QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
MALAM TERAKHIR


__ADS_3

Malam ini perasaan Dheo sangat kacau, besok dia dan orang tuanya akan bertemu dengan keluarga Qirrera. Dia tidak mengenal Maya Wansa, atau kakaknya yang lain, tapi menurut kata orang keluarga itu sangat dermawan dan tegas. Tentu mereka juga kaya, tapi tidak setajir orang tuanya.


Mungkin di dalam kekayaan, Dheo bisa sombong, tapi bisakah dia menyaingi ke dermawanan penghuni "828" Ikon itu sangat termasyur diingatan para pencari dana. Apalagi nama Qirrera, di antara gosip miringnya yang belum terbukti, nama Qirrera terpatri di lubuk hati para warga yang pernah di santuni.


"Kanapa kamu menyendiri, apa mau begadang?" tiba-tiba Qirrera menegurnya. Lamunannya langsung buyar melihat Qirrera sudah berdiri disampingnya.


"Duduklah, ini malam terakhir kamu disini. Besok kamu sudah berada di rumahmu. Kak Maya meminta kamu harus kembali."


"Jadi itukah yang mengganggu pikiranmu atau ada yang lain?"


"Aku memikirkan nasib cinta kita. Aku takut kehilanganmu, Kakakmu pasti tidak setuju kalau kita akan menikah."


"Aku juga tidak setuju menikah denganmu, karena aku belum mengingat siapa diriku. Dihati kecilku aku merasa kamu mau menikahiku karena sesuatu, bukan dari kemauanmu sendiri."


Dheo terhenyak atas perkataan Qirrera. Seolah gadis itu tahu jalan pikirannya. Mata Dheo menatap wajah gadis itu yang kini duduk di sampingnya.


"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Qirrera menohok. Pandangannya jauh ke depan.


Dia belum sadar sama sekali, tapi dia melihat dan mendengar, bagaimana dinginnya Dheo menatapnya. Dheo hanya menyentuh jemari Qirrera sahat laki-laki itu butuh perlindungannya. Selebihnya Dheo acuh dan mencuri-curi menatapnya dari jauh.


"Aku tidak butuh apapun darimu, semua sudah aku punya. Yang aku tidak punya adalah istri." sahut Dheo tersadar dan berusaha tersenyum manis.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku? aku tidak memaksa supaya kamu menikahiku. Enjoy saja Dheo...."


"Tidak ada yang perlu disembunyikan, kamu adalah idolaku. Mungkin kamu memandangku dari sudut pandang yang berbeda, sehingga kamu beramsumsi bahwa aku pura-pura mencintaimu atau ada hal lain yang aku sembunyikan."


"Up too you, kamu bebas berpikir dan berbuat asal jangan melibatkan diriku. Sebelum aku sadar aku tidak mau melakukan apapun yang akan membuat hidupku sengsara dikemudian hari, jangan berharap aku akan takluk padamu."


"Makin kesini sifatmu semakin ketahuan. Dalam keadaan tidak sadarpun kamu bisa berpikir rasional, apalagi kalau sudah sadar. Aku rasa kamu sama seperti gadis lainnya yang pura-pura menolak, padahal sedang mengincar kekayaanku."


"Hahaha....kamu terlalu sombong, terus terang aku melihat kamu miskin hati dan kurang bersedekah. Hati-hati mulutmu berbicara kalau tidak ingin kakiku merontokkan gigimu." semprot Qirrera sinis. Dheo kaget mendengar ancaman Qrrera.


"Aku ingin melihat tendanganmu, apa benar seperti omonganmu atau kamu cuma menakutiku saja. Apalagi tujuanmu kalau bukan ingin lepas dari perjodohan kita."


"Iss...siapa juga mau berjodoh denganmu, amit-amit deh." sahut Qirrera beranjak bangun pergi.


Dia tidak menghiraukan Dheo yang terus memanggilnya. Nyonya There yang duduk di ruang keluarga hanya bengong melihat Qirrera lewat tanpa mau tersenyum padanya.


Jantungnya berdetak kencang melihat mata Qirrera yang menusuk dingin kehulu hatinya. Apakah dia sudah sadar? pikir Nyonya There sangat khawatir. Dia lalu bangun mencari Dheo di Taman depan.


"Dheo, gadis itu tampaknya sudah sadar, dia memandang Mama seperti ingin membunuh." bisik Nyonya There.


"Sifatnya memang begitu, sadis, dingin tapi mempesona. Aku semakin penasaran dengannya."

__ADS_1


"Apakah kamu mencintainya?" tanya Nyonya There memandang anaknya yang mulai berubah.


Biasanya Dheo jarang di rumah, karena dia sibuk sebagai CEO di Perusahan Papanya. Tapi semenjak ada gadis itu Dheo bekerja dari rumah, dia begitu telaten mengurus Qirrera.


"Tidak mungkin aku mencintainya, dia tidak ada lembutnya, seperti macan betina. Aku mengalah demi keselamatan Mama....." Dheo terpaksa berhenti bicara, matanya melotot melihat Qirrera sudah berdiri di belakangkannya. Qirrera memutar-mutar pisau dapur.


"Qi...jangan bawa pisau berbahaya!!" teriak Dheo berdiri. Nyonya There kaget, dia langsung sembunyi ldi belakang punggung Dheo.


"Kenapa kamu takut kalau aku membawa pisau? apakah kalian pernah berbuat salah padaku padaku?"


"Tidak sayank, mana mungkin aku menyakiti hatimu. Kamu adalah calon..."


