QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
RUMAH BARU


__ADS_3

Aku menangis!! sudah seminggu aku disini, kak Maya dan kakak yang lain tidak tidak sekalipun menghubungiku lagi. Sedih sekali rasanya di cuekin oleh saudara sendiri. Apalah artinya diriku, seorang anak haram yang selalu bermasalah. Aku bagaikan duri dalam daging.


Nasibku memang buruk, mencintai orang yang sudah berjodoh. Dan ternoda dengan calon jodohku. Dengan geram aku mulai menghapus nomer Andre, Dheo dan warga wansa. Orang-orang yang membuat pikiranku sakit. Aku mau hidup sendiri jauh dari mereka.


Aku on satu handphone saja, itupun khusus untuk General Manager Hotelku, ponselku yang lain aku aktifkan mode pesawat. Hidupku tidak ingin diganggu, aku sudah merasa terpuruk dan hancur.


"Boss, when are you coming back to Bali?" tanya GM ku kemarin sore ketika aku menghubunginya. Kami berbincang-bincang masalah keadaan Hotel dan saham.


GM ku adalah orang asing namanya Giovino fuji. Hanya dia yang sering aku hubungi, dan aku bercerita garis besar tentang kondisiku saat ini. Dia tidak bisa bahasa Indonesia. Kami memakai bahasa Inggris kalau berbicara.


"Aku agak lama disini, aku akan pulang setelah aku merasa tenang."


"Kamu harus profesional untuk mengurus bisnismu jangan masalah pribadi membuat bisnismu hancur. Disini ada banyak mulut yang butuh makan."


"Aku mengerti, aku akan mengelola semua bisnisku dari sini. Harga sahamku akan anjlok kalau aku muncul sekarang, para kuli tinta tentu akan memburuku dan minta statement yang sebenarnya. Aku tidak ingin ada "kubu" dari pihak warga yang menyerangku dengan semena-mena. Tunggu saja dulu, aku akan pulang setelah gosip agak mereda."


"Masalahmu apa sehingga mengambil keputusan mendadak? kamu tidak menyalahi aturan hukum bukhan?!"


"Masalahku dengan segelintir orang, yang aku sesali kakakku mungkin percaya sama gosip murahan mereka."


"Kalau kamu benar kenapa harus takut, tunjukan bahwa kamu tidak seperti yang mereka pikirkan."


"Apakah salah satu dari kakakku ada yang calling kamu, menanyakan keberadaanku?"


"Tidak ada, aku tidak mengenal mereka."


"Hahaha....aku lupa kamu General Managerku dan kamu bule, tentu mereka berpikir dua kali untuk bertanya. Mereka tidak mau ada kepanikan di jajaran the head."


"Aku pikir begitu, semoga masalahmu cepat tuntas. Aku sarankan kamu mulai perjalanan bisnis ke Korea Selatan atau Perancis. Isi kamar kita merosot tajam sampai 70%. Kamu bisa bikin paket akhir tahun dengan konsep sejuta kembang api yang ada atraksi seni Kecak." saran Pak Giovino.


"Usulanmu bagus, aku sampai lupa bahwa sebentar lagi tahun baru, saat morning briefing kamu bicarakan soal ini. Aku sarankan untuk alokasi dana terlebih dahulu. Kamu bebankan tugas ini kepada bagian accounting dan HRD, sekalian membuat konsep tahun baru." sahutku memuji.


"Okay....aku minta izin untuk replace AC dan Sofa. Barangnya aku bagi kepada the head, untuk makanan dan minuman yang sudah di sortir aku bagikan kepada staff. Aku juga akan membagikan makanan kepada 100 orang di setiap Panti Asuhan."


"Usulanmu aku terima, Good Luck, aku bangga padamu. Selamat beraktivitas, semoga harimu menyenangkan."


"Thank you, you are my best owner, God Bless You."

__ADS_1


Sambungan telepon terputus, aku menarik nafas dalam. Perasaanku mengatakan kalau kak Maya sudah kena hasut. Tidak biasanya dia mendiamkan aku.


Aku betul-betul galau, banyak masalah yang mesti dipertimbangkan bila aku pulang ke Bali. Pertama tentu menghadapi kemarahan kakakku. Kedua vonis Warga dan orang tua Dheo. Ketiga pernikahan Andre.


Dengan tekad sudah bulat aku memilih tinggal disini untuk sementara waktu sambil melihst situasi. Aku mengambil ponselku dan mencari property yang mau dijual.


Aku harus membeli rumah disini melalui OLX. Sangat gampang mencari perumahan elite dengan harga 1m ke atas. Satu persatu aku melihat iklan, tidak begitu mahal seperti di Bali.


Akhirnya aku menemukan rumah yang sesuai dengan keinginanku. Rumah lelang dari seorang saudagar kaya yang sedang mengalami krisis keuangan. Jual Cepat!!.


Aku meraih ponselku dan kontak person dengan penjual, sayang ada calonya. Tapi aku berjanji bertemu di samping Hotel ini kebetulan ada Restoran cepat saji di sebelah.


Outfit of the day, sebuah gaun panjang dari batik kriss yang berlengan panjang membuat tubuhku kelihatan semampai. Rambut yang sedikit panjang aku jalin satu, tidak lupa semua aksesoris aku lepas supaya kelihatan sederhana dan anggun.


