QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
BERSELISIH FAHAM


__ADS_3

Suara lamat-lamat Zayn Malik membuat mataku perlahan terbuka. Aku menggeliat malas. Hari ini aku kesiangan, dengan masih mengantuk aku bangun dan duduk dipinggir ranjang. Aku berusaha mengingat apa yang telah terjadi tadi malam.


Aku tersenyum mengingat Dheo yang tidak berhasil membawa diriku kedalam hasratnya.


"Ternyata kamu sudah bangun, cepatlah mandi kita akan pulang ke Bali. Papa dan Mamaku sudah pulang dari Luar Negeri, mereka menunggu kita.


"Secepat ini kita ke Bali?" tanyaku lemas.


"Ya... aku ingin lebih cepat lagi, tidak tahan ingin menikahimu." sahut Dheo bercanda. Aku menjebikkan bibirku lalu pergi menuju kamar mandi.


Siapa yang tahu hari esok? akupun tidak tahu pasti, jalan hidupku terasa berliku dan penuh warna. Aku tidak mengerti kenapa hari ini aku menurut diajak ke Bali. Apakah aku sudah siap menjadi istri Dheo, atau ini hanya sebuah pelarian supaya anakku tidak bernasib sama denganku?.


"Apakah Nona akan lama di Bali?" tanya Maimunah membawa koperku turun.


"Tidak sampai sebulan, aku berusaha secepatnya kesini lagi."


"Jangan lama-lama Nona, rumah akan sepi tanpa Nona." kata Bibik Zariatun. Aku tersenyum dan memberi mereka gaji untuk sebulan.


"Semoga Bibik dan Maimunah betah disini, walaupun aku lama di Bali. Jangan sembarangan menerima tamu, lebih baik pintu gerbang tetap di kunci."


"Ya Nona, semoga Nona dan Tuan selamat sampai di tempat."


"Trimakasih Bibik dan Maimunah, sampai ketemu lagi." Dheo ikut menimpali.


Pernerbangan ke Bali membuat aku sangat gelisah, wajah Mama Capela selalu terbayang. Aku akan bersujud di kakinya atas semua luka dan tercemarnya nama baik keluargaku akibat ulahku. Walaupun itu bukan seutuhnya kesalahanku, tapi semua terjadi akibat keberadaanku.


"Yank..sebentar lagi pesawat akan landing, kamu mau langsung kerumahmu atau ke rumah Kak Leon untuk menjenguk Mama." tanya Dheo menatapku. Dia menyentuh tanganku dengan mesra.


"Aku mau menjenguk Mama, kamu boleh langsung pulang."


"Aku akan ikut menengok calon mertuaku, sekalian silahturahmi dengan kak Leon."


Aku tersenyum memandangnya, dia mengedipkan sebelah matanya. Wajahnya sangat macho, membuat aku terpesona.


Turun dari Pesawat kami menyempatkan diri ke Solaria, sekedar untuk beli minum. Siang ini udara sangat panas, Dheo menarik tanganku supaya duduk di pojok. kebetulan sepi, jadi kami bebas bicara.


"Kamu ganteng Dheo, tentu banyak gadis menginginkan cintamu. Selain itu kamu adalah anak seorang konglomerat. Hanya orang bodoh saja yang menolak cintamu." kataku jujur.


"Berarti kamu orang bodoh itu?"


"Ya... aku tidak mencintaimu, aku mau menikah denganmu karena kita telah melakukan. Tentu aku tidak mau nasib anakku sepertiku. Dia harus punya orang tua lengkap."


Dheo mengedikkan bahunya, dia tersenyum penuh arti. Aku merasa jengah ketika matanya memandangku nakal.


"Please dech Dheo, aku malu bila matamu nakal memandangku. Seolah matamu itu menelanjangi tubuhku." kataku tersipu malu.

__ADS_1


"Aku terobsesi denganmu, aku bisa menjadi pembunuh kalau ada laki-laki lain merebutmu."


"Terlalu absurd pikiranmu. buang pikiran jahat dari otakmu, aku takut jika itu benar terjadi. Sangat mengerikan."


"Dulu aku hampir membunuh orang gara-gara pacarku dilarikan sama orang. Aku jadi posesif sekarang."


"Astaga, pasti dia cantik sekali ya. Apakah mereka sudah menikah sekarang?" tanyaku ingin tahu.


"Dia sudah menikah dan sudah bercerai, aku dulu satu almamater di Oxford."


"Wow...jadi kalian satu university?. Apa kalian sudah pernah tidur bersama."


"Kami hidup jauh di luar negeri, apa sih yang tidak terjadi. Pergaulan bebas telah merasuki jiwa kami waktu itu, sehingga dia hamil. Dalam kebingunganku ketika dia minta pertanggung jawaban, aku pulang ke Bali, maksudku minta ijin mau menikahinya. Tapi aku sudah terlambat, dia memilih lari dengan temanku."


"Terus anaknya dimana?"


"Dia keguguran, ternyata suaminya KDRT. Katanya dia menyewa laki-laki itu untuk pura-pura menjadi suaminya, benar dan tidaknya aku tidak tahu."


"Apakah kamu masih mencintainya?" selidikku.


"Aku mencintaimu, kejadian itu sudah hampir dua tahun. Aku sudah melupakannya."


"Kalian pernah bertemu lagi?"


"Pernah... dia sering ke Bar atau ke Beach Club, kami sering sharing."


"Kami akan selalu bertemu karena dia kakaknya Alex. Dia sepupuku. Cuma hubunganku dengan dia sudah berbeda. Mungkin dia selalu mengharapkanku, hanya saja aku sudah trauma dengan kejadian itu."


