QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KE KALIMANTAN


__ADS_3

"Nona akan naik apa ke Bandara. Mobil Taxi online atau naik angkutan umum. Seharusnya Nona beli satu mobil, yang bekas saja supaya gampang kemana-mana." celetuk Maimunah sambil menggeret koperku.


"Taxi online saja, tolong pesan lewat ponselmu."


"Ya Nona." sahut Maimunah.


"Nona sangat cantik, saya sampai pangling semoga Nona dijauhkan dari musibah dan selamat dijalan."


"Trimakasih Bik, mungkin saya agak lama di sana, jaga rumahnya ya."


"Ya Nona, semoga Nona selamat di jalan." sahut Bibik lagi.


"Nona mobilnya sudah datang menunggu di depan, saya yang membawa kopernya." kata Maimunah menarik koperku.


Aku naik di bangku tengah bersama koperku. Maimunah pasti tidak mengerti kalau koper harus di taruh di bagasi.


"Selamat jalan Nona, jangan lupa bawa oleh-oleh." kata Maimunah diikuti Bibik.


Aku mengangguk sambil melambaikan tangan. Mereka sangat dekat denganku, seperti tidak ada batasan antara majikan dan pembantu. Aku juga tidak begitu saklek.


"Tumben jadi sopir ya Pak, biasanya sopir Taxi membukakan pintu dan menaruh koper di garasi, tidak duduk manis seperti Bapak." kataku ketus.


Sopirnya diam saja, aku rasa dia menahan tawa, mungkin dia tertawa karena melihat dandananku. Sayang sekali Kaca spion tidak mengarah ke wajahnya, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya.


Lagu The Weeknd & Ariana Grande - Save Your Tears, membuat hatiku sedikit terhibur, aku tidak ambil pusing dengan sopir ini. Aku membayangkan wajah Ariana Grande yang sedang bernyanyi. Cantik.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, semua lagu yang keluar dari playlist musik membuat aku mengingat Andre. Selera sopir ini hampir sama denganku.


Daripada nonton TV aku paling doyan mendengarkan lagu. Biarpun lagu lawas seperti, Mama Do You Remember dari Joe Yamanaka aku tetap suka.


Perjalanan ini harus berhenti karena mobil sudah masuk ke Bandara dan berhenti di parkiran. Aku turun membawa koperku dan mengeluarkan lembaran merah serta menyerahkan kepada Pak sopir.


"Ini Pak, ambil kembaliannya." kataku.


"Hati-hati membawa diri." suara bariton itu membuat aku mendongak. Aku terlambat menyadari kalau sopir Taxi itu adalah Semeru.


Aku berdiri terpaku memandangi mobil yang sudah berlalu dari hadapanku. Pantas saja dia menahan tawa. Hatiku jadi panas merasa bodoh.


***

__ADS_1


Juwata International Airport Tarakan Kalimantan Utara. Pesawat landing dengan mulus, aku menggeret koperku keluar dari Bandara menuju tempat parkir. Kesan pertama tentu sepi dibandingkan Bali. Tapi jangan salah, Pulau ini sangat luas dari Bali dan disini terkenal Tambang Batu Bara.


Ini pertama kalinya aku kesini, dan merasa bebas berjalan, tidak mungkin ada orang minta selfie. Tentu tidak akan ada yang mengenalku saat ini, karena outfit of the day penyebabnya.


Sungguh aku malas membahasnya, aku hanya mengangguk ketika Maimunah mendandaniku. Katanya aku betul-betul berubah, semua orang pasti akan berucap begitu kalau melihatku. Maimunah hanya menyisakan kedua mataku, selebihnya ditutup dengan pakaian panjang dan lebar. Tragis. Katanya demi keamanan.


Padahal tadi di Pesawat aku melihat ada gadis memakai celana panjang dan baju kaos, ada juga yang berpakain seenaknya. Tapi sudahlah, aku menghargai kepedulian Maimunah dan Bibik. Mereka tidak ingin ada yang menyakitiku.


"Taxi Bu..." sopir Taxi menghampiriku. Aku tersenyum dalam hati, pak sopir pasti mengira aku ibu-ibu.


"Swiss Belhotel Tarakan." sahutku.


"Siap Bu, mari naik ke Taxi." kata Pak Sopir mengambil koperku dan menyimpan di bagasi.


Aku naik perlahan takut kakiku menginjak dress yang panjang, jadi tidak sabaran supaya cepat sampai di Hotel.


"Sudah sering ke Tarakan Bu?" tanya Pak Sopir ketika kami sudah sampai di jalan raya.


"Baru pertama kali Pak."


"Ada teman atau saudara?"


"Ini sudah sampai Bu." kata Pak Sopir.


Mobil masuk melewati gardu Scurity. Di periksa sebentar, kemudian mobil menuju Lobby Hotel. Aku turun dan membayar Argometer Taxi.


Aku merasa cuaca di Tarakan agak moist, sebenarnya tidak mempengaruhiku, tapi aku berharap tidak ada hujan yang menjadi penghalang aktivitasku. Di Hotel ini aku memilih Suite Room untuk bermalam. Tidak begitu mahal, standardlah.