Senyumanku mengembang ketika berdiri di depan cermin. Penampilanku saat ini mirip seperti noni dari Tiongkok. Mungkin kalau ditambah kipas aku sudah seperti putri persilatan.


"Dreett...dreett....dreett....."


Senyumanku buyar ketika ponselku bergetar. Aku mengambil ponsel dari nakas, membuka whatsapp.


"Tunggu Pak saya turun."


Aku tergesa-gesa turun lewat lift menemui Pak Syamsul yang menungguku di parkiran Restoran cepat saji, disamping Hotel. Dia langsung melambaikan tangan ketika aku nongol.


"Silahkan naik ke mobil Boss, saya akan mengantar sampai tujuan." kata Pak Syamsul mempersilahkan aku naik ke mobil Avansa.


"Trimakasih Pak." sahutku. Lalu naik ke mobil.


"Nona dari mana?"


"Saya dari Bali Pak, ingin investasi disini. Siapa tahu prospeknya bagus." jawabku sopan.


"Disini perkembangannya pesat sekali, tidak rugi Nona membeli properti disini, saya sarankan supaya Nona melirik lahan lain selain rumah. Misalnya tanah atau perkebunan."


"Saya mau lihat kedepannya dulu, kalau bagus saya akan menanam modal disini." sahutku.


Mobil melaju tidak begitu kencang, setelah lima belas menit, akhirnya sampai juga ke tempat yang dituju. Mobil masuk ke sebuah rumah yang bergaya Spanyol.

__ADS_1


"Silahkan masuk Nona tuan rumah sudah menunggu." kata Pak Syamsul membuka pintu mobil.


Seorang Ibu yang sudah berumur datang menyambutku dengan senyuman khas. Dia mempersilahkan aku melihat setiap sudut rumah. Bagiku rumah ini lumayan, rumah ini berlantai dua berbentuk spanyol modern. Ada enam kamar tidur plus kamar mandi dalam. Dua kamar pembantu ada di luar serta kamar mandi umum.


Tentu perlu renovasi kalau ingin kelihatan lebih mewah sesuai seleraku. Bangunan cukup kokoh dan tidak begitu mahal. Berdiri diatas tanah 600m2 dengan luas bangunan 500m2 atas bawah, ada garasi dan taman mungil. Cukuplah!!.


"Bagaimana Nona, bahan-bahannya semua dari kayu kamper dan pintunya dari jati tua yang sudah di oven." kata Pak Syamsul promosi.


"Oke Bu, saya akan ambil ini. Kapan bisa ke Notaris?"


"Sekarangpun bisa, saya banyak kenalan Notaris." sahut Bu Zariatun tersenyum senang. Aku tidak banyak menawar.


Begitulah kronologisnya kenapa sekarang aku berada di sebuah rumah mewah di jalan xxx di Lampung. Rumah yang kusam sudah aku renovasi menjadi super mewah dalam waktu seminggu. Aku juga memilih funiture yang mahal dari Toko Meubel Sumber Risky.


Hubunganku dengan Ibu Zariatun dan Pak Syamsul berlanjut. Mereka juga yang mencarikan aku IRT dan tukang kebun. Ibu Zariatun adalah seorang janda. Suaminya sudah lama meninggal, dia punya dua anak sudah menikah.


Dulu dia adalah saudagar sukses semenjak suaminya meninggal dia bangkrut karena diluar sepengetahuannya suaminya banyak berhutang. Untuk membayar hutangnya dia menjual rumah ini dengan harga miring.


Rasanya beban yang melanda jiwaku selama ini sudah plong. Ini hari pertama aku menempati rumah, aku sangat senang dan berharap angin surga datang menghampiriku.


"Aku harap Bibik betah tinggal disini." kataku ketika seorang Ibu setengah baya minta pekerjaan padaku.


"Saya biasa bekerja keras, saya akan melayani Nona sebaik mungkin."


"Trimakasih Bik, ada dua kamar dibelakang yang satu sudah ditempati oleh Maimunah dan yang satu untuk Bibik."


"Baik Nona, trimakasih." sahut Bibik kemudian mohon diri.


Aku lalu duduk di balkon sambil melihat bangunan di sebelah. Di sebelah rumahku ada bangunan sederhana, kalau dari lantai dua aku jelas melihat aktivitas seorang Ibu dan seorang pemuda di luar kamar. Mereka seperti penjual sayuran di Pasar.


Mereka seperti anak dan Ibu. Aku sebenarnya tidak peduli tentang aktivitasnya, karena di otakku sudah ada rencana silahturahmi dan sekedar memberi santunan.


Yang membuat aku meneteskan air mata ketika suara pemuda itu mengalun indah di saat dia sedang mengaji. Aku merasa kerdil dan kehilangan kesehimbangan. Alunan suara itu mampu membuat jiwaku tergoncang.


Aku terus menangis dan menangis. Tidak tahu kenapa aku begini. Ayat-ayat suci itu menyentuh hatiku, mengoyak sanubariku yang terdalam. Tiba-tiba aku merasa sepi dan kosong.


*****

__ADS_1


__ADS_2