"Aku tidak percaya padamu. Kalian sering sharing, sering ke Bar dan kalian sudah biasa tidur berdua. Aku bukan bayi yang gampang kau tipu, enyahlah sebelum aku menendangmu keluar." kataku emosi. Dengan cepat aku keluar dari Solaria setelah membayar minuman.


"Aku menyesal terus terang, kamu produk Luar Negeri, tapi berpikiran ortodok." katanya ketika aku sampsi di parkiran.


"Aku punya harga diri, keperawananku untuk suamiku bukan untuk di obral seperti cewekmu. Prinsif kita berbeda, kamu menganggap hal begituan lumbrah sedangkan aku menganggap itu bisa dilakukan hanya dengan pasangan hidup." sahutku ketus.


"Aku tidak pernah mengajaknya tidur lagi, walaupun kami kerap bertemu. Kamu jangan salah sangka."


"Aku tidak percaya titik!!"


"Susah menjelaskan kalau kamu tidak percaya. Apa aku harus menghapus kontaknya?"


"Tidak usah melakukan apapun untuk membuat aku percaya. Orang bisa mempercayaimu dengan cara membenahi dirimu dan menahan hasratmu untuk bertemu atau sekedar sharing. Kecuali kamu masih doyan goyangannya." sahutku ketus.


"Semua akan aku lakukan demi mendapatkan cintamu. Jangan cepat mengambil kesimpulan, aku tidak seburuk pikiranmu."


"Aku bertrimakasih kamu telah berterus terang, aku bisa mempertimbangkan baik buruk hubungan kita kedepannya."

__ADS_1


"Tolong jangan memutuskan hubungan ini sepihak, aku sudah menyuruh Mama dan Papa pulang, mereka sudah setuju pilihanku."


"Tergantung situasi."


"Yank... aku tidak mengancammu, tapi ingatlah bahwa fotomu ada padaku."


Aku langsung lemas, air mataku bergulir. Inilah akibatnya kalau aku gegabah.


"Kau ingin membunuhku?" tanyaku sambil menahan marah. Aku menghapus air mataku dengan kasar.


"Aku ingin menikahimu itu saja." sahutnya lalu memelukku. Wajah Dheo terlihat putus asa. Tentu dia tidak menyangka mendapat cemohan dariku akan kebiasaannya. Walaupun hatiku belum tersentuh cintanya tapi aku tidak setuju apa yang dia lakukan dengan mantannya.


Saat ini aku sukses, tapi aku alergi hidup bebas, hura-hura, mabuk-mabukan. Aku dididik oleh Papa dan Mama Evelyn di Los Angeles dengan etika tinggi dengan adat ketimuran yang kental. Jadi aku muak mendengar calon suamiku menghallalkan hidup bebas yang dia sebut orang modern dan aku orang ortodox


Aku berusaha menenangkan diri, malu di lihat orang. Supir Taxi pada memandangiku mereka pasti heran melihat aku menangis.


"Kita pulang, jangan berpikiran negatif tentang aku, cintaku hanya untukmu."


"Oke..aku berusaha percaya padamu dan memberi kamu kesempatan sekali lagi. Tidak ada hubungan spesial dengan mantanmu atau dengan cewek lain. Aku tidak mau ada orang ketiga di antara kita. Kalau kamu setuju oke, kalau tidak silahkan pergi dari hadapanku." kataku tegas.


"Kamu cemburu dengan Anisa?"


"Namanya Anisa? aku marah bukan karena cemburu, aku tidak mau kejadiannya seperti Andre. Sebelum aku menjadi istrimu aku sudah memasang rambu-rambu, mana yang boleh dan mana yang tidak. Ketentuan itu juga berlaku padaku."


"Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan. Mari kita pulang." ajak Dheo.


"Sayank....aku cariin kamu dari tadi...." seorang gadis menghambur ke pelukan Dheo. Aku kaget dan Dheo mati kutu.


"Aku kangen, kenapa teleponku tidak kamu angkat?"


"Anisa...kenalkan ini calon istriku." kata Dheo melepaskan pelukan Anisa, dia kelihatan gugup. Aku melihat wajah Anisa kaget dan memerah.


"Ternyata gunjingan orang benar, kamu kena pelet janda muda." sahut Anisa menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Aku tidak sombong, penampilanku tentu lebih sempurna dari Anisa. Kecantikanku tidak setara dengannya. Mungkin karena dia suka dugem, sering begadang sampai pagi membuat badannya ceking dan wajahnya kelihatan pucat.


"Hati-hati berbicara, aku yang setengah mati mencintainya, tapi dia belum menerimanya." sahut Dheo memegang tanganku.


"Hanya kamu yang bisa terperangkap oleh rayuannya, warga lain mana mau."


"Aku memang janda muda dan Dheo telah mencintaiku sepenuh hati, jadi sebagai manusia modern kamu harus mengerti Dheo adalah calon suamiku, jangan main peluk atau panggil sayank.. carilah laki-laki yang setara dengan kebebasanmu." sahutku tenang sambil membuka kaca mataku.


"Dheo, ceritakan sampai dimana hubungan kita. Dan bagaimana kamu melenguh di saat asmara kita memuncak. Aku adalah pemuasmu di saat kesepianmu mendera."


"Hahaha... kasihan sekali dirimu sebagai barang pemuas, aku tidak terpengaruh oleh ucapanmu atau apapun yang kalian lakukan kemarin-kemarin. Hari ini Dheo adalah milikku dan untuk seterusnya." kataku tegas.

__ADS_1


Aku melihat wajah Anisa semakin pucat dan dia berlari menjauhi kami. Aku menepis tangan Dheo dengan kasar, akupun mencari Taxi. Dheo mengekor di belakangku dan ikut naik ke Taxi.


****


__ADS_2