QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
SELAMAT JALAN MAMA.


__ADS_3

Mulut kami terkunci sepanjang jalan, aku tidak ingin berkata apapun setelah melihat dan mendengar celotehan Anisa. Harapan untuk menerima pinangan Dheo pupus sudah. Rasanya aku tidak bakalan bisa hidup tenang seandainya aku menikah dengannya.


Anisa adalah sepupunya yang masih mengharapkan cinta Dheo, mungkin saat ini Dheo akan menjauhi Anisa tapi bagaimana nanti ketika kami bertengkar atau kejenuhan melanda rumah tanggaku, apakah mereka tidak akan saling sharing. Maklumlah itu cinta pertama mereka yang sangat fenomenal, berkesan dan indah.


"Nona sudah sampai sesuai alamat." kata sopir Taxi membuyarkan lamunanku.


"Berhenti di depan gardu scurity Pak." sahutku sambil mengeluarkan lembaran merah.


"Trimakasih Nona." ucap Pak sopir senang, ketika menerima uangku.


Aku keluar dari Taxi diikuti oleh Dheo, aku menepis tangannya ketika dia mau menggeret koperku. Persetan dengannya. Mungkin dia menahan dirinya untuk bersabar menghadapi aku. Ntahlah.


"Selamat siang Nona, kebetulan Nona pulang. Nyonya besar....."


"Kenapa Mama Pak Wayan?" tanyaku panik. Aku tidak mengindahkan jawaban Pak Wayan scurity kak Leon, aku berlari ke dalam rumah.


"Mamaaa......" jeritku ketika melihat semua kakakku sedang menangis.


"Untung kamu cepat datang, Mama dari tadi malam seolah menunggu kedatanganmu." kata kak Maya menarik tanganku kedekat Mama.


"Mamaaaa......miss you, love you mamaaa...." suaraku lirih memeluk tubuh kurus itu. Aku melihat air bening keluar dari sudut mata Mama. Kami tambah menangis, masalahnya Mama koma, tapi kenapa bisa keluar air mata, apa dia mendengar suaraku atau bisa melihat aku datang? tapi matanya tertutup.


Setelah itu Mama menghembuskan nafas terakhir. Aku terhenyak dan oleng, Dheo cepat memelukku. Air mataku membasahi bajunya.


"Sabarlah sayank, biarkan Mama pergi dengan tenang. Terlalu lama Mama menderita." kata kak Maya menepuk punggungku.


"Maafkan aku, aku anak durhaka....." kataku terisak sambil memegang kaki Mama.


"Ajak Qirrera ke ruang keluarga." kata kak Leon kepada Dheo.


Dheo lalu memapahku ke ruang keluarga, aku diajak duduk di sofa panjang. Disini sudah banyak orang, besan-besan Mama, ipar-iparku dan ponakan. Mereka semua menangis dengan gaya masing-masing.


Kemudian kakakku semua datang dan duduk berkumpul. Kami duduk melingkar Dheo tetap duduk disampingku, sesekali dia menyuruh aku minum air mineral yang dia bawa. Kemarahanku menguap atas perlakuan baiknya.


"Maaf Dheo, kami akan membahas prosesi upakara sebagai tindak lanjut pasca Mama meninggal. Jika kamu masih disini kami akan melibatkanmu, tapi kalau kamu tidak berkenan, kamu boleh mengabaikan. Mama dan Leon masih berstatus warga wansa, jadi upakara ini akan melibatkan warga juga." kata kak Maya mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Saya sebagai warga wansa mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya Mama Capela. Sebagai pacarnya Qirrera tentu saya akan bertanggung jawab dan ikut menjadi panitia. Saya juga siap akan biaya, kakak jangan sungkan-sungkan menentukan biaya." kata Dheo sopan.


"Tidak ada yang boleh mengeluarkan biaya untuk Mama, aku semuanya akan menanggung. Aku telah membuat tiga Asuransi seumur hidup untuk Mama, tinggal mengklaimnya saja." kataku sendu.


"Pelayat pasti akan membludak, karena ribuan karyawan Hotel akan datang, belum lagi warga dan temanmu yang berada di seluruh Dunia. Aku ingin yang terbaik untuk Mama, tidak ada cela." sahut kak Selvy menghapus air matanya.


"Selama ini aku selalu menjadi bahan gosip dan keluarga kita jadi sorotan. Sekarang kita harus menunjukkan bahwa kita bisa tanpa bantuan warga." sahutku.


"Sebaiknya kita membuat panitia kecil, setelah itu bertanya kepada Pendeta apa yang harus dibuat. Disini sudah jelas dananya dari Qirrera, tolong yang lain kondisikan diri. Kita semua menjabat pemimpin, jadi sangat mudah untuk membuat planning kerja." kata kak Maya.


"Kami ikut nenbantu." kata orang tua Mas Jamal antusias. Selama ini keluargaku menjadi sorotan karena menikah dengan berkeyakinan berbeda.


Aku menghubungi ketiga Kantor Asuransi supaya mereka datang dan membayar klaim Asuransinya.


Tidak ada yang tidak mungkin, semua pasti bisa dilakukan asal bekerja dengan serius. Kami terkenal sangat akur bersaudara. Walaupun terkadang ada percikan kecil, tapi kami saling mengalah.