Selesai membersihkan diri aku ke Mini Bar melihat isi kulkas. Aku melihat list harga yang tertempel di pintu kulkas. Rata-rata minuman di Hotel ini standard, ada juga Scotch white Horse dan Red Wine. Aku memilih Fresh milk dan cemilannya kacang mete.


"Maimunah, kamu sudah memberi Bu Poniyem makan?" kataku menghubungi Maimunah lewat telepon selulerku.


"Sudah Nona, dia sudah membaik, Tuan Semeru melarangnya bekerja."


"Si songong itu ternyata menjadi sopir online, aku tidak tahu kalau yang mengantarku ke Bandara dia, pantasan waktu aku menyodorkan uang dia langsung samber secepat kilat."


"Hemm....jangan lama-lama di Kalimantan Nona, hati-hati saja. Selesai urusan Nona cepat pulang."


"Aku maunya lama disini, aku mau keliling."

__ADS_1


"Ihh..Nona, kasihan Bu Poniyem yang merindukan Nona. Tiap hari dia bertanya, kapan Nona menengoknya."


"Aku tidak bakalan menengoknya, karena aku sudah berjanji dalam hati tidak bakalan ke rumah Semeru. Aku sudah benci padanya."


"Tuan Semeru juga mencecar saya dengan seribu pertanyaan, sepertinya dia tidak senang Nona berkeliaran kesana kemari."


"Siapa yang bilang aku berkeliaran, aku kerja..kerja..katakan sama dia aku bukan manusia pengangguran yang menyuruh Ibunya jualan sayur."


"Jangan marah Nona kasihan Tuan Semeru, dia juga bekerja sekarang."


"Setiap ngomongin dia aku panas hati. Ingin aku cekik dia supaya tahu rasa."


"Sabar Nona, buang marahnya. Jangan mengingat kejelekan orang ingatlah kebaikan orang."


"Yaya...aku akan pergi, sudah dulu." sahutku mematikan ponselku.


Sore ini aku akan bertemu dengan adik Bu Mayang yang bernama Sandy Perkasa. Menurut kabar burung orangnya sudah bertunangan. Aku tidak peduli dengan cerita lainnya, aku kesini fokus untuk menanam modal tidak lebih.


Sebelum bertemu aku mempelajari naik turunnya saham dan keuangan dari kedua PT itu. Walaupun ada hutang, mereka lunasi secara intens dan mereka berani membagikan devident dua kali setahun. Tidak ada hutang pajak. Perputaran keuangan stabil dan sehat. Itu yang membuat pilihanku jatuh ke PT. Semeru Barito.


Aku bergegas membuka pintu ketika bell kamar berbunyi. Ada dua laki-laki berpakaian perlente berdiri di depan pintu.


"Hello Miss Qirrera, can you speak Indonesian? We are assistants to Mr. Sandy Perkasa, CEO of PT. Semeru Barito." (Hallo Nona Qirrera apakah anda bisa berbahasa Indonesia. Kami asisten Bapak Sandy Perkasa, CEO PT. Semeru Barito). kata salah seorang dari laki-laki itu.


Mereka tidak menyangka bahwa tamu mereka blasteran sangat cantik sekali. Aku sengaja memakai gaun malam berwarna merah dengan belahan samping yang sopan. Tidak vulgar, kaki mulusku bisa diintip sedikit ketika aku berjalan dengan high hell 15 cm.


Tali spaghetti yang berwarna gold melingkar indah dipinggang menambah kesexyan bodyku. Tidak bisa dipungkiri lagi mata lelaki akan menatapku terpesona, cuma satu yang tidak tergiur yaitu Semeru. Aku rasa dia punya kelaian, misalnya "gay" atau tidak mampu berdiri. hehe...


"Aku bisa bahasa Indonesia yang umum, anda jangan khawatir." sahutku sopan.


"Syukurlah, Boss memerintahkan kami untuk menjemput Nona."


"Ok. trimakasih, saya akan mengambil tas dulu. Silahkan anda tunggu disini." sahutku melarang mereka masuk ke dalam, walaupun di dalam ruangannya luas dan ada ruang tamu, tapi aku merasa tidak sopan sembarang menerima tamu.


Aku berpikir seberapa kaya Sandy Perkasa sehingga menjemputku dengan Rolls Royce, atau ini berlaku hanya untukku saja. Memang benar!!. Kenapa?? ternyata Sandy sudah menjelajahi biodataku dan dia menganggap aku seorang yang bisa mendokrak beberapa barang yang dia produksi saat ini. Misalnya Perumahan, Sepatu, Baju kaos dan Tas. Licik juga pikirannya.


Sampai di Cafe Rooftop Matahari sudah menghilang, malampun menjelang. Sinar lampu menghiasi bangunan puncak, sungguh indah. Suara instrumen dari sound system membuat suasana tambah romantis.


*****

__ADS_1


__ADS_2