QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
BACK TO LAMPUNG


__ADS_3

Rumahnya sangat luas, lebih luas dari rumahku. Segalanya ada dalam satu rumah, kebun buah langka, kebun binatang, lapangan golf, taman bunga. Ntah apalagi. Mobil sportya ada tujuh buah. Dia begitu bangga menceritakan segala isi rumahnya, prabotnya dari Vicenza. Kolam renang..


"Semua ini atas jerih payah mbak Mayang, dan sekarang diwariskan kepadaku. Aku sangat beruntung punya mbak sebaik dia." kata Sandy memuji Bu Mayang.


Aku cuma mengangguk dan tersenyum, membiarkan mereka saling memuji. Aku akui Bu Mayang ini masih muda dan cantik. Bekas penyanyi, pasti terawat. Kami duduk di meja makan yang besar, segala makanan mereka suguhkan. Aku sampai bingung memilihnya.


"Maaf Bu Mayang, Bapak tidak ikut?" tanyaku sopan.


"Bapak keluar kota, tapi akan kesini setelah urusannya selesai. Santai sajalah, Ngobrol-ngobrol dengan Sandy siapa tahu ada kecocokan." degg!!. hampir aku keselek.


"Maunya pulang melulu, gimana kalau aku anterin ke Bali." kata Sandy merayu.


"Aku banyak kerjaan, kangen juga sama keluarga. Aku jarang pergi lama-lama." sahutku berdalih. Sandy kemudian bicara dengan mbak Mayang memakai bahasa daerah. Aku memandangnya tidak mengerti.


Sebenarnya aku tidak tahan dengan rayuan Sandy yang monoton dan tidak pantang menyerah. Tiap malam aku di SMS dengan memakai nomer pribadi, sangat mengganggu, kalau ponsel dimatiin takut Mama Evelyn menelepon dari Los Angeles.


"Kamu dimana?" selalu yang ditanya ini, soq perhatian udah tahu aku di Hotel nanya lagi, apa tidak puas udah ketemu. Kalau besok ditanya ada tidak SMS tadi malam pasti tidak mengaku, kesel aku. Kalau tidak dibalas dia akan terus bertanya.


"Hotel." balasku pendek. Aku tambahin stiker orang ngorok.


"Jangan begadang jaga kesehatan." lebay...


"Udah ku jaga dia tidak lari!!" balasku lagi dengat emot marah. Dia akan berhenti SMS kalau emotku sudah aneh-aneh.


Itu pengalamanku tiap malam semenjak di Tarakan.


Lamunanku menguap ketika pengawal Sandy datang tergopoh-gopoh. Dia berkata memakai bahasa Daerah, aku tidak mengerti. Mbak Mayang dan Sandy saling pandang, kemudian Sandy berdiri dan permisi keluar.


"Apakah disini aman Bu?" tanyaku basa basi untuk menghilangkan jenuh.


"Namanya juga rumah di depan perkebunan kelapa sawit pasti agak riskan. Para buruh sering demo, kita harus hati-hati ada saja tuntutannya." jawab Bu Mayang dengan mimik aneh.


Aku terpaksa berdiri karena suara ribut-ribut semakin mendekat.


"Qirrera jangan keluar diam saja, sebentar juga beres." kata Bu Mayang mencegahku keluar.


"Aku ingin melihatnya." sahutku tetap keluar. Aku setengah berlari menuju suara ribut itu. Benar saja banyak orang kampung yang marah-marah sambil mengacungkan pentongan, sayang sekali aku tidak mengerti bahasanya.


Melihat aku datang, mereka serentak diam aku merasa aneh. Sandy kaget melihatku. Cepat dia memberi isyarat kepada anak buahnya, pengawalnya langsung mengurungku.

__ADS_1


"Aku ingin tahu ada apa ini?" kataku menolak diajak pergi dari situ.


"Tidak ada apa-apa mereka biasa begitu." sahut salah seorang pengawal.