"Wuusss......" tiba-tiba saja pisau itu terlontar dan tertancap manis di atas meja di depan mereka.


"Aduuhhh......" teriakan Ibu dan anak itu membuat para IRT berdatangan.


"BANCI!!" gerutu Qirrera lalu pergi ke kamar.


****


Aku belum sadar dan tidak tahu berada di rumah saudaraku atau musuhku saat ini, yang jelas mereka baik. Apalagi Om Weda dan Istrinya, mereka baik. Sayang sekali yang menjadi ganjelan hatiku adalah Dheo.


Aku tidak tahu kenapa perasaan kesal itu sering muncul ketika melihat Dheo. Apalagi aku sering mendengar perkataan busuknya, hatiku sakit. Dia bilang aku tidak level, liar, seperti macan.


Malam semakin larut, aku meluruskan kakiku karena pegal, sudah satu jam aku duduk di Gazebo, di Taman bunga Om Wedakarna. Rumah ini sangat luas dan mewah. Konsepnya adalah Hotel bintang lima, maklumlah dia salah satu konglomerat di Bali.


Tamannya berada jauh dari rumah utama, aku sengaja menghabiskan waktu disini. Besok aku akan diantar pulang menemui keluargaku. Semoga aku cepat sembuh dan bisa mengingat siapa sebenarnya diriku.


"Qi..kenapa berada sendiri disini? dari tadi Om nyariin."


Aku menoleh, Om Wedakarna tersenyum memandangku. Sungguh aku tidak tega melihatnya yang selalu baik padaku.


"Ini malam terakhir aku disini, besok aku sudah pulang. Aku ingin mengenang tempat ini, siapa tahu aku tidak pernah kesini lagi."


"Kamu harus tetap menjadi bagian dari kami, seandainya kamu menolak Dheo sebagai jodohmu, kamu bisa menjadi adiknya. Om akan selalu melindungimu dan menyayangimu." kata Om Wedakarna duduk di sebelahku.


Sinar lampu Taman membias lembut menerangi wajah Om Wedakarna yang masih kelihatan tampan padahal sudah hampir kepala lima. Dheo sebenarnya juga sangat ganteng, sayang aku mulai membencinya.


"Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah. Suatu hari nanti kamu akan menemui kebahagiaan." ucap Om Weda 5tanpa menoleh, seolah dia berkata kepada dirinya sendiri.


"Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembaran kosong. Padahal awan tetap berarak. Bintangpun tetap di sana. Hanya mataku tidak bisa melihat." sahutku tenang.


Kami tersenyum, ntah untuk apa senyuman ini. Aku mendengar langkah mendekat, Dheo sudah ada di depan kami. Badannya yang tegap menjulang tinggi.

__ADS_1


"Duduklah, temani Qirrera." perintah Om Weda kepada Dheo sambil berdiri.


"Maaf Paa...aku baru datang. Proyek yang di Jimbaran akan mulai digarap minggu depan, jadi aku sangat sibuk." sahut Dheo sembari duduk.


"Besok kita bahas masalah ini, sekarang kamu duduk santai disini, melihat bintang yang tidak muncul." kata Om Wedakarna tersenyum.


"Mungkin mau hujan. Aku dan Qirrera sebentar lagi masuk ke dalam, kalau hujan kami akan tidur disini."


"Oi..Jangan begadang, lebih baik kalian pulang." kata Om Wedakarna.


"Ya Om" jawabku pendek.


Aroma parfum Hugo Boss menyebar dari tubuh Dheo. Aku lebih senang memakai Parfum cowok dari pada parfum cewek. Lebih merangsang dan menggoda.


"Aku mencarimu di kamar, bingung ketika kamu tidak ada, aku kira kamu sudah pulang kerumahmu." kata Dheo membuka percakapan. Aku diam tidak merespon omongannya.


"Bisakah kamu berbuat manis seperti pertamakali di rumah sakit, aku rindu itu."


"Beginilah aku, kamu harus bersyukur bisa bicara padaku. Sebenarnya aku muak melihat sifatmu yang bunglon. Tidak usah memaksakan diri disaat kamu tidak enjoy."


"Tidak ada yang berani memaksaku, dan tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang membuatku susah."


"Aku sering mendengar kamu bicara pada Mamamu."


"Bicara apa?" tanyanya nenatapku. Aku balik menatapnya dengan kebencian.


"Terlalu banyak omonganmu yang tidak bermutu, sampai aku malas menjabarkannya."


"Kamu selalu ngajak berantem, aku capek dari kantor. Bersikaplah manis sedikit."


"Kalau sudah capek tidur, kenapa kamu masih mencariku."


"Aku kangen." jawabnya pelan.


"Mengapa kamu selalu memaksakan diri berkata romantis, tidak usah berbohong. Apapun kesalahanmu kepadaku akan aku maafkan, jan6gan khawatir. Di depanku kamu bicara manis, tapi di depan Ibumu perkataanmu busuk." kataku ketus, aku marah.


"Aku tahu kamu sering menguping dan aku tidak peduli. Apapun yang aku rasakan padamu tidak berubah, walaupun aku berusaha menghapus dari otakku."


"Hemm...aku juga tidak peduli padamu. Aku tidak kenal kamu, kita musuh."


Dheo tidak menjawab, tangannya tiba-tiba menarikku dan aku sudah berada dipelukannya, aku berontak dan badan Dheo yang kekar menibanku. Kemudian bibirnya sangat lancang menyentuh bibirku lembut....


****

__ADS_1


__ADS_2