal, ketika melihat ada beberapa prempuan yang kamu anggap berkwalitas mengisap Vave dan bergelut dengan sembarang lelaki."
Dia diam, aku menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Kalau kamu waras jangan cepat menjudge orang, jangan merasa hebat sendiri dan merasa dihormati, orang berpakaian minim belum tentu murahan, mungkin dia lebih mulia dari dirimu yang soq suci." kataku serak. Aku lalu melangkah keluar.
Hari ini aku merasa perlawananku sehimbang, walaupun kata-katanya sangat menyakiti hatiku. Aku juga tidak menyalahkan penilaiannya padaku, mungkin kebebasanku berpakaian membuat orang menilai beda. Itu sah-sah saja.
"Bagaimana Nona, jadi beramtem?" Bibik dan Maimunah menyambutku dengan khawatir setelah aku sampai di rumah.
"Jadilah!!, dia udah kalah. Aku tendang dia sampai babak belur." sahutku bohong. Tidak terasa air mataku jatuh.
"Aku benci padanya, jangan kalian berurusan dengannya lagi. Manusia licik, penipu." kataku terisak. aku tidak tahu kenapa harus menangis.
"Duduk dulu Nona...." kata Maimunah menggeser kursi meja makan.
"Minum Nona." kata Bibik menaruh Juss di atas meja.
"Trimakasih Bik." ucapku sambil menghapus air mataku.
__ADS_1
"Nona, Ibunya Tuan Semeru di opname di Rumah sakit umum. Tadi pembantunya Bu Sri tetangga depan yang mengatakan."
"Pantas Bu Poniyem tidak jualan di pasar." sahut Maimunah.
"Biarin aja, dia sudah punya anak Semeru. Kita sebatas tetangga, aku tidak mau lagi urusan dengan Semeru, manusia munafik."
"Ya Nona, saya kasihan saja, semoga dia cepat sembuh."
"Emangnya Bu Poniyem sakit apa?" tanyaku ogah.
"Katanya tulang rusuknya ada yang patah, kepalanya bocor. Sekarang mau operasi."
"Kenapa dia bisa begitu?"
"Waktu dia membersihkan pecahan genteng, punggungnya ketimpa kayu dan genteng yang masih sisa."
"Aduhhh.... kasihan dia. Maimunah kamu mau anterin aku ke rumah sakit?"
"Mau saja Nona, bagaimana kalau kita kepergok Tuan Semeru?"
"Kita jangan masuk ke sal, aku ingin bayar biaya operasinya saja."
"Ya Nona saya ganti baju dulu." sahut Maimunah cepat.
Aku naik dan menuju ke Balkon. Rupanya Semeru sudah lenyap bersama mobilnya. Sungguh aku tidak peduli dengannya. Hatiku sudah sakit sekali.
Cuaca siang ini sangat panas. AC di dalam mobil grabb tidak cukup untuk mengusir rasa gerahku. Hari ini aku dan Maimunah akan pergi ke rumah sakit RSUD Bandar Negara Husada. Tidak begitu jauh dari rumahku.
Aku tersenyum dalam hati melihat dandananku. Maimunah memilihkan aku baju panjang serta penutup kepala dari slayerku. Kedua tanganku tertutup dengan kaos tangan dan kakiku memakai kaos kaki, setelah itu baru pakai sepatu sendal. Pokoknya unik dech.
Aku tadi menawarkan supaya pakai jacket Hoodie, jadi rambutku bisa ketutup dengan topi jacketku. Tapi Maimunah melarangku, malah dia memilih slayerku untuk menutupi kepala. Terasa mencekik di leher.
Sampai di Rumah Sakit aku langsung ke tempat Informasi.
"Selamat siang Pak, saya mau tanya pasien yang bernama Poniyem ada di sal berapa?" tanyaku sopan kepada Pegawai Informasi.
"Sebentar ya mbak saya lihat dulu, masuknya kapan?"
"Mai kapan masuk Ibu Poniyem." bisikku kepada Mai.
"Kemarin sore." sahut Maimunah.
"Pasien ini masih berada di ruang anestesi menunggu persetujuan dari keluarganya untuk di operasi. Sepertinya mereka masih mengumpulkan dana." jelas Pegawai itu.
"Berapa biayanya Bu, saya akan membayarnya, yang penting Ibu Poniyem bisa di operasi." kataku.
"Ini ada rekapnya Nona, dan ada nominal pembayarannya. Nona boleh mengambil uang lewat ATM yang berada di sebelah kanan. Letaknya dekat dengan kantin. Setelah uangnya cukup Nona langsung bayar kesini."
"Lagi satu Bu, tolong rahasiakan kepada keluarganya bahwa saya yang membayar operasi Bu Poniyem."
"Ya Nona, saya akan laksanakan."
__ADS_1
"Trimakasih Bu." sahutku lalu menarik tangan Maimunah.
****