"Ijinkan aku bertanya kepada mereka setelah itu aku akan pergi dari sini." sahutku tetap maju.


Aku akan bekerja sama dengan Perusahan ini. Tentu aku harus tahu ada apa disini, mengapa mereka demo. Sungguh mencurigakan


"Maaf Nona Boss besar sudah datang." kata salah seorang dari pengawal itu.


Aku melihat seorang laki-laki tua turun dari mobil alphard. Badannya tinggi dan sedikit jangkung. Mungkin ini Pak Haji Saleh. pikirku. Aku jadi bersemangat dan menyeruak keluar dari barisan pengawal dan menuju Pak Haji.


Sandy yang mau medekati Pak Haji berbalik menghalangiku dan menarik tanganku ke dalam rumah. Kesal banget sama Sandy kenapa harus menjauh.


"Mas. aku ingin melihat demo supaya aku tahu keluhan mereka." kataku ketus.


"Nanti aku ceritain, kamu tidak boleh disitu kalau mereka ngamuk sangat berbahaya. Lagi pula ada Bos, tidak sopan seorang wanita berbaur dengan laki-laki."


"Alasanmu saja." sahutku mengalah.


Aku digiring ke ruang tamu, odisitu sudah ada Bu Mayang duduk dengan manis.


"Mbak Mayang, Bos sudah datang tapi masih bicara dengan pendemo." kata Sandy kepada Bu Mayang.


"Maaf Bu Mayang mereka menuntut apa ya, saya tidak mengerti bahasanya." kataku duduk di sofa.


"Mereka menuntut supaya perusahan kembali seperti tiga tahun yang lalu, dipimpin oleh yang berhak. Mereka juga menuntut kesejahtraan buruh di prioritaskan. Ada yang mengatakan ada potongan 30%, betul itu Sandy??." suara itu ada di belakangku.


Aku cepat berdiri dan berbalik, Pak Haji Saleh menatapku tajam. Hatiku langsung bergetar, aku seolah mengenal sinar mata itu...tapi dimana?


"Selamat siang Pak Haji, saya Qirrera Binar Kenzo want to offer cooperation in the form of cold capital or share purchase. Hope you .... I get nervous about meeting you." (Selamat siang Pak Haji, saya Qirrera Binar Kenzo ingin menawarkan kerjasama dalam bentuk modal dingin atau pembelian saham. Semoga Anda .... (aku menarik nafas berusaha tenang), Saya gugup bertemu Anda." kalau aku gugup atau marah bahasa asliku keluar.¥₩


Pak Haji tersenyum miring kemudian duduk disamping istrinya. Bu Mayang menyentuh tangan suaminya dengan mesra. Aku tidak tahu dan tidak mengerti, mereka saling mengucap salam kemudian Bu Mayang mencium tangan suaminya.


Aku diam tidak berucap apapun, daripada salah malah bikin runyam. Kapan-kapan aku belajar sama Semeru... ah salah lagi pikiranku sering keseleo, mau nyebut nama Maimunah yang kepikiran Semeru. Otakku seperti kena penyakit alzheimer. hehe...


"Silahkan duduk Nona, saya tidak akan menerkam Nona...jangan gugup." katanya berwibawa.


Seumur-umur aku belum pernah segrogi ini, aku wanita mandiri dan percaya diri. Cantik dan genius. Tapi hari ini gemetar berhadapan dengan seorang Bapak yang kutaksir usianya sekitar 55 tahun. Masih bugar dan ganteng. Kalau dibandingkan dengan istrinya yang imut, mereka kelihatan seperti anak dan Bapak.

__ADS_1


Gila!! dia seakan memandang sebelah mata padaku. Bodo amat, yang penting aku bisa bertemu dengannya dan membicarakan kepentinganku. Aku mulai tenang dan bisa menguasai keadaan.