Pelayat setiap hari memenuhi rumah kami, yang membuat aku merasa bersyukur, ada beberapa produser film dan banyak selebgram dari seluruh Dunia ikut meliput prosesi ini tahap demi tahap.


Pendeta mencari hari baik dan Tujuh hari kami berkesempatan merangkai upakara ini menjadi sangat fenomenal dengan para produser film menjadi Discoveri yang unik. Ada kebanggaan di dalam hati di antara duka yang menekan jiwa.


Warga datang silih berganti, Om Sugama dan Tante Wilda menjadi tempat keluh kesahku. Andre juga datang, tapi Dheo cepat menarikku dan mengapitku.


"Bawa suamimu menjauh dari pacarku, jangan terus bikin masalah." kata Dheo ketus kepada Natalia.


"Hanya orang bodoh yang mau dengan janda itu." sahut Natalia melotot.


"Berarti selama ini suamimu bodoh!!" kata Dheo sinis.


Andre tidak marah atas kecemburuan Dheo dan ocehan Natalia, yang penting hatinya sudah senang ketika matanya bisa berkedip sebelah kepadaku.


"Genit!!" gerutuku membuang muka.


"Mari yank..jangan sampai kita kena virus jahat mereka." kata Dheo menarik tanganku lalu masuk ke dalam bergabung dengan yang lain.


Giliran Anisa datang dengan Alex, aku berbuat dewasa dan membiarkan situasi itu apa adanya. Dheo tahu diri, dia yang mengambil jarak dan selalu memegang tanganku.

__ADS_1


"Aku turut berduka cita say... tabahkan hatimu, bila kamu tertekan call me, bahuku siap menjadi sandaranmu." kata Alex menatapku.


"Thank you Alex for coming, you are always kind to me." (Trimakasih Alex atas kedatanganmu, kamu selalu baik padaku). sahutku mengabaikan Anisa yang berusaha mendekati Dheo.


Sedangkan Om Wedakarna dan Mamanya Dheo ikut menjadi panitia, membuat aku terharu. Rasanya tidak ada celah bagi warga untuk mencemoh pekerjaan kami. Semua tertata dan mewah.


Sumbangan terus mengalir dari dalam dan luar Negeri, maklumlah aku Owner Hotel U.C yang bergabung di bawah Corporate Dunia. Disamping itu aku seorang selebgram yang banyak endorse di dalam dan Luar Negeri.


Tanpa mengenal lelah kami melaksanakan semuanya dengan semangat tinggi, aku merasa.terpacu oleh jiwa bersaingku yang meledak-ledak. Apapun istilahnya dalam hal ini keluargaku ingin kelihatan mampu dan bisa mengerjakan tanpa bantuan mereka.


"Sungguh fantatis membuat aku kagum akan kekompakan kalian bersaudara. Kalian begitu iklas melakukan prosesi ini tanpa hitung-hitungan. Aku salut kepada panitia pelaksana." sebuah sambutan manis keluar dari bibir ketua pemuda pemudi yang mewakili warga.


"Trimakasih atas pujiannya, masih banyak kekurangan kami, semoga warga lain bisa melaksanakan prosesi terakhir dengan iklas." sahutku cepat.


"Buat apa melakukan kemewahan setelah orang tua tiada, lakukan semasih dia hidup dengan cara menemaninya setiap hari dan memberi pengobatan sampai ke Singapore." kata itu keluar dari mulut nyinyir Tante Dilla ibunya Natalia.


"Kami mengucapkan trimakasih banyak atas partisipasi kalian semua. Tidak ada manusia yang sempurna, selamat malam." kata Ksk Maya menyudahi mulut nyinyir Tante Dilla.


Setelah warga kembali kerumahnya masing-masing suasana terasa sangat sepi. Kami saling mencari pojokan untuk melamun.


"Qirrera, Om dan Tante akan pamit pulang, biarkan Dheo disini sampai kamu bisa ditinggal. Kamu harus sabar, semua akan mengalami kejadian ini. Hidup harus terus berjalan seperti air mengalir..." kata Om Wedakarna menghampiriku.


"Trimakasih Om dan Tante, aku tidak bisa membalas kebaikan kalian."


"Balaslah dengan cara kamu menjadi menantu kami. Lupakan kejadian yang dulu untuk meraih masa depan bahagia. Belajar menghargai dan mencintai orang yang menyayangimu." Tante Thesa ikut menimpali. Aku rasa Dheo mengadu, sehingga Mamanya berkata begitu.


"Ya Tante...." sahutku pendek sambil tanganku mencubit paha Dheo. Rasain loe manusia senang mengadu. bathinku.


"Aduhhh...." rintih Dheo.


"Ada apa sayank, jangan katakan kamu kena gigitan nyamuk." kataku tersenyum miring. Dheo diam mengusap pahanya.


"Kalau begitu Om dan Tante pamit, istirahatlah supaya kalian tidak sakit."


"Ya Paa..Maa..hati-hati dijalan." kata Dheo setelah cipika cipiki dengan orang tuanya.

__ADS_1


Keadaan sunyi, Dheo merapatkan tubuhnya padaku. Baru badan terasa loyo.


__ADS_2