"Pak Haji..ini Qirrera yang mamaa ceritakan itu, dia ini Owner Hotel besar. Tolong dipertimbangan permintaannya, dia berbeda dengan pembisnis lain." kata Bu Mayang merayu suaminya.


Tidak segitunya kalee.... pembisnis sama saja tidak ada bedanya, semua pingin untung. Bu Mayang seperti ada udang di balik batu. Kalau ingin menjodohkanku dengan Sandy...maaf..maaf saja, 100% aku nolak. Bukan tidakk level, tidak ada chemistry. bisikku dalam hati.


"Maaf Nona, saya belum sempat melihat dan mempelajari berkas Nona, sekarang Nona boleh pulang ke Bali, kalau saya melihat Nona berpotensi saya akan hubungi Nona lagi."


Uhh...enteng banget dia ngomong, aku mulai berpikir untuk mencari Crazy Rich yang lain seandainya dia menolakku.


"Trimakasih Pak Haji, mohon atensinya. Seandainya Pak Haji kurang berkenan bisa calling saya lewat Bu Mayang atau lewat Mas Sandy."


Tentu aku sedikit kecewa, kata YA atau TIDAK, tidak keluar dari mulut Pak Haji. Dia mengulur waktu atau ada alasan lain. Aku rasa dia tidak propisional dengan cara membahas masalah ini di atas meja. Ini hari ke empat aku di Tarakan, can't do anything. Oh My God!!.


"Boleh saya mohon diri?, saya harus mampir ke Lampung karena ada urusan juga disana." kataku. Aku tidak mau mengatakan bahwa aku tinggal di Lampung. Aku takut di kejar sama Sandy.


"Setidaknya kamu tinggal disini sehari dua hari. Nanti aku mengantarmu, kita akan pinjam Privat Jet dari Pak Haji." ujar Sandy galau.


"Trimakasih Mas Sandy General Managerku sudah terus menelepon, lain kali saya pasti datang kesini lagi, apabila Pak Haji menerima saya sebagai koleganya."


"Bersabarlah, saya pasti akan mengundang Nona kembali." sahut Pak Haji menatapku aneh. Dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku berdoa supaya otaknya waras.


"Trimakasih sekali lagi Pak Haji, saya mohon pamit." kataku mengulurkan tanganku, cepat aku tarik tanganku kembali.


Jangan sampai terulang seperti dengan Semeru. Bukan muhrim begitu kata Maimunah.


"Maaf...." kataku tersenyum geli.


"Tidak apa-apa kamu salim sama Bu Mayang." kata Pak Haji tersenyum padaku. Senyuman itu mirip siapa ya.... terasa sangat familiar. bathinku.


Akhirnya aku bebas keluar dari rumah mewah Sandy. Dia mengantarku sampai di Hotel.


"Aku akan selalu menunggumu tidak perlu dibahas saat ini. Bagiku semua perlu proses tentu kamu sulit menjawab karena aku terlalu cepat menyukaimu."


"Mas Sandy aku tekankan sekali lagi, kita cukup berteman saja. Sepertinya kita lebih cocok berteman daripada menjalin kasih. Aku menganggapmu the best friend, orang yang paling baik se Dunia." kataku menyanjungnya.


"Aku kecewa sayank kamu seolah tidak mau mengerti perasaanku. Tidak bisa aku bayangkan jika kamu pergi. Begitu cepat kamu pergi dariku."


"Maafkan aku Mas....." hanya itu yang keluar dari mulutku. Sebenarnya aku benci dengan sikapnya yang murahan. Secepat itu dia mau melepaskan tunangannya. Gimana kalau dia sudah meniduri pacarnya? tidak bisa kubayangkan betapa sedihnya Sarah.

__ADS_1


Aku langsung chek out dari Hotel, tapi sebelumnya aku sudah membeli ticket Online, lebih praktis. Sandy sepertinya tidak mau begitu saja melepasku dia mengantarku ke Bandara. Tidak apa-apalah untuk terakhir kalinya.


*****


__ADS_2